Sunday, August 20, 2017

Orang merdeka adalah ia yang mampu menjadi kuburannya rahasia-rahasia

Orang merdeka adalah ia yang mampu menjadi kuburannya rahasia-rahasia. Begitulah yang tertuang dalam Kitab Hikam karangan Syaikh Ibn Athaillah. Arti sederhananya yaitu tidak gampang bicarakan yang ada di pikirannya. Begitu perhitungan sebelum melakukan apapun, termasuk dalam bentuk lisan maupun lisan. Ia tak sembrono, tahu empan, papan, dan adepan. Luwes sesuai kebutuhan.
Apakah sekarang ini saya merdeka dalam artian di atas? Kadang iya, seringnya tidak. Mulut masih sering ceritakan keburukan pemerintahan negara sendiri pada kawan-kawan di luar negeri, padahal sudah jelas posisi mereka sebagai mata dan telinga lembaga dunia. Bak menelanjangi ibu pertiwi di hadapan hidung belang. Skala terkecil saja, keceplosan ungkapkan cela lingkungan sekitar dalam bentuk keluhan, masih terjadi. Termasuk dalam ketukan di layar Zenfone atau keyboard ROG, berdalih mengkritisi walaupun dilandasi benci dan sakit hati. Belum, saya belum merdeka sepenuhnya. Masih merdeka kambuhan.
Apakah perkembangan teknologi yang sedemikian dahsyat memerdekakan penggunanya? Tidak tentu. Masih menurut definisi di atas, justru pengungkapan rahasia dilakukan secara brutal, berpesta pora santap bangkai sesama saudara sebangsa, termasuk yang seagama. Media sosial yang berpotensi jadi penggerak perubahan justru jadi ajang perundungan, pemfitnahan, bak lempar tai tanpa sembunyikan tangan. Seisi jagad maya seolah tak malu mempertontonkan kedunguannya, membagi tanpa klarifikasi. Parahnya, tiap pembagi informasi merasa benar sendiri.
Lantas, bagaimana cara menjadi kuburannya rahasia? Ikuti teladan Kanjeng Nabi. Mulai dari bicaralah yang baik atau diam, hingga peringatan Gusti Allah dalam Quran sesepele ekspresi wajah saja kelak dipertanggungjawabkan di akhirat. Jika saya atheis bagaimana? Masa iya tak punya standar jika sakiti liyan adalah perbuatan buruk. Mbah Nun sering sesumbar tanpa agama pun manusia bisa baik asal patuh pada hati nurani kemanusiaannya. Masalahnya, bukankah televisi dan internet telah menjejalkan standar baru juga? Baik dicap buruk, buruk dianggap baik. Anak pesantren dikucilkan, anak jalanan justru dibanggakan. Edan.
Nah, mau lanjut kok bibirku kriting. Sudah dulu ya." ucap Kang Sabar pada Kang Kuat di teras.

0 comments:

Post a Comment