Tuesday, August 22, 2017

Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya.

Dengan tandas Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan:
"Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya."
dan di bagian lain, dia menandaskan juga:
"Cermati kehalusan ini: pahamilah dengan gamblang, apa yang kau damba di dasar hatimu, itulah sebenarnya engkau."
Mari kita melihat kembali ke masa lalu hingga hampir 1500 tahun yang lalu. Apakah Abu Jahal--yang sebelumnya digelari Abal Hakam--bertemu berhadap-hadapan langsung dengan Rasulullah Muhammad saw? Tentu saja, apalagi dia adalah salah satu paman beliau saw. Namun, apakah kehadiran manusia tertinggi di alam semesta tersebut mengubah hatinya, dan membuat dia berkata: "Inilah orang yang aku cari!" atau malah menentangnya? Apakah Abdullah bin Ubay tidak bertemu dengan Rasulullah saw secara langsung? Tentu saja, bahkan dia bersyahadat pula. Namun, apakah syahadatnya menghentikan dia dari bermuka dua terhadap umat Muslim dan kafir Quraisy?
Berapa banyak kaum Quraisy yang telah bertemu langsung dengan Rasulullah saw namun malah mengingkari dan memerangi beliau saw? Namun, apa kiranya yang malah membuat Umar bin Khaththab, salah seorang yang terkenal keras di kalangan penduduk Mekkah, yang tadinya hendak membunuh Rasulullah saw kemudian malah berbalik mengikuti beliau saw dan bersyahadat? Apa hebatnya QS Thaahaa hingga bisa mengubah hati Umar (namun surat itu terasa biasa-biasa saja bagi saya, entah bagi Anda).
Dengan menyimak kembali puisi Rumi di atas, bisa jadi, dalam hidup ini, kita sebenarnya pernah bertemu langsung dengan orang-orang yang lurus dan menempuh jalan kebenaran, pernah bertemu dengan mursyid sejati. Namun, kenapa tak ada kesan apa pun di hati dalam pertemuan dengan mereka hingga kita pun mengabaikannya? Mungkin karena memang bukan itulah yang kita cari dalam hidup ini.
Wallahu a'lam bishawwab. Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam. Alfathri

0 comments:

Post a Comment