Wednesday, July 5, 2017

Shirotol Mustaqim

By. Alfathri Adlin
Seorang teman di sebuah grup WA menuliskan begini:
“Sepakat nggak shirathal mustaqim yang sering kita minta adalah jalan orang yang memahami al quran 100% dan mengamalkanya 100%?”
Lalu saya membalas begini:
***********************************
Kita definisikan Al-Quran dengan Al-Quran lagi ya. Saya coba bertahap ya.
Ini mah kajian ringan aja ya, buat orang awam kayak kita, untuk melihat betapa dahsyatnya Al-Quran dalam menjelaskan dirinya sendiri.
Pertama, Al-Fatihah dengan jelas mendefinisikan apa itu Shirathal Mustaqim:
“Tunjukilah kami Shirath Al-Mustaqim.” (QS Al-Fatihah [1]: 6)
Apa itu Shirath Al-Mustaqim? Ayat berikutnya mendefinisikan:
"Shirath orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS Al-Fatihah [1]: 7)
Dua ayat ini menunjukkan bahwa apa itu Shirath Al-Mustaqim? Shirath dari orang yang diberi nikmat.
Apa itu NIKMAT? Petunjuk menuju Shirath Al-Mustaqim.
Siapakah yang diberi nikmat itu? Tentu saja, yang pasti bukan golongan mereka yang maghdub (dimurkai) dan juga bukan dhalin (sesat).
Siapa?
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An-Nisa [4]: 69)
Yang berada di Shirath Al-Mustaqim adalah para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, Shalihin. Empat golongan inilah golongan yang bukan termasuk maghdub (dimurkai) dan dhalin (sesat).
Sekarang, kita ambil contoh dua golongan dari enam golongan di Al-Fatihah tersebut.
Pertama, siapakah Shalihin itu?
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) shalihin.”
Jadi, shalihin itu adalah mereka yang beriman dan beramal shalih. Ingat dengan baik kata iman tersebut ya.
Lalu siapakah yang termasuk golongan dhalin itu? Al-Quran menjelaskan:
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk dhalin (orang yang sesat).” (QS Al-An'am [6]: 77)
Jadi. Dhalin itu adalah mereka yang tidak mendapat petunjuk. Kenapa mereka tidak mendapat petunjuk?
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun [64]: 11)
Jadi, jika seseorang beriman, maka Allah akan memberi petunjuk ke hatinya. Jika, tidak, maka tidak akan mendapat petunjuk. Dan mereka itulah golongan dhalin. Perumpamaannya, kayak orang yang punya hape tanpa simcard; punya hati tapi gak punya iman. Jadi perhiasan aja tuh hape.
Lalu apa itu iman? Silakan baca di link berikut ini:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=816743011671956&set=a.222803201065943.67857.100000087938909&type=3&theater
Oke, kita kembali ke Shirath Al-Mustaqim. Apa sih Shirath Al-Mustaqim itu?
“...dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada Shirathim Mustaqim.”
Yaitu,
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah shirath-Ku yang lurus “ (QS Al-An‘am [6]: 153)
Juga firman-Nya yang lain:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada shirathin mustaqim, (yaitu) shirath Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (Asy Syuura [42]: 52-53)
Kita batasi segini dulu ya, karena kalau tidak, maka kita terpaksa harus membahas seluruh Al-Quran kata demi kata. Dari sini saja, kita sudah dapat ‘definisi singkat’ bahwa Shirath Al-Mustaqim itu adalah:
“Jalan Allah bagi orang-orang yang diberi nikmat—yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin—dengan ditunjuki ke shirath ini karena keimanannya.”
Sebegitu aja dulu ya, dan harus diingat bahwa kita belum membuka ayat-ayat lain yang terkait. Al-Quran itu setiap kata di dalamnya seperti “hyperlink” yang biasa kita klik kalau membuka sebuah situs di internet. Dalam Al-Qur‘an, setiap kata akan saling merujuk dan saling menjelaskan satu sama lain, sehingga, konsekuensinya, mencari tahu ‘definisi’ satu kata dalam Al-Quran dan membahasnya secara mendalam berarti harus membahas seluruh kata dalam Al-Quran, dan itu berarti harus membaca seluruh Al-Qur‘an.
Itu hanya untuk memahami satu kata dalam Al-Quran secara mendalam dan komprehensif!
Makanya, saya sih K.O. kalau harus ngebuka Al-Qur‘an dan menjabarkannya dalam waktu singkat, bahkan meskipun hanya satu kata saja. Al-Qur‘an adalah samudera ilmu tak terbatas, sehingga kalau mau ditelusuri dan dipelajari, tak ada habis-habisnya.
Segitu dulu ya, semoga berguna. Wallahu a‘lam bishshawwab...

0 comments:

Post a Comment