Saturday, August 19, 2017

Kenapa para nabi diberi tugas menjegal adikuasa dunia pada zamannya?

Baik sejarah dalam kitab suci maupun ilmu kekinian mendukung pertanyaan tadi. Nuh harus dikucilkan oleh kampanye hitam, Ibrahim melawan Namrud, Musa berhadapan dengan Firaun, Isa diburu Romawi, dan Kanjeng Nabi Muhammad ditentang pembesar Mekah. Nabi terakhir ini bahkan mengajak damai pada penguasa dunia kala itu, Persia dan Romawi. Keduanya harus ditaklukkan dengan jalan pedang usai sang nabi wafat untuk selamanya.
Nabi Nuh mengawali dakwah ratusan tahunnya dengan keluarga dahulu. Tak ada yang sudi kecuali keluarga jauh. Nama baik beliau selaku keturunan baik difitnah di sana-sini. Padahal yang beliau ajak pada masyarakat adalah hal baik. Termasuk peringatannya akan kedatangan banjir dahsyat tak digubris. Nabi Nuh seolah hanya diberi tugas khusus untuk bertahan hidup. Mengajak pun supaya masuk ke kapal.
Lain dengan Nabi Ibrahim yang merupakan anak pemahat berhala terbaik seantero negeri Babilon. Ia justru melawan melalui keahlian yang paling dikuasainya itu, mengayunkan kapak. Hingga sang paman selaku ayah angkat sedari kecil menyayangkan kemampuan sang keponakan sebab terbuang percuma. Kerajaan terbesar era kuno dengan tingkat pengetahuan tinggi itu sangat mengagungkan nalar. Hal yang kemudian dipakai sang nabi kala ia memutuskan untuk menghancurkan kuil berisi patung-patung terbaik sekerajaan. Jawabannya yang menunjuk kapak tengah berada di tangan patung terbesar menjungkirbalikkan logika.
Musa pun menjalani hal serupa. Ia seperti menusuk dari belakang. Ia seharusnya mati oleh kebijakan paranoid Firaun tapi justru diselamatkan dan dilindungi oleh sisi kemanusiaan sang Firaun. Ketika kelak Musa membangkang pada ayah angkatnya menggunakan bekal pengetahuan-pengalaman yang diajarkan oleh guru-guru terbaik dunia, hanya Ramses II yang juga saudara angkat yang bisa mengimbangi. Bahkan konon Firaun sang pembunuh bayi laki-laki cenderung memilih Musa untuk menjadi pewaris tahta.
Isa tak kalah ngeri-ngeri sedap laku hidupnya. Bayangkan saja, cucu Nabi Zakaria ini sudah diuji sedari dalam kandungan ibunya. Kelahirannya membuat geger tanah suci pertama umat Islam. Gusti Allah sendiri yang turun tangan untuk membela kesayangannya itu dengan membuat si bayi bisa berbicara di hadapan penduduk Yerusalem. Kehebohan kelahiran sang pejalan malam itu pun terdengar sampai negeri Persia yang kala itu masih menyembah api.
Ketika ia beranjak belia, ditinggalkannya semua kenikmatan dunia. Bajunya adalah yang berbahan paling kasar meski ia adalah keturunan mulia dan diagungkan penduduk kota. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad menyatakan bahwa ia tak bisa menyaingi putra Mariam dalam hal kesederhanaan hidup. Sang nabi terakhir itu menyebut bahwa harta Nabi Isa hanyalah sebuah sisir, sandal, dan gayung. Itupun akhirnya diserahkan kepada yang membutuhkan. Manusia moderen akan menganggap sosok yang kematiannya kontroversial ini seperti orang gila jika melihat penampilannya.
Justru itulah yang membuat Romawi kebakaran jenggot. Kemampuan di luar nalar dan hukum alam sang nabi mampu membuat simpati dan empati dengan mudah mengalir. Meski saat itu murid-muridnya hanya sedikit, itupun banyak yang buta huruf dan memiliki banyak kekurangan. Tetap saja beliau dianggap sebagai musuh terbesar kerajaan Romawi. Mungkin salahsatu berkah kelapangan hatinya menampung derita dari lawannya itu berbuah manis saat justru Romawi menjadi penyebar ajaran Nasrani ke seluruh dunia dan kini menjadi pusat agama tersebut.
Berlanjut ke Nabi Muhammad sang pedagang yang jujur. Ia diterima apa adanya di Kota Mekah sebab garis keturunannya dan akhlak yang dimiliki. Hanya saja saat masuk usia kepala empat, ia membuat geger jazirah Arab. Ajakannya meninggalkan tradisi yang membawa keburukan ditentang habis-habisan. Tindakan bar-bar seperti mengubur hidup-hidup bayi perempuan hingga perbudakan pun mendapat imbasnya.
Jika Nabi Nuh memilih langsung ke bertahan hidup, Nabi Ibrahim meluruskan sebisanya lantas melarikan diri untuk selamatkan nyawa, Nabi Musa pun mengikuti langkah Nabi Ibrahim dengan dipungkasi hijrah kembali ke negeri asalnya, Nabi Isa justru tidak melawan sedikitpun dan malah melakukan perlawanan pada diri sendiri. Adapun Kanjeng Nabi Muhammad melakukan semua taktik tadi, beliau bertahan hidup dengan mengirim pengungsi ke Kerajaan Etiopia yang dipimpin Raja Nasrani, dan kemudian hijrah ke Madinah. Ketika di Mekah pun ia melakukan perlawanan saat deklarasi dakwah terbuka dengan long-march keliling kota dihajar dengan pukulan, tendangan, lemparan batu, dan tentu saja, cacian.
Beliau tak melawan dengan jalan kekerasan melainkan dengan kelapangan hati. Termasuk saat di Thaif, beliau justru mendoakan kebaikan pada musuhnya. Berbuah manis ketika salahsatu anak Thaif kelak tinggal di masjid hanya untuk mencatat tiap perkataan sang nabi. Inilah jalan Ibrahim. Meski kemudian kaum tertindas ini melarikan ke Madinah untuk selamatkan diri dan bangun kekuatan. Cara-cara masuk akal pun ditempuh ketika menandatangani berbagai perjanjian dengan Kubu Mekah. Walaupun sepintas tak menguntungkan, ternyata justru berbuah banyak kebaikan. Inilah langkah Nabi Musa, mengamati ancaman dan peluang untuk menambal sulamnya dengan kekuatan dan kelemahan.
Adapun cara Nabi Isa beliau terapkan dengan elegan saat di Madinah. Di sanalah akhlak beliau makin memancar. Selaku pemimpin umat Islam, beliau justru bergaya hidup laiknya orang termiskin di kota. Bajunya banyak tambalan, tidurnya di atas tikar kasar, sering berpuasa berhari-hari dengan buka hanya seteguk air sebab apapun yang dimiliki langsung disedekahkan begitu ada peminta-minta. Jika Nabi Isa memilih tak punya tempat tinggal sebab menjadi pejalan, Kanjeng Nabi tetap beratap meski seadanya. Sebuah teladan yang kemudian hari ditiru setidaknya oleh empat pemimpin Islam setelah wafatnya beliau.
Para nabi di atas tetap mengutamakan bertahan hidup bagi diri maupun kaumnya. Sebab percuma berkeraskepala jika akhirnya ajaran kebaikan yang dibawa kandas di tengah jalan. Wajarlah jika Kanjeng Nabi menyatakan bahwa kemanusiaan adalah inti segala agama. Itulah yang melatari beliau tak memaksa siapapun untuk melaksanakan ajaran agama jika belum siap. Tentu kesadaran yang lahir dari olah pikir, rasa, maupun laku seseorang akan lebih awet dalam pelaksanaannya.
Keberlanjutan adalah nyawa pergerakan.
Sebegitu pentingnya keberlanjutan ini, berbagai agama kemudian menyelenggarakan lembaga pendidikan bagi generasi penerus. Abad ke-7, saat Budha mencapai puncak kejayaannya di Kerajaan Sriwijaya, pusat pendidikan terbesar di dunia pun hadir di Pulau Emas itu. Berlanjut hingga di sekitar Borobudur yang menandai begitu rapinya tata kelola masyarakat di Nusantara kala itu. Jika dibandingkan dengan Jazirah Arab di mana Kanjeng Nabi baru diturunkan di sana dan memulai revolusi ekonomi, sosial, politik dan budaya secara besar-besaran. Barulah pada abad 14 saat Islam mulai menjadi mayoritas di seantero Nusantara, pesantren hadir mengadaptasi sistem pengajaran agama Hindhu dengan murid yang disebut cantrik, dan pesantren dipanggil santri.
Dalam sejarah usai kemerdekaan pun terlihat saat putra Mbah Hasyim Asy’ari sang pendiri NU mendirikan sekolah ketika kemerdekaan berkah perjuangan angkatan Mbah Hasyim tercapai. Begitu juga dengan Muhammadiyah dan berbagai ormas berlandaskan agama saat itu. Menggelar pendidikan adalah cara tepat menjaga keberlangsungan perlawanan. Hanya saja yang dilawan bukan lagi musuh yang memegang senjata melainkan racun kebodohan yang seringkali justru muncul dari dalam diri sendiri.
Maka, akan sangat disayangkan jika sebuah proses panjang melawan kesewenang-wenangan yang telah berjalan ribuan tahun musnah hanya karena kurang sabar dalam melakukan pergerakan. Apalagi jika semata mengandalkan aji mumpung tanpa memperhitungkan berbagai faktor yang seringkali tumpang tindih satu sama lain. Bak mengurai benang kusut, harus hati-hati agar tak menggunting dalam lipatan. Setidaknya meski seperti mencari jarum di tumpukan jerami pun harus sabar mengendalikan diri. Bukankah para nabi pun melakukan hal mustahil dengan penuh sabar dan perhitungan?" papar Kang Sabar panjang lebar di depan forum penjaga gerbang.
Ihda HS

0 comments:

Post a Comment