Wednesday, August 9, 2017

Jebakan Karir, Part 2

Jebakan Karir, Part 2
Ketika ada dosen SBM ITB ditemukan meninggal bunuh diri di Waduk Cirata, Cianjur, terus terang saya bingung, mengapa ada orang berpendidikan dan hidup mapan tetapi memilih jalan bunuh diri? Tetapi karena saya tidak dekat dengan yang bersangkutan, kebingungan dan kekagetan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam hitungan hari, kebingungan itu hilang ditelan waktu. Tetapi ketika hal itu terjadi dengan salah seorang karyawan terbaik saya, dimana saya sangat intens berkomunikasi dengannya, terus terang kekagetan dan kebingungan itu terus berlangsung dan tidak bisa hilang begitu saja.
Memang, syukur alhamdulillah, bunuh diri itu baru sebatas rencana dan tidak sampai terjadi. Tetapi itu sudah cukup membuat saya kepikiran terus. Apa yang salah dengan perusahaan ini sehingga salah seorang karyawan terbaiknya berpikir untuk bunuh diri?
Beruntung karyawan saya ini orangnya cukup terbuka. Dia menceritakan kepada saya dengan cukup detil masalah yang dihadapinya, dan juga terbuka dengan saran-saran yang saya berikan. Dan dari perbincangan yang kami lakukan, saya menyimpulkan bahwa salah satu akar masalahnya adalah "jebakan karir". Ya, jebakan karir. Tepatnya perkembangan karir yang terlalu cepat bisa menjadi jebakan yang membahayakan.
Karyawan saya ini karirnya memang melesat bak meteor. Dia bergabung di perusahaan kami sebagai seorang fresh graduate. Tapi cara berpikir dan sikapnya dalam bekerja tidak seperti seorang fresh graduate. Cara dia bekerja dan melihat permasalahan tidak seperti layaknya karyawan biasa. Bahkan kalau boleh flash back awal perjalanan karir saya sendiri, saya pun tidak berpikir dan bersikap layaknya karyawan saya ini. Dia bekerja layaknya pemilik perusahaan. Artinya, apapun yang dia lakukan dia dedikasikan secara total untuk perusahaan, seolah-olah ini perusahaan dia sendiri yang harus dia jaga dan rawat sampai titik darah penghabisan. Akibatnya, loyalitas dia pada perusahaan ini tidak perlu diragukan lagi.
Dengan cara berpikir dan bersikap seperti itu, tidak heran kalau prestasinya sangat mencorong. Setiap penugasan yang kami berikan, selalu bisa dia selesaikan dengan sangat baik. Proyek yang sangat rumit pun mampu dia selesaikan walaupun sempat mengalami krisis yang amat hebat akibat orang yang kami tugaskan sebelumnya memutuskan mundur. Dalam membangun tim pun, karyawan satu ini juga luar biasa. Dia bisa membangun tim dari nol, dan yang sangat membanggakan, tim yang dia bangun tidak saja hebat dari sisi kemampuan teknis, tetapi juga dari sikap dalam bekerja. Pokoknya semua yang baik mampu dia tularkan kepada anggota timnya. Loyalitas dan sikap memiliki pada perusahaan juga tertular dengan baik. Sebagai contoh, seluruh anggota timnya selalu memilih moda transportasi paling ekonomis ketika pergi ke customer site, apakah itu KRL, angkot, gojek, atau Uber. Ketika Blue Bird masih menjadi moda transportasi standard perusahaan dan belum diganti dengan Uber pun, anggota timnya dengan kesadaran sendiri memilih moda transportasi yang lebih ekonomis. Dan untuk itu pun mereka tidak pernah terlambat sampai di lokasi proyek.
Dengan segudang prestasi itulah maka kami mempromosikan dia menjadi orang nomor satu di business unit yang baru kami bentuk. Karena kami amat yakin dia bisa mengelola business unit ini dengan baik, tidak hanya dari sisi teknis tetapi juga dari sisi non teknis. Ternyata keputusan ini terlalu cepat bagi dia, sehingga justru menjadi "jebakan karir" yang teramat membebani. (Bersambung)
Salam,
Hari

0 comments:

Post a Comment