Tuesday, August 29, 2017

Turun Ke Lapangan

"Kang, mbok turun lagi ke lapangan." pinta Kang Kuat.
"Emoh, gak doyan makan dari yang abu-abu." tepis Kang Sabar.
"Lho ntar kan bisa disedekahin ke oranglain. Sampeyan bantu perjuangan kami saja. Calon kita yang satu ini punya rekam jejak bersyariah lho." Kang Kuat masih memelas.
"Tapi dia masih menganggap bahwa semua prestasinya bisa membenahi kebejatan sistem yang mau dimasukinya?" tanya si pria gendut.
"Ya gitu deh. Tapi dia lulusan pesantren lho. Bahkan dapat beasiswa ke luar negeri, usahanya pun sukses. Masa gak mau dibantu dibuatkan program apa gitu." desak Kang Kuat sembari membersihkan Golock-nya.
"Nah, soalnya kata Yai Imron Djamil saat ngaji Kitab Hikam tuh gak boleh gitu. Manusia gak boleh merasa bisa menyelesaikan secuil masalah pun. Harus mengembalikan pada Gusti Allah, dia merendahkan hati dan diri dengan melakukan semampunya. Tapi ya gak perlu berkoar 'akulah satu-satunya solusi'. Ngeri." ujar Kang Sabar usai mengemas Remmington ke dalam bagasi.
"Kalau gak gitu bakalan ditinggalin calon pemilih. Tuntutan demokrasi ya kayak jualan obat di pasar, Kang. Sampeyan gak adaptif, membumi, gak realistis kalau menuntut dunia sekarang seperti saat Kitab Hikam ditulis." sergah Kang Kuat lantas mengisi magazine.
Pagi makin kehilangan segarnya. Terik mentari mulai menyorot halaman rumah Kang Sabar. Gerobak besinya pun sudah bermandikan cahaya. Kedua pria tadi makin asyik berbincang di taman mawar buatan Yu Sabar ditemani wedang rempah yang mengepul.
"Terus di mana mulianya demokrasi usai reformasi jika demikian? Apakah demokrasi yang sekarang tengah dipraktekkan secara serentak di seluruh negeri ini adalah demokrasi yang Kanjeng Nabi long-march-kan sekeliling Mekah sampai dilempari batu dan diblokade? Ataukah lebih nampak seperti saat Penjara Bastille diserbu dengan semangat khas demokrasi itu?" tanya Kang Sabar. Kali ini ia mengambil kevlar dari lemari.
"Namanya juga perubahan zaman menuju akhir, Kang. Kita harus memaklumi dan mencari titik-titik untuk menyusupi, mengenali, memahami, lantas perlahan melakukan pergeseran. Bukankah Mbah Nun sendiri pernah memberi wejangan ke kita begini, 'Allah tidak menuntut kaki kita bersih dari lumpur saat turun membersihkan sampah'? Apakah hal itu bisa dijadikan dalih kedaruratan bertindak, bahkan menghalalkan segala cara?" sahut Kang Kuat. Dibersihkannya beberapa FMJ yang hendak dikemas.
Tetangga rumah melintas dan berbasa-basi sebentar. Tak heran dengan kegiatan ekstrim yang dilakukan kedua sosok di teras rumah itu.
"Sayyidina Ali bin Abi Thalib itu pemimpinnya pemuda di surga, kan? Dia bahkan dikenal sebagai Baabul 'Ilmi alias gerbang ilmu, dan Kanjeng Nabi adalah kotanya. Julukan itu bisa didapat sebab kebiasannya mengibaskan tangan mengusir asap rokok saat gelar forum yang ada Kanjeng Nabi, sebab konon beliau kurang berkenan dengan aroma menyengat tersebut. Tapi kualitas suami Siti Fatimah yang sedahsyat itu tentu tak diragukan lagi, kan?" tukas Kang Sabar dari di depan daun pintu.
"Maksudnya? Kok mbulet?" kejar Kang Kuat.
"Kita maklumi kesederhanaannya saat Kanjeng Nabi masih hidup sebab memang belum dapat rampasan perang berarti, kan? Tapi usai mertua sekaligus sepupunya itu wafat, Islam memenangkan perang lawan Persia, kerajaan terkuat dan terkaya sejagad dunia Timur. Para jihadis mendadak kaya dengan hasil rampasan perang. Herannya, Sayyidina Ali justru tak ambil bagian secuil pun. Padahal ia bisa menerima hadiah yang luar bisa mewah.
Sampai anak beliau tumbuh dewasa dan tubuhnya makin renta, pekerjaan menimba sumur dan menggarap ladang tetangga tak jua ditinggalkannya. Bukan demi apa-apa, hanya demi penuhi bahwa 'ora obah, ora mamah', meski akhirnya yang didapatnya akan disedekahkan dan keluarganya harus puasa sebab tak ada yang bisa dimakan. Padahal beliau itu khilafah keempat lho ya, massa pendukungnya puluhan ribu orang. Bisa sesepele itu menganggap dunia dan fenomenanya. Bahkan ia melakukan tindakan yang kelak ditiru Gus Dur saat keluar dari istana, lebih baik mundur daripada ngotot dan berbuah pertumpahan darah sesama anak bangsa." kata Kang Sabar dengan serius.
"Terus kaitannya dengan Machiavelianism tadi apa?" ujar Kang Kuat dengan nada sengak.
"Beliau tak lantas mengotori kakinya dengan lumpur meski politik menyudutkannya. Tetap mengambil cara yang benar, penyampaiannya pun tepat. Empan, papan, dan adepan. Paham momentum. Lha jika kita menuruti pola yang ada untuk gelar perubahan, lantas apa bedanya dengan mereka yang selama ini dituding koruptor? Nanti seperti meludahi langit lho. Ingat, toh Gusti Allah gak pernah melihat hasil tapi justru niat dan proses menjalaninya." tutur Kang Sabar sembari memakai sepatu dengan rangka baja ringan.
"Kalau gitu ya jelas kalah sebelum bertanding dong. Tanpa publisitas, daya pilih rendah. Ngapain buang uang miliaran rupiah kalau jelas kalah." kilah Kang Kuat.
"Lha itu, karena Sampeyan fokus pada tujuannya, cuma menang. Gak membersihkan niat dulu untuk apa rela berjihad besar semacam itu. Bahkan sedari awal sudah siap berkongkalikong dengan Dajjal demi menang. Ditambah masih menggunakan standar manusia untuk memperjuangkan nilai-nilai ketuhanan. Ya buyar, mending bubar. Apalagi masih sayang uang begitu, dikira hijahnya umat Islam baik yang ke Kerajaan Nasrani di Etiopia atau madinah tak bonek alias modal nekat?" Kang Sabar mulai gemas. Topi Eiger yang sudah bolong-bolong pun segera nangkring di atas kepala.
"Waduh, iya juga ya. Kok aku malah kayak Napoleon Bonaparte, Hitler, Bush, dan Trump. Padahal namanya masalah kan hadir sebagai penguji atau hukuman. Kenapa aku malah menariknya ke sesuatu yang harus ditaklukkan dengan bekal nalar dan pengalaman? Sampai mikir siap setor tas kresek isi dolar Amerika demi memuluskan pencalonan. Duh Gusti, mabuk apa diriku ini?" keluh Kang Kuat begitu duduk di balik kemudi.
Kang Sabar memasang sabuk pengaman. Mengirim pesan pendek di ponsel terenkripsi. Lantas menepuk pundak supir berambut gondrong di sebelahnya sembari berucap, " jadilah seperti Nabi Ibrahim saat hendak meninggalkan Siti Hajar di titik sumur Zam-zam. Saat ditanya sang istri dengan ujung kaki dibenamkan ke tanah dan tangan menarik baju sang pemahat patung terbaik Babilonia itu, 'ini maumu atau mau Tuhanmu, aku ditinggal sendiri?' Begitu dijawab 'ini kehendak Tuhan', Siti Hajar ikhlas dan Nabi Ibrahim berlalu dengan tenteram. Yakin pada penjagaan Gusti Allah. Kitapun semoga bisa sebegitunya pada Gusti Allah."
"Semoga yang akan kita lakukan ini termasuk yang dikehendaki Tuhan juga. Jika malah membuat-Nya marah, matipun aku rela." gumam Kang Kuat yang segera tancap gas begitu pundaknya ditepuk.
Ihda HS

Komunitas Pascakebenaran

Tema post-truth (pascakebenaran) yang ditautkan tuan Dudi Iskandar untuk menerangkan gejala masyarakat hari ini sebenarnya bertautan dengan persoalan estetika dalam wacana pascamodern.
Istilah post-truth kembali diangkat setelah Oxford Dictionary memilih kata ini sebagai The Word of the Year. Popularitas kata ini meledak selama kampanye penentuan pendapat Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) dan mencapai puncaknya dalam sesi debat pilpres AS antara Hillary Clinton dan Donald Trumps.
Trumps, yang dalam banyak kesempatannya sering melontarkan sentilan dan argumen-argumen nyeleneh dianggap mewakili apa yang disebut James Lyotard dengan metta-recites. Ia dengan potongan rambut lucu, gaya bicara ceplas-ceplos, susunan argumentasi yang tidak layak telah memanfaatkan kelemahan narasi yang disusun tim kampanye Hillary. Trump menciptakan permainan kata seputar narasi tim lawan dan kemudian membentuknya sebagai sebuah meta-narasi versi dirinya.
Pada sesi debat pertama, Hilary menyusun konklusi di akhir bagiannya:
"It is...it is awfully good someone with the temperamental like Donald Trump are not in charge at the law of our country".
Hillary berkata dan langsung disambut Trump dengan sentilan telak.
"....because you would have be in jail"
Di sesi lain, Trump menyentil Hillary dan Obama yang menciptakan ISIS dan menciptakan distabilitas di Timur Tengah.
"Sepertinya sampai nanti sore saiya akan terus dipersalahkan untuk segala hal" Hillary tersenyum yang langsung disentil Trump sekali lagi dengan kalimat singkat tetapi padat.
"Kenapa enggak"
Hadirin senang dengan cara Trump memainkan perannya dalam sesi debat. Ini karena publik AS telah menerima dalam alam pikirannya baik Trump maupun Hillary adalah sama-sama pembohong. Persoalannya pembohong mana yang lebih cerdas memainkan emosi publik ketimbang logikanya. Dan Trum dengan cerdas memainkan recite (perulangan) emosi ini dengan sangat baik untuk menangkis argumen yang dipaparkan panjang lebar oleh lawan bicara. Di sini kembali kepada Lyotard apa yang dimaksud dengan diskursus sejatinya tidak pernah melibatkan kaidah logika untuk menggiring nalar publik dalam menerima kebenaran. Ia membangun sendiri pondasi logikanya yaitu kepada narasi-narasi.
Trump kemudian dianggap sukses memunculkan pemilih AS menjadi dua kelompok besar saja; pro kontra, lover dan haters. Yang kemudian ia memang memenangkan pilpres AS dengan suara popular terbanyak dibanding Hillary.
Profliferasi dari permainan kata seperti ini sebenarnya telah menjadi perhatian lama para penulis post-modernisme. Satu gejala di masyarakat dimana sudut pandang tidak lagi selalu dirujukkan (karena rujukan atau referensi dianggap sebagai narasi yang penuh kepentingan) kepada sekumpulan tata nilai, kode etik, kode perilaku atau kaidah logika, melainkan diresonansikan dengan nilai-nilai lain seperti; kebebasan, rasa kelompok, sentimen identitas, dan parahnya sekedar bentuk penolakan (rejection) terhadap pendapat yang lain. Persoalan pembuktian kebenaran bukan lagi sekedar persoalan bagaimana membangun logika dan memelihara nalar publik, tokh dalam kenyataannya orang secara emosional lebih bersedia mati untuk mengantri diskon 90% sepatu Nike daripada datang pagi-pagi ke kotak suara.
Di sini kemudian logika untuk mencari hakikat kebenaran tidak lagi dimanfaatkan sebagaimana Heideger (Being and Time) menyebutnya dengan proses perusakan sejarah ontologi.
Masyarakat era kekinian adalah masyarakat yang ditandai dengan perilaku membangkang, berpikir yang superfisial, memajukan lebih dulu sentimen emosi ketimbang nalar dan berpendapat dengan narasi ketimbang argumentasi.
Gejala inilah yang kita lihat pada hari ini berlaku pula dalam masyarakat kita. Persoalan penipuan agen perjalanan First Travel kepada nasabanya yang kemudian dilarikan kepada persoalan agama pemiliknya. Yang lalu agama pemiliknya ini dihubung-hubungkan dengan aksi demonstrasi damai umat Islam 411, 212, dst.. Selanjutnya ditutup dengan epilog bijaksana; "Ahok kafir mengumrohkan umat Islam, Pasutri FT muslim menipu umat Islam."
Narasi ini sebenarnya kehilangan akar referensinya dari sudut manapun, tetapi karena dasar dari masyarakat pasca-kebenaran bukanlah membuka tabir persoalan -misal mengapa FT itu dapat melakukan penipuan dengan leluasa dan dimana peran pemerintah sebagai pengawas atau bagaimana kerugian masif konsumen itu dapat diselesaikan dengan baik- namun seluar mungkin membangun orkestra kegaduhan maka hal-hal tadi memang tidak akan masuk hitungan.
Begitu pula dalam sikap afirmasinya. Mana kala kasus penipuan korupsi dilakukan seorang Dirjen Hubungan Laut dan ia mengatakan dengan jelas bahwa sebagian uangnya disumbangkan bagi kepentingan rumah ibadah maka sebagian publik yang telah menanamkan narasi untuk mengait-kaitkan persoalan FT sebagai persoalan agama sama sekali tidak melakukan afirmasi kepada kasus pertama.
Di sinilah kemudian kebenaran, tidak lagi menjadi kebenaran karena pertama ia telah kehilangan scientia atau kebijakansanaannya. Problem menjadi (being) sejalan dengan waktu, seperti dituliskan Heideger bukanlah lagi persoalan perenungan ontologis ke dalam, tetapi telah menjadi sebuah ekpresi-ekpresi yang meletup keluar. Jadi jika kita meminjam adagium Rene Descartes, maka masyarakat hari ini adalah masyarakat yang senang berkata: "Gue berbeda asal gue eksis" .
Kedua bahwa masyarakat post-truth itu telah kehilangan kebenaran sebagai sekumpulan acuan atau refensi. Ia kehilangan apa yang disebut scriptum, kitab suci, orang suci, orang bijak, orang pintar yang sebaiknya dijadikan pegangan dalam pengambilan kebijakan. Semejak setiap orang meletakkan pondasi kebenaran dalam narasi-narasinya sendiri maka para orang suci dan kitab suci itu pun disedot masuk kedalam narasi untuk membenar-benarkan.
Ketiga, gejala dari masyarakat post-truth adalah kecenderungan untuk membenarkan pendapatnya kepada pendapat kelompok-kelompoknya masing-masing saja. Ini menjelaskan mengapa dalam sebuah diskusi atau komentar-komentar dalam sosial media, seseorang akan merasa nyaman dan terwakili bila dan hanya bila pernyataan, pendapat, opini, dan alasan orang lain sejalan dengan yang ada pada dirinya atau kelompoknya. Perilaku ini yang ditulis Popper sebagai gejala mencari kemiripan dengan kebenaran (versimilitude). Meskipun itu bukan kebenaran yang dimaksudkan.

Sunday, August 27, 2017

Wali Allah

"Barang siapa memusuhi seorang Wali-Ku, maka sungguh Aku telah menyatakan perang terhadapnya!
Tidak ada cara bertaqarrub seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai selain dari melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhukan kepadanya. Namun senantiasa hamba-Ku itu berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan hal-hal yang sunah (nawaafil), sehingga Aku pun menjadi mencintainya.
Apabila ia telah Aku cintai, maka Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengannya ia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia memukul keras, dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan.
Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh ia akan Aku karuniai, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku maka sungguh Aku akan melindunginya.
Dan tidak pernah Aku ragu-ragu pada sesuatu di saat Aku akan melakukannya, seperti ragu-ragu-Ku ketika akan mengambil jiwa seorang Mu'min dengan kematian, namun ia enggan untuk mati, sedang Aku tidak suka memaksakan sesuatu kepadanya".
-Firman Allah SWT dalam Hadits Qudsi-
Sabtu, 26 Agustus 2017.
Catatan: Di dalam beberapa Hadits Qudsi yang lain ada kalimat tambahan: "Aku menjadi lisannya yang dengannya ia bertutur kata, dan Aku menjadi hatinya (qalba-hu) yang dengannya ia berfikir (ya'qilu)". Zamzam AT

Cinta Kepada Allah

Ya Allah karuniakan aku untuk lebih mencintai lagi Engkau, dan kecintaan kepada orang-orang yang kecintaannya kepada-Mu telah membawa manfaat kepadaku di sisi-Mu.
Ya Allah, apa yang telah Engkau rezekikan kepadaku dari kecintaanku ini jadikanlah itu sebagai kekuatan untukku dalam mencintai apa-apa yang Engkau cintai.
Ya Allah, segala apa yang telah Engkau jauhkan aku dari apa-apa yang aku cintai, maka jadikanlah hal itu sebagai jalan bagiku untuk sampai kepada apa-apa yang Engkau cintai ...
Do'a Rasulullah Muhammad saw.
(HR. Turmudzi) Zamzam AT

Wednesday, August 23, 2017

Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya.

Dengan tandas Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan:
"Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya."
dan di bagian lain, dia menandaskan juga:
"Cermati kehalusan ini: pahamilah dengan gamblang, apa yang kau damba di dasar hatimu, itulah sebenarnya engkau."
Mari kita melihat kembali ke masa lalu hingga hampir 1500 tahun yang lalu. Apakah Abu Jahal--yang sebelumnya digelari Abal Hakam--bertemu berhadap-hadapan langsung dengan Rasulullah Muhammad saw? Tentu saja, apalagi dia adalah salah satu paman beliau saw. Namun, apakah kehadiran manusia tertinggi di alam semesta tersebut mengubah hatinya, dan membuat dia berkata: "Inilah orang yang aku cari!" atau malah menentangnya? Apakah Abdullah bin Ubay tidak bertemu dengan Rasulullah saw secara langsung? Tentu saja, bahkan dia bersyahadat pula. Namun, apakah syahadatnya menghentikan dia dari bermuka dua terhadap umat Muslim dan kafir Quraisy?
Berapa banyak kaum Quraisy yang telah bertemu langsung dengan Rasulullah saw namun malah mengingkari dan memerangi beliau saw? Namun, apa kiranya yang malah membuat Umar bin Khaththab, salah seorang yang terkenal keras di kalangan penduduk Mekkah, yang tadinya hendak membunuh Rasulullah saw kemudian malah berbalik mengikuti beliau saw dan bersyahadat? Apa hebatnya QS Thaahaa hingga bisa mengubah hati Umar (namun surat itu terasa biasa-biasa saja bagi saya, entah bagi Anda).
Dengan menyimak kembali puisi Rumi di atas, bisa jadi, dalam hidup ini, kita sebenarnya pernah bertemu langsung dengan orang-orang yang lurus dan menempuh jalan kebenaran, pernah bertemu dengan mursyid sejati. Namun, kenapa tak ada kesan apa pun di hati dalam pertemuan dengan mereka hingga kita pun mengabaikannya? Mungkin karena memang bukan itulah yang kita cari dalam hidup ini.
Wallahu a'lam bishawwab. Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam. Alfathri

SARDJITO DAN JEJAK YANG HILANG

Profesor Sardjito (1889-1970), yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat di Yogyakarta, adalah perintis, pendiri, sekaligus menjadi presiden (kini disebut rektor) pertama Universiteit Negeri Gadjah Mada (kini UGM). Dari tulisan-tulisannya yang berhasil saya kumpulkan sejak masih di bangku kuliah dulu, ia bukan hanya seorang ilmuwan, namun juga seorang begawan. Lulusan terbaik STOVIA tahun 1915 ini bisa menulis kebudayaan dan filsafat sama baiknya dengan ketika ia menulis tentang penyakit-penyakit tropis.
Dulu, setiap kali membaca tulisan atau mendengarkan ceramah Profesor Teuku Jacob, mantan Rektor UGM (1981-1986) yang juga berasal dari Fakultas Kedokteran, saya selalu membayangkan pastilah Profesor Sardjito secemerlang--atau bahkan lebih dari--muridnya itu. Tapi, ke mana lagi orang bisa mencari jejak pemikiran manusia Sardjito pada hari ini?!
Atau, coba ganti nama Sardjito dengan nama lain. Misalnya saja Herman Johanes, ahli fisika nuklir yang juga menekuni teknologi madya atau teknologi pedesaan; atau Iman Soetiknjo, yang bersama Notonagoro telah menghidupkan dan menghidupi kajian agraria paling awal di Bulaksumur, apakah kesulitannya menjadi lebih mudah?! Ternyata tidak! Dan ini adalah sebuah persoalan yang tak bisa disepelekan.
Saya mendengar UGM saat ini sedang membuat film dokumenter mengenai Profesor Notonagoro, salah satu begawannya yang tercatat dalam lembaran sejarah sebagai orang pertama yang telah membawa Pancasila ke wilayah kajian ilmu pengetahuan. Dan kesulitan pertama pembuatan film dokumenter itu adalah UGM kini tak lagi memiliki arsip-arsip otentik karya-karya Notonagoro. Nah!
Sejauh yang bisa saya catat, komitmen untuk melakukan riset dan pengarsipan yang serius atas karya-karya para sarjana terkemuka di Bulaksumur memang lemah sekali. Pejabat universitas ataupun fakultas di UGM hampir semuanya lebih menyukai membangun gedung atau sarana fisik di kampus daripada membangun kultur akademik atau hal-hal lainnya yang lebih sublim tapi mendasar.
Waktu Pak Pratikno awal menjadi rektor, dalam sebuah perbincangan saya pernah mengingatkan pentingnya UGM memulai kerja serius dan sistematis untuk menyusun karya lengkap para begawannya, mulai dari generasi Sardjito, Herman Johanes, Notonagoro, hingga ke generasi Umar Kayam, Mubyarto, dan Kuntowijoyo. Jika berhasil dilakukan, itu akan menjadi batu loncatan penting UGM menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang sebenar-benarnya, terutama di lapangan ilmu sosial dan humaniora, dan bukan hanya menjadi pabrik sarjana belaka.
Sebab, untuk apa riset, dan apa yang mau diriset, jika kita tak mempelajari dan gampang sekali kehilangan jejak atas riset-riset yang telah dilakukan oleh para sarjana sebelum kita?!
Sayangnya, meski antusias dalam perbincangan, obrolan itu tak pernah ditindaklanjuti. Sewaktu buku saya mengenai pemikiran Mubyarto mendapat hibah dari LPPM-UGM dan kemudian diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press, Pak Tikno bahkan mengaku tak punya waktu untuk sekadar menulis kata sambutan sebagai rektor di buku tersebut. Sayapun segera tahu, ia tak akan punya waktu untuk hal yang lebih dari itu.
UGM boleh bangga menjadi perguruan tinggi nomor wahid. Tapi jika UGM sendiri gagal merawat dan memelihara karya dari putera-puteri terbaiknya, sebagai institusi UGM sebenarnya baru sekadar menjadi pabrik sarjana belaka, atau pabrik laporan ilmiah, belum menjadi sebuah akademia bahkan dalam pengertiannya yang klasik.
Tak heran, pada akhirnya Sardjito, atau nama-nama besar lainnya, hanya akan tinggal nama belaka, tanpa bekas dan tanpa jejak imajinasi apapun bagi generasi terkini atau lebih kemudian. Tarli N.

Tuesday, August 22, 2017

SUKSES YANG SEBENARNYA

"SUKSES YANG SEBENARNYA"
Oleh; ALFATHRI ADLIN
Salah satu ilusi yang paling banyak menggerus manusia adalah waham tentang kesuksesan. Seolah-olah parameter kesuksesan hanya diukur oleh pencapaian duniawi atau spiritual. Menurut waham kebanyakan orang, seseorang dikatakan sukses apabila punya jabatan yang tinggi, gelar akademik yang berjejer di belakang namanya, lulusan perguruan tinggi luar negeri, memiliki harta yang banyak, dsb. Juga ukuran kesuksesan di sisi spiritual dinilai dengan adanya pengikut yang banyak, dianggap berilmu tinggi, dipandang mempunyai kemampuan khusus, dan lain sebagainya.
Sedemikian rupa waham itu sehingga kebanyakan manusia tergopoh-gopoh dalam ajang lomba mencari keunggulan di mata manusia, yang jika ditilik adalah suatu letupan hawa nafsu yang bermuara dari sifat tamak.
Padahal orang yang paling mulia di mata Allah adalah yang paling bertaqwa, yaitu mereka yang paling menggenggam urusan sebagai amanah yang dikalungkan kepada diri masing-masing. Adapun manusia memang cenderung membeda-bedakan dengan membuat kotak-kotak derajat manusia, seolah pekerjaan yang satu lebih mulia dari pekerjaan yang lain, seolah urusan yang satu lebih bergengsi dibanding urusan yang lain, namun sesungguhnya kebanyakan manusia tidak menghukumi berdasarkan kebenaran, sehingga tidak kokoh landasannya.
Singkat kata, orang yang masih tersibukkan dengan mencari ketenaran dan kemuliaan di mata manusia sesungguhnya belum paham dan belum punya kesadaran tentang persoalan mandat Ilahiyah yang ditanam di dalam qalb masing-masing jiwa. Sebaliknya, orang yang sudah paham mengenai konsep misi hidup yang berlandaskan ketaqwaan, maka dia akan teguh jalannya dan tidak goyah oleh cibiran atau pandangan rendah manusia, tidak malu dibilang miskin, bodoh atau kurang, karena ia hanya memedulikan penilaian dari Allah Ta'ala. Maka kuatkanlah tujuan masing-masing diri kita dalam bekerja untuk Allah Ta'ala supaya tidak terseret dalam kesibukan melayani dan menghindari sesat pandang hanya menurut kebanyakan manusia.
(Adaptasi dari Kajian Kitab Al Hikam 19 Juni 2016 yang disampaikan oleh mursyid penerus Thariqah Kadisiyah.)

Sunday, August 20, 2017

Orang merdeka adalah ia yang mampu menjadi kuburannya rahasia-rahasia

Orang merdeka adalah ia yang mampu menjadi kuburannya rahasia-rahasia. Begitulah yang tertuang dalam Kitab Hikam karangan Syaikh Ibn Athaillah. Arti sederhananya yaitu tidak gampang bicarakan yang ada di pikirannya. Begitu perhitungan sebelum melakukan apapun, termasuk dalam bentuk lisan maupun lisan. Ia tak sembrono, tahu empan, papan, dan adepan. Luwes sesuai kebutuhan.
Apakah sekarang ini saya merdeka dalam artian di atas? Kadang iya, seringnya tidak. Mulut masih sering ceritakan keburukan pemerintahan negara sendiri pada kawan-kawan di luar negeri, padahal sudah jelas posisi mereka sebagai mata dan telinga lembaga dunia. Bak menelanjangi ibu pertiwi di hadapan hidung belang. Skala terkecil saja, keceplosan ungkapkan cela lingkungan sekitar dalam bentuk keluhan, masih terjadi. Termasuk dalam ketukan di layar Zenfone atau keyboard ROG, berdalih mengkritisi walaupun dilandasi benci dan sakit hati. Belum, saya belum merdeka sepenuhnya. Masih merdeka kambuhan.
Apakah perkembangan teknologi yang sedemikian dahsyat memerdekakan penggunanya? Tidak tentu. Masih menurut definisi di atas, justru pengungkapan rahasia dilakukan secara brutal, berpesta pora santap bangkai sesama saudara sebangsa, termasuk yang seagama. Media sosial yang berpotensi jadi penggerak perubahan justru jadi ajang perundungan, pemfitnahan, bak lempar tai tanpa sembunyikan tangan. Seisi jagad maya seolah tak malu mempertontonkan kedunguannya, membagi tanpa klarifikasi. Parahnya, tiap pembagi informasi merasa benar sendiri.
Lantas, bagaimana cara menjadi kuburannya rahasia? Ikuti teladan Kanjeng Nabi. Mulai dari bicaralah yang baik atau diam, hingga peringatan Gusti Allah dalam Quran sesepele ekspresi wajah saja kelak dipertanggungjawabkan di akhirat. Jika saya atheis bagaimana? Masa iya tak punya standar jika sakiti liyan adalah perbuatan buruk. Mbah Nun sering sesumbar tanpa agama pun manusia bisa baik asal patuh pada hati nurani kemanusiaannya. Masalahnya, bukankah televisi dan internet telah menjejalkan standar baru juga? Baik dicap buruk, buruk dianggap baik. Anak pesantren dikucilkan, anak jalanan justru dibanggakan. Edan.
Nah, mau lanjut kok bibirku kriting. Sudah dulu ya." ucap Kang Sabar pada Kang Kuat di teras.

Ernesto Laclau dan Logika Emansipasi

Tulisan ini untuk Tuan DE yang meminta pandangannya tentang gejala perang identitas di masyarakat.
Perang identitas yang dimaksudnya adalah, sebuah sangkaan gejala di masyarakat. Dimana kini orang dengan mudah menyebut dirinya; nasionalis, moderat, nusantara, pro bhineka. Sebagai anti dari identitas yang dilainkan yaitu; khilafah, fanatik, arab, dan arab.
Sangkaan ini ramai semenjak pilpres 2014 lalu, dimana satu kelompok menyebut dirinya sebagai: Kita (Jokowi adalah kita), dan setelah pilkada DKI 2017 menjadi Saya (Saya Indonesia, Saya Pancasila).
Hal-hal tadi awalnya muncul sebagai bagian dari pro dan kontra terhadap pemerintah dan sosok tertentu secara politik.
Bila kita membaca Ernesto Laclau, maka proses identifikasi identitas ini bukanlah hal yang tanpa sebuah struktur dan menjadi begitu saja. Ia adalah bagian dari proses sosial sekaligus politik kekuasaan. Artinya ada kesengajaan meski mungkin tidak dengan desain untuk membangun citra populer tadi.
Inilah kenapa setiap gerakan yang mengatributkan dirinya kepada sebuah identitas tertentu sebenarnya memang menghendaki kepopuleran dari identitas dimaksud.
Popularitas tadi menurut Laclau, dikerjakan untuk tujuan-tujuan kekuasaan, pengontrolan dan apa saja yang memang sifatnya hegemonik. Namun berbeda dengan struktur yang dibangun dari pendapat Gramscian, yaitu struktur sebagai kekuasaan atas (negara), maka struktur dalam pendapat Laclau adalah sebuah proses penciptaan dukungan melalui "emansipasi".
Di sini, masyarakat dapat dibentuk untuk menjadi aktor-aktor politik melalui stimulasi popularisasi tadi, Hal ini dianggap masuk akal, karena masyarakat pada satu titik dapat dimanfaatkan sebagai sebuah kekuatan penekan (social-political forces).
Hal ini dapat kita lihat misalnya pada kasus KPK mencari dukungan netizen dalam pertarunganya pro kontra Hak Angket melawan DPR-RI. Memanfaatkan aktor, dan sentimen di sosial media KPK mengklaim bahwa mereka mendapatkan dukungan popular dari rakyat. Sementara DPR-RI, yang identitas sejatinya adalah lembaga perwakilan rakyat sesuai konstitusi sebaliknya dalam kasus ini dicitrakan tidak mewakili rakyat.
Begitu juga dengan kelompok yang menyuarakan dirinya sebagai pihak pro toleransi dan mendukung adanya Islam Nusantara. Sebuah gerakan yang muncul karena persoalan tuduhan penistaan agama (religious blasphemy) oleh seorang kandidat Gubernur etnis Tionghoa yang melahirkan gerakan aksi protes massal.
Pada pertanyaan identitas siapakah yang paling mewakili sebuah identitas inilah maka kajian-kajian Laclau menjadi menarik untuk dipelajari.
Tuan Lanclau melihat bahwa, persoalan dari popularism adalah persoalan klaim terhadap argumen. Beberapa argumen tentu menyertakan bersamanya data dan fakta untuk mendukung bahwa sebuah identitas misalnya telah benar-benar menjalankan kebenaran. Misalnya si A berhasil membangun jembatan, jalan tol, sampai kakus hanya dalam waktu dua tahun saja. Data dan fakta di sini kemudian diangkat sebagai bukti (evidence) yang sebenarnya bukanlah bukti melainkan sekedar argumen saja.
Sementara pihak yang anti, sebaliknya akan melakukan sebuah bentuk oposisi. Dimana mereka akan membeberkan pula data dan fakta yang dianggap mewakili pendapat mereka. Sama seperti pihak yang pro, maka sekali lagi di sini hal-hal tadi bukanlah bukti melainkan argumen juga.
Pada proses penciptaan argumen inilah, Tuan Laclau melihat dengan sangat-sangat serius para penciptaan argumen. Ia melontarkan dua pertanyaan. Pertama, apakah argumen itu adalah penemuan, Yakni ia dipungut begitu saja untuk membenarkan sebuah aksi (yang sudah dilakukan atau belum dikerjakan) dengan tujuan argumen itu sendiri. Ia kemudian berlaku sebagai pembenaran kepada aksi-aksi yang dikerjakan oleh aktor atau kelompok dengan tujuan menekankan dan meyakinkan.
Argumen di sini ia memiliki tujuan menciptakan sebuah konstruksi sosial dengan pertama-tama membangun konsep tentang realitasnya sendiri. Untuk kemudian konsep tentang realitas seperti Saiya Pancasila, Saiya Nusantara- tadi disebarkan melalui mesin popularitas. Sehingga ia diadopsi oleh lebih orang banyak sebagai identitasnya juga. Inilah yang dimaksud dengan mengemansipasikan masyarakat sebagai kekuatan penekan.
Kedua, pendapatnya bahwa argumen merupakan sebuah algoritma yang disusun sebagai landasan awal dari masyarakat untuk sah dianggap sebagai makhluk yang berpikir logis. Maksudnya argumen adalah hal yang alamiah yang dibentuk oleh manusia sebagai bentuk pertahanan seperti misalnya bahwa pandangan atau pendapat seseorang terhadap dirinya atau idolanya merupakan sebuah serangan.
Sebagai responnya, argumen -yang sering kali ditarik oleh media untuk ditelevisikan, diradiokan, dipolemikkan di koran, dan diseminarkan- menjadi sebuah proses yang disebut Popper sebagai verisimilitude. Proses pensahihan, yaitu upaya menautkan pendapat kepada kebenaran atau sesuatu yang dianggap benar. Berargumen seperti ini kemudian menjadi sebuah kebutuhan dasar bagi manusia karena jika tidak maka ia tidak akan eksis. Persoalan apakah bercogita ergo sum dari manusia sebagai makhlu berpikir tadi benar-benar berpikir maka itu akan menjadi topik persoalan lainnya.
Sehingga ketika kebenaran itu sendiri dianggap sesuatu yang common sense di masyarakat dengan kalimat-kalimat phronesis (bijak) seperti; Namanya juga manusia, setiap orang memiliki kebenarannya masing-masing, tidak ada kebenaran yang mutlak, semua kita relatif kebenarannya, tidak apa-apa berbeda asal beken atau namanya juga usaha. Maka si argumen tadi menjadi pragmatis dan terbuka terus.
Pada posisi inilah kemudian argumen dan berargumen menjadi sebuah modus operandi dari masyarakat hari ini.
Bila ia bukan sebuah meta-naratives yang dibuat oleh sebuah struktur (politik lokal, nasional, atau kepentingan global) maka ia mesti tinggal dalam diri masyarakat sebagai sebuah kehendak beremansipasi tadi. Terlepas dia sadar atau tidak sadar digerakkan untuk beremansipasi.
Andi H

Saturday, August 19, 2017

Kenapa para nabi diberi tugas menjegal adikuasa dunia pada zamannya?

Baik sejarah dalam kitab suci maupun ilmu kekinian mendukung pertanyaan tadi. Nuh harus dikucilkan oleh kampanye hitam, Ibrahim melawan Namrud, Musa berhadapan dengan Firaun, Isa diburu Romawi, dan Kanjeng Nabi Muhammad ditentang pembesar Mekah. Nabi terakhir ini bahkan mengajak damai pada penguasa dunia kala itu, Persia dan Romawi. Keduanya harus ditaklukkan dengan jalan pedang usai sang nabi wafat untuk selamanya.
Nabi Nuh mengawali dakwah ratusan tahunnya dengan keluarga dahulu. Tak ada yang sudi kecuali keluarga jauh. Nama baik beliau selaku keturunan baik difitnah di sana-sini. Padahal yang beliau ajak pada masyarakat adalah hal baik. Termasuk peringatannya akan kedatangan banjir dahsyat tak digubris. Nabi Nuh seolah hanya diberi tugas khusus untuk bertahan hidup. Mengajak pun supaya masuk ke kapal.
Lain dengan Nabi Ibrahim yang merupakan anak pemahat berhala terbaik seantero negeri Babilon. Ia justru melawan melalui keahlian yang paling dikuasainya itu, mengayunkan kapak. Hingga sang paman selaku ayah angkat sedari kecil menyayangkan kemampuan sang keponakan sebab terbuang percuma. Kerajaan terbesar era kuno dengan tingkat pengetahuan tinggi itu sangat mengagungkan nalar. Hal yang kemudian dipakai sang nabi kala ia memutuskan untuk menghancurkan kuil berisi patung-patung terbaik sekerajaan. Jawabannya yang menunjuk kapak tengah berada di tangan patung terbesar menjungkirbalikkan logika.
Musa pun menjalani hal serupa. Ia seperti menusuk dari belakang. Ia seharusnya mati oleh kebijakan paranoid Firaun tapi justru diselamatkan dan dilindungi oleh sisi kemanusiaan sang Firaun. Ketika kelak Musa membangkang pada ayah angkatnya menggunakan bekal pengetahuan-pengalaman yang diajarkan oleh guru-guru terbaik dunia, hanya Ramses II yang juga saudara angkat yang bisa mengimbangi. Bahkan konon Firaun sang pembunuh bayi laki-laki cenderung memilih Musa untuk menjadi pewaris tahta.
Isa tak kalah ngeri-ngeri sedap laku hidupnya. Bayangkan saja, cucu Nabi Zakaria ini sudah diuji sedari dalam kandungan ibunya. Kelahirannya membuat geger tanah suci pertama umat Islam. Gusti Allah sendiri yang turun tangan untuk membela kesayangannya itu dengan membuat si bayi bisa berbicara di hadapan penduduk Yerusalem. Kehebohan kelahiran sang pejalan malam itu pun terdengar sampai negeri Persia yang kala itu masih menyembah api.
Ketika ia beranjak belia, ditinggalkannya semua kenikmatan dunia. Bajunya adalah yang berbahan paling kasar meski ia adalah keturunan mulia dan diagungkan penduduk kota. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad menyatakan bahwa ia tak bisa menyaingi putra Mariam dalam hal kesederhanaan hidup. Sang nabi terakhir itu menyebut bahwa harta Nabi Isa hanyalah sebuah sisir, sandal, dan gayung. Itupun akhirnya diserahkan kepada yang membutuhkan. Manusia moderen akan menganggap sosok yang kematiannya kontroversial ini seperti orang gila jika melihat penampilannya.
Justru itulah yang membuat Romawi kebakaran jenggot. Kemampuan di luar nalar dan hukum alam sang nabi mampu membuat simpati dan empati dengan mudah mengalir. Meski saat itu murid-muridnya hanya sedikit, itupun banyak yang buta huruf dan memiliki banyak kekurangan. Tetap saja beliau dianggap sebagai musuh terbesar kerajaan Romawi. Mungkin salahsatu berkah kelapangan hatinya menampung derita dari lawannya itu berbuah manis saat justru Romawi menjadi penyebar ajaran Nasrani ke seluruh dunia dan kini menjadi pusat agama tersebut.
Berlanjut ke Nabi Muhammad sang pedagang yang jujur. Ia diterima apa adanya di Kota Mekah sebab garis keturunannya dan akhlak yang dimiliki. Hanya saja saat masuk usia kepala empat, ia membuat geger jazirah Arab. Ajakannya meninggalkan tradisi yang membawa keburukan ditentang habis-habisan. Tindakan bar-bar seperti mengubur hidup-hidup bayi perempuan hingga perbudakan pun mendapat imbasnya.
Jika Nabi Nuh memilih langsung ke bertahan hidup, Nabi Ibrahim meluruskan sebisanya lantas melarikan diri untuk selamatkan nyawa, Nabi Musa pun mengikuti langkah Nabi Ibrahim dengan dipungkasi hijrah kembali ke negeri asalnya, Nabi Isa justru tidak melawan sedikitpun dan malah melakukan perlawanan pada diri sendiri. Adapun Kanjeng Nabi Muhammad melakukan semua taktik tadi, beliau bertahan hidup dengan mengirim pengungsi ke Kerajaan Etiopia yang dipimpin Raja Nasrani, dan kemudian hijrah ke Madinah. Ketika di Mekah pun ia melakukan perlawanan saat deklarasi dakwah terbuka dengan long-march keliling kota dihajar dengan pukulan, tendangan, lemparan batu, dan tentu saja, cacian.
Beliau tak melawan dengan jalan kekerasan melainkan dengan kelapangan hati. Termasuk saat di Thaif, beliau justru mendoakan kebaikan pada musuhnya. Berbuah manis ketika salahsatu anak Thaif kelak tinggal di masjid hanya untuk mencatat tiap perkataan sang nabi. Inilah jalan Ibrahim. Meski kemudian kaum tertindas ini melarikan ke Madinah untuk selamatkan diri dan bangun kekuatan. Cara-cara masuk akal pun ditempuh ketika menandatangani berbagai perjanjian dengan Kubu Mekah. Walaupun sepintas tak menguntungkan, ternyata justru berbuah banyak kebaikan. Inilah langkah Nabi Musa, mengamati ancaman dan peluang untuk menambal sulamnya dengan kekuatan dan kelemahan.
Adapun cara Nabi Isa beliau terapkan dengan elegan saat di Madinah. Di sanalah akhlak beliau makin memancar. Selaku pemimpin umat Islam, beliau justru bergaya hidup laiknya orang termiskin di kota. Bajunya banyak tambalan, tidurnya di atas tikar kasar, sering berpuasa berhari-hari dengan buka hanya seteguk air sebab apapun yang dimiliki langsung disedekahkan begitu ada peminta-minta. Jika Nabi Isa memilih tak punya tempat tinggal sebab menjadi pejalan, Kanjeng Nabi tetap beratap meski seadanya. Sebuah teladan yang kemudian hari ditiru setidaknya oleh empat pemimpin Islam setelah wafatnya beliau.
Para nabi di atas tetap mengutamakan bertahan hidup bagi diri maupun kaumnya. Sebab percuma berkeraskepala jika akhirnya ajaran kebaikan yang dibawa kandas di tengah jalan. Wajarlah jika Kanjeng Nabi menyatakan bahwa kemanusiaan adalah inti segala agama. Itulah yang melatari beliau tak memaksa siapapun untuk melaksanakan ajaran agama jika belum siap. Tentu kesadaran yang lahir dari olah pikir, rasa, maupun laku seseorang akan lebih awet dalam pelaksanaannya.
Keberlanjutan adalah nyawa pergerakan.
Sebegitu pentingnya keberlanjutan ini, berbagai agama kemudian menyelenggarakan lembaga pendidikan bagi generasi penerus. Abad ke-7, saat Budha mencapai puncak kejayaannya di Kerajaan Sriwijaya, pusat pendidikan terbesar di dunia pun hadir di Pulau Emas itu. Berlanjut hingga di sekitar Borobudur yang menandai begitu rapinya tata kelola masyarakat di Nusantara kala itu. Jika dibandingkan dengan Jazirah Arab di mana Kanjeng Nabi baru diturunkan di sana dan memulai revolusi ekonomi, sosial, politik dan budaya secara besar-besaran. Barulah pada abad 14 saat Islam mulai menjadi mayoritas di seantero Nusantara, pesantren hadir mengadaptasi sistem pengajaran agama Hindhu dengan murid yang disebut cantrik, dan pesantren dipanggil santri.
Dalam sejarah usai kemerdekaan pun terlihat saat putra Mbah Hasyim Asy’ari sang pendiri NU mendirikan sekolah ketika kemerdekaan berkah perjuangan angkatan Mbah Hasyim tercapai. Begitu juga dengan Muhammadiyah dan berbagai ormas berlandaskan agama saat itu. Menggelar pendidikan adalah cara tepat menjaga keberlangsungan perlawanan. Hanya saja yang dilawan bukan lagi musuh yang memegang senjata melainkan racun kebodohan yang seringkali justru muncul dari dalam diri sendiri.
Maka, akan sangat disayangkan jika sebuah proses panjang melawan kesewenang-wenangan yang telah berjalan ribuan tahun musnah hanya karena kurang sabar dalam melakukan pergerakan. Apalagi jika semata mengandalkan aji mumpung tanpa memperhitungkan berbagai faktor yang seringkali tumpang tindih satu sama lain. Bak mengurai benang kusut, harus hati-hati agar tak menggunting dalam lipatan. Setidaknya meski seperti mencari jarum di tumpukan jerami pun harus sabar mengendalikan diri. Bukankah para nabi pun melakukan hal mustahil dengan penuh sabar dan perhitungan?" papar Kang Sabar panjang lebar di depan forum penjaga gerbang.
Ihda HS

ANTARA MINAT, BAKAT DAN KECERDASAN

Oleh: Andrian Benny / Talents Spectrum
Saat anda ditanya, mana yg akan lebih anda pilih: bermain bola atau menggambar ?
Lalu anda jawab pilih bermain bola.
Ternyata alasannya adalah karena anda merasa tidak bisa menggambar bagus.
Itu bukan berarti bakat anda adalah bermain bola. Tapi saat itu anda lebih ber-MINAT main bola ketimbang menggambar.
Dan ... belum tentu anda tidak ber BAKAT dalam menggambar sekalipun saat itu anda belum bisa menggambar bagus.
Lantas, apa kriteranya anda dikatakan memiliki BAKAT dalam menggambar ?
Saat terkonfirmasi bahwa anda memiliki KEPEKAAN tinggi terkait dengan sensori dan indrawi VISUAL anda.
Jadi, jika indra VISUAL anda peka dalam melihat, mengamati, mengobservasi, mengklasifikasi bentuk, warna dll, maka anda terkonfirmasi memiliki BAKAT dalam menggambar.
Namun, bakat itu sifatnya baru potensi. Jika tidak ada stimulasi yang mengarahkan bakat tsb, maka dijamin anda tetap tidak akan bisa menggambar !
Nah, jika seseorang tidak berbakat menggambar tapi ternyata dia bisa menggambar bagus, kenapa itu bisa terjadi ?
Itulah yang dinamakan KECERDASAN !
Manusia memang memiliki kapasitas itu. Artinya bisa memiliki kemampuan apa saja jika distimulasi (dilatih). Maka kecerdasan yang dimaksud adalah PERFORMA.
Saat seseorang tidak memiliki kepekaan di visualnya, pasti memiliki kepekaan di area lainnya. Misal di area motorik perabaannya. Maka dia bisa saja belajar menggambar yang dimulai dari perabaannya tersebut sampai akhirnya visualnya juga terstimulasi.
Ada banyak jalan menuju roma
Ada banyak cara kerja otak untuk terstimulasi.

Friday, August 18, 2017

Bersabar dengan yang Ada

"Sekarang banyak kok juragan baru yang bergaya persis sepasang pemilik biro umrah murah meriah yang diciduk Bareskrim itu. Mengelola uang bulanan yang sekian juta saja keteteran tapi berani mengurusi yang miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kalau gak edan, apalagi? Dikira teknik gali lubang tutup lubang bisa selamanya dipakai.
Uniknya, mereka yang berpolah begitu juga pakai kedok agama. Entah dari penampilan fisik yang bak ustat-ustatsah maupun gaya bicara yang diwibawa-wibawakan. Meski pada kenyataannya hobi menipu, menghalalkan yang haram dengan berbagai dalil dan dalih. Semua dilakukan hanya demi motif balas dendam ekonomi. Tadinya kere lantas bermimpi kaya raya dalam waktu singkat.
Masih ingat kisah Tsa'labah si penggembala kambing pada era Kanjeng Nabi masih hidup? Ia sering datang telat salat jamaah, ketika ditanya Kanjeng Nabi, ia menjawab jika solusinya adalah kaya. Maka berulangkali si miskin ini merengek minta didoakan kaya oleh putra Abdullah itu. Terkabullah, dari satu kambing menjadi ratusan unta. Tsa'labah jadi juragan mendadak dan tak pernah hadir ke masjid. Bahkan saat ditarik zakat pun berkilah, hingga Gusti Allah datangkan musibah padanya.
Perilaku serupa Tsa'labah itu makin menggila di akhir zaman ini. Ada yang rela tipu pembeli, mencuranginya, demi mendapat untung berkalilipat. Untuk apa labanya? Hanya untuk foya-foya tampil gaya, supaya dianggap sukses. Mungkin dalam hatinya berkilah, 'toh tak ada yang tahu selain aku'. Bahkan tak sedikit yang bekerja keras, cerdas, bahkan culas, hanya demi maksiat tanpa batas.
Apa bedanya dengan Qarun, sang ahli agama yang menemani Nabi Musa sedari awal hijrah? Bukankah tokoh yang diabadikan dalam Quran itu juga berujung bangkrut akibat kesombongannya? Pantaslah jika salahsatu pertanda kiamat adalah berlombanya manusia meninggikan bangunan sebagaimana mengulangi fenomena zaman Nabi Ibrahim dengan Kuil Bergantung Babilonia-nya. Tapi apakah ada yang mau disamakan dengan sosok pencetus istilah 'harta karun' ini?
Nah, bersyukurlah kita-kita ini yang kere-hore. Sudah kerja serabutan, kadang dikejar utang, tapi masih bisa cengengesan menikmati keberkahan. Leluasa ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga yang senasib-sepenanggungan, bisa menikmati khusyuknya doa, ibadah, sebab memang butuh merasakan kehadiran-Nya. Bukankah musibah terbesar di dunia ini adalah dicabutnya kemampuan menikmati keindahan dunia? Kaya tapi membatasi diri dari gula, kolesterol, jalan-jalan, dan sejenisnya.
Mba Novia Kolopaking pernah menyanyikan lagu berjudul Sayang Padaku yang liriknya begini,
Duka derita duka laraku di dunia
Tidaklah aku sesali juga tak akan aku tangisi
Sesakit apapun yg kurasakan dalam hidupku
Semoga tak membuatku kehilangan jernih jiwaku
Andaikan dunia mengusir aku dari buminya
Tak akan aku merintih juga tak akan aku menangis
Ketidakadilan yg ditimpakan oleh manusia
Bukanlah alasan bagiku untuk membalasnya
Asalkan kerana itu Tuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendak-NYA menjadi syurga bagi cintaku
Bukanlah apa kata manusia yang ku ikuti
Tetapi pandangan Allah...Tuhanku yg kutakuti...
Ada tiadaku semata-mata milik-NYA jua
Jadi, jangan takut dicap tak sukses sebab enggan mengambil rezeki yang didapat dari membohongi oranglain. Jangan minder hanya karena teman gonta-ganti mobil terbaru tiap tahun. Banggalah meski baru ngekos saja. Selama yang Sampeyan dapat halal, tak merugikan siapapun, sangat mahal harganya di hadapan-Nya. Ingat, bahagia tak ditentukan dunia, tapi malah oleh keikhlasan Sampeyan menerima deritanya." tukas Kang Sabar di sudut meja pada Kang Kuat.

Ihda HS

Sesumbar

"Suatu kesempatan di waktu yang lampau, Anoman pernah sesumbar bisa selesaikan aneka persoalan. Pengalaman selesaikan konflik Rama-Rahwana membuat keyakinan hadir dalam batinnya. Ia lantas menghadap Semar, memohon restu. Diberi lampu hijau dengan syarat dikawal Petruk. Lantas Anoman kita ini loncat sana-sini lintas dimensi guna bernegosiasi. Petruk hanya mengikuti, ia enggan komentar sebab ditanya pendapatnya pun tidak.
Setelah berjalan beberapa waktu, rupanya Anoman merasa tak sanggup lagi menjadi penengah berbagai masalah. Ia konsultasi pada Petruk yang mulai pusing tujuh keliling. Semar yang sesekali hadir pun hanya bisa senyum penuh arti. Pada akhirnya Anoman menyerah, kabur dari komitmen. Petruk pun digugat kawan-lawan yang saling berseberangan. Ia mencari Semar yang tak jua muncul lagi.
Beberapa perubahan mendasar di negeri ini pun demikian. Dalam rentang ribuan tahun ini mudah ditemui rekam-jejaknya dalam sejarah. Tentu saja harus ke Leiden dulu yang memuat koleksi Kraton Mataram sepanjang 21 kilometer panjangnya. Jika tak punya dana ke sana, bisa menyimak penuturan lisan para sesepuh yang biasanya juga penuh kode. Tentu jika ilmu dipunyai, mitos bisa dibelah menggunakan nalar.
Kembali ke lakon Anoman tadi, rupanya Nabi Sulaiman pun pernah lakukan hal serupa. Ia merasa paling berkuasa di dunia sebab di wilayahnya memang ditemukan tambang besi terbesar sepanjang zaman. Kuilnya luar biasa besar, kaya luar biasa. Wajar jika ia meminta izin pada Gusti Allah untuk sedekah makanan bagi makhluk-Nya dalam sehari. Dikabulkan, dan berbuntut kewalahan.
Dari kedua kisah yang bak mitos tadi, ada sebuah kesamaan yaitu merasa bisa. Kedua tokoh luar biasa tadi harus bertekuk lutut menelan ludahnya sendiri. Mereka tidak bisa merasa, malah merasa bisa. Akhirnya seperti anak kecil yang ingin memasukkan semangka utuh ke mulutnya, kepayahan. Energi dan waktu yang bisa digunakan untuk menjalani hal biasa-biasa saja secara istiqomah harus terbuang sia-sia demi mengejar yang terkesan luar biasa.
Soal sejarah kembali berulang, banyak Anoman dan Sulaiman yang berwujud pria berdasi, wanita berjilbab, atau aktifis jalanan, memang demikian tuntutan zaman. Godaan merasa benar dan yakin bisa selesaikan masalah yang luar biasa bak nafsu menyelinap dalam ego. Sukar dipilah apalagi jika sudah melindungi diri dengan dalil dan dalih. Bukankah dalam hal ini Anoman dan Sulaeman berniat baik? Cara yang ditempuh pun masuk akal, meski kurang bijaksana sebab tak menghitung Threat (ancaman), Opportunity (kesempatan) sesuai Strength (kekuatan) dan Weakness (kelemahan).
Bagaimana langkah bijaknya? Tidak memaksakan apapun pada oranglain. Jika tanah belum siap untuk ditanam, janganlah terburu-buru mengubur benih di dalamnya. Rawatlah dulu baik tanah maupun benih. Bekali agar tercipta sebuah ekosistem yang nyaman. Ketika sudah terjalin rasa kasih-sayang di antaranya, niscaya proses tumbuh dengan subur tak terelakkan. Inilah yang disebut bijaksana.
Seperti yang sering Mbah Nun seringkali katakan dalam bahasa sederhananya, "kamu boleh goblok, pinter, tapi tetaplah bijaksana. Paham momentum dan cara memanfaatkannya. Bukan berdasar perhitunganmu sendiri tapi digerakkan oleh Gusti Allah dengan cara-Nya." ujar Kang Sabar usai mengunci gerbang.

Standard Darurat

"Standar darurat itu yang bagaimana, Kang?" tanya Kang Kuat di atas bangku panjang.
"Saat momentumnya memaksa siapapun mengira kaki sebagai kepala, dan kepala jadi kaki." jawab Kang Sabar sekenanya.
"Jawaban macam apa itu?! Tanya serius kok malah nyari lagu Piterpen!" umpat Kang Kuat.
"Lha iya, saat yang harusnya warga pra-sejahtera alias masih pas-pasan masih disubsidi, malah dipalak berbagai macam kenaikan tarif." imbuh Kang Sabar sembari menyantap mendoan berlumur sambal kacang.
"Terus menghadapi yang begituan gimana? Aksi turun ke jalan? Sudah lama kita gak bakar ban lho!" pekik Kang Kuat.
"Buat apa? Sampeyan malah bakal dinyinyirin kaum menengah ngehek dengan tudingan pemalas dan sederet label lain." sahut Kang Sabar santai.
"Tapi kita tak bisa tinggal diam dengan semua penjarahan terstruktur, masif, dan tersembunyi dari publikasi ini, Kang!" Kang Kuat makin gusar. Es teh pun tak mampu mendinginkan kepala berambut gondrong penuh ketombe itu.
"Ya berdoa sama Tuhan biar dikuatkan hadapi semua cobaan. Katanya kaum beriman, bahkan sesumbar tahu Kehendak Tuhan." Kang Sabar masih setia meladeni gugatan sang jomblo berdaulat.
"Menengadahkan ke langit? Kapan selesainya? Harus ada rencana taktis strategis, Kang. Masa main game saja njlimet, giliran masalah beginian malah cengengesan pasrah bongkokan." Kang Kuat masih belum terima. Dia memang rese kalau lagi lapar. Maklum, pesanan belum datang.
Kang Sabar meletakkan sendok dan garpunya. Menyeruput kopi panas campur kayu manis di hadapannya. Dengan nada pelan, ia tatap mata pria ceking itu. "Lha kok malah Sampeyan meragukan keadilan Tuhan, Kang. Lupa ya kalau Tuhan itu sesuai prasangkaan hamba-Nya? Sampeyan mengira Dia gak sanggup selesaikan, bakal beneran kejadian lho. Dikira Dia gak mutungan? Wong Maha Sabar-Nya itu sendiri artinya gak langsung menghukum begitu pendosa lakukan kesalahan kok. Tapi ditunggu tobatnya dulu."
Kang Kuat risih dipandang sedemikian rupa. Ia geli. Bahasa tubuh yang beginian biasanya hanya ia jumpai saat makan bareng gebetan. Dengan tergagap ia pun mengejar, "tapi kan Dia akan mengubah suatu kaum jika kaum itu setor usaha. Secuil niat sekalipun."
"Nabi Musa saja selaku nabi dengan daya nalar paling sangar bisa pingsan di Bukti Tursina saat menjumpai sedebu gejala kehadiran-Nya. Ia gagal berguru pada Nabi Khidir karena akalnya tak sabar, masih disetir perasaannya. Jika tujuanmu pada kuantitas, Nabi Nuh akan masuk kategori gagal dakwah sebab dalam waktu ratusan tahun hanya sanggup punya puluhan murid. Coba bandingkan dengan ustat-ustatsah kekinian. Modal asal mbacot saja bisa jutaan pengikutnya." Kang Sabar lantas beranjak ke Mbok Ribut, penjual pecel langganannya.
"Terus kita biarkan rezim sekarang ini terus melangsungkan penggadaian bahkan penjualan wilayah jua kedaulatan negara pada para tamu negeri asing?" Kang Kuat melongo. Pesanannya belum datang, perut masih keroncongan, sudah mau dibayar duluan.
Kang Sabar menghampiri meja tempat Kang Kuat duduk. DIambilnya Zenfone dan dimasukkan ke saku. Mencomot kunci dan memunculkan bunyi. Ia lantas berkata sambil berdiri, "siapa bilang satu-satunya jalan perubahan hanya via yang terlihat gerakan, Kang? Kurang hebat apa ratusan ribu pasukan Kekhalifahan Turki saat syahid dibabat penduduk Kedu? Kurang sangar apa jutaan ksatria mongol seberangi lautan hanya ingin tundukkan Pulau Jawa? Hanya berbekal informasi, Wali Songo, Wali Pitu, bahkan raja-patih-punggawa kerajaan masa lampau bisa memenangkan pertempuran yang mustahil dimenangkan. Jadi, terbukalah pada berbagai kemungkinan lah."
"Eh lho aku kok ditinggal! Ini aku belum sarapan!" teriak Kang Kuat saat Kang Sabar menuju Sahara putih yang menanti.
"Makanya, urusi dapuranmu dulu, baru sajikan hasil masakanmu!" sahut Kang Sabar sebelum duduk di dalam kabin.

Ihda HS

Tuesday, August 15, 2017

Qadha dan Qadr

Semua orang paham enam pilar iman. Atau, rukun iman. Iman kepada Allah, iman kepada para malaikat Allah, iman kepada kitab Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada para utusan Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadha dan qadr.
'Qadha' artinya ketetapan Allah, dan 'qadr' artinya kadar dari ketetapan tersebut.
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr (ukuran)" (QS Al-Qamar [54]: 49)
Takdir, sedikit berbeda. Takdir adalah jatuhnya, atau terjadinya, ketetapan Allah dengan kadarnya (qadha bi qadr) tersebut.
Konon katanya, tanpa keimanan kepada enam hal itu, statusnya sebagai muslim 'nggak sah'.
Did you know, yang kita kira paling gampang, yaitu iman kepada qadha dan qadr tadi, justru keimanan yang paling susah? Iman kepada ketetapan Allah dan kadar ketetapan tersebut, itu sungguh-sungguh tidak mudah memahaminya. Itulah sebabnya, muslim yang sungguh-sungguh beriman kepada qadha dan qadr ini relatif sedikit.
Iman kepada qadha dan qadr, itu implikasinya adalah, misalnya, bahwa kita iman sepenuhnya kalau kita yang nggak ganteng dan nggak cantik, dengan kadar tinggiitas (tinggi badan sekian) dan mancungitas (kemancungan hidung) sekian, itu adalah murni kebaikan Allah untuk kita, dan telah dihitung dan dikadar-Nya dengan sangat cermat bahkan sejak sebelum alam semesta ada.
Sebagian besar manusia malah menggerutu sejak bangun tidur sampai pergi tidur. Ngaca, dan melihat saya kok nggak cantik. Mengeluh. Mandi, mengeluh karena harus kerja. Di kantor, mengeluh karena kerjaan. Pulang, mengeluh karena macet. Tidur pun mengeluh karena lelah. Ia kecewa dengan ketetapan yang harus dilaluinya hari itu. Lalu, ia menyalahkan dirinya, orang tuanya, keadaan, kondisi, negara, yang 'gara-gara itu' saya jadi begini.
Begitulah hidupnya: ia menjalani setiap hari dengan keluhan. Sampai mati.
Jangan bicara 'iman terhadap qadha' dulu. Sebagian besar kita bersikap seakan-akan ketetapan dan kadar Allah yang Dia turunkan pada kita setiap saat, adalah salah. 'Harusnya nggak gitu'.
Makanya, kata Guru saya, mengeluh, meskipun dalam hati, urusannya akidah. Dengan Allah langsung. Itu sikap seakan-akan Allah salah ngasih. Dia keliru. 'Pelayanan-Nya' terhadap kita nggak bagus.
Guru saya selalu bilang, kalau dosa lainnya, Beliau bisa mendoakan, memohonkan ampunan. Tapi kalau dosa mengeluh, walaupun dalam hati, Beliau nggak bisa.
Bukan berarti kita harus pasrah dengan keadaan, atau membiarkan diri terbawa arus kehidupan tanpa usaha. Bukan gitu. Berusaha pindah ke takdir lain, adalah persoalan lain. Tapi akidah awalnya, terima dulu bahwa itulah qadha Allah. Dan dalam qadr dari-Nya.
Jangan bersikap seakan-akan apa yang terjadi adalah kesalahan, dan di luar pengetahuan-Nya. Seakan-akan apa yang terjadi adalah 'gara-gara si anu'. 'Si anu' itu adalah jalan kejadian ketetapan-Nya saja.
Kalau kita sudah mengerti bahwa apapun yang kita alami adalah di bawah qadha dan qadr dari-Nya, dan --demi kebaikan kita sendiri-- (*) baru kita akan sujud. Dan setelah itu, untuk minta dipindahkan ke qadha dan qadr yang 'lebih enak' pun, kita sujud lagi. Kita minta. Baru kita akan lihat bahwa Dia sungguh-sungguh turun dan berperan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kalau kita nggak pernah menyaksikan bahwa Dia ada dan mengabulkan doa persis sebagaimana yang kita minta, gimana cara mengimani-Nya? Rukun iman pertama, btw.
Dia ada. Hadir. Bukan sekedar konsep yang jauh tenggelam di dalam kitab-kitab suci, yang nggak terjangkau. Setidaknya, kita akan berhenti mengeluh, dan mulai berdoa sungguh-sungguh.
Sekedar sharing singkat atas apa yang saya pahami melalui pengajaran guru-guru saya.
(*) ini panjang banget pembahasannya, jadi jangan nanya persoalan takdir, hehehe. Gak akan bisa dibahas di FB. (Herry M)

Saturday, August 12, 2017

Mr R sharing bagaimana ia masuk Islam

Pengajian bulanan kota kami tidak diisi ceramah ustadz (karena memang tidak ada ustadz), melainkan sharing sesama warga pengajian. Untuk bulan Agustus ini giliran Mr R sharing pengalamannya berislam.
Mr R sharing bagaimana ia masuk Islam, apa persamaan dan perbedaan yang ia rasakan antara agama dia sebelumnya dengan Islam, lalu bagaimana reaksi lingkungan setelah ia masuk Islam. Berikut rangkumannya yang saya ingat, versi saya tentunya:)
"Saya masuk Islam setelah mengenal my wonderful wife", ia membuka sharingnya. Beberapa bulan pertama dia merasa biasa saja. Beragama bukanlah hal yang baru baginya. Dalam Islam Tuhan itu satu, begitu juga dalam Katolik, agama dia sebelumnya. Tapi setelah Ibu mertuanya meninggal sesaat sebelum pernikahannya dengan sang istri, baru ia merasakan sesuatu yang lain. Selama 'prosesi' kematian tersebut berlangsung, dia di rumah mertua. Ia menyaksikan semua detil acaranya. Saat orang-orang datang berkumpul, mengaji, prosesi pemakaman yang jauh dst, mengungkap padanya bahwa Islam adalah agama yang sifatnya 'publik'. Banyak keterlibatan orang lainya. Ini sangat berbeda dengan pandangan Katolik Eropa yang menganggap agama adalah hal pribadi. Orang tidak menunjukkan ke umum kalau dia agamanya Katolik. Beda dengan Islam, dengan pemakaian jilbab misalnya. Agama benar-benar urusan masing-masing kalau dalam Katolik Eropa yang dia pahami. Tapi dari pengalamannya saat kematian Ibu mertuanya itu, tidak begitu dalam Islam. Yang terlihat justru banyak sekali keterlibatan orang banyak.
Hal lain yang ia rasakan: Islam banyak sekali praktek dan ritualnya. Dalam katolik Eropa yang dipahaminya, satu2nya pesan praktek yang ditekankan adalah budi pekerti. Kalau kamu berbudi pekerti yang baik, beres. Ada hal-hal lain seperti 10 aturan seperti dalam Taurat, dst. Tapi tidak dipraktekkan sehari-hari. Beda sekali dengan Islam. Banyak sekali praktek ritualnya. Sholat, wudhu, dan banyak lagi.
"Ini perbedaan yang saya rasakan. Saya berusaha menjalankannya, meski tak selalu memungkinkan. Tapi saya jauh lebih banyak ke masjid selama beberapa tahun saya masuk Islam daripada jumlah saya ke gereja selama lebih dari 30 tahun (35?) saya Katolik.", urainya.
Lalu, menurut dia, dari pengamatannya praktek keIslaman sangat kental pengaruh kulturnya. Akan berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Dia mencontohkan kejadian yang dia alami. Seorang keponakan istrinya yang tinggal di Aljazair berkunjung ke Jerman. Ketika tiba saat sholat Jum'at si anak bersiap menggunakan kaftan. Mr. R meminta anak itu ganti baju tapi anak itu berkeras bahwa kaftan lah pakaian wajib sholat Jum'at.
"Dari mana aturannya sholat Jum'at harus pakai kaftan? Anak itu tampaknya menyimpulkan saja dari pengamatannya akan lingkungannya. Di Aljazair ketika Jum'atan semua memakai kaftan, maka dia menyimpulkan: aha, tiap Jum'atan semua memakan kaftan, maka kaftan adalah pakaian wajib saat Jum'atan.", demikian urainya.
"Begitu juga ketika melihat saya memakai batik bermotif burung. Di Aljazair haram hukumnya.", lanjutnya lagi.
Poin lain yang disharingnya adalah tentang kitab suci. Menurutnya karena jarak antara kehadiran Nabi Isa dengan disusunnya injil terjeda waktu yang cukup panjang, maka kemungkinan adanya berbagai tafsir selama masa itu, lebih besar. Mirip dengan hadits dalam Islam yang terpisah ratusan tahun antara wafatnya Rasulullah dengan masa dibukukannya.
Islam baginya tidaklah benar-benar asing. Ia pertama mengenal Islam saat sekolah. Dari pelajaran agama tepatnya. Di situ dibahas agama-agama samawi, dan Islam salah satunya. Tapi yang dibahas hanyalah garis beras saja. Jalan lain yang membuatnya mengenal detil2 Islam. Yaitu lewat idolanya. Ia mengidolakan salah satu jurnalis yang bertugas di timur tengah. Dengan mengikuti tulisan-tulisan jurnalis tersebut tentang timur tengah, ia jadi tau hal-hal detil tentang Islam. Sekolah-sekolah hukum Islam juga ia kenal dari sana. Bahwa dalam Islam ada sunni, syiah, dst saya juga sudah tau sebelum saya masuk Islam.
Di Katolik ada Paus yang merupakan wakil Tuhan di bumi. Jadi, Paus bisa memutuskan sesuatu yang harus diikuti seluruh umatnya. Islam tidak ada.
"Orang tua saya punya anjing. Dan entah kenapa, anjing itu senang sekali dengan istri saya. Tiap kami datang ke rumah orang tua saya, anjing itu akan mengacuhkan saya dan mencari istri saya. Istri saya mengatakan kalau tangan dijilat anjing, maka harus dibasuh dengan air 7 kali dengan salah satunya dengan tanah. Saya langsung berpikir, kenapa harus dengan tanah. Maka saya mencari tau. Ternyata ada beberapa pendapat tentang ini. Di Katolik hal seperti ini bisa diputuskan Paus. Dan itu berlaku untuk semua. Dalam Islam tidak ada hal ini. Pada akhirnya, keputusannya masing-masing.
Seorang warga bertanya,"jadi menurutmu itu bagaimana?"
"Di satu sisi dengan adanya satu keputusan dari Paus, jadi lebih jelas dan mudah bagi umat. Di sisi lain, ketidak adaan wakil Tuhan di bumi, bagi saya menunjukkan Tuhan ingin mengatakan bahwa agama adalah pencarian masing-masing diri. Dan kenyataannya poin inilah yang bagi saya paling mempengaruhi keyakinan saya pada Islam: Agama adalah pencarian masing-masing diri.", urainya.
Lalu bagaimana reaksi sekitar ketika ia masuk Islam?
"Saya tidak mengumumkan woro-woro hey saya sudah masuk Islam loh?. Nggak gitu. Tapi pelan-pelan orang tau sendiri. Saya tidak minum, lalu melihat makanan saya, dst", kisahnya.
"Keluarga saya termasuk orang yang berpendidikan. Bagi mereka agama urusan pribadi. Mereka juga cukup punya informasi tentang Islam. Jadi mereka tidak masalah. Satu2nya keluarga saya yang kaget adalah Gro├čTante (saudara Nenek/Kakek) saya. Yang lain tidak ada masalah."
Seorang warga bertanya,"bagaimana pandanganmu tentang jilbab? Istrimu kan juga berjilbab"
Jawabnya,"bagi saya itu keputusan pribadi istri saya. Saya tanya sih, kenapa dia kemudian memutuskan memakai jilbab. Orang tua saya juga tidak masalah. Mereka hanya khawatir kalau nanti istri saya susah dapat kerja dan hal-hal seperti itu."
Demikian yang aku ingat. Udah beberapa hari lewat, mulai siwer yang diinget hahaha
Sesi sharing yang menarik. Cara membawakannya juga 'Jerman banget'.
Menurut Masha, inilah satu2nya sharing session, sofar, yang tidak membuat dia ngantuk ´. Ooops
Ya iyalah ya, hasil 'satu mesin' yang sama:)
Poin.poinnya jelas, alurnya jelas, bahasanya efektif dan efisien. Jokenya ada tapi tidak lebay. Tidak membahas hal yang sama berulang2.
"Ya, seperti kalau Asha biasa presentasi.", kata Masha.
Halah...ge er pisaaan hihihi
Danke dah, Om B yang sudah sharing:)
(Ellyza DS)

Thursday, August 10, 2017

Rumah Perjuangan

Bagiku rumah di sadang serang betul-betul menjadi rumah perjuangan.
Yang awalnya sempat menangis pada seorang sahabat karena sampai 3 bulan ke depan diriku dan anak2ku mau makan apa sampai keadaan sekarang ini.

"Ya Allah... beri aku waktu untuk bangkit dan berdiri. Ini masalah waktu. Aku yakin Engkau pasti memberiku pekerjaan. Namun ya Allah ... kali ini aku membutuhkan nyata uluran tangan Mu untuk menolong kehidupan anak2ku. Aku puasa masih bisa... tapi C dan N ya Allah.." kataku panjang lebar sama Allah.
"Betapa Engkau Maha Perkasa. Tolonglah aku ya Allah..." isakku dalam kepedihan tiada tara.
Jiwaku kuat menghadapi semua ini. Mentalku juga kuat. Tapi tidak fisikku! Hingga kemudian diriku jatuh sakit... di dalam ususku timbul bisul karena bakteri.
Awalnya kutahan. Meriyang 3 bulan kutahan terus tanpa bilang ke pak bojo apa yang aku rasakan. Hingga suatu saat diriku bilang, "Pak, jangan pulang ke Jakarta... aku enggak kuat." Waktu itu bojoku masih harus kerja di jakarta.
"Aku enggak enak sama kantor kalau enggak ada keterangan jelas." Kata bojoku.
"Ya sudah, ayuk ke dokter biar aku dapat surat keterangan sakit..." kataku. Berniat ke dokter hanya untuk mendapatkan surat keterangan dokter. Bukan berobat karena sejatinya diriku bukan perempuan yang manja dan mudah ke dokter.
"Dokter, saya tidak mau opname. Saya punya 2 abk. Kasihan mereka..." kataku. Diriku pun diberi antibiotik satu bulan lamanya. Dan beruntung tidak terlambat. Keadaan tidak cepat bertambah baik hingga salah seorang sahabatku yang dokter bilang, "Mbak, coba minum daun sirsak...". Karena keadaan belum juga membaik.
Hari ketiga minum daun sirsak, diriku sudah bisa menyapu dan pel. Sampai heran sendiri waktu itu. Daun sirsak kemudian jadi andalanku hingga setahun kemudian. Itu kejadiannya 3,5 tahun yang lalu.
Diriku suka menangis di hadapan Allah. Sejadi-jadinya. Menangis dalam hati. Bahkan hingga menjelang tidur pun diriku masih merasakan kehadiran Allah di depanku. Hingga tertidur pulas. Ya... bagi yang belum pernah mengalami ada di titik nadir mungkin tidak bisa membayangkan yang kukatakan. Kita memang tidak bisa melihat Allah. Tapi kita tahu Allah itu ada.

Era Fosil segera berakhir

Era Fosil segera berakhir
Era energi fosil murah segera berakhir walaupun masih tetap dominan sampai tahun 2030.
Penguatan jaringan (T&D) dan penyimpan energi merupakan komponen utama sistem ketenagalistrikan masa depan yang harus segera dibangun
Bagaimana mengatur pembangkit variabel berbasis energi terbarukan merupakan tantangan besar bagi semua insinyur ketenagalistrikan
Sampai tahun 2030, kontribusi energi angin dan matahari dalam energi listrik global bisa mencapai 25%. Untuk Indonesia, peluang pemanfaatan energi air, panas bumi, dan biomasa yang lebih terkendali masih terbuka lebar.
Kunci itu semua adalah pembangunan HVDC transmission terutama yang berbasis konverter sumber tegangan.

Perencanaan Saluran Transmisi

Perencanaan Saluran Transmisi
Di masa lalu, perencanaan saluran transmisi selalu hanya berkutat pada besarnya biaya langsung yang keluar untuk membangunnya. Keekonomisannya dihitung hanya dengan menghitung berapa daya yang bisa disalurkan melalui saluran transmisi tersebut, daya yang mengalir dari pembangkit ke pusat beban. Padahal pada saat ini, pembangunan saluran transmisi sering tidak hanya ditujukan untuk menyalurkan daya pada satu arah saja. Saluran transmisi sering dibangun untuk menyambungkan dua sistem besar sehingga arah aliran daya bisa berubah-ubah setiap saat. Adanya saluran transmisi yang menghubungkan dua sistem menyebabkan ke dua sistem bisa sharing resources sehingga spinning reserve di kedua sistem bisa dikurangi.
Saluran transmisi yang kuat juga sangat penting dalam era distributed generation dan pembangkit berbasis energi terbarukan seperti halnya angin dan matahari. Untuk mengurangi pengaruh berubah-ubahnya energi angin dan matahari, sistem transmisi yang kuat diperlukan supaya kekurangan di suatu tempat bisa dikompensasi oleh kelebihan di tempat lain. Antar sistem bisa saling membantu dalam menjaga stabilitas. Jadi, saluran transmisi tidak lagi hanya untuk menyalurkan daya ke satu arah. Tidak hanya dari pembangkit ke pusat beban.
Memang semua ini menyebabkan perencanaan saluran transmisi tidak semudah perencanaan di masa lalu. Semua dipenuhi ketidakpastian dan beberapa bahkan belum diatur, misal ancillary services. Belum diatur berapa nilai atau biaya kompensasi yang didapat jika kita ikut memperbaiki stabilitas, keandalan, dan kwalitas daya. Tapi itu semua adalah tantangan yang menarik kalau ingin belajar sistem tenaga listrik.

Sistem Ketenagalistrikan

Di masa lalu, hampir semua sistem ketenagalistrikan dimiliki oleh satu perusahaan (sampai sekarang, di beberapa negara masih demikian). Di masa lalu, beberapa pembangkit kecil langsung melayani konsumennya lewat jaringan distribusi sederhana. Dengan berkembangnya sistem arus bolak-balik, pembangkit besar dibangun pada jarak yang cukup jauh dari bebannya. Daya listrik dikirim lewat saluran transmisi tegangan tinggi yang efisien. Selanjutnya dengan berjalannya waktu, beberapa sistem diinterkoneksikan untuk meningkatkan keandalan. Interkoneksi juga dilakukan antar daerah atau bahkan antar negara. Adanya interkoneksi menghasilkan keandalan yang lebih baik dan sharing resources antar daerah. Walaupun sudah banyak interkoneksi, sistem ketenagalistrikan umumnya dirancang, dibangun, dan dioperasikan oleh perusahaan yang sama. Selain itu, dari sisi pembangkit sampai distribusi, dimiliki oleh perusahaan yang sama. Akibatnya, operator sistem cenderung kurang ramah terhadap pembangkit yang punya peluang mengganggu sistem (contoh variable renewable energy). Tidak adanya kompetisi menyebabkan sistem ketenagalistrikan tidak bisa menghasilkan sistem yang terbaik. Hukum ekonomi menyatakan bahwa kompetisi akan melahirkan sistem yang efisien. Pernyataan ini tidak berarti bahwa sistem kelistrikan yang sekarang (baca PT PLN) tidak baik, tapi jelas belum yang terbaik.
Di banyak negara maju, deregulasi sistem kelistrikan banyak dilakukan untuk mendorong kompetisi. Kepemilikan transmisi dipisah dari pembangkit bahkan dari distribusinya. Sistem transmisi biasanya dimiliki negara atau dikuasai negara. Dengan sistem ini, retailer atau konsumen besar bisa memilih pembangkit yang diinginkan. Pembangkit-pembangkit bisa berkompetisi untuk menawarkan listrik yang terbaiknya. Walaupun di Indonesia sudah ada pembangkit swasta, kompetisi hanya terjadi sebelum dibangun pembangkitnya. Setelah itu tidak ada kompetisi sama sekali.
Untuk bisa melahirkan sarana berkompetisi, harus disediakan sistem interkoneksi atau transmisi yang memadai. Operator sistem harus bisa memberikan kesempatan sama besar pada semua pembangkit untuk berkompetisi. Untuk mencapai tahapan ini, Indonesia harus membangun banyak saluran transmisi baru. Sayangnya, membangun saluran transmisi memerlukan biaya investasi yang tidak sedikit. Indonesia, yang terdiri atas banyak pulau, interkoneksi antar pulau memerlukan biaya yang lebih besar lagi. Akan tetapi semua itu bisa dijalankan selama rakyat bersatu untuk membangunnya. Jaringan Palapa Ring bisa dibangun juga dengan dana rakyat, bukan dana pemerintah. Jika interkoneksi tersedia dengan baik, Indonesia bisa memiliki sistem kelistrikan yang kompetitif. Mungkin suatu saat di Indonesia akan terdapat banyak PT PLN. Adanya interkoneksi antar pulau memungkinkan pemanfaatan tenaga renewable yang tersebar di seluruh Indonesia yang mungkin jauh dari konsumennya. Adanya interkoneksi memungkinkan terjadinya sharing resources antar daerah. Adanya interkoneksi memungkinkan diciptakannya sistem kelistrikan yang 100 % sustainable tanpa harus mahal. (Pekik AD)

Wednesday, August 9, 2017

Jebakan Karir, Part 3

Jebakan Karir, Part 3
Ketika karyawan saya itu bercerita bahwa dia sempat berencana mau bunuh diri, untuk beberapa saat saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya kaget. Saya tercekat. Saya benar-benar tidak menyangka, sehingga tidak sanggup ngomong apa-apa lagi. Sehingga yang bisa saya lakukan hanya mengiyakan saja apa yang dia sampaikan. Termasuk ketika dia bilang mau mengundurkan diri saja dari kantor, supaya bisa terbebas dari beban mental yang membuat dia sangat depresi. Saya langsung mengiyakan keinginan itu kalau memang pengunduran diri itu bisa membebaskannya dari depresi yang berkepanjangan. Saya bilang kepadanya bahwa keselamatan dia jauh lebih penting dari apapun. Jauh lebih penting dari sekedar kepentingan perusahaan.
Tetapi setelah mengiyakan permintaan pengunduran diri itu, saya baru sadar kalau saya sebenarnya belum menggali lebih dalam apa sebenarnya masalah yang membuatnya depresi. Yang mengagetkan, dia depresi berat karena merasa hidupnya tidak berguna. Dia merasa tidak bisa berkontribusi apa-apa terhadap perusahaan yang diamanahkan kepadanya. Perasaan tidak berguna ini begitu kuat menghantuinya. Dia merasa, karena ketidakmampuannyalah yang membuat unit bisnis yang dia kelola mengalami kesulitan cash flow yang cukup serius.
Sekali lagi saya terkejut mendengar penjelasan yang tidak pernah saya duga ini. Bagi saya, performance dia selama ini sebenarnya sangat bagus. Mengenai keluhan dia yang merasa tidak bisa berjualan, itu memang kemampuan yang masih perlu diasah lagi. Saya yakin potensi itu ada, hanya memang butuh jam terbang. Tetapi dia tetap menolak. Dia merasa sudah mentok dan ingin mengundurkan diri saja.
Saya persilakan dia mengundurkan diri, tapi sebelum itu saya minta dia ikut tes talent mapping sekali lagi. Saya ingin dia memiliki gambaran yang tepat tentang potensi yang ada dalam dirinya. Ternyata dugaan saya benar. Hasil test talent mappingnya menunjukkan potensi itu ada, hanya yang bersangkutan memang merasa tidak pede dengan kemampuannya sendiri.
Setelah konsultasi intensif dengan Abah Rama, akhirnya yang bersangkutan dapat diyakinkan dengan potensi dirinya, dan membatalkan rencana pengunduran dirinya. Alhamdulillah.
Dari kejadian itu, Abah Rama mewanti-wanti kepada saya untuk memberikan bekal yang cukup bagi karyawan sebelum memberinya penugasan yang di luar kapasitasnya. Karena dampaknya bisa sangat serius. Yang juga saya pelajari, bahwa respon seseorang dalam menghadapi sebuah kegagalan ternyata berbeda-beda. Konon penyebabnya bisa bermacam-macam, bahkan ada yang sifatnya genetik! Hal seperti inilah yang perlu dipertimbangkan secara masak-masak sebelum memberikan penugasan kepada seorang karyawan, sekalipun itu kepada karyawan terbaik Anda.
Sungguh, ini sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya, yang terus terang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Semoga kejadian seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Sampai kapan pun. (Selesai)
Salam,
Hari

Soal Alexander Agung, atau Iskandar Dzulqarnain dalam Al-Qur‘an

Berikut ini adalah corat-coret saya di 10 hari terakhir bulan Ramadhan kemarin. Coretan ini sebenarnya saya persiapkan untuk kedua buah hati, yaitu Dewi Alessandra Purnamasari dan Muhammad Alexander Adlin. Oleh-oleh dari bapaknya selama belajar kepada Uwak Mursyid, dan semoga, jika saya ada umur, bisa menceritakan kembali kepada mereka, sebagaimana nenek tercinta, Insyah, yang saat saya masih kecil dulu sering menceritakan kisah para nabi dan sangat membekas di diri saya hingga hari ini.
Sambil mensyukuri kesembuhan Alick, saya ingin membicarakan soal Alexander Agung, atau Iskandar Dzulqarnain dalam Al-Qur‘an. Semoga ada gunanya.
*******
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu DZIKRAN tentangnya.” (QS Al-Kahfi [18]: 83)
*******
DZIKRAN itu adalah hikmah atau hakikat, dan dalam hal ini Al-Quran memaparkan ihwal hikmah atau hakikat ke-dzulqarnain-an, sang penakluk yang sepak terjangnya membuat banyak muslim tidak percaya bahwa bukan Alexander Agung yang Al-Quran maksudkan.
Disebut dzikran karena itu merupakan sesuatu yang bersifat universal dan ada nilai-nilai yang harus diingat serta berlaku umum.
Al-Quran menyebutnya sebagai Dzulqarnain, yaitu “yang memiliki dua tanduk” merupakan simbol dari penguasa Barat (alam Yunani [khususnya Macedonia]) dan Timur (Persia).
Namun, Barat dan Timur juga merupakan simbol yang banyak ditemui di berbagai khazanah agama-agama. Timur adalah tempat terbitnya matahari sebagai simbol dari dunia ruhiyyah (alam lahut), sedangkan Barat adalah tempat terbenamnya matahari sebagai simbol dari dunia jasadiah (alam nasut).
Allah SWT juga memberikan kepada Dzulqarnain kekuasaan atas kaum “Timur” yaitu kaum ruhaniyyah atau para ‘ulama’ yang ditasbihkan kepada sang penakluk yang masih muda (pemuda juga merupakan simbol dari nafs yang istid├ód). Silakan baca catatan milik Josef Flavius, sejarawan Yahudi yang menuliskan bagaimana Dzulqarnain disambut oleh para rabbi Yahudi, atau para rahib Buddha menyarankan raja-raja India untuk tunduk kepada Dzulqarnain karena kekuasaannya atas ‘amr Allah.
Tentang kedatangan Dzulqarnain telah dinubuatkan oleh Nabi Daniel as dalam Daniel 8: 1-27, sebagai berikut:
*******
1. Pada tahun yang ketiga pemerintahan raja Belsyazar, nampaklah kepadaku, Daniel, suatu penglihatan sesudah yang tampak kepadaku dahulu itu.
2. Aku melihat dalam penglihatan itu, dan sementara aku melihat, aku berada di puri Susan, yang ada di wilayah Elam, dan aku melihat dalam penglihatan itu, bahwa aku sedang di tepi sungai Ulai.
3. Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.
4. Aku melihat domba jantan itu menanduk ke barat, ke utara dan ke selatan, dan tidak ada seekor binatangpun yang tahan menghadapi dia, dan tidak ada yang dapat membebaskan dari kuasanya; ia berbuat sekehendak hatinya dan membesarkan diri.
5. Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya.
6. Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat.
7. Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.
8. Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.
9. Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai.
10. Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.
11. Bahkan terhadap Panglima bala tentara itupun ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari, dan tempat-Nya yang kudus dirobohkannya.
12. Suatu kebaktian diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari, kebenaran dihempaskannya ke bumi, dan apapun yang dibuatnya, semuanya berhasil.
13. Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: "Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?"
14. Maka ia menjawab: "Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar."
15. Sedang aku, Daniel, melihat penglihatan itu dan berusaha memahaminya, maka tampaklah seorang berdiri di depanku, yang rupanya seperti seorang laki-laki;
16. dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: "Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!"
17. Lalu datanglah ia ke tempat aku berdiri, dan ketika ia datang, terkejutlah aku dan jatuh tertelungkup, lalu ia berkata kepadaku: "Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!"
18. Sementara ia berbicara dengan aku, jatuh pingsanlah aku tertelungkup ke tanah; tetapi ia menyentuh aku dan membuat aku berdiri kembali.
19. Lalu berkatalah ia: "Kuberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi pada akhir murka ini, sebab hal itu mengenai akhir zaman.
20. Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia.
21. Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.
22. Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu.
23. Dan pada akhir kerajaan mereka, apabila orang-orang fasik telah penuh kejahatannya, maka akan muncul seorang raja dengan muka yang garang dan yang pandai menipu.
24. Kekuatannya akan menjadi hebat, tetapi tidak sekuat yang terdahulu, dan ia akan mendatangkan kebinasaan yang mengerikan, dan apa yang dilakukannya akan berhasil; orang-orang berkuasa akan dibinasakannya, juga umat orang kudus.
25. Dan oleh karena akalnya, penipuan yang dilakukannya akan berhasil; ia akan membesarkan dirinya dalam hatinya, dan dengan tak disangka-sangka banyak orang akan dibinasakannya; juga ia akan bangkit melawan Raja segala raja. Tetapi tanpa perbuatan tangan manusia, ia akan dihancurkan.
26. Adapun penglihatan tentang petang dan pagi itu, apa yang dikatakan tentang itu adalah benar. Tetapi engkau, sembunyikanlah penglihatan itu, sebab hal itu mengenai masa depan yang masih jauh."
27. Maka aku, Daniel, lelah dan jatuh sakit beberapa hari lamanya; kemudian bangunlah aku dan melakukan pula urusan raja. Dan aku tercengang-cengang tentang penglihatan itu, tetapi tidak memahaminya.
*******
Adapun kekuasaan atas kaum “Barat” adalah kaum mulkiyyah, kekuasaan atas para penguasa “dunia”; silakan lihat sejarah bagaimana Dzulqarnain menyatukan seluruh Yunani, seperti Athena, Sparta, Troya, hanya dalam waktu satu tahun. Kemudian menaklukkan Persia, yang dipimpin oleh Darius, serta menggabungkannya dengan dunia Yunani dalam waktu sangat singkat.
Dzulqarnain kemudian tinggal dan wafat di Babilonia, di tempat di mana Nabi Daniel as bernubuwwah tentang dirinya.
Istilah Dzulqarnain atau “yang memiliki dua tanduk” tidak dikenal dalam literatur Barat, akan tetapi pada koinnya tampak bagaimana Alexander The Great of Macedon memakai mahkota dengan dua tanduk.
Di sini terlihat adanya hubungan antara Perjanjian Lama Kitab Daniel 8: 1-27 dengan QS Al-Kahfi [18]: 83 tentang Dzulqarnain sebagai “yang memiliki dua tanduk”
Tak sedikit orang, termasuk umat muslim, yang susah percaya bahwa Iskandar Dzulqarnain adalah Alexander The Great, padahal dia adalah seseorang yang bisa berdialog dengan Allah Ta‘ala dan diperbolehkan memutuskan apa pun atas kaum taklukkannya sebagaimana tertuang dalam QS Al-Kahfi [18]: 86-88 sebagai berikut:
*******
Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”
Berkata Dzulqarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”
*******
Segitu dulu. Insya Allah nanti dilanjut lagi ya. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wassalam.
Ttd.
Bapaknya Alexander yang dipanggil Alick.
Alexander artinya adalah Penolong, sedangkan Alick artinya adalah Pejuang.