Tuesday, August 8, 2017

Jebakan Karir Part 1

Jebakan Karir, Part 1
Sekitar setahun yang lalu, salah seorang karyawan terbaik kami minta waktu ketemu dan ingin berbicara secara pribadi. Karena hubungan saya dengannya sangat baik dan komunikasi juga sangat lancar, saya waktu itu tidak berpretensi apa-apa. Saya pikir ini pertemuan biasa saja, karena sebelumnya dia memang sudah sering ngobrol secara personal. Hanya waktu itu ada yang tidak biasa. Biasanya ngobrolnya cukup di kantor saja, tapi waktu itu dia ngajak ketemu di luar kantor sambil makan malam. Yang juga tidak biasa, kali ini dia tidak membawa alternatif solusi atas masalah yang dia hadapi seperti biasanya. Padahal biasanya ketika ngajak ngobrol personal begini karyawan yang satu ini selalu membawa beberapa alternatif solusi atas masalah yang dia hadapi. Dia ini memang tipe karyawan teladan, tipe karyawan yang tidak mau menyulitkan atasannya, karena untuk setiap masalah yang terjadi dia sudah menawarkan alternatif solusi disertai analisa untung rugi dari masing-masing alternatif solusi itu. Sehingga atasan tinggal memilih mana alternatif terbaik menurut pandangan atasan yang lebih memiliki helicopter view.
Tetapi waktu itu situasinya agak lain. Saya sempat mencium gelagat yang tidak beres, karena dia menyampaikan masalah yang pelik tetapi dia tidak menawarkan alternatif solusi seperti biasanya. Dia hanya mengatakan, "Terserah keputusan pak Hari, saya akan ikut apa pun yang pak Hari putuskan". Lah, biasanya kan memang demikian? Selama ini kan memang saya yang selalu mengambil keputusan, dan dia pun selalu menerima apa pun yang saya putuskan. Tetapi alternatif solusinya kan biasanya datang dari dia sendiri, saya tinggal memilih mana keputusan yang terbaik. Tapi kali ini beda. Dia tidak menawarkan alternatif solusi apapun, sehingga saya mesti repot-repot mencari alternatif solusi sendiri. Tetapi karena sudah mencium gelagat yang tidak beres, akhirnya saya tidak menuntutnya untuk mencari alternatif solusi seperti biasanya.
Sekitar 3 minggu yang lalu, dia kembali minta waktu untuk ketemu secara personal. Kali ini kami bertemu di kantor saja. Dan yang mengagetkan, dalam pertemuan itu dia mengatakan sudah tidak sanggup lagi mengerjakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya, dan ingin mengundurkan diri saja. Saya kaget karena saya merasa dia selama ini performanya baik. Malah sangat baik. Setiap tugas yang diberikan kepadanya, selalu bisa diselesaikan dengan baik. Termasuk ketika dia kami tugaskan untuk mengerjakan proyek kami di Eropa. Customer kami di Eropa senang sekali dengan apa yang dikerjakannya. Proyek pengembangan sistem yang sangat kompleks pun bisa dia selesaikan dengan baik, walaupun sempat mengalami krisis yang amat berat. Terakhir, dia saya bawa ke Jerman untuk mempresentasikan hasil karyanya di depan audiens yang mewakili berbagai negara dari seluruh dunia. Dan respon audiens sangat positif. Jadi sangat mengagetkan mengapa dia ingin mengundurkan diri? Apalagi alasannya karena dia merasa sudah tidak sanggup lagi mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya.
Kekagetan saya tidak berhenti di situ saja. Ada yang jauh lebih mengagetkan lagi, karena dia mengatakan bahwa dia sempat berencana mau bunuh diri! Ya, dia bilang sudah sempat terucap rencana bunuh diri ini, tetapi untungnya bisa dicegah oleh istrinya. Hah, bunuh diri? Sejauh itukah? Bukankah selama ini semuanya terlihat baik-baik saja? Tidak ada gejala depresi hebat yang terlihat. Ada apa sebenarnya? (Bersambung)
Salam,
Hari

0 comments:

Post a Comment