Saturday, August 19, 2017

Ernesto Laclau dan Logika Emansipasi

Tulisan ini untuk Tuan DE yang meminta pandangannya tentang gejala perang identitas di masyarakat.
Perang identitas yang dimaksudnya adalah, sebuah sangkaan gejala di masyarakat. Dimana kini orang dengan mudah menyebut dirinya; nasionalis, moderat, nusantara, pro bhineka. Sebagai anti dari identitas yang dilainkan yaitu; khilafah, fanatik, arab, dan arab.
Sangkaan ini ramai semenjak pilpres 2014 lalu, dimana satu kelompok menyebut dirinya sebagai: Kita (Jokowi adalah kita), dan setelah pilkada DKI 2017 menjadi Saya (Saya Indonesia, Saya Pancasila).
Hal-hal tadi awalnya muncul sebagai bagian dari pro dan kontra terhadap pemerintah dan sosok tertentu secara politik.
Bila kita membaca Ernesto Laclau, maka proses identifikasi identitas ini bukanlah hal yang tanpa sebuah struktur dan menjadi begitu saja. Ia adalah bagian dari proses sosial sekaligus politik kekuasaan. Artinya ada kesengajaan meski mungkin tidak dengan desain untuk membangun citra populer tadi.
Inilah kenapa setiap gerakan yang mengatributkan dirinya kepada sebuah identitas tertentu sebenarnya memang menghendaki kepopuleran dari identitas dimaksud.
Popularitas tadi menurut Laclau, dikerjakan untuk tujuan-tujuan kekuasaan, pengontrolan dan apa saja yang memang sifatnya hegemonik. Namun berbeda dengan struktur yang dibangun dari pendapat Gramscian, yaitu struktur sebagai kekuasaan atas (negara), maka struktur dalam pendapat Laclau adalah sebuah proses penciptaan dukungan melalui "emansipasi".
Di sini, masyarakat dapat dibentuk untuk menjadi aktor-aktor politik melalui stimulasi popularisasi tadi, Hal ini dianggap masuk akal, karena masyarakat pada satu titik dapat dimanfaatkan sebagai sebuah kekuatan penekan (social-political forces).
Hal ini dapat kita lihat misalnya pada kasus KPK mencari dukungan netizen dalam pertarunganya pro kontra Hak Angket melawan DPR-RI. Memanfaatkan aktor, dan sentimen di sosial media KPK mengklaim bahwa mereka mendapatkan dukungan popular dari rakyat. Sementara DPR-RI, yang identitas sejatinya adalah lembaga perwakilan rakyat sesuai konstitusi sebaliknya dalam kasus ini dicitrakan tidak mewakili rakyat.
Begitu juga dengan kelompok yang menyuarakan dirinya sebagai pihak pro toleransi dan mendukung adanya Islam Nusantara. Sebuah gerakan yang muncul karena persoalan tuduhan penistaan agama (religious blasphemy) oleh seorang kandidat Gubernur etnis Tionghoa yang melahirkan gerakan aksi protes massal.
Pada pertanyaan identitas siapakah yang paling mewakili sebuah identitas inilah maka kajian-kajian Laclau menjadi menarik untuk dipelajari.
Tuan Lanclau melihat bahwa, persoalan dari popularism adalah persoalan klaim terhadap argumen. Beberapa argumen tentu menyertakan bersamanya data dan fakta untuk mendukung bahwa sebuah identitas misalnya telah benar-benar menjalankan kebenaran. Misalnya si A berhasil membangun jembatan, jalan tol, sampai kakus hanya dalam waktu dua tahun saja. Data dan fakta di sini kemudian diangkat sebagai bukti (evidence) yang sebenarnya bukanlah bukti melainkan sekedar argumen saja.
Sementara pihak yang anti, sebaliknya akan melakukan sebuah bentuk oposisi. Dimana mereka akan membeberkan pula data dan fakta yang dianggap mewakili pendapat mereka. Sama seperti pihak yang pro, maka sekali lagi di sini hal-hal tadi bukanlah bukti melainkan argumen juga.
Pada proses penciptaan argumen inilah, Tuan Laclau melihat dengan sangat-sangat serius para penciptaan argumen. Ia melontarkan dua pertanyaan. Pertama, apakah argumen itu adalah penemuan, Yakni ia dipungut begitu saja untuk membenarkan sebuah aksi (yang sudah dilakukan atau belum dikerjakan) dengan tujuan argumen itu sendiri. Ia kemudian berlaku sebagai pembenaran kepada aksi-aksi yang dikerjakan oleh aktor atau kelompok dengan tujuan menekankan dan meyakinkan.
Argumen di sini ia memiliki tujuan menciptakan sebuah konstruksi sosial dengan pertama-tama membangun konsep tentang realitasnya sendiri. Untuk kemudian konsep tentang realitas seperti Saiya Pancasila, Saiya Nusantara- tadi disebarkan melalui mesin popularitas. Sehingga ia diadopsi oleh lebih orang banyak sebagai identitasnya juga. Inilah yang dimaksud dengan mengemansipasikan masyarakat sebagai kekuatan penekan.
Kedua, pendapatnya bahwa argumen merupakan sebuah algoritma yang disusun sebagai landasan awal dari masyarakat untuk sah dianggap sebagai makhluk yang berpikir logis. Maksudnya argumen adalah hal yang alamiah yang dibentuk oleh manusia sebagai bentuk pertahanan seperti misalnya bahwa pandangan atau pendapat seseorang terhadap dirinya atau idolanya merupakan sebuah serangan.
Sebagai responnya, argumen -yang sering kali ditarik oleh media untuk ditelevisikan, diradiokan, dipolemikkan di koran, dan diseminarkan- menjadi sebuah proses yang disebut Popper sebagai verisimilitude. Proses pensahihan, yaitu upaya menautkan pendapat kepada kebenaran atau sesuatu yang dianggap benar. Berargumen seperti ini kemudian menjadi sebuah kebutuhan dasar bagi manusia karena jika tidak maka ia tidak akan eksis. Persoalan apakah bercogita ergo sum dari manusia sebagai makhlu berpikir tadi benar-benar berpikir maka itu akan menjadi topik persoalan lainnya.
Sehingga ketika kebenaran itu sendiri dianggap sesuatu yang common sense di masyarakat dengan kalimat-kalimat phronesis (bijak) seperti; Namanya juga manusia, setiap orang memiliki kebenarannya masing-masing, tidak ada kebenaran yang mutlak, semua kita relatif kebenarannya, tidak apa-apa berbeda asal beken atau namanya juga usaha. Maka si argumen tadi menjadi pragmatis dan terbuka terus.
Pada posisi inilah kemudian argumen dan berargumen menjadi sebuah modus operandi dari masyarakat hari ini.
Bila ia bukan sebuah meta-naratives yang dibuat oleh sebuah struktur (politik lokal, nasional, atau kepentingan global) maka ia mesti tinggal dalam diri masyarakat sebagai sebuah kehendak beremansipasi tadi. Terlepas dia sadar atau tidak sadar digerakkan untuk beremansipasi.
Andi H

Kenapa para nabi diberi tugas menjegal adikuasa dunia pada zamannya?

Baik sejarah dalam kitab suci maupun ilmu kekinian mendukung pertanyaan tadi. Nuh harus dikucilkan oleh kampanye hitam, Ibrahim melawan Namrud, Musa berhadapan dengan Firaun, Isa diburu Romawi, dan Kanjeng Nabi Muhammad ditentang pembesar Mekah. Nabi terakhir ini bahkan mengajak damai pada penguasa dunia kala itu, Persia dan Romawi. Keduanya harus ditaklukkan dengan jalan pedang usai sang nabi wafat untuk selamanya.
Nabi Nuh mengawali dakwah ratusan tahunnya dengan keluarga dahulu. Tak ada yang sudi kecuali keluarga jauh. Nama baik beliau selaku keturunan baik difitnah di sana-sini. Padahal yang beliau ajak pada masyarakat adalah hal baik. Termasuk peringatannya akan kedatangan banjir dahsyat tak digubris. Nabi Nuh seolah hanya diberi tugas khusus untuk bertahan hidup. Mengajak pun supaya masuk ke kapal.
Lain dengan Nabi Ibrahim yang merupakan anak pemahat berhala terbaik seantero negeri Babilon. Ia justru melawan melalui keahlian yang paling dikuasainya itu, mengayunkan kapak. Hingga sang paman selaku ayah angkat sedari kecil menyayangkan kemampuan sang keponakan sebab terbuang percuma. Kerajaan terbesar era kuno dengan tingkat pengetahuan tinggi itu sangat mengagungkan nalar. Hal yang kemudian dipakai sang nabi kala ia memutuskan untuk menghancurkan kuil berisi patung-patung terbaik sekerajaan. Jawabannya yang menunjuk kapak tengah berada di tangan patung terbesar menjungkirbalikkan logika.
Musa pun menjalani hal serupa. Ia seperti menusuk dari belakang. Ia seharusnya mati oleh kebijakan paranoid Firaun tapi justru diselamatkan dan dilindungi oleh sisi kemanusiaan sang Firaun. Ketika kelak Musa membangkang pada ayah angkatnya menggunakan bekal pengetahuan-pengalaman yang diajarkan oleh guru-guru terbaik dunia, hanya Ramses II yang juga saudara angkat yang bisa mengimbangi. Bahkan konon Firaun sang pembunuh bayi laki-laki cenderung memilih Musa untuk menjadi pewaris tahta.
Isa tak kalah ngeri-ngeri sedap laku hidupnya. Bayangkan saja, cucu Nabi Zakaria ini sudah diuji sedari dalam kandungan ibunya. Kelahirannya membuat geger tanah suci pertama umat Islam. Gusti Allah sendiri yang turun tangan untuk membela kesayangannya itu dengan membuat si bayi bisa berbicara di hadapan penduduk Yerusalem. Kehebohan kelahiran sang pejalan malam itu pun terdengar sampai negeri Persia yang kala itu masih menyembah api.
Ketika ia beranjak belia, ditinggalkannya semua kenikmatan dunia. Bajunya adalah yang berbahan paling kasar meski ia adalah keturunan mulia dan diagungkan penduduk kota. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad menyatakan bahwa ia tak bisa menyaingi putra Mariam dalam hal kesederhanaan hidup. Sang nabi terakhir itu menyebut bahwa harta Nabi Isa hanyalah sebuah sisir, sandal, dan gayung. Itupun akhirnya diserahkan kepada yang membutuhkan. Manusia moderen akan menganggap sosok yang kematiannya kontroversial ini seperti orang gila jika melihat penampilannya.
Justru itulah yang membuat Romawi kebakaran jenggot. Kemampuan di luar nalar dan hukum alam sang nabi mampu membuat simpati dan empati dengan mudah mengalir. Meski saat itu murid-muridnya hanya sedikit, itupun banyak yang buta huruf dan memiliki banyak kekurangan. Tetap saja beliau dianggap sebagai musuh terbesar kerajaan Romawi. Mungkin salahsatu berkah kelapangan hatinya menampung derita dari lawannya itu berbuah manis saat justru Romawi menjadi penyebar ajaran Nasrani ke seluruh dunia dan kini menjadi pusat agama tersebut.
Berlanjut ke Nabi Muhammad sang pedagang yang jujur. Ia diterima apa adanya di Kota Mekah sebab garis keturunannya dan akhlak yang dimiliki. Hanya saja saat masuk usia kepala empat, ia membuat geger jazirah Arab. Ajakannya meninggalkan tradisi yang membawa keburukan ditentang habis-habisan. Tindakan bar-bar seperti mengubur hidup-hidup bayi perempuan hingga perbudakan pun mendapat imbasnya.
Jika Nabi Nuh memilih langsung ke bertahan hidup, Nabi Ibrahim meluruskan sebisanya lantas melarikan diri untuk selamatkan nyawa, Nabi Musa pun mengikuti langkah Nabi Ibrahim dengan dipungkasi hijrah kembali ke negeri asalnya, Nabi Isa justru tidak melawan sedikitpun dan malah melakukan perlawanan pada diri sendiri. Adapun Kanjeng Nabi Muhammad melakukan semua taktik tadi, beliau bertahan hidup dengan mengirim pengungsi ke Kerajaan Etiopia yang dipimpin Raja Nasrani, dan kemudian hijrah ke Madinah. Ketika di Mekah pun ia melakukan perlawanan saat deklarasi dakwah terbuka dengan long-march keliling kota dihajar dengan pukulan, tendangan, lemparan batu, dan tentu saja, cacian.
Beliau tak melawan dengan jalan kekerasan melainkan dengan kelapangan hati. Termasuk saat di Thaif, beliau justru mendoakan kebaikan pada musuhnya. Berbuah manis ketika salahsatu anak Thaif kelak tinggal di masjid hanya untuk mencatat tiap perkataan sang nabi. Inilah jalan Ibrahim. Meski kemudian kaum tertindas ini melarikan ke Madinah untuk selamatkan diri dan bangun kekuatan. Cara-cara masuk akal pun ditempuh ketika menandatangani berbagai perjanjian dengan Kubu Mekah. Walaupun sepintas tak menguntungkan, ternyata justru berbuah banyak kebaikan. Inilah langkah Nabi Musa, mengamati ancaman dan peluang untuk menambal sulamnya dengan kekuatan dan kelemahan.
Adapun cara Nabi Isa beliau terapkan dengan elegan saat di Madinah. Di sanalah akhlak beliau makin memancar. Selaku pemimpin umat Islam, beliau justru bergaya hidup laiknya orang termiskin di kota. Bajunya banyak tambalan, tidurnya di atas tikar kasar, sering berpuasa berhari-hari dengan buka hanya seteguk air sebab apapun yang dimiliki langsung disedekahkan begitu ada peminta-minta. Jika Nabi Isa memilih tak punya tempat tinggal sebab menjadi pejalan, Kanjeng Nabi tetap beratap meski seadanya. Sebuah teladan yang kemudian hari ditiru setidaknya oleh empat pemimpin Islam setelah wafatnya beliau.
Para nabi di atas tetap mengutamakan bertahan hidup bagi diri maupun kaumnya. Sebab percuma berkeraskepala jika akhirnya ajaran kebaikan yang dibawa kandas di tengah jalan. Wajarlah jika Kanjeng Nabi menyatakan bahwa kemanusiaan adalah inti segala agama. Itulah yang melatari beliau tak memaksa siapapun untuk melaksanakan ajaran agama jika belum siap. Tentu kesadaran yang lahir dari olah pikir, rasa, maupun laku seseorang akan lebih awet dalam pelaksanaannya.
Keberlanjutan adalah nyawa pergerakan.
Sebegitu pentingnya keberlanjutan ini, berbagai agama kemudian menyelenggarakan lembaga pendidikan bagi generasi penerus. Abad ke-7, saat Budha mencapai puncak kejayaannya di Kerajaan Sriwijaya, pusat pendidikan terbesar di dunia pun hadir di Pulau Emas itu. Berlanjut hingga di sekitar Borobudur yang menandai begitu rapinya tata kelola masyarakat di Nusantara kala itu. Jika dibandingkan dengan Jazirah Arab di mana Kanjeng Nabi baru diturunkan di sana dan memulai revolusi ekonomi, sosial, politik dan budaya secara besar-besaran. Barulah pada abad 14 saat Islam mulai menjadi mayoritas di seantero Nusantara, pesantren hadir mengadaptasi sistem pengajaran agama Hindhu dengan murid yang disebut cantrik, dan pesantren dipanggil santri.
Dalam sejarah usai kemerdekaan pun terlihat saat putra Mbah Hasyim Asy’ari sang pendiri NU mendirikan sekolah ketika kemerdekaan berkah perjuangan angkatan Mbah Hasyim tercapai. Begitu juga dengan Muhammadiyah dan berbagai ormas berlandaskan agama saat itu. Menggelar pendidikan adalah cara tepat menjaga keberlangsungan perlawanan. Hanya saja yang dilawan bukan lagi musuh yang memegang senjata melainkan racun kebodohan yang seringkali justru muncul dari dalam diri sendiri.
Maka, akan sangat disayangkan jika sebuah proses panjang melawan kesewenang-wenangan yang telah berjalan ribuan tahun musnah hanya karena kurang sabar dalam melakukan pergerakan. Apalagi jika semata mengandalkan aji mumpung tanpa memperhitungkan berbagai faktor yang seringkali tumpang tindih satu sama lain. Bak mengurai benang kusut, harus hati-hati agar tak menggunting dalam lipatan. Setidaknya meski seperti mencari jarum di tumpukan jerami pun harus sabar mengendalikan diri. Bukankah para nabi pun melakukan hal mustahil dengan penuh sabar dan perhitungan?" papar Kang Sabar panjang lebar di depan forum penjaga gerbang.
Ihda HS

Friday, August 18, 2017

ANTARA MINAT, BAKAT DAN KECERDASAN

Oleh: Andrian Benny / Talents Spectrum
Saat anda ditanya, mana yg akan lebih anda pilih: bermain bola atau menggambar ?
Lalu anda jawab pilih bermain bola.
Ternyata alasannya adalah karena anda merasa tidak bisa menggambar bagus.
Itu bukan berarti bakat anda adalah bermain bola. Tapi saat itu anda lebih ber-MINAT main bola ketimbang menggambar.
Dan ... belum tentu anda tidak ber BAKAT dalam menggambar sekalipun saat itu anda belum bisa menggambar bagus.
Lantas, apa kriteranya anda dikatakan memiliki BAKAT dalam menggambar ?
Saat terkonfirmasi bahwa anda memiliki KEPEKAAN tinggi terkait dengan sensori dan indrawi VISUAL anda.
Jadi, jika indra VISUAL anda peka dalam melihat, mengamati, mengobservasi, mengklasifikasi bentuk, warna dll, maka anda terkonfirmasi memiliki BAKAT dalam menggambar.
Namun, bakat itu sifatnya baru potensi. Jika tidak ada stimulasi yang mengarahkan bakat tsb, maka dijamin anda tetap tidak akan bisa menggambar !
Nah, jika seseorang tidak berbakat menggambar tapi ternyata dia bisa menggambar bagus, kenapa itu bisa terjadi ?
Itulah yang dinamakan KECERDASAN !
Manusia memang memiliki kapasitas itu. Artinya bisa memiliki kemampuan apa saja jika distimulasi (dilatih). Maka kecerdasan yang dimaksud adalah PERFORMA.
Saat seseorang tidak memiliki kepekaan di visualnya, pasti memiliki kepekaan di area lainnya. Misal di area motorik perabaannya. Maka dia bisa saja belajar menggambar yang dimulai dari perabaannya tersebut sampai akhirnya visualnya juga terstimulasi.
Ada banyak jalan menuju roma
Ada banyak cara kerja otak untuk terstimulasi.

Thursday, August 17, 2017

Bersabar dengan yang Ada

"Sekarang banyak kok juragan baru yang bergaya persis sepasang pemilik biro umrah murah meriah yang diciduk Bareskrim itu. Mengelola uang bulanan yang sekian juta saja keteteran tapi berani mengurusi yang miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kalau gak edan, apalagi? Dikira teknik gali lubang tutup lubang bisa selamanya dipakai.
Uniknya, mereka yang berpolah begitu juga pakai kedok agama. Entah dari penampilan fisik yang bak ustat-ustatsah maupun gaya bicara yang diwibawa-wibawakan. Meski pada kenyataannya hobi menipu, menghalalkan yang haram dengan berbagai dalil dan dalih. Semua dilakukan hanya demi motif balas dendam ekonomi. Tadinya kere lantas bermimpi kaya raya dalam waktu singkat.
Masih ingat kisah Tsa'labah si penggembala kambing pada era Kanjeng Nabi masih hidup? Ia sering datang telat salat jamaah, ketika ditanya Kanjeng Nabi, ia menjawab jika solusinya adalah kaya. Maka berulangkali si miskin ini merengek minta didoakan kaya oleh putra Abdullah itu. Terkabullah, dari satu kambing menjadi ratusan unta. Tsa'labah jadi juragan mendadak dan tak pernah hadir ke masjid. Bahkan saat ditarik zakat pun berkilah, hingga Gusti Allah datangkan musibah padanya.
Perilaku serupa Tsa'labah itu makin menggila di akhir zaman ini. Ada yang rela tipu pembeli, mencuranginya, demi mendapat untung berkalilipat. Untuk apa labanya? Hanya untuk foya-foya tampil gaya, supaya dianggap sukses. Mungkin dalam hatinya berkilah, 'toh tak ada yang tahu selain aku'. Bahkan tak sedikit yang bekerja keras, cerdas, bahkan culas, hanya demi maksiat tanpa batas.
Apa bedanya dengan Qarun, sang ahli agama yang menemani Nabi Musa sedari awal hijrah? Bukankah tokoh yang diabadikan dalam Quran itu juga berujung bangkrut akibat kesombongannya? Pantaslah jika salahsatu pertanda kiamat adalah berlombanya manusia meninggikan bangunan sebagaimana mengulangi fenomena zaman Nabi Ibrahim dengan Kuil Bergantung Babilonia-nya. Tapi apakah ada yang mau disamakan dengan sosok pencetus istilah 'harta karun' ini?
Nah, bersyukurlah kita-kita ini yang kere-hore. Sudah kerja serabutan, kadang dikejar utang, tapi masih bisa cengengesan menikmati keberkahan. Leluasa ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga yang senasib-sepenanggungan, bisa menikmati khusyuknya doa, ibadah, sebab memang butuh merasakan kehadiran-Nya. Bukankah musibah terbesar di dunia ini adalah dicabutnya kemampuan menikmati keindahan dunia? Kaya tapi membatasi diri dari gula, kolesterol, jalan-jalan, dan sejenisnya.
Mba Novia Kolopaking pernah menyanyikan lagu berjudul Sayang Padaku yang liriknya begini,
Duka derita duka laraku di dunia
Tidaklah aku sesali juga tak akan aku tangisi
Sesakit apapun yg kurasakan dalam hidupku
Semoga tak membuatku kehilangan jernih jiwaku
Andaikan dunia mengusir aku dari buminya
Tak akan aku merintih juga tak akan aku menangis
Ketidakadilan yg ditimpakan oleh manusia
Bukanlah alasan bagiku untuk membalasnya
Asalkan kerana itu Tuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendak-NYA menjadi syurga bagi cintaku
Bukanlah apa kata manusia yang ku ikuti
Tetapi pandangan Allah...Tuhanku yg kutakuti...
Ada tiadaku semata-mata milik-NYA jua
Jadi, jangan takut dicap tak sukses sebab enggan mengambil rezeki yang didapat dari membohongi oranglain. Jangan minder hanya karena teman gonta-ganti mobil terbaru tiap tahun. Banggalah meski baru ngekos saja. Selama yang Sampeyan dapat halal, tak merugikan siapapun, sangat mahal harganya di hadapan-Nya. Ingat, bahagia tak ditentukan dunia, tapi malah oleh keikhlasan Sampeyan menerima deritanya." tukas Kang Sabar di sudut meja pada Kang Kuat.

Ihda HS

Sesumbar

"Suatu kesempatan di waktu yang lampau, Anoman pernah sesumbar bisa selesaikan aneka persoalan. Pengalaman selesaikan konflik Rama-Rahwana membuat keyakinan hadir dalam batinnya. Ia lantas menghadap Semar, memohon restu. Diberi lampu hijau dengan syarat dikawal Petruk. Lantas Anoman kita ini loncat sana-sini lintas dimensi guna bernegosiasi. Petruk hanya mengikuti, ia enggan komentar sebab ditanya pendapatnya pun tidak.
Setelah berjalan beberapa waktu, rupanya Anoman merasa tak sanggup lagi menjadi penengah berbagai masalah. Ia konsultasi pada Petruk yang mulai pusing tujuh keliling. Semar yang sesekali hadir pun hanya bisa senyum penuh arti. Pada akhirnya Anoman menyerah, kabur dari komitmen. Petruk pun digugat kawan-lawan yang saling berseberangan. Ia mencari Semar yang tak jua muncul lagi.
Beberapa perubahan mendasar di negeri ini pun demikian. Dalam rentang ribuan tahun ini mudah ditemui rekam-jejaknya dalam sejarah. Tentu saja harus ke Leiden dulu yang memuat koleksi Kraton Mataram sepanjang 21 kilometer panjangnya. Jika tak punya dana ke sana, bisa menyimak penuturan lisan para sesepuh yang biasanya juga penuh kode. Tentu jika ilmu dipunyai, mitos bisa dibelah menggunakan nalar.
Kembali ke lakon Anoman tadi, rupanya Nabi Sulaiman pun pernah lakukan hal serupa. Ia merasa paling berkuasa di dunia sebab di wilayahnya memang ditemukan tambang besi terbesar sepanjang zaman. Kuilnya luar biasa besar, kaya luar biasa. Wajar jika ia meminta izin pada Gusti Allah untuk sedekah makanan bagi makhluk-Nya dalam sehari. Dikabulkan, dan berbuntut kewalahan.
Dari kedua kisah yang bak mitos tadi, ada sebuah kesamaan yaitu merasa bisa. Kedua tokoh luar biasa tadi harus bertekuk lutut menelan ludahnya sendiri. Mereka tidak bisa merasa, malah merasa bisa. Akhirnya seperti anak kecil yang ingin memasukkan semangka utuh ke mulutnya, kepayahan. Energi dan waktu yang bisa digunakan untuk menjalani hal biasa-biasa saja secara istiqomah harus terbuang sia-sia demi mengejar yang terkesan luar biasa.
Soal sejarah kembali berulang, banyak Anoman dan Sulaiman yang berwujud pria berdasi, wanita berjilbab, atau aktifis jalanan, memang demikian tuntutan zaman. Godaan merasa benar dan yakin bisa selesaikan masalah yang luar biasa bak nafsu menyelinap dalam ego. Sukar dipilah apalagi jika sudah melindungi diri dengan dalil dan dalih. Bukankah dalam hal ini Anoman dan Sulaeman berniat baik? Cara yang ditempuh pun masuk akal, meski kurang bijaksana sebab tak menghitung Threat (ancaman), Opportunity (kesempatan) sesuai Strength (kekuatan) dan Weakness (kelemahan).
Bagaimana langkah bijaknya? Tidak memaksakan apapun pada oranglain. Jika tanah belum siap untuk ditanam, janganlah terburu-buru mengubur benih di dalamnya. Rawatlah dulu baik tanah maupun benih. Bekali agar tercipta sebuah ekosistem yang nyaman. Ketika sudah terjalin rasa kasih-sayang di antaranya, niscaya proses tumbuh dengan subur tak terelakkan. Inilah yang disebut bijaksana.
Seperti yang sering Mbah Nun seringkali katakan dalam bahasa sederhananya, "kamu boleh goblok, pinter, tapi tetaplah bijaksana. Paham momentum dan cara memanfaatkannya. Bukan berdasar perhitunganmu sendiri tapi digerakkan oleh Gusti Allah dengan cara-Nya." ujar Kang Sabar usai mengunci gerbang.

Standard Darurat

"Standar darurat itu yang bagaimana, Kang?" tanya Kang Kuat di atas bangku panjang.
"Saat momentumnya memaksa siapapun mengira kaki sebagai kepala, dan kepala jadi kaki." jawab Kang Sabar sekenanya.
"Jawaban macam apa itu?! Tanya serius kok malah nyari lagu Piterpen!" umpat Kang Kuat.
"Lha iya, saat yang harusnya warga pra-sejahtera alias masih pas-pasan masih disubsidi, malah dipalak berbagai macam kenaikan tarif." imbuh Kang Sabar sembari menyantap mendoan berlumur sambal kacang.
"Terus menghadapi yang begituan gimana? Aksi turun ke jalan? Sudah lama kita gak bakar ban lho!" pekik Kang Kuat.
"Buat apa? Sampeyan malah bakal dinyinyirin kaum menengah ngehek dengan tudingan pemalas dan sederet label lain." sahut Kang Sabar santai.
"Tapi kita tak bisa tinggal diam dengan semua penjarahan terstruktur, masif, dan tersembunyi dari publikasi ini, Kang!" Kang Kuat makin gusar. Es teh pun tak mampu mendinginkan kepala berambut gondrong penuh ketombe itu.
"Ya berdoa sama Tuhan biar dikuatkan hadapi semua cobaan. Katanya kaum beriman, bahkan sesumbar tahu Kehendak Tuhan." Kang Sabar masih setia meladeni gugatan sang jomblo berdaulat.
"Menengadahkan ke langit? Kapan selesainya? Harus ada rencana taktis strategis, Kang. Masa main game saja njlimet, giliran masalah beginian malah cengengesan pasrah bongkokan." Kang Kuat masih belum terima. Dia memang rese kalau lagi lapar. Maklum, pesanan belum datang.
Kang Sabar meletakkan sendok dan garpunya. Menyeruput kopi panas campur kayu manis di hadapannya. Dengan nada pelan, ia tatap mata pria ceking itu. "Lha kok malah Sampeyan meragukan keadilan Tuhan, Kang. Lupa ya kalau Tuhan itu sesuai prasangkaan hamba-Nya? Sampeyan mengira Dia gak sanggup selesaikan, bakal beneran kejadian lho. Dikira Dia gak mutungan? Wong Maha Sabar-Nya itu sendiri artinya gak langsung menghukum begitu pendosa lakukan kesalahan kok. Tapi ditunggu tobatnya dulu."
Kang Kuat risih dipandang sedemikian rupa. Ia geli. Bahasa tubuh yang beginian biasanya hanya ia jumpai saat makan bareng gebetan. Dengan tergagap ia pun mengejar, "tapi kan Dia akan mengubah suatu kaum jika kaum itu setor usaha. Secuil niat sekalipun."
"Nabi Musa saja selaku nabi dengan daya nalar paling sangar bisa pingsan di Bukti Tursina saat menjumpai sedebu gejala kehadiran-Nya. Ia gagal berguru pada Nabi Khidir karena akalnya tak sabar, masih disetir perasaannya. Jika tujuanmu pada kuantitas, Nabi Nuh akan masuk kategori gagal dakwah sebab dalam waktu ratusan tahun hanya sanggup punya puluhan murid. Coba bandingkan dengan ustat-ustatsah kekinian. Modal asal mbacot saja bisa jutaan pengikutnya." Kang Sabar lantas beranjak ke Mbok Ribut, penjual pecel langganannya.
"Terus kita biarkan rezim sekarang ini terus melangsungkan penggadaian bahkan penjualan wilayah jua kedaulatan negara pada para tamu negeri asing?" Kang Kuat melongo. Pesanannya belum datang, perut masih keroncongan, sudah mau dibayar duluan.
Kang Sabar menghampiri meja tempat Kang Kuat duduk. DIambilnya Zenfone dan dimasukkan ke saku. Mencomot kunci dan memunculkan bunyi. Ia lantas berkata sambil berdiri, "siapa bilang satu-satunya jalan perubahan hanya via yang terlihat gerakan, Kang? Kurang hebat apa ratusan ribu pasukan Kekhalifahan Turki saat syahid dibabat penduduk Kedu? Kurang sangar apa jutaan ksatria mongol seberangi lautan hanya ingin tundukkan Pulau Jawa? Hanya berbekal informasi, Wali Songo, Wali Pitu, bahkan raja-patih-punggawa kerajaan masa lampau bisa memenangkan pertempuran yang mustahil dimenangkan. Jadi, terbukalah pada berbagai kemungkinan lah."
"Eh lho aku kok ditinggal! Ini aku belum sarapan!" teriak Kang Kuat saat Kang Sabar menuju Sahara putih yang menanti.
"Makanya, urusi dapuranmu dulu, baru sajikan hasil masakanmu!" sahut Kang Sabar sebelum duduk di dalam kabin.

Ihda HS

Monday, August 14, 2017

Qadha dan Qadr

Semua orang paham enam pilar iman. Atau, rukun iman. Iman kepada Allah, iman kepada para malaikat Allah, iman kepada kitab Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada para utusan Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadha dan qadr.
'Qadha' artinya ketetapan Allah, dan 'qadr' artinya kadar dari ketetapan tersebut.
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr (ukuran)" (QS Al-Qamar [54]: 49)
Takdir, sedikit berbeda. Takdir adalah jatuhnya, atau terjadinya, ketetapan Allah dengan kadarnya (qadha bi qadr) tersebut.
Konon katanya, tanpa keimanan kepada enam hal itu, statusnya sebagai muslim 'nggak sah'.
Did you know, yang kita kira paling gampang, yaitu iman kepada qadha dan qadr tadi, justru keimanan yang paling susah? Iman kepada ketetapan Allah dan kadar ketetapan tersebut, itu sungguh-sungguh tidak mudah memahaminya. Itulah sebabnya, muslim yang sungguh-sungguh beriman kepada qadha dan qadr ini relatif sedikit.
Iman kepada qadha dan qadr, itu implikasinya adalah, misalnya, bahwa kita iman sepenuhnya kalau kita yang nggak ganteng dan nggak cantik, dengan kadar tinggiitas (tinggi badan sekian) dan mancungitas (kemancungan hidung) sekian, itu adalah murni kebaikan Allah untuk kita, dan telah dihitung dan dikadar-Nya dengan sangat cermat bahkan sejak sebelum alam semesta ada.
Sebagian besar manusia malah menggerutu sejak bangun tidur sampai pergi tidur. Ngaca, dan melihat saya kok nggak cantik. Mengeluh. Mandi, mengeluh karena harus kerja. Di kantor, mengeluh karena kerjaan. Pulang, mengeluh karena macet. Tidur pun mengeluh karena lelah. Ia kecewa dengan ketetapan yang harus dilaluinya hari itu. Lalu, ia menyalahkan dirinya, orang tuanya, keadaan, kondisi, negara, yang 'gara-gara itu' saya jadi begini.
Begitulah hidupnya: ia menjalani setiap hari dengan keluhan. Sampai mati.
Jangan bicara 'iman terhadap qadha' dulu. Sebagian besar kita bersikap seakan-akan ketetapan dan kadar Allah yang Dia turunkan pada kita setiap saat, adalah salah. 'Harusnya nggak gitu'.
Makanya, kata Guru saya, mengeluh, meskipun dalam hati, urusannya akidah. Dengan Allah langsung. Itu sikap seakan-akan Allah salah ngasih. Dia keliru. 'Pelayanan-Nya' terhadap kita nggak bagus.
Guru saya selalu bilang, kalau dosa lainnya, Beliau bisa mendoakan, memohonkan ampunan. Tapi kalau dosa mengeluh, walaupun dalam hati, Beliau nggak bisa.
Bukan berarti kita harus pasrah dengan keadaan, atau membiarkan diri terbawa arus kehidupan tanpa usaha. Bukan gitu. Berusaha pindah ke takdir lain, adalah persoalan lain. Tapi akidah awalnya, terima dulu bahwa itulah qadha Allah. Dan dalam qadr dari-Nya.
Jangan bersikap seakan-akan apa yang terjadi adalah kesalahan, dan di luar pengetahuan-Nya. Seakan-akan apa yang terjadi adalah 'gara-gara si anu'. 'Si anu' itu adalah jalan kejadian ketetapan-Nya saja.
Kalau kita sudah mengerti bahwa apapun yang kita alami adalah di bawah qadha dan qadr dari-Nya, dan --demi kebaikan kita sendiri-- (*) baru kita akan sujud. Dan setelah itu, untuk minta dipindahkan ke qadha dan qadr yang 'lebih enak' pun, kita sujud lagi. Kita minta. Baru kita akan lihat bahwa Dia sungguh-sungguh turun dan berperan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kalau kita nggak pernah menyaksikan bahwa Dia ada dan mengabulkan doa persis sebagaimana yang kita minta, gimana cara mengimani-Nya? Rukun iman pertama, btw.
Dia ada. Hadir. Bukan sekedar konsep yang jauh tenggelam di dalam kitab-kitab suci, yang nggak terjangkau. Setidaknya, kita akan berhenti mengeluh, dan mulai berdoa sungguh-sungguh.
Sekedar sharing singkat atas apa yang saya pahami melalui pengajaran guru-guru saya.
(*) ini panjang banget pembahasannya, jadi jangan nanya persoalan takdir, hehehe. Gak akan bisa dibahas di FB. (Herry M)

Saturday, August 12, 2017

Mr R sharing bagaimana ia masuk Islam

Pengajian bulanan kota kami tidak diisi ceramah ustadz (karena memang tidak ada ustadz), melainkan sharing sesama warga pengajian. Untuk bulan Agustus ini giliran Mr R sharing pengalamannya berislam.
Mr R sharing bagaimana ia masuk Islam, apa persamaan dan perbedaan yang ia rasakan antara agama dia sebelumnya dengan Islam, lalu bagaimana reaksi lingkungan setelah ia masuk Islam. Berikut rangkumannya yang saya ingat, versi saya tentunya:)
"Saya masuk Islam setelah mengenal my wonderful wife", ia membuka sharingnya. Beberapa bulan pertama dia merasa biasa saja. Beragama bukanlah hal yang baru baginya. Dalam Islam Tuhan itu satu, begitu juga dalam Katolik, agama dia sebelumnya. Tapi setelah Ibu mertuanya meninggal sesaat sebelum pernikahannya dengan sang istri, baru ia merasakan sesuatu yang lain. Selama 'prosesi' kematian tersebut berlangsung, dia di rumah mertua. Ia menyaksikan semua detil acaranya. Saat orang-orang datang berkumpul, mengaji, prosesi pemakaman yang jauh dst, mengungkap padanya bahwa Islam adalah agama yang sifatnya 'publik'. Banyak keterlibatan orang lainya. Ini sangat berbeda dengan pandangan Katolik Eropa yang menganggap agama adalah hal pribadi. Orang tidak menunjukkan ke umum kalau dia agamanya Katolik. Beda dengan Islam, dengan pemakaian jilbab misalnya. Agama benar-benar urusan masing-masing kalau dalam Katolik Eropa yang dia pahami. Tapi dari pengalamannya saat kematian Ibu mertuanya itu, tidak begitu dalam Islam. Yang terlihat justru banyak sekali keterlibatan orang banyak.
Hal lain yang ia rasakan: Islam banyak sekali praktek dan ritualnya. Dalam katolik Eropa yang dipahaminya, satu2nya pesan praktek yang ditekankan adalah budi pekerti. Kalau kamu berbudi pekerti yang baik, beres. Ada hal-hal lain seperti 10 aturan seperti dalam Taurat, dst. Tapi tidak dipraktekkan sehari-hari. Beda sekali dengan Islam. Banyak sekali praktek ritualnya. Sholat, wudhu, dan banyak lagi.
"Ini perbedaan yang saya rasakan. Saya berusaha menjalankannya, meski tak selalu memungkinkan. Tapi saya jauh lebih banyak ke masjid selama beberapa tahun saya masuk Islam daripada jumlah saya ke gereja selama lebih dari 30 tahun (35?) saya Katolik.", urainya.
Lalu, menurut dia, dari pengamatannya praktek keIslaman sangat kental pengaruh kulturnya. Akan berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Dia mencontohkan kejadian yang dia alami. Seorang keponakan istrinya yang tinggal di Aljazair berkunjung ke Jerman. Ketika tiba saat sholat Jum'at si anak bersiap menggunakan kaftan. Mr. R meminta anak itu ganti baju tapi anak itu berkeras bahwa kaftan lah pakaian wajib sholat Jum'at.
"Dari mana aturannya sholat Jum'at harus pakai kaftan? Anak itu tampaknya menyimpulkan saja dari pengamatannya akan lingkungannya. Di Aljazair ketika Jum'atan semua memakai kaftan, maka dia menyimpulkan: aha, tiap Jum'atan semua memakan kaftan, maka kaftan adalah pakaian wajib saat Jum'atan.", demikian urainya.
"Begitu juga ketika melihat saya memakai batik bermotif burung. Di Aljazair haram hukumnya.", lanjutnya lagi.
Poin lain yang disharingnya adalah tentang kitab suci. Menurutnya karena jarak antara kehadiran Nabi Isa dengan disusunnya injil terjeda waktu yang cukup panjang, maka kemungkinan adanya berbagai tafsir selama masa itu, lebih besar. Mirip dengan hadits dalam Islam yang terpisah ratusan tahun antara wafatnya Rasulullah dengan masa dibukukannya.
Islam baginya tidaklah benar-benar asing. Ia pertama mengenal Islam saat sekolah. Dari pelajaran agama tepatnya. Di situ dibahas agama-agama samawi, dan Islam salah satunya. Tapi yang dibahas hanyalah garis beras saja. Jalan lain yang membuatnya mengenal detil2 Islam. Yaitu lewat idolanya. Ia mengidolakan salah satu jurnalis yang bertugas di timur tengah. Dengan mengikuti tulisan-tulisan jurnalis tersebut tentang timur tengah, ia jadi tau hal-hal detil tentang Islam. Sekolah-sekolah hukum Islam juga ia kenal dari sana. Bahwa dalam Islam ada sunni, syiah, dst saya juga sudah tau sebelum saya masuk Islam.
Di Katolik ada Paus yang merupakan wakil Tuhan di bumi. Jadi, Paus bisa memutuskan sesuatu yang harus diikuti seluruh umatnya. Islam tidak ada.
"Orang tua saya punya anjing. Dan entah kenapa, anjing itu senang sekali dengan istri saya. Tiap kami datang ke rumah orang tua saya, anjing itu akan mengacuhkan saya dan mencari istri saya. Istri saya mengatakan kalau tangan dijilat anjing, maka harus dibasuh dengan air 7 kali dengan salah satunya dengan tanah. Saya langsung berpikir, kenapa harus dengan tanah. Maka saya mencari tau. Ternyata ada beberapa pendapat tentang ini. Di Katolik hal seperti ini bisa diputuskan Paus. Dan itu berlaku untuk semua. Dalam Islam tidak ada hal ini. Pada akhirnya, keputusannya masing-masing.
Seorang warga bertanya,"jadi menurutmu itu bagaimana?"
"Di satu sisi dengan adanya satu keputusan dari Paus, jadi lebih jelas dan mudah bagi umat. Di sisi lain, ketidak adaan wakil Tuhan di bumi, bagi saya menunjukkan Tuhan ingin mengatakan bahwa agama adalah pencarian masing-masing diri. Dan kenyataannya poin inilah yang bagi saya paling mempengaruhi keyakinan saya pada Islam: Agama adalah pencarian masing-masing diri.", urainya.
Lalu bagaimana reaksi sekitar ketika ia masuk Islam?
"Saya tidak mengumumkan woro-woro hey saya sudah masuk Islam loh?. Nggak gitu. Tapi pelan-pelan orang tau sendiri. Saya tidak minum, lalu melihat makanan saya, dst", kisahnya.
"Keluarga saya termasuk orang yang berpendidikan. Bagi mereka agama urusan pribadi. Mereka juga cukup punya informasi tentang Islam. Jadi mereka tidak masalah. Satu2nya keluarga saya yang kaget adalah Gro├čTante (saudara Nenek/Kakek) saya. Yang lain tidak ada masalah."
Seorang warga bertanya,"bagaimana pandanganmu tentang jilbab? Istrimu kan juga berjilbab"
Jawabnya,"bagi saya itu keputusan pribadi istri saya. Saya tanya sih, kenapa dia kemudian memutuskan memakai jilbab. Orang tua saya juga tidak masalah. Mereka hanya khawatir kalau nanti istri saya susah dapat kerja dan hal-hal seperti itu."
Demikian yang aku ingat. Udah beberapa hari lewat, mulai siwer yang diinget hahaha
Sesi sharing yang menarik. Cara membawakannya juga 'Jerman banget'.
Menurut Masha, inilah satu2nya sharing session, sofar, yang tidak membuat dia ngantuk ´. Ooops
Ya iyalah ya, hasil 'satu mesin' yang sama:)
Poin.poinnya jelas, alurnya jelas, bahasanya efektif dan efisien. Jokenya ada tapi tidak lebay. Tidak membahas hal yang sama berulang2.
"Ya, seperti kalau Asha biasa presentasi.", kata Masha.
Halah...ge er pisaaan hihihi
Danke dah, Om B yang sudah sharing:)
(Ellyza DS)

Thursday, August 10, 2017

Rumah Perjuangan

Bagiku rumah di sadang serang betul-betul menjadi rumah perjuangan.
Yang awalnya sempat menangis pada seorang sahabat karena sampai 3 bulan ke depan diriku dan anak2ku mau makan apa sampai keadaan sekarang ini.

"Ya Allah... beri aku waktu untuk bangkit dan berdiri. Ini masalah waktu. Aku yakin Engkau pasti memberiku pekerjaan. Namun ya Allah ... kali ini aku membutuhkan nyata uluran tangan Mu untuk menolong kehidupan anak2ku. Aku puasa masih bisa... tapi C dan N ya Allah.." kataku panjang lebar sama Allah.
"Betapa Engkau Maha Perkasa. Tolonglah aku ya Allah..." isakku dalam kepedihan tiada tara.
Jiwaku kuat menghadapi semua ini. Mentalku juga kuat. Tapi tidak fisikku! Hingga kemudian diriku jatuh sakit... di dalam ususku timbul bisul karena bakteri.
Awalnya kutahan. Meriyang 3 bulan kutahan terus tanpa bilang ke pak bojo apa yang aku rasakan. Hingga suatu saat diriku bilang, "Pak, jangan pulang ke Jakarta... aku enggak kuat." Waktu itu bojoku masih harus kerja di jakarta.
"Aku enggak enak sama kantor kalau enggak ada keterangan jelas." Kata bojoku.
"Ya sudah, ayuk ke dokter biar aku dapat surat keterangan sakit..." kataku. Berniat ke dokter hanya untuk mendapatkan surat keterangan dokter. Bukan berobat karena sejatinya diriku bukan perempuan yang manja dan mudah ke dokter.
"Dokter, saya tidak mau opname. Saya punya 2 abk. Kasihan mereka..." kataku. Diriku pun diberi antibiotik satu bulan lamanya. Dan beruntung tidak terlambat. Keadaan tidak cepat bertambah baik hingga salah seorang sahabatku yang dokter bilang, "Mbak, coba minum daun sirsak...". Karena keadaan belum juga membaik.
Hari ketiga minum daun sirsak, diriku sudah bisa menyapu dan pel. Sampai heran sendiri waktu itu. Daun sirsak kemudian jadi andalanku hingga setahun kemudian. Itu kejadiannya 3,5 tahun yang lalu.
Diriku suka menangis di hadapan Allah. Sejadi-jadinya. Menangis dalam hati. Bahkan hingga menjelang tidur pun diriku masih merasakan kehadiran Allah di depanku. Hingga tertidur pulas. Ya... bagi yang belum pernah mengalami ada di titik nadir mungkin tidak bisa membayangkan yang kukatakan. Kita memang tidak bisa melihat Allah. Tapi kita tahu Allah itu ada.

Wednesday, August 9, 2017

Era Fosil segera berakhir

Era Fosil segera berakhir
Era energi fosil murah segera berakhir walaupun masih tetap dominan sampai tahun 2030.
Penguatan jaringan (T&D) dan penyimpan energi merupakan komponen utama sistem ketenagalistrikan masa depan yang harus segera dibangun
Bagaimana mengatur pembangkit variabel berbasis energi terbarukan merupakan tantangan besar bagi semua insinyur ketenagalistrikan
Sampai tahun 2030, kontribusi energi angin dan matahari dalam energi listrik global bisa mencapai 25%. Untuk Indonesia, peluang pemanfaatan energi air, panas bumi, dan biomasa yang lebih terkendali masih terbuka lebar.
Kunci itu semua adalah pembangunan HVDC transmission terutama yang berbasis konverter sumber tegangan.

Perencanaan Saluran Transmisi

Perencanaan Saluran Transmisi
Di masa lalu, perencanaan saluran transmisi selalu hanya berkutat pada besarnya biaya langsung yang keluar untuk membangunnya. Keekonomisannya dihitung hanya dengan menghitung berapa daya yang bisa disalurkan melalui saluran transmisi tersebut, daya yang mengalir dari pembangkit ke pusat beban. Padahal pada saat ini, pembangunan saluran transmisi sering tidak hanya ditujukan untuk menyalurkan daya pada satu arah saja. Saluran transmisi sering dibangun untuk menyambungkan dua sistem besar sehingga arah aliran daya bisa berubah-ubah setiap saat. Adanya saluran transmisi yang menghubungkan dua sistem menyebabkan ke dua sistem bisa sharing resources sehingga spinning reserve di kedua sistem bisa dikurangi.
Saluran transmisi yang kuat juga sangat penting dalam era distributed generation dan pembangkit berbasis energi terbarukan seperti halnya angin dan matahari. Untuk mengurangi pengaruh berubah-ubahnya energi angin dan matahari, sistem transmisi yang kuat diperlukan supaya kekurangan di suatu tempat bisa dikompensasi oleh kelebihan di tempat lain. Antar sistem bisa saling membantu dalam menjaga stabilitas. Jadi, saluran transmisi tidak lagi hanya untuk menyalurkan daya ke satu arah. Tidak hanya dari pembangkit ke pusat beban.
Memang semua ini menyebabkan perencanaan saluran transmisi tidak semudah perencanaan di masa lalu. Semua dipenuhi ketidakpastian dan beberapa bahkan belum diatur, misal ancillary services. Belum diatur berapa nilai atau biaya kompensasi yang didapat jika kita ikut memperbaiki stabilitas, keandalan, dan kwalitas daya. Tapi itu semua adalah tantangan yang menarik kalau ingin belajar sistem tenaga listrik.

Sistem Ketenagalistrikan

Di masa lalu, hampir semua sistem ketenagalistrikan dimiliki oleh satu perusahaan (sampai sekarang, di beberapa negara masih demikian). Di masa lalu, beberapa pembangkit kecil langsung melayani konsumennya lewat jaringan distribusi sederhana. Dengan berkembangnya sistem arus bolak-balik, pembangkit besar dibangun pada jarak yang cukup jauh dari bebannya. Daya listrik dikirim lewat saluran transmisi tegangan tinggi yang efisien. Selanjutnya dengan berjalannya waktu, beberapa sistem diinterkoneksikan untuk meningkatkan keandalan. Interkoneksi juga dilakukan antar daerah atau bahkan antar negara. Adanya interkoneksi menghasilkan keandalan yang lebih baik dan sharing resources antar daerah. Walaupun sudah banyak interkoneksi, sistem ketenagalistrikan umumnya dirancang, dibangun, dan dioperasikan oleh perusahaan yang sama. Selain itu, dari sisi pembangkit sampai distribusi, dimiliki oleh perusahaan yang sama. Akibatnya, operator sistem cenderung kurang ramah terhadap pembangkit yang punya peluang mengganggu sistem (contoh variable renewable energy). Tidak adanya kompetisi menyebabkan sistem ketenagalistrikan tidak bisa menghasilkan sistem yang terbaik. Hukum ekonomi menyatakan bahwa kompetisi akan melahirkan sistem yang efisien. Pernyataan ini tidak berarti bahwa sistem kelistrikan yang sekarang (baca PT PLN) tidak baik, tapi jelas belum yang terbaik.
Di banyak negara maju, deregulasi sistem kelistrikan banyak dilakukan untuk mendorong kompetisi. Kepemilikan transmisi dipisah dari pembangkit bahkan dari distribusinya. Sistem transmisi biasanya dimiliki negara atau dikuasai negara. Dengan sistem ini, retailer atau konsumen besar bisa memilih pembangkit yang diinginkan. Pembangkit-pembangkit bisa berkompetisi untuk menawarkan listrik yang terbaiknya. Walaupun di Indonesia sudah ada pembangkit swasta, kompetisi hanya terjadi sebelum dibangun pembangkitnya. Setelah itu tidak ada kompetisi sama sekali.
Untuk bisa melahirkan sarana berkompetisi, harus disediakan sistem interkoneksi atau transmisi yang memadai. Operator sistem harus bisa memberikan kesempatan sama besar pada semua pembangkit untuk berkompetisi. Untuk mencapai tahapan ini, Indonesia harus membangun banyak saluran transmisi baru. Sayangnya, membangun saluran transmisi memerlukan biaya investasi yang tidak sedikit. Indonesia, yang terdiri atas banyak pulau, interkoneksi antar pulau memerlukan biaya yang lebih besar lagi. Akan tetapi semua itu bisa dijalankan selama rakyat bersatu untuk membangunnya. Jaringan Palapa Ring bisa dibangun juga dengan dana rakyat, bukan dana pemerintah. Jika interkoneksi tersedia dengan baik, Indonesia bisa memiliki sistem kelistrikan yang kompetitif. Mungkin suatu saat di Indonesia akan terdapat banyak PT PLN. Adanya interkoneksi antar pulau memungkinkan pemanfaatan tenaga renewable yang tersebar di seluruh Indonesia yang mungkin jauh dari konsumennya. Adanya interkoneksi memungkinkan terjadinya sharing resources antar daerah. Adanya interkoneksi memungkinkan diciptakannya sistem kelistrikan yang 100 % sustainable tanpa harus mahal. (Pekik AD)

Jebakan Karir, Part 3

Jebakan Karir, Part 3
Ketika karyawan saya itu bercerita bahwa dia sempat berencana mau bunuh diri, untuk beberapa saat saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya kaget. Saya tercekat. Saya benar-benar tidak menyangka, sehingga tidak sanggup ngomong apa-apa lagi. Sehingga yang bisa saya lakukan hanya mengiyakan saja apa yang dia sampaikan. Termasuk ketika dia bilang mau mengundurkan diri saja dari kantor, supaya bisa terbebas dari beban mental yang membuat dia sangat depresi. Saya langsung mengiyakan keinginan itu kalau memang pengunduran diri itu bisa membebaskannya dari depresi yang berkepanjangan. Saya bilang kepadanya bahwa keselamatan dia jauh lebih penting dari apapun. Jauh lebih penting dari sekedar kepentingan perusahaan.
Tetapi setelah mengiyakan permintaan pengunduran diri itu, saya baru sadar kalau saya sebenarnya belum menggali lebih dalam apa sebenarnya masalah yang membuatnya depresi. Yang mengagetkan, dia depresi berat karena merasa hidupnya tidak berguna. Dia merasa tidak bisa berkontribusi apa-apa terhadap perusahaan yang diamanahkan kepadanya. Perasaan tidak berguna ini begitu kuat menghantuinya. Dia merasa, karena ketidakmampuannyalah yang membuat unit bisnis yang dia kelola mengalami kesulitan cash flow yang cukup serius.
Sekali lagi saya terkejut mendengar penjelasan yang tidak pernah saya duga ini. Bagi saya, performance dia selama ini sebenarnya sangat bagus. Mengenai keluhan dia yang merasa tidak bisa berjualan, itu memang kemampuan yang masih perlu diasah lagi. Saya yakin potensi itu ada, hanya memang butuh jam terbang. Tetapi dia tetap menolak. Dia merasa sudah mentok dan ingin mengundurkan diri saja.
Saya persilakan dia mengundurkan diri, tapi sebelum itu saya minta dia ikut tes talent mapping sekali lagi. Saya ingin dia memiliki gambaran yang tepat tentang potensi yang ada dalam dirinya. Ternyata dugaan saya benar. Hasil test talent mappingnya menunjukkan potensi itu ada, hanya yang bersangkutan memang merasa tidak pede dengan kemampuannya sendiri.
Setelah konsultasi intensif dengan Abah Rama, akhirnya yang bersangkutan dapat diyakinkan dengan potensi dirinya, dan membatalkan rencana pengunduran dirinya. Alhamdulillah.
Dari kejadian itu, Abah Rama mewanti-wanti kepada saya untuk memberikan bekal yang cukup bagi karyawan sebelum memberinya penugasan yang di luar kapasitasnya. Karena dampaknya bisa sangat serius. Yang juga saya pelajari, bahwa respon seseorang dalam menghadapi sebuah kegagalan ternyata berbeda-beda. Konon penyebabnya bisa bermacam-macam, bahkan ada yang sifatnya genetik! Hal seperti inilah yang perlu dipertimbangkan secara masak-masak sebelum memberikan penugasan kepada seorang karyawan, sekalipun itu kepada karyawan terbaik Anda.
Sungguh, ini sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya, yang terus terang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Semoga kejadian seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Sampai kapan pun. (Selesai)
Salam,
Hari

Soal Alexander Agung, atau Iskandar Dzulqarnain dalam Al-Qur‘an

Berikut ini adalah corat-coret saya di 10 hari terakhir bulan Ramadhan kemarin. Coretan ini sebenarnya saya persiapkan untuk kedua buah hati, yaitu Dewi Alessandra Purnamasari dan Muhammad Alexander Adlin. Oleh-oleh dari bapaknya selama belajar kepada Uwak Mursyid, dan semoga, jika saya ada umur, bisa menceritakan kembali kepada mereka, sebagaimana nenek tercinta, Insyah, yang saat saya masih kecil dulu sering menceritakan kisah para nabi dan sangat membekas di diri saya hingga hari ini.
Sambil mensyukuri kesembuhan Alick, saya ingin membicarakan soal Alexander Agung, atau Iskandar Dzulqarnain dalam Al-Qur‘an. Semoga ada gunanya.
*******
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu DZIKRAN tentangnya.” (QS Al-Kahfi [18]: 83)
*******
DZIKRAN itu adalah hikmah atau hakikat, dan dalam hal ini Al-Quran memaparkan ihwal hikmah atau hakikat ke-dzulqarnain-an, sang penakluk yang sepak terjangnya membuat banyak muslim tidak percaya bahwa bukan Alexander Agung yang Al-Quran maksudkan.
Disebut dzikran karena itu merupakan sesuatu yang bersifat universal dan ada nilai-nilai yang harus diingat serta berlaku umum.
Al-Quran menyebutnya sebagai Dzulqarnain, yaitu “yang memiliki dua tanduk” merupakan simbol dari penguasa Barat (alam Yunani [khususnya Macedonia]) dan Timur (Persia).
Namun, Barat dan Timur juga merupakan simbol yang banyak ditemui di berbagai khazanah agama-agama. Timur adalah tempat terbitnya matahari sebagai simbol dari dunia ruhiyyah (alam lahut), sedangkan Barat adalah tempat terbenamnya matahari sebagai simbol dari dunia jasadiah (alam nasut).
Allah SWT juga memberikan kepada Dzulqarnain kekuasaan atas kaum “Timur” yaitu kaum ruhaniyyah atau para ‘ulama’ yang ditasbihkan kepada sang penakluk yang masih muda (pemuda juga merupakan simbol dari nafs yang istid├ód). Silakan baca catatan milik Josef Flavius, sejarawan Yahudi yang menuliskan bagaimana Dzulqarnain disambut oleh para rabbi Yahudi, atau para rahib Buddha menyarankan raja-raja India untuk tunduk kepada Dzulqarnain karena kekuasaannya atas ‘amr Allah.
Tentang kedatangan Dzulqarnain telah dinubuatkan oleh Nabi Daniel as dalam Daniel 8: 1-27, sebagai berikut:
*******
1. Pada tahun yang ketiga pemerintahan raja Belsyazar, nampaklah kepadaku, Daniel, suatu penglihatan sesudah yang tampak kepadaku dahulu itu.
2. Aku melihat dalam penglihatan itu, dan sementara aku melihat, aku berada di puri Susan, yang ada di wilayah Elam, dan aku melihat dalam penglihatan itu, bahwa aku sedang di tepi sungai Ulai.
3. Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.
4. Aku melihat domba jantan itu menanduk ke barat, ke utara dan ke selatan, dan tidak ada seekor binatangpun yang tahan menghadapi dia, dan tidak ada yang dapat membebaskan dari kuasanya; ia berbuat sekehendak hatinya dan membesarkan diri.
5. Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya.
6. Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat.
7. Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.
8. Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.
9. Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai.
10. Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.
11. Bahkan terhadap Panglima bala tentara itupun ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari, dan tempat-Nya yang kudus dirobohkannya.
12. Suatu kebaktian diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari, kebenaran dihempaskannya ke bumi, dan apapun yang dibuatnya, semuanya berhasil.
13. Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: "Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?"
14. Maka ia menjawab: "Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar."
15. Sedang aku, Daniel, melihat penglihatan itu dan berusaha memahaminya, maka tampaklah seorang berdiri di depanku, yang rupanya seperti seorang laki-laki;
16. dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: "Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!"
17. Lalu datanglah ia ke tempat aku berdiri, dan ketika ia datang, terkejutlah aku dan jatuh tertelungkup, lalu ia berkata kepadaku: "Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!"
18. Sementara ia berbicara dengan aku, jatuh pingsanlah aku tertelungkup ke tanah; tetapi ia menyentuh aku dan membuat aku berdiri kembali.
19. Lalu berkatalah ia: "Kuberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi pada akhir murka ini, sebab hal itu mengenai akhir zaman.
20. Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia.
21. Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.
22. Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu.
23. Dan pada akhir kerajaan mereka, apabila orang-orang fasik telah penuh kejahatannya, maka akan muncul seorang raja dengan muka yang garang dan yang pandai menipu.
24. Kekuatannya akan menjadi hebat, tetapi tidak sekuat yang terdahulu, dan ia akan mendatangkan kebinasaan yang mengerikan, dan apa yang dilakukannya akan berhasil; orang-orang berkuasa akan dibinasakannya, juga umat orang kudus.
25. Dan oleh karena akalnya, penipuan yang dilakukannya akan berhasil; ia akan membesarkan dirinya dalam hatinya, dan dengan tak disangka-sangka banyak orang akan dibinasakannya; juga ia akan bangkit melawan Raja segala raja. Tetapi tanpa perbuatan tangan manusia, ia akan dihancurkan.
26. Adapun penglihatan tentang petang dan pagi itu, apa yang dikatakan tentang itu adalah benar. Tetapi engkau, sembunyikanlah penglihatan itu, sebab hal itu mengenai masa depan yang masih jauh."
27. Maka aku, Daniel, lelah dan jatuh sakit beberapa hari lamanya; kemudian bangunlah aku dan melakukan pula urusan raja. Dan aku tercengang-cengang tentang penglihatan itu, tetapi tidak memahaminya.
*******
Adapun kekuasaan atas kaum “Barat” adalah kaum mulkiyyah, kekuasaan atas para penguasa “dunia”; silakan lihat sejarah bagaimana Dzulqarnain menyatukan seluruh Yunani, seperti Athena, Sparta, Troya, hanya dalam waktu satu tahun. Kemudian menaklukkan Persia, yang dipimpin oleh Darius, serta menggabungkannya dengan dunia Yunani dalam waktu sangat singkat.
Dzulqarnain kemudian tinggal dan wafat di Babilonia, di tempat di mana Nabi Daniel as bernubuwwah tentang dirinya.
Istilah Dzulqarnain atau “yang memiliki dua tanduk” tidak dikenal dalam literatur Barat, akan tetapi pada koinnya tampak bagaimana Alexander The Great of Macedon memakai mahkota dengan dua tanduk.
Di sini terlihat adanya hubungan antara Perjanjian Lama Kitab Daniel 8: 1-27 dengan QS Al-Kahfi [18]: 83 tentang Dzulqarnain sebagai “yang memiliki dua tanduk”
Tak sedikit orang, termasuk umat muslim, yang susah percaya bahwa Iskandar Dzulqarnain adalah Alexander The Great, padahal dia adalah seseorang yang bisa berdialog dengan Allah Ta‘ala dan diperbolehkan memutuskan apa pun atas kaum taklukkannya sebagaimana tertuang dalam QS Al-Kahfi [18]: 86-88 sebagai berikut:
*******
Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”
Berkata Dzulqarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”
*******
Segitu dulu. Insya Allah nanti dilanjut lagi ya. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wassalam.
Ttd.
Bapaknya Alexander yang dipanggil Alick.
Alexander artinya adalah Penolong, sedangkan Alick artinya adalah Pejuang.

Jebakan Karir, Part 2

Jebakan Karir, Part 2
Ketika ada dosen SBM ITB ditemukan meninggal bunuh diri di Waduk Cirata, Cianjur, terus terang saya bingung, mengapa ada orang berpendidikan dan hidup mapan tetapi memilih jalan bunuh diri? Tetapi karena saya tidak dekat dengan yang bersangkutan, kebingungan dan kekagetan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam hitungan hari, kebingungan itu hilang ditelan waktu. Tetapi ketika hal itu terjadi dengan salah seorang karyawan terbaik saya, dimana saya sangat intens berkomunikasi dengannya, terus terang kekagetan dan kebingungan itu terus berlangsung dan tidak bisa hilang begitu saja.
Memang, syukur alhamdulillah, bunuh diri itu baru sebatas rencana dan tidak sampai terjadi. Tetapi itu sudah cukup membuat saya kepikiran terus. Apa yang salah dengan perusahaan ini sehingga salah seorang karyawan terbaiknya berpikir untuk bunuh diri?
Beruntung karyawan saya ini orangnya cukup terbuka. Dia menceritakan kepada saya dengan cukup detil masalah yang dihadapinya, dan juga terbuka dengan saran-saran yang saya berikan. Dan dari perbincangan yang kami lakukan, saya menyimpulkan bahwa salah satu akar masalahnya adalah "jebakan karir". Ya, jebakan karir. Tepatnya perkembangan karir yang terlalu cepat bisa menjadi jebakan yang membahayakan.
Karyawan saya ini karirnya memang melesat bak meteor. Dia bergabung di perusahaan kami sebagai seorang fresh graduate. Tapi cara berpikir dan sikapnya dalam bekerja tidak seperti seorang fresh graduate. Cara dia bekerja dan melihat permasalahan tidak seperti layaknya karyawan biasa. Bahkan kalau boleh flash back awal perjalanan karir saya sendiri, saya pun tidak berpikir dan bersikap layaknya karyawan saya ini. Dia bekerja layaknya pemilik perusahaan. Artinya, apapun yang dia lakukan dia dedikasikan secara total untuk perusahaan, seolah-olah ini perusahaan dia sendiri yang harus dia jaga dan rawat sampai titik darah penghabisan. Akibatnya, loyalitas dia pada perusahaan ini tidak perlu diragukan lagi.
Dengan cara berpikir dan bersikap seperti itu, tidak heran kalau prestasinya sangat mencorong. Setiap penugasan yang kami berikan, selalu bisa dia selesaikan dengan sangat baik. Proyek yang sangat rumit pun mampu dia selesaikan walaupun sempat mengalami krisis yang amat hebat akibat orang yang kami tugaskan sebelumnya memutuskan mundur. Dalam membangun tim pun, karyawan satu ini juga luar biasa. Dia bisa membangun tim dari nol, dan yang sangat membanggakan, tim yang dia bangun tidak saja hebat dari sisi kemampuan teknis, tetapi juga dari sikap dalam bekerja. Pokoknya semua yang baik mampu dia tularkan kepada anggota timnya. Loyalitas dan sikap memiliki pada perusahaan juga tertular dengan baik. Sebagai contoh, seluruh anggota timnya selalu memilih moda transportasi paling ekonomis ketika pergi ke customer site, apakah itu KRL, angkot, gojek, atau Uber. Ketika Blue Bird masih menjadi moda transportasi standard perusahaan dan belum diganti dengan Uber pun, anggota timnya dengan kesadaran sendiri memilih moda transportasi yang lebih ekonomis. Dan untuk itu pun mereka tidak pernah terlambat sampai di lokasi proyek.
Dengan segudang prestasi itulah maka kami mempromosikan dia menjadi orang nomor satu di business unit yang baru kami bentuk. Karena kami amat yakin dia bisa mengelola business unit ini dengan baik, tidak hanya dari sisi teknis tetapi juga dari sisi non teknis. Ternyata keputusan ini terlalu cepat bagi dia, sehingga justru menjadi "jebakan karir" yang teramat membebani. (Bersambung)
Salam,
Hari

Tuesday, August 8, 2017

Jebakan Karir Part 1

Jebakan Karir, Part 1
Sekitar setahun yang lalu, salah seorang karyawan terbaik kami minta waktu ketemu dan ingin berbicara secara pribadi. Karena hubungan saya dengannya sangat baik dan komunikasi juga sangat lancar, saya waktu itu tidak berpretensi apa-apa. Saya pikir ini pertemuan biasa saja, karena sebelumnya dia memang sudah sering ngobrol secara personal. Hanya waktu itu ada yang tidak biasa. Biasanya ngobrolnya cukup di kantor saja, tapi waktu itu dia ngajak ketemu di luar kantor sambil makan malam. Yang juga tidak biasa, kali ini dia tidak membawa alternatif solusi atas masalah yang dia hadapi seperti biasanya. Padahal biasanya ketika ngajak ngobrol personal begini karyawan yang satu ini selalu membawa beberapa alternatif solusi atas masalah yang dia hadapi. Dia ini memang tipe karyawan teladan, tipe karyawan yang tidak mau menyulitkan atasannya, karena untuk setiap masalah yang terjadi dia sudah menawarkan alternatif solusi disertai analisa untung rugi dari masing-masing alternatif solusi itu. Sehingga atasan tinggal memilih mana alternatif terbaik menurut pandangan atasan yang lebih memiliki helicopter view.
Tetapi waktu itu situasinya agak lain. Saya sempat mencium gelagat yang tidak beres, karena dia menyampaikan masalah yang pelik tetapi dia tidak menawarkan alternatif solusi seperti biasanya. Dia hanya mengatakan, "Terserah keputusan pak Hari, saya akan ikut apa pun yang pak Hari putuskan". Lah, biasanya kan memang demikian? Selama ini kan memang saya yang selalu mengambil keputusan, dan dia pun selalu menerima apa pun yang saya putuskan. Tetapi alternatif solusinya kan biasanya datang dari dia sendiri, saya tinggal memilih mana keputusan yang terbaik. Tapi kali ini beda. Dia tidak menawarkan alternatif solusi apapun, sehingga saya mesti repot-repot mencari alternatif solusi sendiri. Tetapi karena sudah mencium gelagat yang tidak beres, akhirnya saya tidak menuntutnya untuk mencari alternatif solusi seperti biasanya.
Sekitar 3 minggu yang lalu, dia kembali minta waktu untuk ketemu secara personal. Kali ini kami bertemu di kantor saja. Dan yang mengagetkan, dalam pertemuan itu dia mengatakan sudah tidak sanggup lagi mengerjakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya, dan ingin mengundurkan diri saja. Saya kaget karena saya merasa dia selama ini performanya baik. Malah sangat baik. Setiap tugas yang diberikan kepadanya, selalu bisa diselesaikan dengan baik. Termasuk ketika dia kami tugaskan untuk mengerjakan proyek kami di Eropa. Customer kami di Eropa senang sekali dengan apa yang dikerjakannya. Proyek pengembangan sistem yang sangat kompleks pun bisa dia selesaikan dengan baik, walaupun sempat mengalami krisis yang amat berat. Terakhir, dia saya bawa ke Jerman untuk mempresentasikan hasil karyanya di depan audiens yang mewakili berbagai negara dari seluruh dunia. Dan respon audiens sangat positif. Jadi sangat mengagetkan mengapa dia ingin mengundurkan diri? Apalagi alasannya karena dia merasa sudah tidak sanggup lagi mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya.
Kekagetan saya tidak berhenti di situ saja. Ada yang jauh lebih mengagetkan lagi, karena dia mengatakan bahwa dia sempat berencana mau bunuh diri! Ya, dia bilang sudah sempat terucap rencana bunuh diri ini, tetapi untungnya bisa dicegah oleh istrinya. Hah, bunuh diri? Sejauh itukah? Bukankah selama ini semuanya terlihat baik-baik saja? Tidak ada gejala depresi hebat yang terlihat. Ada apa sebenarnya? (Bersambung)
Salam,
Hari

Thursday, August 3, 2017

Supergrid sebagai solusi energi masa depan

Semua pasti setuju bahwa jumlah sumber energi fosil terbatas dan suatu saat akan habis sehingga peralihan ke energi terbarukan adalah keharusan, bukan pilihan. Sayangnya, lokasi sumber energi terbarukan sering sekali jauh dari bebannya. Sumber energi terbarukan yang berlimpah di Indonesia adalah energi air, panas bumi, biomasa, matahari, dan angin. Selain jauh lokasinya, keberadaan sumber energi terbarukan sering berubah-ubah dan tidak pasti. Karena berubah-ubah dan tidak pasti, kekurangan energi di suatu daerah harus dipasok dari daerah lain yang sedang berlebih. Artinya, antar daerah harus bisa sharing resources. Tanpa sharing resources, kita akan membutuhkan batere yang sangat besar untuk menjamin pasokan energi di suatu daerah.
Cara paling efektif untuk bisa melakukan sharing resources adalah dengan membangun supergrid, yaitu jaringan listrik bebas hambatan yang memungkinkan daya listrik mengalir dari satu daerah ke daerah lain. Kekurangan listrik di suatu daerah dipasok oleh daerah lain yang sedang berlebih. Daerah yang kehilangan sumber energi matahari karena mendung atau gelap bisa dipasok oleh daerah lain yang kelebihan energi matahari atau oleh daerah yang kelebihan energi angin. PLTA dan PLTPB bisa dibangun di tempat jauh yang harga tanahnya masih murah atau yang sedikit penduduknya. Karena antar daerah bisa saling membantu, kebutuhan akan penyimpan energi dan spining reserve menjadi minimum.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas. Terlalu mahal jika semua harus disambung ke supergrid. Karena harus melewati laut, satu-satunya teknologi supergrid yang cocok adalah berbasis transmisi daya arus searah tegangan ekstra tinggi (HVDC). Dengan HVDC, aliran daya listrik dari satu daerah ke daerah lain bisa diatur dengan cepat. Dengan HVDC, gangguan di suatu daerah tidak akan berpengaruh ke daerah lain. Teknologi HVDC telah berkembang pesat sehingga dimungkinkan aliran daya ribuan megawatt lewat jarak ribuan kilometer. Daya listrik bisa mengalir dari Sabang sampai Merauke dengan kecepatan sangat tinggi. Orang Sumatera bisa saja membeli listrik dari Maluku atau Papua yang sedang murah, demikian pula sebaliknya. Adanya supergrid memungkinkan terjadinya kompetisi harga antar pembangkit sehingga didapat energi listrik yang murah dengan kualitas baik.
Masalahnya adalah biaya pembangunan supergrid yang sangat mahal. Idealnya supergrid dibangun oleh negara seperti halnya jalan raya. Akan tetapi kita semua tahu bahwa keuangan negara sangat terbatas. Solusinya adalah mengikuti teman2 telekomunikasi yang membangun palapa ring dengan uang rakyat. Setiap pembangkit dipungut sekian persen penghasilannya oleh suatu badan independen. Dana yang terkumpul selanjutnya dipakai untuk membiayai pembangunan seperti halnya pembangunan palapa ring. Tahapan ini harus segera dimulai sebelum semuanya terlambat. Tanpa adanya infrastruktur telekomunikasi dan energi yang merata dari Sabang sampai Merauke, pembangunan yang merata hanyalah impian.(Pekik AD)

Wednesday, August 2, 2017

Hutang Luar Negeri dan Dana Haji

Hutang Luar Negeri dan Dana Haji
Tulisan ini ditujukan untuk Nona Enyim Tea yang dulu sekali bertanya mengapa saiya berpikir pemerintah akan menyinggung-nyinggung dana publik dalam tabungan haji sebagai sumber keuangan dan pembiayaan pembangunan negara. Sekarang isu itu sudah menjadi pembicaraan dan viral dan saiya baru sempat menuliskannya buat nona Enyim yang suka salam metal.
Semenjak kami dari think-thank selatan-selatan dengan dukungan OECD dan DIE Jerman mengikuti perkembangan Global Partnership for Effective Development Cooperation (GPEDC) semenjak di Busan Korean tahun 2012, dan kemudian yang terakhir di Nairobi di Kenya tahun 2016, sebenarnya masyarakat global sudah menyepakati satu landasan internasional dari apa yang disebut dengan kerjasama pembangunan yang efektif.
Yang mana indikator-indikator keefektivan tadi diukur melalui tahap-tahap seperti; aksi-penggarisbawahan kegiatan-kegiatan, dan hasil-hasil.Lebih jauh pasca pertemuan tinggkat tinggi Busan, ada usulan agar acceptances atau pernyataan penerimaan dari the so called para pemangku kepentingan utamanya LSM, Ormas, masyarakat, dan komunitas perlu dijadikan juga sebagai pertimbangan.
Sebuah kerangka kerjasama untuk ini dituangkan dalam naskah GPEDC Guide to the Monitoring Framework (2013a). Dengan 10 indikator dan target yang harus dipenuhi sesuai dengan: komitment akuntabilitas global, pemenuhan kualitas dari segi pengambilan, penilaian data dengan kaidah internasional, serta satu gambaran umum bahwa pembangunan benar-benar mengubah perilaku (behaviour change).
Berikut tabel Global Indikator dan target untuk
2015
1. Kerjasama pembangunan fokus pada hasil (result based priorities)
2. Masyarakat sipil bekerja dalam lingkungan yang dapat memaksimalkan keterlibatan dan kontribusi mereka dalam pembangunan.
3. Keterlibatan dan kontribusi kelompok swasta dalam pembangunan .
4. Transparansi: dalam informasi, kerjasama dan publikasi
5. Kerjasama pembangunan lebih dapat diprediksikan (cc. kesimbangan antara penyaluran bantuan dan kondisi fiskal, kewajaran antara rencana anggaran dan rencana belanja ditiap-tiap level pembangunan)
6. Dana bantuan haruslah masuk ke dalam anggaran belanja yang telah disetujui oleh DPR/parlemen.
7. Akuntabilitas bersama antara penyandang dan pengguna dalam pemanfaatan bantuan.
8. Pemberdayaan gender dan perempuan diutamakan dalam kerjasama ini.
9. Struktur dan organisasi negara (birokrasi dll.) maupun penunjang (auxilary) kegiatan ini harus efektive dan terus diperkuat.
10. Bantuan tidak tanpa batas namun program harus terus dijalankan.
Dari hasil yang diperoleh pada 2015, hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Semenjak dimulai di Busan 2012, maka arah kepada ketidakefektifan tadi sebenarnya sudah dapat diprediksikan tiap tahunnya.
Bila kita lihat laporan 2015 yang sebenarnya menjadi final bagi proyek 10-15 tahun MDGs pasangan Jokowi-JK sudah dilantik pada Oktober 2014. Artinya adminustrasinya akan mengikuti hasil ini.
Bersamaan dengan berakhirnya program MDGs (millenium development goals) dan disosialiasikannya post 2014 atau SDGs (Sustainable Development Goals). SDGs ini tentu saja bentuk kerjadama termasuk pemberian hutang mesti mempertimbangan hasil dari laporan tadi.
Hasil laporan 2015 menunjukkan jika indikator 1, 6, 7, 9, dan 10 menjadi kendala utama dari apakah dana bantuan (financial aid) dari negara donor ke negara reseptor dapat diteruskan dengan prinsip bisnis seperti biasa. Atau semua pihak sepakat seolah-olah hasil temuan ini diabaikan saja.
Namun tentu saja pendapat ini akan menciptakan perdebatan dan kemungkinan set-back dari kesepakatan awal di Busan bahwa "komunitas global" harus berkomitmen dan tertib dalam pelaksanaan kerjasama pembangunan internasional yang efektif.
Selanjutnya melalui pertemuan-pertemuan terbatas tingkat Steering Commitee diputuskan bahwa perlu ada empat issue yang dapat diidentifikasikan sebagai nilai tambah. Atau kalau sekolah mungkin semacam bantuan dari nilai kurikuler atau nilai kelakuan dengan indikator rajin-biasa-buruk, agar penilaian bisa didongkrak.
Indikator-indikator tambahan ini yang kemudian memecah prioritas dan program pembangunan di setiap negara dengan bentuk berbeda. Indonesia dalam pertemuan GDPEC tingkat menteri di Bali 2013, berusaha memasukkan target pengentasan kemiskinan (melalui proyek2 BLT, BLSM, dan kartu-kartu ajaib)sebagai value added dari suksesnya program ini di Indonesia.
Kenyataannya pertemuan tingkat menteri itu pada akhirnya menyepakati 4 indikator tambahan(dengan tidak satupun tawaran kisah sukses Indonesia yang diadopsi.
Empat tambahan tadi;
1. Sejauhmana Kerjasama internasional telah memobilisasi dan menarik sumberdaya domestik
2. Sejauhmana pihak swasta telah dilibatkan secara lebih luas
3. Sejauhmana pembangunan bersifat inklusif mewakili semua kepentingan publik.
4.Sejauhmana pembangunan dapat dijadikan contoh dan direplikasi untuk dapat dimanfaatkan bagi proyek sejenis baik di negra atau di luar negara bersangkutan.
......
bila kita jujur terhadap indikator-indikator utama dan indikator tambahan, maka penilaian kita terhadap hasil-hasil kerjasama internasional di negara ini tidak terlalu menggembirakan dan menunjukkan hasil yang menyenangkan.
Lesunya daya belii di tingkat retail, melemahnya produksi akibat rendahnya permintaan di tingkat produksi, hilangnya kepercayaan investor, lambatnya perkembangan bisnis oleh swasta, dan belum adanya contoh sukses daerah yang benar-benar berhasil dan siap meninggalkan program bantuan pembangunan adalah kenyataan. Kenyataan yang kemudian menjadi pertimbangan dari dikeluarkannya dana bantuan asing.
Yang sepertinya memaksa pemerintah berusaha menyimbangkan diri dengan cara menunjukkan performa bagus kepada calon pemberi bantuan bahwa mereka masih dapat menggerakkan sumberdaya publik.
Ini kemudian yang kita rasakan beberapa tahun ke belakang. Kenapa akhirnya pemerintah memilih untuk menarik segala macam bentuk subsid rakyat (beras, listrik, bbm), menaikkan pendapatan dari sektor pajak, meninggikan nilai objek pajak dan mendiversifikasinya (mudah-mudahan kentuk gak dipajak). Yang biasanya akan diikuti dengan menaikkan retribusi dari sektor kreatif misalnya denda, dan tilang.
Nah bila Nona Enyim Tea bertanya lalu apa hubungannya dengan dana Haji? maka ini adalah salah satu bagian dari memobilisasi atau lebih tepatnya merampas dana publik demi indikator jika pemerntah benar-benar didukung oleh rakyat bila nantinya harus bayar bunga dari uang pinjaman. Sehingga kita tidak perlu percaya bila dana haji itu yang kebetulan milik umat islam katanya mau digerakkan untuk menghasilkan keuntungan berlipat bagi umat islam.
Ini hanya akan dijadikan sebagai satu indikator agar muncul indikasi bahwa pemerintah Indonesia setelah menaikkan pajak, menarik subsidi dan mengambil dana publik (umat islam) pada akhirnya boleh ngutang lagi. Yang kita faham, bahwa hal-hal begini adalah jebakan klasik dari rentenir, yang pastinya akan memanfaatkan sentiment publik untuk menjerat leher pemerintah bila nantinya gagal. permainan tong setan saja sebenarnya, berputar putar di tempat yang sama. (Andi H)

Mengembalikan masalah ke nalarnya

Terkait haji, calon haji, dana haji, ongkos haji, dan waktu antrian haji yang muncul menjadi masalah maka sebaiknya kita kembalikan kepada nalarnya.
0/1
Pertama, bahwa berhaji adalah salah satu bagian dari posesi keimanan (dalam madzab Suni) yang masuk di rukun ke lima.
Ia diwajibkan bagi mereka yang dikategorikan sebagai "mampu". Apa definisi dan batasan mampu di sini maka banyak pendapat ulama.
Sebagian yang lainnya mengatakan bahwa berhaji adalah wajib hukumnya bagi semua muslim. Dimana untuk ini ada argumen bagi umat islam yang udzur maupun telah mati untuk diberikan penyelenggaraan hajinya oleh ahli waris, muhrim, atau mereka yang ditunjuk sebagai perwakilannya.
0/2
Kedua, sebab berhaji adalah perintah dari Tuhan kepada manusia maka bagi kaum berman (the believers) dalam hal ini kaum muslim, maka ada keyakinan bahwa perintah tadi mesti mengandung kebaikan dan kemudahan.
Tidak ada satu pun perintah Tuhan yang selama ini kita yakini akan membuat umat-nya menjadi susah dan terkendala. Ambil contoh perintah puasa ramadhan satu bulan yang sama sekali tidak membuat manusia menjadi miskin atau mati kelaparan. Bahkan secara medik dan saintis, hampir seluruh dokter menganjurkan berpuasa sebagai salah satu bagian dari pengobatan dan langkah penyembuhan.
0/3
Ketiga, bahwa dalam setiap perintah Tuhan mesti ia bersifat kondisional dalam praktiknya. Misal diwajibkan berhaji, tetapi berhaji tidak dapat dilakukan setiap waktu. Shalat magrib misalnya hanya dilakukan setelah magrib, dan tidak dapat dilakukan di waktu siang. Aturannya dzakat (misalnya) 2,5 persen dari penghasilan maka ia tidak dapat dibayarkan 50 persen meskipun si pembayar mau dan mampu. Begitu pula puasa ramadhan yang hanya dapat dilakukan di bulan ramadhan.
Ini artinya, perintah Tuhan mesti sudah mempertimbangkan aspek-aspek konseptualisasi dan praktikal dari manusia. Baik itu dimensi waktu, tempat, quiditas, kualitas dan kuantitas.
Singkatnya ia memenuhi semua aspek dimensional yang dikondisikan oleh manusia sebagai makhluk terbatas.
0/4
Keempat, sehingga karena perintah tadi kita yakini berasal dari Tuhan yang maha mengetahui, maha benar, dan maha pemurah maka persoalan haji mesti mengandung kemurahan-kemurahan dan kemudahan-kemudahan.
0/5
Kelima, persoalan-persoalan yang kemudian muncul seputar persoalan haji, dari organisasi, manajemen, pengelolaan keuangan, tempat, dan lain-lain, mestilah persoalan yang terjadi karena tindakan manusia.
Misalnya alasan Saudi Arabia dan beberapa negara islam yang mengatakan bahwa pemberian quota bagi calon haji adalah cara yang paling tepat untuk menghindari penuhnya padang arafah dan terjadinya kekacauan dalam posesi Wukuf, Jumroh, maupun Sai. Maka ini adalah hal-hal yang dikarang-karang saja.
Mempercayai sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan itu telah salah menempatkan arafah di semenanjung arab, karena mungkin jika di Gurun Sahara akan lebih banyak jamaah yang dapat ditampung.
Argumen ini tentu saja seolah-olah melecehkan pengetahuan Tuhan atas perintahNya. (Andi H)

Suling

Pak, tiupan sulingmu sudah tak bertenaga.
Mungkin kau lelah, setelah jauh melangkah.
Sekedar mencari sedikit nafkah, untuk orang di rumah.
Doaku untukmu Pak, semoga pemilikmu menggerakkan hati
Hati orang-orang yang melihatmu,
mendengar lirihan sulingmu.
Menjadikan mereka jalan rezeki yang halal dan barokah
buatmu dan keluargamu

Tuesday, August 1, 2017

Hatta dan Ilusi Teknologi

Hatta dan Ilusi Teknologi (Andi H)
Sebagai pembaca Hatta, saiya berusaha mendalami pemikirannya tentang filsafat yang dapat dirasakan.
Di dalam Alam PIkiran Yunani, Hatta menulis melalui metodologi pembabakan dalam bentuk kronologi dari perkembangan cara berpikir manusia terhadap diri dan lingkungan sekitarnya pada masa terdahulu. Penggunaan tinjauan terhadap satu alam pemikiran dan alam pemikiran lainnya dengan cara ini dikatakan Hatta dalam pengantarnya;
"Dengan jalan ini tidak saja kita ketahui cara berpikir orang dahulukala, yang bergitu berlainan dengan sekarang, melainkan kita mendapatkan juga timbangan yang luas tentang pendapat orang lain."
Saiya melihat bahwa dari buku-buku Hatta selanjutnya, kumpulan artikel dan pidato ia memanfaatkan asas tinjauan ini bagi keperluan yang dapat dirasakan manfaatnya maka ia seperti kebanyakan penganut pragmatisme. Ia menghitung seluruh kalkulasi, pengamatan, dan langkah-langkah bagi kepentingan yang berfaedah bagi diri (dan yang selanjutnya bagi kepentingan nasional) dalam langkah-langkah politiknya.
Apabila kita membaca kisah tentang Hatta yang ditulis orang lain maka sifat-sifat kepada mencari manfaat dan faedah dari setiap tingkah-laku dan langkah politiknya ini rupanya sudah tertanam pada dirinya semenjak ia kecil.
Pada satu perang psikologi antara Hatta kecil dan Bader Djohan kecil karena persaingan sepakbola mereka bertemu di satu jalan sempit pematang sawah. Keduanya berjalan cepat, tidak menunjukkan siapa yang mau mengalah memberi jalan. Ini karena urusan gengsi. Di satu titik dimana benturan tidak akan dapat dielakkan dan salah satu atau keduanya terlempar ke tengah sawah, Hatta berkelit cepat.
Pengambilan sikap dan kebijakan yang menghindari keburukan sekecil mungkin inilah yang kemudian orang lihat dalam diri Hatta. Ia kemudian tidak pernah ditulis sebagai seorang pemimpi atau pemimpin dengan angan-angan panjang yang tidak dapat diukur dan dijalankan.
Persoalan khayalan dan kenyataan ia gunakan lewat tulisannya dalam Hatta Menjawab. Sebagai pernyataan sikapnya untuk mengkritik gejala glorifikasi dan heroisme peran dari orang-orang yang merasa paling berjasa dalam kemerdekaan. Buku ini utamanya memperjelas peristiwa Rengasdengklok dan Seputar Proklamasi 1945.
Berangkat dari cara mengambil kesimpulan-kesimpulan kepada sesuatu yang terukur dan masuk akal inilah Hatta kemudian dianggap orang tua yang selalu protes.
Ia memprotes cara Soeharto yang menganggap Koperasi bisa dipercepat dengan melibatkan negara sebagai motornya. Bagi Hatta, natur koperasi adalah di sikap individualita, keinginan dari pribadi anggota-anggota itu sendiri utnuk belajar dan menentukan apakah mereka mau maju atau jalan di tempat saja. Melibatkan negara sebagai motor akan membunuh sifat-sifat ini.
Publik kemudian melihat jika koperasi-koperasi yang didirikan dengan pendekatan sentralisme dengan core-core militer (puskopad, puskopal, puskopau, dll..) hanya tumbuh menjadi masalah bagi koperasi itu sendiri. Ini karena inisiatif dari individualita anggota tidak dimungkinkan berkembang dalam sistem yang terhirarki dan terkomando.
Sebelumnya, pada era proyek Mercu Suar Soekarno, Hatta mengkritik Guru Besar Sipil ITB, Prof. Sedyatmo yang mengatakan bahwa Indonesia dapat menjadi hebat dengan menyatukan tiga pulau besar. Proyek yang dikenal dengan Tri Nusa Bimasakti ini nantinya akan menyatukan pulau Sumatera, Jawa, dan Bali melalui sebuah lorong bawah laut atau jembatan.
"...sudah dikhayalkannya saja menyatukan Indonesia dengan teknologi, padahal menyambung jalan-jalan rakyat dari desa-desa ke kecamatan dan kecamatan ke kota-kota agar rakyat dapat menjual hasil bumi saja belum lagi dapat diwujudkan..."
Demikian pandangan kritis Hatta tentang ilusi teknologi dalam pembangunan yang melupakan skala prioritas apa yang paling dibutuhkan untuk mengembangkan rakyat.

...# bersambung