Thursday, July 20, 2017

Sebuah Jalan

Oleh Al.
Di tahun 1997, saya menempuh sebuah jalan; dan kemudian, sekian yang lainnya pun jadi mengenal jalan ini melalui saya.
Cukup banyak orang berkata: “Saya mempelajari tashawwuf karena ingin mencari ketenangan”, padahal perjalanan jiwa dalam thariqah itu sangat berbahaya jika niatnya tidak murni hanya untuk-Nya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim).
Rumi menyebut seseorang yang tujuannya mendua itu sebagai ‘tukang selingkuh’ yaitu kadang kepada Allah tapi lebih sering kepada dunia. Dalam wayang kulit, ini disimbolkan dengan tokoh ksatria yang matanya hanya satu, yaitu hanya Allah tujuannya. Sedangkan para raksasa (buta), matanya dua karena keinginannya bercabang-cabang, tidak lurus hanya satu sebagaimana para ksatria. Seorang salik harus senantiasa memurnikan niat dalam bersuluk, jangan memelihara obsesi, misalnya ingin jadi presiden atau menteri, atau ingin dikenal sebagai pimpinan sebuah LSM atau malah berobsesi menjadi pemimpin spiritual sebuah sekte dengan berbagai istilah baru apa pun itu.
Dalam perjalanan waktu, siapa pun bisa menghilang begitu saja entah karena bosan, jenuh dengan ujian dalam kehidupan dan berbagai hal lainnya, sehingga akhirnya memilih untuk kembali hidup seperti sebelumnya. Sebagian malah bisa berbelok arah perjalanan karena tergiur dengan angan-angan kebesaran diri lalu membentuk sekte kleniknya tersendiri serta asyik dengan takhayulnya masing-masing. Mengenai hal ini, Rumi pernah menuliskan sebagai berikut:
*********************
Suatu hari, seseorang datang kepada tukang emas: “Berikan timbangan emas padaku,” katanya, “Aku ingin menimbang beberapa gram emas.”
“Pergilah,” kata si tukang emas, “Aku tak punya saringan.”
“Berikan timbangan itu padaku,” ulang si lelaki, “jangan bercanda denganku.”
“Aku tak punya sapu di dalam tokoku,” kata si tukang emas.
“Cukup, cukup!” kata si lelaki, “jangan bergurau lagi. Berikan timbangan emas yang kuminta. Jangan pura-pura tuli dan jangan berbicara yang tidak-tidak.”
“Aku dengar apa yang kau minta,” kata si tukang emas, “Aku tidak tuli. Jangan mengira kalau aku sedang bercanda. Aku mendengar semuanya. Tapi engkau adalah seorang tua yang sudah renta, tanganmu bergetar, tubuhmu pun sudah tidak tegak lagi. Emas yang kau bawa mengandung kadar yang sangat sedikit. Tanganmu yang bergetar akan menjatuhkan banyak serpihan emas. Lalu engkau pun akan berkata, ‘Tuan, bawakanlah aku sapu, sehingga aku dapat mencari serpihan emasku dalam debu.’ Ketika engkau menyapu dan mengumpulkan debu bersama emasmu, engkau akan berkata, ‘Aku minta saringan emas.’ Aku melihat semuanya dari awal sampai akhir. Pergilah dari sini dan carilah tempat yang lain, selamat siang!”
Hal yang permulaan telah menjelaskan akhirnya, maka dari itu engkau tidak dapat menyesali Hari Pembalasan.
*********************
Setelah genap dua puluh tahun, ternyata saya masih Allah kehendaki untuk menempuh jalan pertaubatan bersama-sama dengan kalian, para sahabat dan Mursyid Penerus tercinta. Semoga niat dan tujuan perjalanan kita tak pernah berubah hingga ajal menjemput. Amin Ya Rabb Al-Alamin...
*********************
Pernahkah kau dengar nama dari segala sesuatu dari Yang Mengetahui?: Dengarlah makna rahasia ’Dia mengajarkan kepadanya Nama-nama.'
Bagi kita, nama segala sesuatu adalah bentuk lahirnya; bagi Sang Pencipta, ia adalah hakikat batinnya.
Dalam pandangan Musa nama tongkatnya adalah ”tongkat"; dalam pandangan Tuhan namanya ”naga”.
Di dunia ini nama ’Umar adalah ”pemuja berhala”, namun di alam baka ia adalah ”mukmin yang sesungguhnya”.
Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya.
(Maulana Jalaluddin Rumi)

0 comments:

Post a Comment