Wednesday, July 5, 2017

Mana yang lebih baik, hanya Tuhan yang tahu.

“Sekarang sudah tiba saatnya untuk berangkat, dan kita menempuh jalan kita masing-masing. Aku menempuh kematian, dan kamu tetap hidup. Mana yang lebih baik, hanya Tuhan yang tahu.” (Kata-kata terakhir Sokrates sebelum mati meminum racun)
Itulah status saya tanggal 4 Juli 2012, saat pengumuman bahwa saya diterima di STF Driyarkara. Lalu, Mursyid Penerus pun mengucapkan selamat di wall saya sebagai berikut:
“Alf, selamat ya sahabat, saya sangat turut bahagia, selamat berjuang menempuh jalan terbaikmu saat ini, selamat berkarya, semoga Allah melapangkan jalan dan memberi kemudahan ... :)
Lalu dikomentari oleh sekian banyak sahabat lainnya. Di antaranya, ucapan selamat dari sahabat sejak SMA, yaitu Yeni Z, yang telah memperkenalkan saya pada thariqah yang saya jejaki ini: “Waah udah ada pengumumannya ya Alf, selamat ya Alf, aamiin aamiin ya Robbal'alamiin ... (Turut meng-aminkan do'anya Kang Zam)” Atau juga temen berantem saya di sebuah grup WA, seorang doktor dan dosen FT ITB, pak dosen Mohammad Kemal Agusta yang mengucapkan: “Pepatah Cina: ‘Saat murid siap, guru akan datang’ Dan kang Al sudah sangat-sangat siap insya Allah. Selamat ya .. semoga dilancarkan terus kedepannya.”
Sedangkan istri tercinta menuliskan ucapan berikut: “Selamat ya Bapaknya Alick...semoga Allah membukakan pintu-pintu kebaikan dan keberkahan untukmu..semoga kita semakin berendah hati dan semakin takut akan Dia Ta'ala....AMiiin..amin..YRA”
***************
Kemudian, pada tanggal 14 November 2014, saat istri baru saja sampai di Belanda untuk melanjutkan pendidikan jenjang S3, saya mendadak kejang dan jatuh di perpustakaan STF Driyarkara. Kemudian, oleh teman-teman di kampus, saya dibawa ke RS ST Carolus. Sesampainya di RS St Carolus, ternyata teman-teman dari ITB dan alumni Salman, juga sesama salik thariqah, sudah menunggu di UGD. Kehadiran teman-teman di ICU tersebut membuat dokter yang memeriksa saya berkata: “Teman-temanmu Bhinekka Tunggal Ika sekali” sebab teman-teman yang berkumpul di ICU itu ada yang berjanggut bahkan berbaju takwa, hingga teman-teman di STFD yang terlihat atribut Kristennya, dan bahkan multi etnis. Itu momen yang sangat berkesan dan tak mau saya lupakan. Saya jadi ingat pesan dari Mursyid: “Musuh satu? Terlalu banyak. Teman seribu? Masih sedikit.”
Nah, rupanya, di situlah baru ketahuan bahwa ada “tamu” di otak saya. Alhamdulillah, walaupun demikian, saya masih bisa melanjutkan kuliah hingga tuntas dan mengerjakan semua tugas makalahnya sebaik mungkin. Dan saat itu, hasil konsultasi dari dokter pun mengatakan: “Ini tumor jinak dan lambat tumbuhnya. Setidaknya butuh waktu 40 tahun lagi untuk tumbuh besar dua kali dari ukuran yang sekarang. Santai saja. Anda masih bisa menyelesaikan kuliah dan menulis tesis tanpa gangguan kok.” Lega rasanya.
Namun, bukan seperti itu yang telah Dia gariskan. Bukan 40 tahun, tapi 4 bulan saja. Di bulan Februari 2015, saya kembali mengalami kejang saat sedang tidur di ruang keluarga, dan saat itu kebetulan sedang ada istri tercinta. Saat tersadar, saya bertanya: “Kenapa kamu menangis? Dan kenapa dada saya sakit sekali?” Rupanya dia mencoba menyadarkan saya dengan memukul dada agar segera sadar. Sakit sekali lho. Cukup lama membekasnya he he he he he...
Maka, setelah menjalani beberapa prosedur pemeriksaan dan pertimbangan, dan kemudian berkonsultasi dengan dokter Widi, seorang dokter spesialis bedah saraf, dia mengatakan bahwa kepala saya harus dioperasi. Kepala saya dibongkar!
Singkat cerita, jadwal operasi sudah keluar, dan saya harus berhenti berpikir keras maupun kuliah, untuk menyiapkan kondisi badan menghadapi operasi besar tersebut. Terpaksalah saya mundur dari semua kuliah yang sedang diikuti dan tak mendapat nilai apa pun semester itu. Cuti terpaksa he he he he he...
Kapankah jadwal operasi tersebut? Tanggal 5 Juli 2015. Tiga tahun satu hari dari hari bahagia saat pengumuman saya diterima di STF Driyarkara. Maka, pada tanggal 4 Juli 2015, kakak kandung saya menulis di status sebagai berikut: “Assalamualaikum wr wb, hari minggu tgl 5 juli besok adik saya Alfathri Adlin akan menjalani operasi pengangkatan tumor dibatang otak, rencana operasi 11 jam di rs boromeus, mohon doa dari teman2 semua semoga lancar dan sehat kembali, aamiin”
Sementara mbak Nunik Iswardani yang keren itu mengirimkan lagu What A Wonderful World versi yang dibawakan oleh Rod Stewart diiringin ucapan: “kirim2 untuk Kang Alfathri Adlin yang akan menjalani operasi esok hari .. semoga operasi berjalan dengan sukses dan Kang Al diangkat penyakitnya serta dikaruniai kesehatan yang paripurna.. semoga semua doa yang mengiringi, terutama dari orang2 tercinta --teh Dian, Sandra dan Alick-- diijabah oleh Allah SWT.. aamiin yaa robbal 'aalamiin”
Kemudian, sahabat saya yang lainnya, seorang penulis dan instruktur menulis, Fenfen, membuat status sebagai berikut: “Al Ayah yang baik. Selama dekat dengannya, saya nyaris gak pernah denger dia marah/bentak/hardik anak-anaknya. Dia keras, pada orang yang menurutnya keliru. Kadang-kadang emosional. Kadang juga bersikap konyol dan penuh humor. Al pintar. Suka dan setia sekali pada seorang Akang Guru penerus Mursyid Kadisiyah. Senang berkisah ihwal masa lalu Kadisiyah; bagaimana dia bermula dengan segenap proses sukar dan terjal, sekaligus proses lancar dan mulusnya. Saya dan suami ikut SS setelah berteman cukup intens dengannya. Dia satu-satunya yang tetap menghubungi ketika saya memutuskan gak ngaji di mana-mana. Saya sempat terlalu bingung dengan semua hal sepeninggal Bapak. Karena itulah saya kini bersyukur. Kehadiran seorang Alfathri Adlin membuat saya kembali berjalan, meski terseok di awal, penuh ketidakyakinan juga ketakberdayaan, saya optimis semua membaik. Al, teman saat saya nangis di depan masjid Salman menceritakan semua ironi kehidupan. Membela saat saya terpuruk. Yang manusia biasa. Yang sedang tak berdaya karena sakitnya. Mata saya kadang berair kini; takut kehilangan sahabat sebaik dia. Sungguh.”
Sedangkan Yulius Tandyanto, sahabat terdekat saya selama kuliah di STF Driyarkara—yang bahkan menjagai saya saat malam pertama harus menginap di RS St Carolus dan dia tidur di kursi—menuliskan puisi sebagai berikut:
:kepada sahabat Alfathri Adlin
gelap malam jatuh di pangkuan
banyak cemas, sedikit asa
tegakkan dagumu, kawan
kar'na mentari pagi lahir di ufuk timur
... bukan di pangkuan
Itu puisi dari sahabatku, Iyung panggilannya, putra seorang pendeta, dan dia selalu membuka pintu tempat kediamannya untuk saya menitipkan badan selama kuliah di Jakarta. Kini, dia sudah jadi Master Filsafat dengan nilai maksimal. Saya bahagia bisa hadir di sidangnya dan menjadi saksi kelulusannya.
Maka, tanggal 5 Juli 2015, saya pun menjalani operasi selama 15 jam. Saat memasuki ruang operasi, saya tahu resiko bahwa bisa jadi hari itu adalah terakhir kali saya menghirup udara. Dan karena saat itu hari Minggu, bertepatan dengan hari pengajian rutin kami, maka teman-teman pun menanyakan terus kondisi terkini dari proses operasi saya sambil mendoakan. Terima kasih untuk semua doanya sahabat sekalian. Saya hanya bisa memberi catatan ini untuk kalian:
True friendship is a gift
Oh so precious and so rare
Sometimes we take it for granted
Sometimes we do despair
Our fault is being human
Mistakes are everywhere
Please let me not lose the gift
That is so precious and so rare.
***************
Setelah dioperasi, lalu menjalani masa penyembuhan, saya pun kembali kuliah. Namun, di tengah semester, wajah saya yang sebelah kanan terasa sangat sakit dan saya jadi susah makan. Setelah beberapa kali bolak-balik ke dokter, akhirnya, saya terpaksa harus “cuti kembali”, mundur dari perkuliahan tanpa mendapat nilai apa pun. Well, berarti bisa dibilang sudah dua semester saya tidak kuliah sama sekali.
Kemudian, semester berikutnya, saya pun menjalani kuliah seperti biasa dan, alhamdulillah, bisa menyelesaikan semester tersebut tanpa gangguan kesehatan dan juga tak ada masalah di kognisi saya. Alhamdulillah, kuliah filsafat tapi gak bisa mikir lagi, terus mau ngapain? Alhamdulillah, Allah tetap memberikan saya kemampuan untuk berpikir walau secara fisik kepala dibongkar sana sini selama 15 jam.
Namun, saat libur semester, saat sedang berada di rumah suami istri yang merupakan sahabat seperjalanan (rumah mereka di BSD), mendadak dada saya terasa nyeri sepanjang malam. Saya mencoba menahannya hingga pagi hari, namun rasa nyeri itu tak kunjung hilang. Lalu, saya berkata kepada nyonya rumah ihwal dada saya yang sakit sejak semalam. Dia terkejut dan, singkat cerita, saya dibawa ke RS terdekat, dan hasilnya: penyumbatan pembuluh darah di jantung. Maka, saya pun segera dibawa ke RS Harapan Kita, sebab salah satu sahabat kami jadi dokter juga di sana. Agar lebih terawasi, sebab, sekali lagi, saat itu istri pun sedang berada di Belanda untuk urusan kuliahnya. Maka, saya pun dirawat di ICU selama beberapa hari.
Momen yang tak terlupakan di RS Harapan Kita adalah saat perawat menutup tirai di sekitar ranjang saya, lalu saya melihat dari balik tirai yang tersibak pasien yang sudah meninggal dunia di bawa ke ruangan lain. Beberapa kali hal itu terjadi selama saya berada di sana. Saya jadi teringat pada judul puisinya Subagyo Sastrowardoyo—uwaknya Dian Sastro lho—yang berjudul “Dan Kematian Semakin Akrab”, adapun cuplikannya adalah sebagai berikut:
Dan kematian makin akrab,seakan kawan berkelakar
Yang mengajak tertawa—itu bahasa semesta yang dimengerti
Setelah keluar dari RS Harapan Kita, saya menjalani pemeriksaan di RS Hasan Sadikin untuk memastikan apakah pembuluh darah saya perlu dipasangi ring. Singkat cerita, saya harus menjalani ‘proses pengobatan yang menyakitkan’, namun, Alhamdulillah, ternyata, untuk saat ini, ring tersebut belum perlu dipasang. Akan tetapi, saya belum diperbolehkan untuk berpergian jauh ke luar kota. Saya harus istirahat full plus berbagai pantangan yang harus saya hindari dan sekian hal yang harus saya lakukan. Akibatnya, kali ini, saya memang membuat surat permohonan untuk cuti kuliah, dan bukan terpaksa mundur di tengah semester.
Jadi, bisa dikatakan bahwa total saya cuti selama tiga semester.
Komentar dari seorang teman masa kuliah di FSRD ITB dengan tepat menggambarkan kondisi tersebut, bahwa dua organ vital di tubuh saya, yaitu otak dan jantung, sudah kedatangan “tamu” namun “kok masih hidup juga.” Sementara, dalam masa-masa saya menyambut kedua “tamu” tersebut, seorang teman dari masa kuliah di FSRD ITB, ketua angkatan kami, yang pernah datang ke rumah untuk menengok keadaan saya setelah operasi (dan segar bugar seperti biasa, karena badannya memang tegap sesuai namanya, Tegep) malah pergi duluan. Saat menengok ke rumah itu, dia meminta saya untuk mencarikan buku-buku tentang para founding father Indonesia, sebab dia melihatnya di rak buku perpustakaan pribadi saya. Bahkan saya pun sempat bertemu kembali dengannya dalam sebuah rapat Indesignation. Namun, siapa sangka, belum sempat saya mencarikan buku-buku itu, sebulan kemudian dia meninggal dunia karena jantung.
Saya terkejut. Bukankah saya yang lebih dekat ke sana ketimbang dia yang meninggal dunia setelah bermain futsal? Entahlah. Kematian memang rahasia-Nya. Kita hanya perlu mempersiapkan diri setiap saat.
Kembali kepada pembicaraan di awal. Tanggal 4 Juli 2012 adalah tanggal di mana saya berbahagia karena diterima masuk STF Driyarkara. Sebenarnya, saya sudah memutuskan untuk tidak menyelesaikan kuliah S1 di Desain Produk. Toh saya sudah bekerja di penerbit. Untuk apa lagi? Namun, bayangan ihwal kuliah di kampus idaman itu selalu datang dan datang lagi. Di tahun 1996, saya pernah meminta kepada ibunda agar diperkenankan pindah kuliah ke STF Driyarkara dan memulai lagi dari awal. Namun, ibunda tercinta meminta agar saya selesaikan dulu kuliah di ITB yang tanggung sedikit lagi akan selesai. Saya pun akhirnya mengiyakan. Namun, kenyataan berbicara lain.
Selain itu, Mursyid almarhum pernah berpesan agar saya mendalami filsafat, dan itu pun didukung oleh Mursyid Penerus. Belakangan, saya pun berpikir ingin memberi contoh kepada anak-anak ihwal orangtuanya yang tetap ingin kuliah setinggi yang bisa dicapai agar nanti mereka pun punya imajinasi jauh ihwal sekolah dan belajar. Saya tahu kok soal kritik ihwal pendidikan dan sekolah. Jangan bilang saya tak tahu wacana semacam itu, bahkan saya pun sering menulis tentang kritik atas pendidikan di Indonesia. Tapi, saya masih menghargai institusi pendidikan. Bagaimana pun.
Tanggal 4 Juli 2012 adalah tanggal di mana saya mendapat kabar bisa melangkah masuk ke kampus itu dengan bahagia. Jarak dari rumah saya ke ITB tak lebih dari satu kilo, dan saya sering jalan kaki ke kampus. Namun, setiap kali pergi ke kampus, saya selalu merasa berat, seolah harus menghadiri pengadilan yang akan memvonis saya sebagai ‘si bodoh yang salah jurusan’. Sedangkan, setiap kali pergi ke Jakarta untuk kuliah, saya menjalaninya dengan semangat dan bahagia. Inilah mimpi lama saya. Kampus ini. Belajar filsafat.
Namun, tiga tahun satu hari dari tanggal 4 Juli 2012 itu, yaitu tanggal 5 Juli 2015, saya harus menerima dan menjalani kabar lainnya bahwa kepala saya harus dibongkar. Setahun kemudian, saya harus masuk rumah sakit karena masalah di jantung saya. Tiga semester berlalu tanpa ada apa-apa di laporan hasil kuliah saya.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Itulah sebaik-baik doa, sabda Rasulullah Muhammad saw dalam salah satu hadits.
Mursyid almarhum pernah menasehati Mursyid Penerus (saat masih berstatus salik): “Jika ada tamu sampai di depan pintu rumahmu, itu tidak akan terjadi tanpa izin Allah.”
Ya, beliau memang seringkali memberi nasihat singkat dan seperti sambil lalu. Namun, nasihatnya tersebut meringkaskan apa yang Rumi tuliskan dalam syairnya sebagai berikut:
***************
Sayangku, jasad ini adalah sebuah Rumah Tamu; setiap pagi ada tamu baru yang datang.
Janganlah berkata: “Wah, ada beban tambahan melingkari leherku!” atau tamumu akan melesat kembali ke ketiadaan.
Apa pun yang memasuki qalb-mu, itu adalah seorang tamu dari alam yang tidak tampak: sambutlah dengan baik!
Setiap hari, setiap saat, sebuah pikiran mendatangi, bagaikan seorang tamu kehormatan ke dalam qalb-mu.
Wahai jiwaku, perlakukan setiap gerakan qalb sebagaiman manusia, karena nilai seseorang terletak pada qalb-nya.
Jika yang menghadang di jalan adalah ingatan yang menyedihkan, ia juga tengah giat menyiapkan kedatangan kegembiraan.
Dengan giat ia menyapu bersih rumahmu, agar kegembiraan yang baru bisa muncul dari Sumbernya.
Ia menceraiberaikan dedaunan layu dari dataran qalbmu, agar daun yang segar dapat tumbuh.
Ia mencabut kegembiraan yang lama, agar suatu kegembiraan yang baru bisa datang dari Sebelah Sana.
Kesedihan mencabut akar busuk yang tersembunyi dari pandangan.
Kehilangan apa pun yang ditimbulkan kesedihan, atau yang membuat qalb-mu terluka, ia menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik.
Khususnya bagi mereka yang yakin bahwa kesedihan adalah abdi mereka yang bermata hati.
Tanpa lintasan awan dan petir, anggur akan terbakar oleh senyuman matahari.
Baik keberuntungan mau pun kesialan, keduanya adalah tamu di qalbmu: bagaikan planet yang berjalan dari satu tanda ke tanda lainnya.
Ketika sesuatu menyinggahi tandamu, sesuaikanlah dirimu, dan bersikaplah seharmonis mungkin dengan tanda utamanya,
Sehingga ketika ia bergabung kembali dengan Sang Rembulan, ia akan berkata yang baik-baik kepada Sang Penguasa Qalb.
Ketika kesedihan mendatangimu lagi, sambutlah ia dengan senyum dan tawa,
Katakanlah: “Wahai Penciptaku, selamatkanlah aku dari keburukannya, dan jangan pisahkan aku dari kebaikannya.
Tuhanku, ingatkanlah daku untuk selalu bersyukur, sehingga aku tidak akan menyesali manakala kemaslahatannya berlalu.”
Dan bila mutiaranya bukan berada dalam tangan kesedihan yang itu, lepaskanlah dan tetaplah merasa gembira.
Tingkatkanlah latihanmu mencerap rasa manis.
Kali lain, latihanmu itu akan memberimu maslahat; suatu hari tiba-tiba saja, kebutuhanmu akan terpenuhi.
***************
Suatu ketika, Mursyid Penerus menceritakan ihwal dzikir yang sering kita baca setiap habis shalat. Beliau menjelaskan bahwa dzikir Subhanallah sebanyak 33 kali itu menyimbolkan saat sang hamba dalam tahap merasakan kebahagiaan dan penderitaan sebagai dua hal yang berbeda. Saat sang hamba masih menjerit “aduh sakit ya Allah” namun masih mau mengagungkan Allah dengan dzikir itu. Sedangkan dzikir Alhamdulillah sebanyak 33 kali itu menyimbolkan tahapan di mana sang hamba sudah merasakan bahwa susah dan senang itu sama saja. Semuanya patut disyukuri dengan ucapan Alhamdulillah. Sedangkan dzikir Allahu Akbar sebanyak 33 kali itu menyimbolkan sang hamba yang sudah berada di tahap bahwa susah dan senang itu sama sekali tidak penting, karena yang penting hanyalah mengagungkan Allah Ta‘ala.
Kembali kepada puisi Rumi di atas, susah dan senang itu seperti dua sisi dari satu mata uang. Kita tak bisa menerima yang satu sembari menolak yang lainnya. Kalau mau sedikit agak nge-semiotik, itu seperti penanda dan petanda dalam pandangan Saussure, recto dan verso. Tak bisa dipisahkan. Namun, tidak selalu demikian rupanya. Barthes dan Derrida adalah contoh dua pemikir yang mencoba memisahkan penanda dan petanda tersebut, sehingga recto dan verso tidak harus selalu menyatu. Mungkinkah?
Nah, sekali lagi, mumpung masih Syawwal. Saya minta maaf jika ada kesalahan selama bermedia sosial, kesalahan yang menyakiti Anda. Dalam beberapa hal, saya sebenarnya tak akan mengubah pendirian saya sama sekali, hanya saja saya tetap harus meminta maaf jika cara saya menyampaikannya membuat Anda terluka. Semoga saya masih diberi umur untuk menebus kesalahan-kesalahan saya, kepada orang-orang tercinta di sekeliling saya, kepada sahabat-sahabat saya dan kepada siapa pun yang pernah saya lukai. Maafkan saya.
***************
Suatu pagi, datang pada Nabi Sulaiman yang berada di gedung pengadilan
Seorang bangsawan, lari tergopoh-gopoh,
Wajahnya pucat karena sedih, kedua bibirnya membiru.
”Sakitkah, engkau, Khwajah?” tanya Sang Raja.
Dia menjawab: “Ah, sewaktu Izrail melemparkan pandangan kepadaku, ia penuh amarah dan kebencian.
Wahai pelindung hidupku, aku mohon kepadamu, perintahkanlah Angin membawaku langsung ke India: semoga, setelah sampai di sana, hambamu akan selamat jiwanya dari Kematian.”
Betapa banyak orang yang melarikan diri dari kedarwisan
Jatuh ke dalam rahang serakah dan harapan yang sia-sia!
Ketakutanmu kepada kedarwisan itulah yang membuat orang malang tadi terteror,
Keserakahan dan ambisi adalah India-mu.
Nabi Sulaiman memerintahkan Angin cepat membawanya
Melintasi lautan menuju pedalaman India.
Esok harinya, ketika Sang Raja berada di sidang umum,
Dia bertanya kepada Izrail, “Mengapa engkau memandang
Dengan sangat marah kepada orang Muslim itu
Yang rumahnya tidak lagi tahu di mana dia?”
“Bukan, bukan marah,” jawab Izrail, ”Ketika aku memandangnya;
Namun melihatnya pergi, aku terperangah heran.
Karena Tuhan telah menyuruhku mencabut nyawanya pada hari itu,
Di India. Di sana dengan penuh keheranan aku menanti.
Aku kira, bahkan jika ia punya seratus sayap
Tetaplah terlalu jauh baginya untuk terbang ke India.”
Pertimbangkanlah segala sesuatu di dunia dengan hukuman yang sama ini
Dan bukalah matamu serta lihatlah! Dari siapakah
Kita akan segera melarikan diri? Dari diri kita sendiri? Mustahil!
Lantas, dari Tuhan? Oh, sungguh kejahatan yang sia-sia dan sangat menyedihkan!
(Maulana Jalaluddin Rumi)
Keterangan tambahan:
Gambar ini adalah cover dari single “Good Times, Bad Times”, lagu lawas milik Led Zeppelin, band terbaik sepanjang masa, yang dinyanyikan ulang oleh Nuclear Assault, sebuah band beraliran thrash metal.

0 comments:

Post a Comment