Wednesday, July 5, 2017

Tentang Musa dan Khidir

oleh Alf

Bismilllahi Rahmani Rahim

Kakak sulung seperjalanan, yang kini menjadi Mursyid Penerus, sekitar 15 tahun yang lalu menjelaskan kepadaku salah satu hikmah QS Al-Kahfi ayat 65-82:

*******

65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami

66. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"

67. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.

68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"

69. Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".

70. Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".

71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

72. Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku".

73. Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".

74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".

75. Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"

76. Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".

77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".

78. Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

80. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

81. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".

*******

Al-Quran itu lautan hikmah, dan salah satu hikmah dari rangkaian ayat itu adalah pengajaran Khidir kepada Musa tentang tiga peristiwa penting dalam hidupnya. Pertama, saat Khidir melubangi dan menenggelamkan perahu itu simetri dengan peristiwa saat Asiyah menemukan tabut berisi bayi Musa. Asiyah mengambil bayi Musa itu dan menenggelamkan tabutnya di tempat pemandiannya. Kemudian bayi itu dibawa ke hadapan Firaun yang sebenarnya tengah memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki Bani Israil. Ironisnya, bayi yang diramalkan para ahli nujum Firaun akan menumbangkan kekuasaannya, dan ingin dibunuhnya, malah dia besarkan di istananya sendiri. Itulah titik penting peristiwa pertama dalam hidup Musa yang Khidir ajarkan juga dengan tindakan menenggelamkan perahu.

Kedua, saat Khidir membunuh anak kecil, itu simetri dengan peristiwa saat Musa membunuh orang Mesir. Musa saat itu sudah menjadi Pangeran Mesir, mendampingi Merneptah, sang putra Mahkota, anak sang Firaun. Seandainya tidak terjadi peristiwa pembunuhan itu, maka dalam sejarah kita akan mengenal Musa sebagai Pangeran Mesir mendampingi kakak angkatnya, Merneptah. (Dan saat nanti kembali sebagai Nabi, Musa akan berhadap-hadapan dengan kakak angkatnya tersebut karena sang Firaun sebelumnya sudah meninggal dan digantikan oleh Merneptah). Karena peristiwa pembunuhan itulah maka garis hidup Musa berubah. Secara lahiriah dia memang terbuang dan seperti merana, namun itu malah mengantarkannya ke takdir berikutnya yang jauh lebih besar.

Ketiga, saat Khidir menambal dinding tanpa meminta upah, padahal mereka tengah lapar saat itu, memiliki kesimetrian dengan peristiwa saat Musa menolong Rehuellah Zipora, putrinya Nabi Syuaib, mengambilkan air untuk ternak mereka dari sebuah sumur, padahal Musa sendiri sedang dalam keadaan luntang-lantung terusir dari Mesir, dari Pangeran menjadi gelandangan yang tak punya apa-apa. Namun, justru peristiwa itulah yang membuat Musa menjadi dipertemukan dengan seorang Nabi dari kalangan masyarakat Arab kuno (yang bukan dari garis keturunan Ismail dan bukan pula dari garis keturunan Ishaq), yaitu Nabi Syu'aib. Maka dengan gemblengan dari Nabi Syu'aib yang juga menjadi mertuanya, maka Nabi Musa pun menjadi Nabi dan nantinya akan kembali ke Mesir untuk membebaskan bangsanya dari perbudakan Firaun.

Well, seperti perkataan Isaac Bashevis Singer: "Life is God’s novel. Let Him write it." Indah bukan? Terima kasih kakak sulung seperjalanan. Selama 15 tahun ini telah banyak yang kau ajarkan dalam pengajian dan diskusi-diskusi kita. Jazakallahu khairan katsiran. Maafkan adikmu yang belum bisa membalas kebaikan-kebaikanmu.

Wallahu 'alam bishawwab.

0 comments:

Post a Comment