Tuesday, July 4, 2017

Menikmati I'tikaf

Informasi mengenai mulianya bulan ramadhan, besarnya ampunan dan rahmat Allah di bulan itu, bahkan istimewanya malam lailatul qadar sudah saya dengar sejak lama. Bahkan seingat saya, rajin shalat 5 waktu dulu sewaktu kelas 1 sd juga pas bulan ramadhan. Maklum kan ada kertas monitor yg harus diisi, bukan karena faham keutamaan bulan ramadhan.
Shalat 5 waktu tak pernah tinggal, itu baru mulai dekat2 baligh. Waktu itu saya ingat, betapa takutnya saya akan siksa neraka bagi orang yg ga shalat di komik anak2. Tapi mulianya ramadhan dan istimewanya lailatul qadar masih masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Waktu berlalu, musim berganti, aku pun sudah menikah, sudah punya anak2 anak. Tapi the old me still remain the same.  Sampai akhirnya aku sekolah ke Malaysia. Tahun terakhir masa tinggalku di sana merupakan saat2 terberat dalam hidupku. Do I have to stay or do I have to return to my home town? Beban pikiran yg sepertinya hampir membuatku gila.
Saat itu sudah ramadhan 10 hari terakhir. Tiba2 istri mengajak i'tikaf di masjid kampus. Aku sih ok ok aja karena istriku bisa ajak beberapa keluarga teman untuk ikutan. The fun thing from our first i'tikaf adalah: ruangan full AC dan shaur gratis. Malaysia memang panas, rumah ga punya AC, jadi sesekali tidur di ruangan ber AC merupakan kebahagiaan tersendiri.
Tapi kebahagiaan sederhana itu ternyata begitu membekas ketika akhirnya kami pulang. Koq jadi kangen i'tikaf ya.  Untungnya ketika balik itu ada sekawanan orang2 baik yg ngajakin i'tikaf juga. Maklum kami kan ga tau rekomendasi i'tikaf di mana. Anak2 senang aja ada kawan bermain selama i'tikaf. Apalagi ada makan sahur barengnya. Pokoknya menyenangkan.
Beberapa tahun terakhir istri dan anak ga bisa menemani i'tikaf sering2 karena berhalangan. Tapi dorongan i'tikaf ga bisa ditinggalkan. Seperti dorongan shalat 5 waktu yg rasanya ga enak ditinggalkan meskipun sudah ga dicatat oleh sekolah lagi. Jadi kadang pergi sendiri ke masjid, atau sendirian di masjid pun ga jadi masalah. Pokoknya harus pergi tiap malam. Nyari apa? Ga tau. Kadang baca do'a pun sudah ga tau mau baca apa. Merenungpun tidak hanya duduk diam. Memandang podium, atau kadang rebahan sambil lihat atap masjid. Seperti dapat momen indah, seperti saat memandang laut dari pinggir pantai, atau seperti memandang bintang di langit saat tiduran di pinggir kemah.
Aku ga tau apa yg berubah dari diriku akibat i'tikaf. Hanya rasanya semakin lama aku makin pasrah dengan jalan yg diberikan oleh Dia. Modalku cuma do'a2 sederhana yg diulang ulang. Usaha pun seadanya. Harapanku cuma agar Dia ridho saja. Aku pun semoga diberi keridhoan kepada hal2 istimewa yg sudah diberikan Nya kepadaku dan jalan panjang rahasia di depanku.                       
[01:22, 6/24/2017] Ermina Hidayanti: 😍😍😘😘😘

0 comments:

Post a Comment