Monday, August 28, 2017

Komunitas Pascakebenaran

Tema post-truth (pascakebenaran) yang ditautkan tuan Dudi Iskandar untuk menerangkan gejala masyarakat hari ini sebenarnya bertautan dengan persoalan estetika dalam wacana pascamodern.
Istilah post-truth kembali diangkat setelah Oxford Dictionary memilih kata ini sebagai The Word of the Year. Popularitas kata ini meledak selama kampanye penentuan pendapat Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) dan mencapai puncaknya dalam sesi debat pilpres AS antara Hillary Clinton dan Donald Trumps.
Trumps, yang dalam banyak kesempatannya sering melontarkan sentilan dan argumen-argumen nyeleneh dianggap mewakili apa yang disebut James Lyotard dengan metta-recites. Ia dengan potongan rambut lucu, gaya bicara ceplas-ceplos, susunan argumentasi yang tidak layak telah memanfaatkan kelemahan narasi yang disusun tim kampanye Hillary. Trump menciptakan permainan kata seputar narasi tim lawan dan kemudian membentuknya sebagai sebuah meta-narasi versi dirinya.
Pada sesi debat pertama, Hilary menyusun konklusi di akhir bagiannya:
"It is...it is awfully good someone with the temperamental like Donald Trump are not in charge at the law of our country".
Hillary berkata dan langsung disambut Trump dengan sentilan telak.
"....because you would have be in jail"
Di sesi lain, Trump menyentil Hillary dan Obama yang menciptakan ISIS dan menciptakan distabilitas di Timur Tengah.
"Sepertinya sampai nanti sore saiya akan terus dipersalahkan untuk segala hal" Hillary tersenyum yang langsung disentil Trump sekali lagi dengan kalimat singkat tetapi padat.
"Kenapa enggak"
Hadirin senang dengan cara Trump memainkan perannya dalam sesi debat. Ini karena publik AS telah menerima dalam alam pikirannya baik Trump maupun Hillary adalah sama-sama pembohong. Persoalannya pembohong mana yang lebih cerdas memainkan emosi publik ketimbang logikanya. Dan Trum dengan cerdas memainkan recite (perulangan) emosi ini dengan sangat baik untuk menangkis argumen yang dipaparkan panjang lebar oleh lawan bicara. Di sini kembali kepada Lyotard apa yang dimaksud dengan diskursus sejatinya tidak pernah melibatkan kaidah logika untuk menggiring nalar publik dalam menerima kebenaran. Ia membangun sendiri pondasi logikanya yaitu kepada narasi-narasi.
Trump kemudian dianggap sukses memunculkan pemilih AS menjadi dua kelompok besar saja; pro kontra, lover dan haters. Yang kemudian ia memang memenangkan pilpres AS dengan suara popular terbanyak dibanding Hillary.
Profliferasi dari permainan kata seperti ini sebenarnya telah menjadi perhatian lama para penulis post-modernisme. Satu gejala di masyarakat dimana sudut pandang tidak lagi selalu dirujukkan (karena rujukan atau referensi dianggap sebagai narasi yang penuh kepentingan) kepada sekumpulan tata nilai, kode etik, kode perilaku atau kaidah logika, melainkan diresonansikan dengan nilai-nilai lain seperti; kebebasan, rasa kelompok, sentimen identitas, dan parahnya sekedar bentuk penolakan (rejection) terhadap pendapat yang lain. Persoalan pembuktian kebenaran bukan lagi sekedar persoalan bagaimana membangun logika dan memelihara nalar publik, tokh dalam kenyataannya orang secara emosional lebih bersedia mati untuk mengantri diskon 90% sepatu Nike daripada datang pagi-pagi ke kotak suara.
Di sini kemudian logika untuk mencari hakikat kebenaran tidak lagi dimanfaatkan sebagaimana Heideger (Being and Time) menyebutnya dengan proses perusakan sejarah ontologi.
Masyarakat era kekinian adalah masyarakat yang ditandai dengan perilaku membangkang, berpikir yang superfisial, memajukan lebih dulu sentimen emosi ketimbang nalar dan berpendapat dengan narasi ketimbang argumentasi.
Gejala inilah yang kita lihat pada hari ini berlaku pula dalam masyarakat kita. Persoalan penipuan agen perjalanan First Travel kepada nasabanya yang kemudian dilarikan kepada persoalan agama pemiliknya. Yang lalu agama pemiliknya ini dihubung-hubungkan dengan aksi demonstrasi damai umat Islam 411, 212, dst.. Selanjutnya ditutup dengan epilog bijaksana; "Ahok kafir mengumrohkan umat Islam, Pasutri FT muslim menipu umat Islam."
Narasi ini sebenarnya kehilangan akar referensinya dari sudut manapun, tetapi karena dasar dari masyarakat pasca-kebenaran bukanlah membuka tabir persoalan -misal mengapa FT itu dapat melakukan penipuan dengan leluasa dan dimana peran pemerintah sebagai pengawas atau bagaimana kerugian masif konsumen itu dapat diselesaikan dengan baik- namun seluar mungkin membangun orkestra kegaduhan maka hal-hal tadi memang tidak akan masuk hitungan.
Begitu pula dalam sikap afirmasinya. Mana kala kasus penipuan korupsi dilakukan seorang Dirjen Hubungan Laut dan ia mengatakan dengan jelas bahwa sebagian uangnya disumbangkan bagi kepentingan rumah ibadah maka sebagian publik yang telah menanamkan narasi untuk mengait-kaitkan persoalan FT sebagai persoalan agama sama sekali tidak melakukan afirmasi kepada kasus pertama.
Di sinilah kemudian kebenaran, tidak lagi menjadi kebenaran karena pertama ia telah kehilangan scientia atau kebijakansanaannya. Problem menjadi (being) sejalan dengan waktu, seperti dituliskan Heideger bukanlah lagi persoalan perenungan ontologis ke dalam, tetapi telah menjadi sebuah ekpresi-ekpresi yang meletup keluar. Jadi jika kita meminjam adagium Rene Descartes, maka masyarakat hari ini adalah masyarakat yang senang berkata: "Gue berbeda asal gue eksis" .
Kedua bahwa masyarakat post-truth itu telah kehilangan kebenaran sebagai sekumpulan acuan atau refensi. Ia kehilangan apa yang disebut scriptum, kitab suci, orang suci, orang bijak, orang pintar yang sebaiknya dijadikan pegangan dalam pengambilan kebijakan. Semejak setiap orang meletakkan pondasi kebenaran dalam narasi-narasinya sendiri maka para orang suci dan kitab suci itu pun disedot masuk kedalam narasi untuk membenar-benarkan.
Ketiga, gejala dari masyarakat post-truth adalah kecenderungan untuk membenarkan pendapatnya kepada pendapat kelompok-kelompoknya masing-masing saja. Ini menjelaskan mengapa dalam sebuah diskusi atau komentar-komentar dalam sosial media, seseorang akan merasa nyaman dan terwakili bila dan hanya bila pernyataan, pendapat, opini, dan alasan orang lain sejalan dengan yang ada pada dirinya atau kelompoknya. Perilaku ini yang ditulis Popper sebagai gejala mencari kemiripan dengan kebenaran (versimilitude). Meskipun itu bukan kebenaran yang dimaksudkan.

0 comments:

Post a Comment