Wednesday, August 9, 2017

Jebakan Karir, Part 3

Jebakan Karir, Part 3
Ketika karyawan saya itu bercerita bahwa dia sempat berencana mau bunuh diri, untuk beberapa saat saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya kaget. Saya tercekat. Saya benar-benar tidak menyangka, sehingga tidak sanggup ngomong apa-apa lagi. Sehingga yang bisa saya lakukan hanya mengiyakan saja apa yang dia sampaikan. Termasuk ketika dia bilang mau mengundurkan diri saja dari kantor, supaya bisa terbebas dari beban mental yang membuat dia sangat depresi. Saya langsung mengiyakan keinginan itu kalau memang pengunduran diri itu bisa membebaskannya dari depresi yang berkepanjangan. Saya bilang kepadanya bahwa keselamatan dia jauh lebih penting dari apapun. Jauh lebih penting dari sekedar kepentingan perusahaan.
Tetapi setelah mengiyakan permintaan pengunduran diri itu, saya baru sadar kalau saya sebenarnya belum menggali lebih dalam apa sebenarnya masalah yang membuatnya depresi. Yang mengagetkan, dia depresi berat karena merasa hidupnya tidak berguna. Dia merasa tidak bisa berkontribusi apa-apa terhadap perusahaan yang diamanahkan kepadanya. Perasaan tidak berguna ini begitu kuat menghantuinya. Dia merasa, karena ketidakmampuannyalah yang membuat unit bisnis yang dia kelola mengalami kesulitan cash flow yang cukup serius.
Sekali lagi saya terkejut mendengar penjelasan yang tidak pernah saya duga ini. Bagi saya, performance dia selama ini sebenarnya sangat bagus. Mengenai keluhan dia yang merasa tidak bisa berjualan, itu memang kemampuan yang masih perlu diasah lagi. Saya yakin potensi itu ada, hanya memang butuh jam terbang. Tetapi dia tetap menolak. Dia merasa sudah mentok dan ingin mengundurkan diri saja.
Saya persilakan dia mengundurkan diri, tapi sebelum itu saya minta dia ikut tes talent mapping sekali lagi. Saya ingin dia memiliki gambaran yang tepat tentang potensi yang ada dalam dirinya. Ternyata dugaan saya benar. Hasil test talent mappingnya menunjukkan potensi itu ada, hanya yang bersangkutan memang merasa tidak pede dengan kemampuannya sendiri.
Setelah konsultasi intensif dengan Abah Rama, akhirnya yang bersangkutan dapat diyakinkan dengan potensi dirinya, dan membatalkan rencana pengunduran dirinya. Alhamdulillah.
Dari kejadian itu, Abah Rama mewanti-wanti kepada saya untuk memberikan bekal yang cukup bagi karyawan sebelum memberinya penugasan yang di luar kapasitasnya. Karena dampaknya bisa sangat serius. Yang juga saya pelajari, bahwa respon seseorang dalam menghadapi sebuah kegagalan ternyata berbeda-beda. Konon penyebabnya bisa bermacam-macam, bahkan ada yang sifatnya genetik! Hal seperti inilah yang perlu dipertimbangkan secara masak-masak sebelum memberikan penugasan kepada seorang karyawan, sekalipun itu kepada karyawan terbaik Anda.
Sungguh, ini sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya, yang terus terang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Semoga kejadian seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Sampai kapan pun. (Selesai)
Salam,
Hari

0 comments:

Post a Comment