Wednesday, August 2, 2017

Mengembalikan masalah ke nalarnya

Terkait haji, calon haji, dana haji, ongkos haji, dan waktu antrian haji yang muncul menjadi masalah maka sebaiknya kita kembalikan kepada nalarnya.
0/1
Pertama, bahwa berhaji adalah salah satu bagian dari posesi keimanan (dalam madzab Suni) yang masuk di rukun ke lima.
Ia diwajibkan bagi mereka yang dikategorikan sebagai "mampu". Apa definisi dan batasan mampu di sini maka banyak pendapat ulama.
Sebagian yang lainnya mengatakan bahwa berhaji adalah wajib hukumnya bagi semua muslim. Dimana untuk ini ada argumen bagi umat islam yang udzur maupun telah mati untuk diberikan penyelenggaraan hajinya oleh ahli waris, muhrim, atau mereka yang ditunjuk sebagai perwakilannya.
0/2
Kedua, sebab berhaji adalah perintah dari Tuhan kepada manusia maka bagi kaum berman (the believers) dalam hal ini kaum muslim, maka ada keyakinan bahwa perintah tadi mesti mengandung kebaikan dan kemudahan.
Tidak ada satu pun perintah Tuhan yang selama ini kita yakini akan membuat umat-nya menjadi susah dan terkendala. Ambil contoh perintah puasa ramadhan satu bulan yang sama sekali tidak membuat manusia menjadi miskin atau mati kelaparan. Bahkan secara medik dan saintis, hampir seluruh dokter menganjurkan berpuasa sebagai salah satu bagian dari pengobatan dan langkah penyembuhan.
0/3
Ketiga, bahwa dalam setiap perintah Tuhan mesti ia bersifat kondisional dalam praktiknya. Misal diwajibkan berhaji, tetapi berhaji tidak dapat dilakukan setiap waktu. Shalat magrib misalnya hanya dilakukan setelah magrib, dan tidak dapat dilakukan di waktu siang. Aturannya dzakat (misalnya) 2,5 persen dari penghasilan maka ia tidak dapat dibayarkan 50 persen meskipun si pembayar mau dan mampu. Begitu pula puasa ramadhan yang hanya dapat dilakukan di bulan ramadhan.
Ini artinya, perintah Tuhan mesti sudah mempertimbangkan aspek-aspek konseptualisasi dan praktikal dari manusia. Baik itu dimensi waktu, tempat, quiditas, kualitas dan kuantitas.
Singkatnya ia memenuhi semua aspek dimensional yang dikondisikan oleh manusia sebagai makhluk terbatas.
0/4
Keempat, sehingga karena perintah tadi kita yakini berasal dari Tuhan yang maha mengetahui, maha benar, dan maha pemurah maka persoalan haji mesti mengandung kemurahan-kemurahan dan kemudahan-kemudahan.
0/5
Kelima, persoalan-persoalan yang kemudian muncul seputar persoalan haji, dari organisasi, manajemen, pengelolaan keuangan, tempat, dan lain-lain, mestilah persoalan yang terjadi karena tindakan manusia.
Misalnya alasan Saudi Arabia dan beberapa negara islam yang mengatakan bahwa pemberian quota bagi calon haji adalah cara yang paling tepat untuk menghindari penuhnya padang arafah dan terjadinya kekacauan dalam posesi Wukuf, Jumroh, maupun Sai. Maka ini adalah hal-hal yang dikarang-karang saja.
Mempercayai sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan itu telah salah menempatkan arafah di semenanjung arab, karena mungkin jika di Gurun Sahara akan lebih banyak jamaah yang dapat ditampung.
Argumen ini tentu saja seolah-olah melecehkan pengetahuan Tuhan atas perintahNya. (Andi H)

0 comments:

Post a Comment