Tuesday, July 25, 2017

Setelah Kepala Saya 'Dibongkar'

Status yang Saya Tulis 16 Hari Setelah Kepala Saya 'Dibongkar' untuk Pengangkatan Kista Epidhermoid di Batang Otak... Dua Tahun yang Lalu... 21 Juli 2015.
**********************
Beberapa hari sebelum naik ke meja operasi, Mursyid tercinta memberitahukan beberapa hal yang harus saya lakukan terlebih dahulu, dan salah satunya adalah: ziarah ke makam ibunda, membaca surat Yasin untuknya serta meminta maaf untuk kelalaian saya selama bertahun-tahun karena tak pernah mendoakannya. Ya, ini benar apa adanya; saya yang banyak bicara agama di media sosial semata agar terlihat bijak dan paham agama—dan tampaknya upaya pencitraan ini berhasil juga—ternyata tak pernah mengirimkan Yasin kepada perempuan yang telah melahirkannya ke muka bumi ini, sering lupa mendoakannya setiap habis shalat, dan bersikap acuh tak acuh akan hal itu. Maka, saya pun datang ke makam ibunda tercinta, ditemani oleh istri, membaca Yasin dan meminta maaf kepadanya, serta menangis sejadi-jadinya.
Lalu, terlintaslah kembali ingatan akan pertengkaran terakhir kami, pertengkaran yang dipicu oleh kemarahan ibunda akan keputusan Aa Gym untuk berpoligami. Ibunda, seperti halnya kebanyakan perempuan dan masyarakat Indonesia saat itu, menghakimi Aa Gym tanpa belas kasihan sama sekali. Segala caci maki dan pandangan negatif dilemparkan kepada Aa Gym untuk menempatkan dia di posisi paling rendah hingga layak diperlakukan seperti itu. Saya, di sisi lain, membela pilihan beliau. Saya bukanlah murid Aa Gym. Saya hanya beberapa kali saja hadir di pengajiannya ketika saya masih duduk di bangku SMA. Setelah lulus SMA, saya tak pernah lagi hadir di pengajiannya, tak pernah menyimak pengajiannya dari awal hingga akhir. Aa Gym tidak kenal saya, dan saya pun tak pernah hadir di pengajiannya hingga detik ini. Jadi, pembelaan saya sama sekali bukan berdasarkan kedekatan personal.
Lantas, atas dasar apa saya membelanya?
Di akhir pertengkaran kami, saya bertanya kepada ibunda: “Mama, tolong tunjukkan kepada saya: hukum syariat mana yang Aa Gym langgar? Hukum mana dalam Islam yang beliau langgar?”
Ibunda menjawab: “Iya sih, tapi masalahnya, dia kan cuma mengikuti kesenangan hasrat seksualnya dengan pilihan poligami tersebut!”
Saya balik bertanya: “Jadi Mama tahu dengan pasti niat beliau? Jadi Mama tahu niat yang tersembunyi di dalam hatinya? Hebat sekali Mama bisa tahu sampai sana. Bukankah hanya Allah yang tahu niat sebenarnya dari tindakan seseorang? Kenapa menghakimi hanya dari prasangka dan kebencian kita? Apa yang Mama tahu soal niat seseorang?”
Ibunda terdiam. Pertengkaran kami pun berhenti hingga di sana. Saya tersenyum mengingat pertengkaran terakhir kami tersebut. Saya pun sadar bahwa hingga detik ini, saya sama sekali tidak menyesali sikap saya dalam membela Aa Gym di hadapan ibunda, membela orang yang tidak kenal saya sama sekali dan saya pun tak pernah hadir di majelis pengajiannya. Yang saya sesalkan adalah: ‘pasti ada kata-kata yang salah terlontar saat kami bertengkar tersebut yang telah melukai ibunda.’ Hanya itu yang saya sesali hingga detik ini. Selebihnya, saya hanya ingin menyelamatkan ibunda tercinta jangan sampai terjatuh dari ketidaksukaannya terhadap pilihan hidup seseorang hingga malah menjadi menginjak-injak hukum Islam.
Pada saat itu, salah satu hal yang membuat saya marah juga adalah: ‘bungkamnya mereka yang digelari sebagai ulama dalam membela hukum tersebut.’ Dalam kemarahan tersebut, saya sampai berkata: ‘Mereka hanya takut kehilangan amplop karena terancam tidak akan lagi diundang ke berbagai majelis pengajian ibu-ibu jika membela Aa Gym!’
Dan saya tahu pasti, bahwa ada banyak teman di FB ini yang tidak akan suka pada pilihan sikap saya ini lalu melontarkan berbagai argumen di kolom comment untuk mematahkan sikap dan pandangan saya tersebut. Saya memberi saran: ‘Simpan saja energi Anda. Saya tak mau berdebat, apalagi di media sosial. Itu hanya onani dan buang-buang waktu. Kasihan saja, Anda menulis argumen panjang lebar ini itu, dan ternyata saya pun tidak menanggapinya secara serius; bahkan, jika saya sedang iseng, maka saya delete saja comment tersebut dari wall saya. Jadi, simpan tenaga Anda, lebih baik salurkan itu untuk sesuatu yang produktif.’
Kini, setelah di penghujung Ramadhan saya diberi kesempatan untuk mengalami dzikrul maut, saya hanya ingin menyerahkan sisa usia saya di muka bumi ini untuk menolong agama-Nya. Semoga Dia berkenan menerima niat tersebut.
Mursyid penerus pernah mengajari bahwa syukur itu bukanlah Alhamdulillah. Alhamdulillah merupakan ungkapan lisan dari syukur. Sementara bentuk syukur itu sendiri adalah dengan menggunakan apa yang telah Dia Ta’ala berikan untuk bekerja. Dalam hal ini, salah satu bentuk kebersyukuran saya adalah: Dia Ta’ala telah memberi saya pikiran yang bisa melahap buku-buku filsafat dan cultural studies, bahkan buku-buku humaniora lainnya hingga sejarah; dan Dia Ta’ala pun telah memberikan saya minat yang besar untuk mendalami Islam hingga dimensi esoterisnya, bahkan menjalaninya dalam sebuah thariqah. Bentuk kebersyukuran saya karena telah diberi-Nya dua kaki—satu kaki di humaniora dan satu kaki di kajian agama—adalah dengan mencoba membuat sintesis yang apik atas kedua wilayah ini, dan bukannya uthak atik gathuk bin cocokologi.
Karena itulah, saya memang selalu mengkritik kalangan terpelajar Muslim yang menjadikan Islam hanya semata sebagai keset atau budak bagi wacana teoretik (post)modern. Ketika di Barat ada teori ini itu, lalu hal itu dengan mudah diterapkan ke dalam Islam semata biar Islam jadi selaras dengan agenda politik wacananya dan bisa terlihat keren lagi up to date. Pemilahan NATURE VS CULTURE digadang-gadang untuk mencari celah di mana Islam bisa didekonstruksi sesuai agenda politik wacana dan—bukan tidak mungkin—kemauannya sendiri.
Kita berbelok dulu sebentar ya. Saat saya masuk STF Driyarkara, awalnya saya berniat hendak membuat tesis berupa perbandingan antara pemikiran Platon dan Ibn ‘Arabi. Namun, Romo Herry sejak awal sudah memperingatkan bahwa jika tesis Anda berupa perbandingan antara dua pemikir, maka sejak awal Anda harus bersikap adil kepada keduanya, dan tidak berat sebelah. Saya jadi ciut; saya takut bersikap tidak adil kepada salah satu dari mereka, hingga saya pun memutuskan: ‘Baiklah, untuk tesis kali ini kita hanya bahas Platon, nanti, jika bisa lanjut ke S3, maka disertasinya adalah tentang Ibn ‘Arabi.’
Itulah etos yang baik dari dunia ilmiah yang saya sukai: adil dan objektif, tidak berat sebelah.
Nah, dalam hal ini, apakah adil dan objektif jika seorang terpelajar dari kalangan Muslim, dengan hanya bermodalkan pengetahuan agama Islam yang memprihatinkan—apalagi jika sama sekali tidak tersentuh oleh khazanah esoterik Islam yang sangat kaya—lalu membongkar dan mengoreksi Islam dengan bermodalkan pemahaman akan wacana teoretik Barat yang detail dan mendasar? Adilkah sikap seperti itu? Sebagai seorang intelektual, coba tanya diri sendiri: seperti itukah etos seorang ilmuwan?
Mari kita mulai dengan berbagai pertanyaan membingungkan yang dimunculkan oleh Islam. Kenapa Al-Quran itu tidak disusun secara runut seperti Alkitab atau kitab-kitab suci agama lainnya? Al-Quran ternyata merupakan kitab yang berantakan; dengan mudah—dalam satu surat—topiknya berpindah-pindah tak terduga, ketika bercerita kisah nabi sedikit mendadak berbicara topik lain, lalu berpindah lagi ke topik lain, dan tiba-tiba kembali ke kisah para nabi, dan tiba-tiba berpindah topik lagi. Demikian terus menerus. Kenapa Al-Quran menyebutkan bahwa setelah Allah menciptakan bumi, maka Dia beralih menciptakan langit? Bukankah itu salah secara sains? Para saintis tahu bahwa bumi ini tercipta terakhir, bukan bumi dulu tercipta lalu ruang angkasa? Kenapa Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta bisa salah dalam menceritakan tentang ciptaan-Nya? Kenapa Islam mempunyai syariat yang membolehkan majikan bercampur dengan budaknya? Hukum macam apa itu? Kenapa Islam mempunyai hukum rajam dan hukum potong tangan? Bukankah itu melanggar HAM? Kenapa Islam mempunyai hukum poligami? Bukankah itu merendahkan perempuan hanya menjadi objek seksual saja? Dan banyak lagi hal lainnya yang seharusnya membuat banyak Muslim jadi pusing serta bertanya-tanya, dan bukannya sibuk memuji lalu mengagung-agungkan agamanya sendiri sambil mengabaikan berbagai hal membingungkan tersebut. Bukankah itu adalah fanatisme buta?
Karena itu, dalam mendalami agama Islam, dan khususnya membuka rahasia Al-Quran, saya Insya Allah ingin mengikuti apa yang QS Al-Baqarah tandaskan sejak awal surat. Di awal QS Al-Baqarah 1-2, Allah berfirman: “Alif Lam Mim. Itulah Alkitab, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi al-muttaqin.” Apakah Alkitab yang dimaksud di ayat tersebut? Alif Lam Mim. Itulah alkitab yang dimaksud, dan sering diandaikan begitu saja dengan perkataan: “Alif Lam Mim itu hanya Allah yang tahu apa maksudnya.” Oh ya? Lantas bagaimana dengan QS Al-Baqarah 282 yang menandaskan: “Dan bertaqwalah, maka Allah akan mengajarimu.” Ini menjelaskan bahwa bagi al-muttaqin alias mereka yang bertaqwa—taqwa yang haqq, bukan taqwa yang disebut secara longgar dalam banyak khotbah—maka Alif Lam Mim akan menjadi alkitab yang nyata bagi mereka yang Allah telah mengajarinya secara langsung.
Karena itu, jangan heran jika sebagai seorang peminat bacaan filsafat dan cultural studies, saya membuka diri kepada dimensi dan khazanah esoteris dalam Islam. Saya tak mau membatasi dan membonsai diri sendiri dengan sikap sok rasional hingga menolak khazanah yang teramat kaya tersebut dalam Islam. Maka, dalam mempelajari Islam dan terutama membuka rahasia Al-Quran yang susah ditembus kecuali oleh kesucian hati dan ketaqwaan, maka saya ingin bisa merendahkan diri di hadapan-Nya dan berkata: “Ampuni aku dan tolong ajari aku ihwal agama ini; aku bodoh tidak mengerti.” Itulah sikap saya dalam menyikapi seluk beluk hukum Islam: meminta Dia Ta’ala mengajari rahasianya dan bukan menggunakan berbagai wawasan teoretik untuk mengoreksi dan menghukumi ini itu dalam Islam seolah telah paham dan melihat banyak ‘kesalahan’ dalam hukum-hukum Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw.
Namun, di sisi lain, saya pun menyayangkan sikap sebagian kalangan Muslim yang menghakimi banyak wawasan teoretik—yang kebetulan kini memang banyak dikembangkan oleh negara-negara Barat—sebagai sesat pikir, ghawzul fikri dan lain sebagainya. Itulah sebabnya kenapa hingga detik ini saya masih aktif di Studia Humanika, lalu Forum Studi Kebudayaan, kemudian Asian African Students Forum; lalu saya jadi editor buku-buku teoretik humaniora sejak di Jalasutra hingga kini di Pustaka Matahari. Saya pun mencetuskan kegiatan penulisan ilmiah untuk banyak mahasiswa dan dosen karena didorong oleh keprihatinan akan memprihatinkannya budaya literasi dalam dunia pendidikan kita. Mahasiswa S1, S2 dan S3 tak mampu menuliskan satu kalimat yang make sense, lalu bagaimana dengan tugas akhirnya? Bagaimana kualitasnya? Jumlah doktor meningkat pesat di Indonesia, namun jumlah ilmuwan sama sekali tidak bertambah. Dan berbagai keprihatinan lainnya akan dunia pendidikan kita yang semakin lama semakin berantakan.
Secara pribadi, saya sering kagum kepada para pemikir Barat. Saat membaca buku-buku mereka, saya kagum pada ketajaman nalar mereka dalam membedah suatu masalah hingga detail dan rinci. Lalu, dengan nalarnya tersebut, mereka menemukan banyak masalah dalam hidup kita, dan salah satu yang sering mengemuka adalah masalah yang mereka temukan di berbagai agama yang tak bisa dipertanggungjawabkan secara rasional dan sudah seharusnya disingkirkan dari kehidupan manusia. Saya kagum pada kemampuan mereka menemukan itu semua. Kenapa? Karena dengan temuan tersebut, mereka telah menunjukkan kepada saya: sampai sinilah batas nalar dalam memahami berbagai perkara dalam agama. Saya berterima kasih untuk upaya pikir mereka, sehingga saya pun bisa meneruskan jalan buntu yang mereka temukan tersebut dengan melangkah ke dalam wilayah esoterik dalam Islam dan terkagum-kagum kepada-Nya bahwa Dia Ta’ala telah menyediakan jalan keluar yang dipenuhi khazanah tak terhingga dalam agama-Nya di wilayah yang sering dihakimi sebagai tidak rasional, tidak Rasulullah saw ajarkan, wilayah bid’ah yang harus dijauhi dan lain sebagainya.
Karena itulah, saya mengajak siapa pun yang mau, untuk mempelajari wawasan teoretik tersebut hingga mendasar dan paham dengan baik. Jangan sok berkomentar ini itu dan menghakimi hanya dengan modal pemahaman yang dangkal. Saya teringat pada pesan Mursyid saya: “Katanya ada seekor naga di balik gunung, di suatu negeri. Tapi itu katanya—dan tak jelas kata siapa. Sebagian besar orang di negeri itu memilih berlindung diri walau tidak pernah melihat, apalagi bertemu sang naga; tak mau berusaha untuk mencari tahu hingga akhir hayat, hidup dalam ketakutan terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui perihal ada atau tidaknya. Hanya sedikit sekali di antara mereka yang berani menghampiri, mencari tahu. Itu perlu keberanian, jiwa ksatria. Keberanian untuk salah, kalah, bahkan mati. Tapi mereka yang berani itu memenangkan sebuah keyakinan; tahu yang hakiki.”
Kebetulan, kini beberapa pintu terbuka untuk saya. Romo Setyo meminta saya untuk rutin menulis kajian keislaman di Majalah Basis, majalah yang dikelola oleh para Romo Jesuit, agar majalah tersebut tidak terkesan hanya untuk kalangan Katolik. Saya bahagia dengan tawaran itu. Maka, di Majalah Basis, Insya Allah saya akan menulis hal-hal yang bersifat leksikografis, menjelaskan berbagai definisi dalam Islam agar kita bisa lebih tertib dan bertanggung jawab saat menyebut berbagai istilah dalam Islam. Misalnya: apa beda syahwat dengan hawa nafsu? Apa beda nafs dengan ruh? Apa beda nafs dengan psikis yang dibahas dalam psikologi? Apa beda otak kita dengan lubb? Benarkah ulil albab itu gelar untuk mereka yang berilmu karena beruntung bisa sekolah dan kuliah? Lalu bagaimana dengan mereka yang tak tamat SD? Mereka tak mungkin jadi ulil albab? Apakah Islam tak bicara soal ketaksadaran? Apa itu shudur? Apa beda shudur dengan qalb? Dan banyak lagi lainnya. Hal-hal seperti itulah yang akan saya tuangkan di Majalah Basis, sehingga kalau ada teman-teman yang tertarik untuk mempelajari berbagai definisi tersebut—sehingga setidaknya bisa berhenti untuk mendoakan ‘semoga arwahnya di terima di sisi Tuhan’ ketika ada yang meninggal, karena itu adalah doa yang meleset—silahkan menyimak tulisan-tulisan saya di Majalah Basis yang dikelola oleh para Romo Jesuit. Asyik bukan? Belajar Islam dari majalah milik kalangan Katolik? Saya tidak menulis hal-hal yang ‘berbahaya’ di sana, karena saya tidak mau para Romo didemo dan diteror oleh kalangan Islam radikal dan fundamental. Saya tak mau menyusahkan mereka karena tulisan saya.
Sedangkan untuk tulisan kajian keislaman yang lebih komprehensif dan sensitif, Insya Allah saya akan menuangkannya di Jurnal Salman yang ikut saya kelola juga. Di sana saya ingin menulis soal tafsir Al-Quran dalam kaitannya dengan hermeneutika, soal ilusi negara Islam dan berbagai hal sensitif lainnya. Sedangkan untuk tulisan seputar kajian humaniora, saya akan utamakan Jurnal Kultura, jurnal milik Forum Studi Kebudayaan yang turut saya kelola juga. Dan mungkin akan sesekali mampir di jurnal lainnya.
Nah, dengan pilihan saya dalam wacana teoretik dan agama tersebut yang mungkin tidak Anda sukai, mengecewakan dan malah menyebalkan, maka saya hanya bisa berkata: “Maafkan pilihan saya tersebut, saya tak bisa sejalan dengan Anda dalam politik wacana, namun izinkan saya menawarkan satu hal: ‘Bisakah kita tetap berteman tanpa terganggu dengan politik wacana saya tersebut?’ Jika itu diterima, maka tolong terima saya sebagai teman."
Sekadar contoh dan gambaran saja: Saya berguru kepada pak Yasraf Amir Piliang dan juga pak Bambang Sugiharto. Mereka berdua banyak berjasa membentuk pemikiran saya. Namun, apakah pemikiran dan tulisan saya hanyalah perpanjangan dari mereka berdua? Kami sudah banyak berbeda, namun mereka berdua tetaplah guru saya sampai kapan pun. Sejarah tak bisa menghapuskan hal itu. Kemudian, sintesis antara Islam dan wawasan teoretik (post)modern yang sedang saya rintis ini banyak terinspirasi juga oleh upaya yang telah lebih dahulu dilakukan oleh guru saya yang lainnya, yaitu Bang Armahedi Mahzar. Namun, kami sering terlibat perbedaan pendapat—terutama dalam hal definisi—yang mungkin ‘tak terselamatkan’ lagi. Namun, apakah saya dengan beliau bermusuhan? Tidak! Kami tetap akrab dan beliau tetap saya akui sebagai guru dan yang menginsiprasi saya untuk menempuh jalur intelektual seperti yang saya tempuh kini.
Jadi, teman-teman sekalian, maafkan kalau ternyata kita berbeda jalan dan tujuan. Namun, bisakah kita tetap berteman?
Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam.

0 comments:

Post a Comment