Thursday, August 17, 2017

Bersabar dengan yang Ada

"Sekarang banyak kok juragan baru yang bergaya persis sepasang pemilik biro umrah murah meriah yang diciduk Bareskrim itu. Mengelola uang bulanan yang sekian juta saja keteteran tapi berani mengurusi yang miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kalau gak edan, apalagi? Dikira teknik gali lubang tutup lubang bisa selamanya dipakai.
Uniknya, mereka yang berpolah begitu juga pakai kedok agama. Entah dari penampilan fisik yang bak ustat-ustatsah maupun gaya bicara yang diwibawa-wibawakan. Meski pada kenyataannya hobi menipu, menghalalkan yang haram dengan berbagai dalil dan dalih. Semua dilakukan hanya demi motif balas dendam ekonomi. Tadinya kere lantas bermimpi kaya raya dalam waktu singkat.
Masih ingat kisah Tsa'labah si penggembala kambing pada era Kanjeng Nabi masih hidup? Ia sering datang telat salat jamaah, ketika ditanya Kanjeng Nabi, ia menjawab jika solusinya adalah kaya. Maka berulangkali si miskin ini merengek minta didoakan kaya oleh putra Abdullah itu. Terkabullah, dari satu kambing menjadi ratusan unta. Tsa'labah jadi juragan mendadak dan tak pernah hadir ke masjid. Bahkan saat ditarik zakat pun berkilah, hingga Gusti Allah datangkan musibah padanya.
Perilaku serupa Tsa'labah itu makin menggila di akhir zaman ini. Ada yang rela tipu pembeli, mencuranginya, demi mendapat untung berkalilipat. Untuk apa labanya? Hanya untuk foya-foya tampil gaya, supaya dianggap sukses. Mungkin dalam hatinya berkilah, 'toh tak ada yang tahu selain aku'. Bahkan tak sedikit yang bekerja keras, cerdas, bahkan culas, hanya demi maksiat tanpa batas.
Apa bedanya dengan Qarun, sang ahli agama yang menemani Nabi Musa sedari awal hijrah? Bukankah tokoh yang diabadikan dalam Quran itu juga berujung bangkrut akibat kesombongannya? Pantaslah jika salahsatu pertanda kiamat adalah berlombanya manusia meninggikan bangunan sebagaimana mengulangi fenomena zaman Nabi Ibrahim dengan Kuil Bergantung Babilonia-nya. Tapi apakah ada yang mau disamakan dengan sosok pencetus istilah 'harta karun' ini?
Nah, bersyukurlah kita-kita ini yang kere-hore. Sudah kerja serabutan, kadang dikejar utang, tapi masih bisa cengengesan menikmati keberkahan. Leluasa ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga yang senasib-sepenanggungan, bisa menikmati khusyuknya doa, ibadah, sebab memang butuh merasakan kehadiran-Nya. Bukankah musibah terbesar di dunia ini adalah dicabutnya kemampuan menikmati keindahan dunia? Kaya tapi membatasi diri dari gula, kolesterol, jalan-jalan, dan sejenisnya.
Mba Novia Kolopaking pernah menyanyikan lagu berjudul Sayang Padaku yang liriknya begini,
Duka derita duka laraku di dunia
Tidaklah aku sesali juga tak akan aku tangisi
Sesakit apapun yg kurasakan dalam hidupku
Semoga tak membuatku kehilangan jernih jiwaku
Andaikan dunia mengusir aku dari buminya
Tak akan aku merintih juga tak akan aku menangis
Ketidakadilan yg ditimpakan oleh manusia
Bukanlah alasan bagiku untuk membalasnya
Asalkan kerana itu Tuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendak-NYA menjadi syurga bagi cintaku
Bukanlah apa kata manusia yang ku ikuti
Tetapi pandangan Allah...Tuhanku yg kutakuti...
Ada tiadaku semata-mata milik-NYA jua
Jadi, jangan takut dicap tak sukses sebab enggan mengambil rezeki yang didapat dari membohongi oranglain. Jangan minder hanya karena teman gonta-ganti mobil terbaru tiap tahun. Banggalah meski baru ngekos saja. Selama yang Sampeyan dapat halal, tak merugikan siapapun, sangat mahal harganya di hadapan-Nya. Ingat, bahagia tak ditentukan dunia, tapi malah oleh keikhlasan Sampeyan menerima deritanya." tukas Kang Sabar di sudut meja pada Kang Kuat.

Ihda HS

0 comments:

Post a Comment