Saturday, August 12, 2017

Mr R sharing bagaimana ia masuk Islam

Pengajian bulanan kota kami tidak diisi ceramah ustadz (karena memang tidak ada ustadz), melainkan sharing sesama warga pengajian. Untuk bulan Agustus ini giliran Mr R sharing pengalamannya berislam.
Mr R sharing bagaimana ia masuk Islam, apa persamaan dan perbedaan yang ia rasakan antara agama dia sebelumnya dengan Islam, lalu bagaimana reaksi lingkungan setelah ia masuk Islam. Berikut rangkumannya yang saya ingat, versi saya tentunya:)
"Saya masuk Islam setelah mengenal my wonderful wife", ia membuka sharingnya. Beberapa bulan pertama dia merasa biasa saja. Beragama bukanlah hal yang baru baginya. Dalam Islam Tuhan itu satu, begitu juga dalam Katolik, agama dia sebelumnya. Tapi setelah Ibu mertuanya meninggal sesaat sebelum pernikahannya dengan sang istri, baru ia merasakan sesuatu yang lain. Selama 'prosesi' kematian tersebut berlangsung, dia di rumah mertua. Ia menyaksikan semua detil acaranya. Saat orang-orang datang berkumpul, mengaji, prosesi pemakaman yang jauh dst, mengungkap padanya bahwa Islam adalah agama yang sifatnya 'publik'. Banyak keterlibatan orang lainya. Ini sangat berbeda dengan pandangan Katolik Eropa yang menganggap agama adalah hal pribadi. Orang tidak menunjukkan ke umum kalau dia agamanya Katolik. Beda dengan Islam, dengan pemakaian jilbab misalnya. Agama benar-benar urusan masing-masing kalau dalam Katolik Eropa yang dia pahami. Tapi dari pengalamannya saat kematian Ibu mertuanya itu, tidak begitu dalam Islam. Yang terlihat justru banyak sekali keterlibatan orang banyak.
Hal lain yang ia rasakan: Islam banyak sekali praktek dan ritualnya. Dalam katolik Eropa yang dipahaminya, satu2nya pesan praktek yang ditekankan adalah budi pekerti. Kalau kamu berbudi pekerti yang baik, beres. Ada hal-hal lain seperti 10 aturan seperti dalam Taurat, dst. Tapi tidak dipraktekkan sehari-hari. Beda sekali dengan Islam. Banyak sekali praktek ritualnya. Sholat, wudhu, dan banyak lagi.
"Ini perbedaan yang saya rasakan. Saya berusaha menjalankannya, meski tak selalu memungkinkan. Tapi saya jauh lebih banyak ke masjid selama beberapa tahun saya masuk Islam daripada jumlah saya ke gereja selama lebih dari 30 tahun (35?) saya Katolik.", urainya.
Lalu, menurut dia, dari pengamatannya praktek keIslaman sangat kental pengaruh kulturnya. Akan berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Dia mencontohkan kejadian yang dia alami. Seorang keponakan istrinya yang tinggal di Aljazair berkunjung ke Jerman. Ketika tiba saat sholat Jum'at si anak bersiap menggunakan kaftan. Mr. R meminta anak itu ganti baju tapi anak itu berkeras bahwa kaftan lah pakaian wajib sholat Jum'at.
"Dari mana aturannya sholat Jum'at harus pakai kaftan? Anak itu tampaknya menyimpulkan saja dari pengamatannya akan lingkungannya. Di Aljazair ketika Jum'atan semua memakai kaftan, maka dia menyimpulkan: aha, tiap Jum'atan semua memakan kaftan, maka kaftan adalah pakaian wajib saat Jum'atan.", demikian urainya.
"Begitu juga ketika melihat saya memakai batik bermotif burung. Di Aljazair haram hukumnya.", lanjutnya lagi.
Poin lain yang disharingnya adalah tentang kitab suci. Menurutnya karena jarak antara kehadiran Nabi Isa dengan disusunnya injil terjeda waktu yang cukup panjang, maka kemungkinan adanya berbagai tafsir selama masa itu, lebih besar. Mirip dengan hadits dalam Islam yang terpisah ratusan tahun antara wafatnya Rasulullah dengan masa dibukukannya.
Islam baginya tidaklah benar-benar asing. Ia pertama mengenal Islam saat sekolah. Dari pelajaran agama tepatnya. Di situ dibahas agama-agama samawi, dan Islam salah satunya. Tapi yang dibahas hanyalah garis beras saja. Jalan lain yang membuatnya mengenal detil2 Islam. Yaitu lewat idolanya. Ia mengidolakan salah satu jurnalis yang bertugas di timur tengah. Dengan mengikuti tulisan-tulisan jurnalis tersebut tentang timur tengah, ia jadi tau hal-hal detil tentang Islam. Sekolah-sekolah hukum Islam juga ia kenal dari sana. Bahwa dalam Islam ada sunni, syiah, dst saya juga sudah tau sebelum saya masuk Islam.
Di Katolik ada Paus yang merupakan wakil Tuhan di bumi. Jadi, Paus bisa memutuskan sesuatu yang harus diikuti seluruh umatnya. Islam tidak ada.
"Orang tua saya punya anjing. Dan entah kenapa, anjing itu senang sekali dengan istri saya. Tiap kami datang ke rumah orang tua saya, anjing itu akan mengacuhkan saya dan mencari istri saya. Istri saya mengatakan kalau tangan dijilat anjing, maka harus dibasuh dengan air 7 kali dengan salah satunya dengan tanah. Saya langsung berpikir, kenapa harus dengan tanah. Maka saya mencari tau. Ternyata ada beberapa pendapat tentang ini. Di Katolik hal seperti ini bisa diputuskan Paus. Dan itu berlaku untuk semua. Dalam Islam tidak ada hal ini. Pada akhirnya, keputusannya masing-masing.
Seorang warga bertanya,"jadi menurutmu itu bagaimana?"
"Di satu sisi dengan adanya satu keputusan dari Paus, jadi lebih jelas dan mudah bagi umat. Di sisi lain, ketidak adaan wakil Tuhan di bumi, bagi saya menunjukkan Tuhan ingin mengatakan bahwa agama adalah pencarian masing-masing diri. Dan kenyataannya poin inilah yang bagi saya paling mempengaruhi keyakinan saya pada Islam: Agama adalah pencarian masing-masing diri.", urainya.
Lalu bagaimana reaksi sekitar ketika ia masuk Islam?
"Saya tidak mengumumkan woro-woro hey saya sudah masuk Islam loh?. Nggak gitu. Tapi pelan-pelan orang tau sendiri. Saya tidak minum, lalu melihat makanan saya, dst", kisahnya.
"Keluarga saya termasuk orang yang berpendidikan. Bagi mereka agama urusan pribadi. Mereka juga cukup punya informasi tentang Islam. Jadi mereka tidak masalah. Satu2nya keluarga saya yang kaget adalah Gro├čTante (saudara Nenek/Kakek) saya. Yang lain tidak ada masalah."
Seorang warga bertanya,"bagaimana pandanganmu tentang jilbab? Istrimu kan juga berjilbab"
Jawabnya,"bagi saya itu keputusan pribadi istri saya. Saya tanya sih, kenapa dia kemudian memutuskan memakai jilbab. Orang tua saya juga tidak masalah. Mereka hanya khawatir kalau nanti istri saya susah dapat kerja dan hal-hal seperti itu."
Demikian yang aku ingat. Udah beberapa hari lewat, mulai siwer yang diinget hahaha
Sesi sharing yang menarik. Cara membawakannya juga 'Jerman banget'.
Menurut Masha, inilah satu2nya sharing session, sofar, yang tidak membuat dia ngantuk ´. Ooops
Ya iyalah ya, hasil 'satu mesin' yang sama:)
Poin.poinnya jelas, alurnya jelas, bahasanya efektif dan efisien. Jokenya ada tapi tidak lebay. Tidak membahas hal yang sama berulang2.
"Ya, seperti kalau Asha biasa presentasi.", kata Masha.
Halah...ge er pisaaan hihihi
Danke dah, Om B yang sudah sharing:)
(Ellyza DS)

0 comments:

Post a Comment