Wednesday, July 5, 2017

Tentang Hikmah

Namun, apa hikmah itu? Sebaiknya kita mencoba lebih ketat pada definisi hikmah menurut Al-Quran, sebab sekarang ini, kata hikmah begitu mudah dilekatkan kepada sesuatu yang sebenarnya merupakan ‘sebentuk kesimpulan logis yang bermakna sangat personal bagi seseorang’, hingga, misalnya, di ITB ada lelucon: ‘Kuliah di ITB untuk ngambil hikmahnya’ atau saat mengalami suatu peristiwa tidak mengenakkan namun ternyata belakangan malah berbuah kebaikan (‘rupanya ini hikmahnya saya dulu mengalami ini’), pokoknya, hikmah itu—singkatnya—lebih berupa sesuatu yang logis namun bersifat personal.
Kita lihat dulu, apa kata Al-Quran soal hikmah:
“Allah memberikan (yu‘ti) hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan (khair) yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran (dzakaru) kecuali ulul albab.” (QS Al-Baqarah: 269)
Dari sini, kita bisa melihat dahsyatnya hikmah. Bahwa hikmah itu bukan suatu hasil kesimpulan logis yang direkonstruksi sedemikian rupa serta bermakna secara personal. Hikmah adalah sesuatu yang Allah BERIKAN kepada siapa yang dikehendaki-Nya, suatu kebajikan (khair) yang banyak. Bagi siapa? Ulil albab! Hanya ulil albab yang diberi hikmah, bukan mahasiswa ITB yang salah jurusan namun mencoba mencari makna kegagalannya tersebut secara hermeneutis dan logis. Kata-kata kunci penting yang harus diingat di sini adalah DIBERI (OLEH ALLAH), DIKEHENDAKI, DZIKRAN, KEBAJIKAN, dan ULIL ALBAB.
Lebih detail lagi, Yahya bin Muadz menjabarkan bahwa “Hikmah itu melayang terbang dari langit dan tidak turun ke hati orang yang mengandung hal berikut ini: takluk pada pesona dunia, terbawa angan-angan esok hari, dengki dan iri terhadap sesama, serta menyukai kehormatan atas manusia. Barangsiapa dalam dirinya terdapat salah satu dari sifat ini, maka hikmah tidak akan masuk kedalam hatinya.”
Itu syarat seseorang bisa mendapat hikmah. Tidak ada empat penyakit hati seperti disebut di atas dan dia adalah ulil albab.
Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: “Awal hikmah adalah meninggalkan kelezatan, dan akhirnya adalah membenci segala yang fana.” Dalam kesempatan lain, beliau berkata: “Batas hikmah adalah berpaling dari alam fana dan kerinduan kepada alam baka.”
Lebih jauh, beliau menjelaskan: “Termasuk hikmah ialah: Engkau tidak bertengkar dengan orang yang di atasmu, tidak meremehkan orang selainmu, tidak menerima sesuatu di luar kemampuanmu, lisanmu tidak menyalahi hatimu, dan ucapanmu tidak menyalahi perbuatanmu. engkau tidak menyatakan sesuatu yang tidak engkau ketahui, tidak meninggalkan suatu perkara tatkala ada dan tidak mencari-carinya tatkala tiada.”
Dan, di lain kesempatan lagi, beliau berkata: “Hikmah adalah pohon yang tumbuh dalam hati dan berbuah di lisan.”
Kesemua paparan di atas menunjukkan posisi yang tinggi bagi hikmah karena menuntut hati yang bersih, ketaqwaan dan juga lubb.
Kembali kepada ayat Al-Quran tadi, Hakim Tirmidzi menjelaskan bahwa qalb merupakan istilah yang mencakup shadr (dada), qalb, fu‘ad dan lubb. Seperti halnya istilah mata yang mencakup bagian putih, hitam, kornea dan penglihatan. Kemudian, lebih detail lagi, Mursyid saya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan lubb itu bukanlah akal jasadiah manusia (otak dan nalarnya), tetapi akal nafs (jiwa, bukan hawa nafsu atau psikis, sebagaimana sering disalahpahami). Jasad manusia terbuat dari unsur bumi, sementara nafs dari nur ilahi. Keduanya memiliki keserupaan, dengan pengecualian bahwa nafs itu lebih sempurna ketimbang jasad dalam berbagai hal.
Ulil albab itu adalah orang yang bertaqwa, yang, di antaranya, telah Allah ajari Alkitab seperti Alif Lam Mim dan berbagai huruf muqatha‘ah lainnya, dan bahkan makna batin Al-Quran yang tak tersentuh oleh ilmu alat, sebab hanya hak Allah saja untuk mengajari hamba-Nya (itulah salah satu alasan kenapa Al-Quran diwahyukan melalui perantaraan Jibril, bukan cuma kata-kata yang diutak-atik pakai linguistik dan filsafat bahasa).
Mursyid saya pernah menguraikan perbedaan ibrah dan hikmah. Secara bahasa, ibrah berasal dari abara yang artinya menyeberangkan atau menembus (seperti jarum). Sementara hikmah berasal dari hakama yang artinya (meng)hukum(i). Dikatakan bahwa kisah para nabi mempunyai ibrah, maksudnya, ada pelajaran tersembunyi yang harus diambil dengan cara “ditembus”. Sementara hikmah lebih merupakan hukum yang, bisa dikatakan, menunjukkan keberpolaan hukum. Menyerupai rotasi elektron mengelilingi proton dan netron hingga rotasi planet mengitari matahari. Namun, baik ibrah maupun hikmah itu hanya bisa diperoleh oleh mereka yang mempunyai lubb atau ulil albab.
Selain pentingnya pemilahan yang tegas dan ketat antara otak sebagai akalnya jasad atau tubuh kita, dan lubb sebagai akalnya nafs atau jiwa kita, maka, untuk memahami apa itu hikmah, kita pun perlu memilah secara tegas dan ketat antara thalabul ‘ilmi dengan ‘utul ‘ilmi.
“Sebenarnya, itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu (‘utul ‘ilmi). Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al-Ankabut [29]: 49)
Ayat di atas menandaskan tentang adanya “orang-orang yang diberi ilmu”, sedangkan dalam keseharian, yang Umat Islam pahami hanyalah “thalabul ‘ilmi” dalam arti mencari Ilmu. Lalu bagaimana dengan ayat yang artinya “Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Dan kepada orang yang bertaqwa inilah Allah akan mangajarkan apa arti Alif Lam Mim sehingga menjadi ayat yang nyata dan tidak keraguan di dalamnya bagi al-muttaqin.
Al-Quran sudah mempermudah kita. Baca saja Al-Baqarah ayat 1, jika kita tak tahu apa artinya (lalu ngotot menafsir-nafsir dengan ilmu alat atau hermeneutika, yang menandakan bahwa otak lagi dan lagi yang aktif bekerja mencipta-cipta makna agar dipahami sesuai prasangkanya sendiri) maka sebenarnya itu sudah merupakan tanda paling jelas dan gamblang bahwa kita memang belum bertaqwa.
Seperti yang sudah kita ketahui, dalam pandangan hermeneutika, pikiran manusia selalu begitu aktif, berpikir lagi dan lagi. Apa landasannya? Budaya, bahasa, pengalaman, ilmu yang dipahami secara nalar serta berbeda tingkatannya antara satu sama lain, hasrat, obsesi dan lain sebagainya. Lalu, mungkinkah kita bisa memahami ‘apa yang Dia gariskan dan tetapkan sebagai kebenaran; kebenaran sebagaimana Dia memaksudkannya, bukan sebagaimana kita menafsirkannya dengan segenap kedirian yang sudah jadi konstruksi prasangka tadi? Berpikir adalah menafsir dan menafsir itu tak mungkin tanpa prasangka. Lalu, bagaimana dong?
Thalabul ‘ilmi adalah sebentuk tindakan aktif kita mencari dan menyusun pengetahuan yang sesuai dengan pemahaman kita. Yang tak sesuai, kita buang karena tidak bisa diterima oleh konstruksi ‘prasangka’ yang sudah bercokol di kepala kita. Tak jarang kita membongkar ulang, karena mendapat landasan baru. Begitu terus menerus. Lalu bagaimana dengan ‘utul ‘ilmi; diberi ilmu?
Mursyid almarhum pernah menjelaskan ihwal ‘ilmu tentang Allah’ di kalangan para sufi itu seperti ‘televisi dengan berbagai merek, namun menayangkan acara yang sama dari satu stasiun televisi, maka acaranya pun sama saja’... Dalam jurnal tentang tashawwuf yang sebentar lagi kami terbitkan, seorang sahabat saya yang sudah meninggal, menuliskan bahwa kenapa tak ada satu istilah yang sama dan bisa disepakati oleh para sufi? Karena mereka memasuki khazanah-Nya yang tak berhingga, seperti orang yang masuk ke lautan maha luas dari berbagai penjuru, dan mereka tak sanggup mengungkapkannya dalam satu kesepakatan, seperti yang terjadi dalam Filsafat Barat sekular.
Kembali kepada soal diberi ilmu, mudahnya begini: Bayangkan, sebuah rumah yang penghuninya sedemikian gaduh dan berbagai suara dari sana, akankah terdengar sebuah suara yang jernih dan lembut di sana? Seisi rumah harus hening dulu agar suara jernih lagi lembut itu terdengar.
Inilah pesan yang selalu diulang-ulang oleh mistikus dari berbagai agama, entah itu namanya meditasi, tapa, retret, atau riyadhah di kalangan thariqah Islam. Rumi menganalogikannya: menjadi kosong seperti seruling. Kalau seruling itu bagian tengahnya disumpal kertas, maka suling tak akan berbunyi. Apa bagian yang berharga dari gitar akustik? Bagian tengahnya yang kosong itu. Begitu pula kecapi. Kesemua alat akustik itu menunjukkan bahwa dengan bagian kosong itulah alat-alat itu bisa dimainkan dan mengeluarkan bunyi.
Coba bayangkan: apa yang membuat seorang lelaki buta huruf di pojok Arab sana, seorang mantan penggembala yang menikahi seorang janda kaya, bisa mengeluarkan sekian banyak hikmah yang abadi sepanjang masa dari lisannya? Siapa yang mengajarinya? Apakah hanya dia saja yang diajari seperti itu?
Bagaimana dengan Bawa Muhaiyaddeen yang juga buta huruf dan sebagian besar hidupnya dihabiskan di hutan, lalu di bawa ke Amerika dan mengajari orang-orang bule di sana dengan salah satu bahasa di India yang kemudian diterjemahkan oleh seorang profesor, dan kemudian ditranskrip lalu jadi buku dan bahkan diterjemahkan juga ke bahasa Indonesia?
Apakah pengajaran dari Allah itu berupa sebuah kelas yang hanya boleh dihadiri oleh mereka yang terpilih, lalu Allah mengajari mereka seperti guru mengajari kita di depan kelas?
Itu yang pernah saya katakan saat seorang teman bilang bahwa si anu menyatukan antara ilmu anu dengan Islam, atau yang selalu digadang-gadang kalangan Syiah: bahwa Mulla Shadra itu berhasil menyatukan antara Filsafat dengan Tashawwuf dan dialah puncak dari tradisi Irfan atau Tashawwuf.
Tidak selalu demikian prosesnya.
Saya pernah memberi pemisalan berupa gelas kaca transparan namun berbagai warna. Ke dalamnya dituangkan air bening. Namun, saat dilihat dari luar, kok airnya berwarna merah? Kok yang itu airnya berwarna biru? Padahal, saat diminum, airnya tetaplah air bening segar, hanya saja, faktor gelas transparan berwarna itulah yang membuatnya tampak jadi berwarna.
Silakan baca pemaparan saya soal tashawwuf. Beberapa penjelasan di situ menggunakan pemisalan dari wilayah sains. Kenapa? Karena saya mendapatkan penjelasan hal itu dari Mursyid saya yang notabene adalah dosen ITB dan juga merupakan seorang saintis.
Bagaimana kalau suatu ketika saya bisa jadi hamba yang bertaqwa lalu Allah ajari khazanah Al-Quran dan kebenaran ilahi? Lalu orang melabeli bahwa Alfathri telah berhasil menyatukan antara tashawwuf dengan filsafat Barat. Padahal itu terjadi hanya karena yang Allah ‘turunkan’ ke qalb saya adalah suatu pemahaman ihwal khazanah-Nya, lalu saat saya bahasakan khazanah itu, dan secara jasadiah saya memang lebih paham filsafat Barat, maka dengan itulah saya membahasakannya. Bukan dengan ‘bahasa fisika’, misalnya.
Itulah juga yang Ibn ‘Arabi maksudkan dengan alam khayal, atau yang William Chittick terjemahkan sebagai Imaginal. Allah ‘mengajarkan’ dan ‘memahamkan’ sang hamba ihwal suatu khazanah-Nya melalui bentuk yang dikenali sang hamba, dan sang hamba pun menyampaikan secara lisan maupun tulisan melalui apa yang ada di dirinya secara jasadiah. Filsafatkah? Sainskah? Atau ilmu agama khas pesantren?
Posisi ilmu alat dalam mengeksplorasi seluk beluk Islam dan juga tafsir Al-Quran, bagi saya, merupakan bagian dari tradisi ilmiah yang berkembang karena kemampuan otak dan nalar manusia. Namun, manusia bukan hanya tubuh dan otak; ada nafs dengan lubb yang merupakan ‘aql sang nafs. Kalau kuda bisa dilatih dan jinak jadi kuda lomba dan tunggangan, bukankah sang penunggang itu kecerdasannya jauh di atas sang kuda? Kalau secara lahiriah manusia bisa menghasilkan seorang Einstein, bayangkan seperti apa kalau nafs dan lubb-nya yang menghasilkan karya? Makanya, jangan heran kalau di Al-Quran berulang kali ditegaskan bagaimana para Nabi di mata umatnya dipandang bodoh dan gila, padahal, misalnya, umat Nabi Shalih itu bisa memahat gunung jadi rumah, misalnya. Mereka adalah adalah bangsa yang hanya paham segala hal secara rasional, sehingga melihat para nabinya itu bodoh dan irasional. Selain itu, coba baca karya para sufi ‘arif billah, kebanyakan sulit dipahami dan sering disalahtafsirkan dan akhirnya dikafirkan.
Itu yang saya pahami. Al-Quran itu bukan cuma masalah linguistik dan ilmu alat. Di mana peran Allah untuk mengajarkan rahasia kitab suci-Nya? Dan kita selalu memahami bahwa belajar itu duduk, membaca, lalu paham. Hanya itu cara belajar. Ya, itu menunjukkan bahwa meskipun kita ngotot mengatakan bahwa kita berbeda dari orang Barat yang materialis, toh dalam memahami segala hal kita tak berbeda dengan mereka?
Nah, kembali kepada hikmah yang menjadi awal pembicaraan di tulisan ini—lalu berbelok jauh ke soal thalabul ‘ilmi dan ‘utul ‘ilmi—sampai detik ini, seperti kata Mursyid Penerus di atas, saya memang masih tidak tahu kenapa ini semua harus terjadi pada saya. Syarat untuk turunnya hikmah masih belum ada di diri sayan Namun, setidaknya, saya bisa mencoba berlatih sabar menanti sebagaimana yang digambarkan dalam puisi Maulana Jalaluddin Rumi berikut ini:
**************
Seorang pencari berkata kepada Sang Hakim: “Dia, yang pertolongan-Nya kita mohonkan, tentu mampu membuat perdagangan kita tak pernah rugi.
Dia yang yang mengubah api Namrud menjadi mawar dan pepohonan, tentu juga bisa membuat dunia kita ini jadi tanpa api. [1]
Dia yang memekarkan mawar dari tengah kumpulan duri, tentu mampu mengubah musim dingin ini menjadi musim semi.
Dia yang membuat setiap cemara lurus dan bebas tentu kuasa mengubah sedih menjadi gembira.
Dia yang membuat ketiadaan menjadi keberadaan: takkan Dia direndahkan, jika ciptaan dibuat-Nya abadi.
Dia yang memberi raga suatu ruh, sehingga hiduplah ia; apa ruginya Dia jika dibuatnya kita tak perlu mati?
Mengapa Sang Maha Pemurah, tak menganugerahkan saja, semua yang diinginkan setiap hamba; tanpa mereka perlu susah payah berusaha?
Dan mengapa tak dijauhkan-Nya, sang hamba yang lemah, dari kelicikan syahwatnya, dan dari godaan syaithan; yang selalu siap menyergap?
Sang Hakim menjawab: "Jika tiada perintah yang pahit, jika tiada beda baik dengan jahat, jika tiada beda batu dengan mutiara,
Dan jika tiada hasrat ragawi, tiada hawa nafsu dan syaithan, dan tiada pukulan, pertempuran atau perang,
Lalu dengan nama atau gelar apa Sang Raja akan menyebut hambanya, wahai penanya yang lalai?
Bagaimana Dia akan menyebut: ‘Wahai hamba yang sabar, Wahai hamba yang tabah?’
Bagaimana Dia akan memanggil: ‘Wahai hamba yang pemberani, Wahai hamba yang bijak?’
Bagaimana akan terbentuk hamba yang sabar, hamba yang tulus ikhlas, hamba yang lazim berinfak, tanpa kehadiran penyamun dan syaithan yang terkutuk?
Rustam dan Hamzah, atau tukang selingkuh, jadi tidak bisa dibedakan; [2] pengetahuan dan kebijaksanaan akan musnah, tak berarti.
Adanya pengetahuan dan kebijaksanaan itu untuk membedakan jalan lurus dengan jalan buntu: jika semua jalan sama saja, pengetahuan dan kebijaksanaan tak ada gunanya.
Apa menurutmu pantas, jika ke dua semesta ciptaan dihancurkan, untuk memenuhi hasrat jiwa rendah? [3]
Tentu saja aku paham bahwa engkau telah termurnikan, dan bukan lagi yang masih mentah; dan engkau tanyakan ini, semata untuk mengajari mereka yang masih kasar.
Kejamnya Sang Waktu dan semua derita yang mewujud itu lebih ringan daripada jarak kepada Rabb dan pengingkaran.
Karena derita itu akan berlalu, tetapi tidak demikian dengan jarak kepada Rabb.
Insan yang dianugerahi kebahagiaan sejati hanyalah mereka yang datang kepada-Nya dengan jiwa yang bangun dan mengenal-Nya.”
**************
Demikian. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wassalam.
Catatan tambahan:
[1] Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS Al-Anbiyâ [21]: 69).
Maksud bait ini, jika Dia berkehendak, tentu Tuhan berkuasa membuat hidup kita selalu sejuk dan nyaman tanpa ada ketetapan atau kejadian yang ‘memanggang’.
[2] Rustam adalah pahlawan Persia, sedangkan Hamza ibn ‘Abdul-Muttalib, adalah paman dan salah satu pembela utama Nabi Muhammad saw di masa awal dakwah beliau saw. Adapun ‘Tukang Selingkuh’ adalah sebuah istilah untuk mengecam para pencari awal, yang terkadang mencari Tuhan, terkadang mencari dunia.
[3] Kedua semesta, yaitu yang tampak dan tidak tampak. Maksudnya, apakah pantas meniadakan saja kedua semesta (yang didesain sebagai alat didik pembentuk kesempurnaan
insan) semata demi menjamin terpenuhinya selera kenyamanan hidup ragawi, sebagaimana dihasratkan para pecinta dunia.
(Sumber: Rumi, Matsnavi VI: 1739 – 1757, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Nicholson, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh mas Herman Soetomo.) Alf

0 comments:

Post a Comment