Tuesday, August 15, 2017

Qadha dan Qadr

Semua orang paham enam pilar iman. Atau, rukun iman. Iman kepada Allah, iman kepada para malaikat Allah, iman kepada kitab Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada para utusan Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadha dan qadr.
'Qadha' artinya ketetapan Allah, dan 'qadr' artinya kadar dari ketetapan tersebut.
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr (ukuran)" (QS Al-Qamar [54]: 49)
Takdir, sedikit berbeda. Takdir adalah jatuhnya, atau terjadinya, ketetapan Allah dengan kadarnya (qadha bi qadr) tersebut.
Konon katanya, tanpa keimanan kepada enam hal itu, statusnya sebagai muslim 'nggak sah'.
Did you know, yang kita kira paling gampang, yaitu iman kepada qadha dan qadr tadi, justru keimanan yang paling susah? Iman kepada ketetapan Allah dan kadar ketetapan tersebut, itu sungguh-sungguh tidak mudah memahaminya. Itulah sebabnya, muslim yang sungguh-sungguh beriman kepada qadha dan qadr ini relatif sedikit.
Iman kepada qadha dan qadr, itu implikasinya adalah, misalnya, bahwa kita iman sepenuhnya kalau kita yang nggak ganteng dan nggak cantik, dengan kadar tinggiitas (tinggi badan sekian) dan mancungitas (kemancungan hidung) sekian, itu adalah murni kebaikan Allah untuk kita, dan telah dihitung dan dikadar-Nya dengan sangat cermat bahkan sejak sebelum alam semesta ada.
Sebagian besar manusia malah menggerutu sejak bangun tidur sampai pergi tidur. Ngaca, dan melihat saya kok nggak cantik. Mengeluh. Mandi, mengeluh karena harus kerja. Di kantor, mengeluh karena kerjaan. Pulang, mengeluh karena macet. Tidur pun mengeluh karena lelah. Ia kecewa dengan ketetapan yang harus dilaluinya hari itu. Lalu, ia menyalahkan dirinya, orang tuanya, keadaan, kondisi, negara, yang 'gara-gara itu' saya jadi begini.
Begitulah hidupnya: ia menjalani setiap hari dengan keluhan. Sampai mati.
Jangan bicara 'iman terhadap qadha' dulu. Sebagian besar kita bersikap seakan-akan ketetapan dan kadar Allah yang Dia turunkan pada kita setiap saat, adalah salah. 'Harusnya nggak gitu'.
Makanya, kata Guru saya, mengeluh, meskipun dalam hati, urusannya akidah. Dengan Allah langsung. Itu sikap seakan-akan Allah salah ngasih. Dia keliru. 'Pelayanan-Nya' terhadap kita nggak bagus.
Guru saya selalu bilang, kalau dosa lainnya, Beliau bisa mendoakan, memohonkan ampunan. Tapi kalau dosa mengeluh, walaupun dalam hati, Beliau nggak bisa.
Bukan berarti kita harus pasrah dengan keadaan, atau membiarkan diri terbawa arus kehidupan tanpa usaha. Bukan gitu. Berusaha pindah ke takdir lain, adalah persoalan lain. Tapi akidah awalnya, terima dulu bahwa itulah qadha Allah. Dan dalam qadr dari-Nya.
Jangan bersikap seakan-akan apa yang terjadi adalah kesalahan, dan di luar pengetahuan-Nya. Seakan-akan apa yang terjadi adalah 'gara-gara si anu'. 'Si anu' itu adalah jalan kejadian ketetapan-Nya saja.
Kalau kita sudah mengerti bahwa apapun yang kita alami adalah di bawah qadha dan qadr dari-Nya, dan --demi kebaikan kita sendiri-- (*) baru kita akan sujud. Dan setelah itu, untuk minta dipindahkan ke qadha dan qadr yang 'lebih enak' pun, kita sujud lagi. Kita minta. Baru kita akan lihat bahwa Dia sungguh-sungguh turun dan berperan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kalau kita nggak pernah menyaksikan bahwa Dia ada dan mengabulkan doa persis sebagaimana yang kita minta, gimana cara mengimani-Nya? Rukun iman pertama, btw.
Dia ada. Hadir. Bukan sekedar konsep yang jauh tenggelam di dalam kitab-kitab suci, yang nggak terjangkau. Setidaknya, kita akan berhenti mengeluh, dan mulai berdoa sungguh-sungguh.
Sekedar sharing singkat atas apa yang saya pahami melalui pengajaran guru-guru saya.
(*) ini panjang banget pembahasannya, jadi jangan nanya persoalan takdir, hehehe. Gak akan bisa dibahas di FB. (Herry M)

0 comments:

Post a Comment