Tuesday, August 1, 2017

Hatta dan Ilusi Teknologi

Hatta dan Ilusi Teknologi (Andi H)
Sebagai pembaca Hatta, saiya berusaha mendalami pemikirannya tentang filsafat yang dapat dirasakan.
Di dalam Alam PIkiran Yunani, Hatta menulis melalui metodologi pembabakan dalam bentuk kronologi dari perkembangan cara berpikir manusia terhadap diri dan lingkungan sekitarnya pada masa terdahulu. Penggunaan tinjauan terhadap satu alam pemikiran dan alam pemikiran lainnya dengan cara ini dikatakan Hatta dalam pengantarnya;
"Dengan jalan ini tidak saja kita ketahui cara berpikir orang dahulukala, yang bergitu berlainan dengan sekarang, melainkan kita mendapatkan juga timbangan yang luas tentang pendapat orang lain."
Saiya melihat bahwa dari buku-buku Hatta selanjutnya, kumpulan artikel dan pidato ia memanfaatkan asas tinjauan ini bagi keperluan yang dapat dirasakan manfaatnya maka ia seperti kebanyakan penganut pragmatisme. Ia menghitung seluruh kalkulasi, pengamatan, dan langkah-langkah bagi kepentingan yang berfaedah bagi diri (dan yang selanjutnya bagi kepentingan nasional) dalam langkah-langkah politiknya.
Apabila kita membaca kisah tentang Hatta yang ditulis orang lain maka sifat-sifat kepada mencari manfaat dan faedah dari setiap tingkah-laku dan langkah politiknya ini rupanya sudah tertanam pada dirinya semenjak ia kecil.
Pada satu perang psikologi antara Hatta kecil dan Bader Djohan kecil karena persaingan sepakbola mereka bertemu di satu jalan sempit pematang sawah. Keduanya berjalan cepat, tidak menunjukkan siapa yang mau mengalah memberi jalan. Ini karena urusan gengsi. Di satu titik dimana benturan tidak akan dapat dielakkan dan salah satu atau keduanya terlempar ke tengah sawah, Hatta berkelit cepat.
Pengambilan sikap dan kebijakan yang menghindari keburukan sekecil mungkin inilah yang kemudian orang lihat dalam diri Hatta. Ia kemudian tidak pernah ditulis sebagai seorang pemimpi atau pemimpin dengan angan-angan panjang yang tidak dapat diukur dan dijalankan.
Persoalan khayalan dan kenyataan ia gunakan lewat tulisannya dalam Hatta Menjawab. Sebagai pernyataan sikapnya untuk mengkritik gejala glorifikasi dan heroisme peran dari orang-orang yang merasa paling berjasa dalam kemerdekaan. Buku ini utamanya memperjelas peristiwa Rengasdengklok dan Seputar Proklamasi 1945.
Berangkat dari cara mengambil kesimpulan-kesimpulan kepada sesuatu yang terukur dan masuk akal inilah Hatta kemudian dianggap orang tua yang selalu protes.
Ia memprotes cara Soeharto yang menganggap Koperasi bisa dipercepat dengan melibatkan negara sebagai motornya. Bagi Hatta, natur koperasi adalah di sikap individualita, keinginan dari pribadi anggota-anggota itu sendiri utnuk belajar dan menentukan apakah mereka mau maju atau jalan di tempat saja. Melibatkan negara sebagai motor akan membunuh sifat-sifat ini.
Publik kemudian melihat jika koperasi-koperasi yang didirikan dengan pendekatan sentralisme dengan core-core militer (puskopad, puskopal, puskopau, dll..) hanya tumbuh menjadi masalah bagi koperasi itu sendiri. Ini karena inisiatif dari individualita anggota tidak dimungkinkan berkembang dalam sistem yang terhirarki dan terkomando.
Sebelumnya, pada era proyek Mercu Suar Soekarno, Hatta mengkritik Guru Besar Sipil ITB, Prof. Sedyatmo yang mengatakan bahwa Indonesia dapat menjadi hebat dengan menyatukan tiga pulau besar. Proyek yang dikenal dengan Tri Nusa Bimasakti ini nantinya akan menyatukan pulau Sumatera, Jawa, dan Bali melalui sebuah lorong bawah laut atau jembatan.
"...sudah dikhayalkannya saja menyatukan Indonesia dengan teknologi, padahal menyambung jalan-jalan rakyat dari desa-desa ke kecamatan dan kecamatan ke kota-kota agar rakyat dapat menjual hasil bumi saja belum lagi dapat diwujudkan..."
Demikian pandangan kritis Hatta tentang ilusi teknologi dalam pembangunan yang melupakan skala prioritas apa yang paling dibutuhkan untuk mengembangkan rakyat.

...# bersambung

0 comments:

Post a Comment