Thursday, August 10, 2017

Rumah Perjuangan

Bagiku rumah di sadang serang betul-betul menjadi rumah perjuangan.
Yang awalnya sempat menangis pada seorang sahabat karena sampai 3 bulan ke depan diriku dan anak2ku mau makan apa sampai keadaan sekarang ini.

"Ya Allah... beri aku waktu untuk bangkit dan berdiri. Ini masalah waktu. Aku yakin Engkau pasti memberiku pekerjaan. Namun ya Allah ... kali ini aku membutuhkan nyata uluran tangan Mu untuk menolong kehidupan anak2ku. Aku puasa masih bisa... tapi C dan N ya Allah.." kataku panjang lebar sama Allah.
"Betapa Engkau Maha Perkasa. Tolonglah aku ya Allah..." isakku dalam kepedihan tiada tara.
Jiwaku kuat menghadapi semua ini. Mentalku juga kuat. Tapi tidak fisikku! Hingga kemudian diriku jatuh sakit... di dalam ususku timbul bisul karena bakteri.
Awalnya kutahan. Meriyang 3 bulan kutahan terus tanpa bilang ke pak bojo apa yang aku rasakan. Hingga suatu saat diriku bilang, "Pak, jangan pulang ke Jakarta... aku enggak kuat." Waktu itu bojoku masih harus kerja di jakarta.
"Aku enggak enak sama kantor kalau enggak ada keterangan jelas." Kata bojoku.
"Ya sudah, ayuk ke dokter biar aku dapat surat keterangan sakit..." kataku. Berniat ke dokter hanya untuk mendapatkan surat keterangan dokter. Bukan berobat karena sejatinya diriku bukan perempuan yang manja dan mudah ke dokter.
"Dokter, saya tidak mau opname. Saya punya 2 abk. Kasihan mereka..." kataku. Diriku pun diberi antibiotik satu bulan lamanya. Dan beruntung tidak terlambat. Keadaan tidak cepat bertambah baik hingga salah seorang sahabatku yang dokter bilang, "Mbak, coba minum daun sirsak...". Karena keadaan belum juga membaik.
Hari ketiga minum daun sirsak, diriku sudah bisa menyapu dan pel. Sampai heran sendiri waktu itu. Daun sirsak kemudian jadi andalanku hingga setahun kemudian. Itu kejadiannya 3,5 tahun yang lalu.
Diriku suka menangis di hadapan Allah. Sejadi-jadinya. Menangis dalam hati. Bahkan hingga menjelang tidur pun diriku masih merasakan kehadiran Allah di depanku. Hingga tertidur pulas. Ya... bagi yang belum pernah mengalami ada di titik nadir mungkin tidak bisa membayangkan yang kukatakan. Kita memang tidak bisa melihat Allah. Tapi kita tahu Allah itu ada.

0 comments:

Post a Comment