Wednesday, August 23, 2017

SARDJITO DAN JEJAK YANG HILANG

Profesor Sardjito (1889-1970), yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pusat di Yogyakarta, adalah perintis, pendiri, sekaligus menjadi presiden (kini disebut rektor) pertama Universiteit Negeri Gadjah Mada (kini UGM). Dari tulisan-tulisannya yang berhasil saya kumpulkan sejak masih di bangku kuliah dulu, ia bukan hanya seorang ilmuwan, namun juga seorang begawan. Lulusan terbaik STOVIA tahun 1915 ini bisa menulis kebudayaan dan filsafat sama baiknya dengan ketika ia menulis tentang penyakit-penyakit tropis.
Dulu, setiap kali membaca tulisan atau mendengarkan ceramah Profesor Teuku Jacob, mantan Rektor UGM (1981-1986) yang juga berasal dari Fakultas Kedokteran, saya selalu membayangkan pastilah Profesor Sardjito secemerlang--atau bahkan lebih dari--muridnya itu. Tapi, ke mana lagi orang bisa mencari jejak pemikiran manusia Sardjito pada hari ini?!
Atau, coba ganti nama Sardjito dengan nama lain. Misalnya saja Herman Johanes, ahli fisika nuklir yang juga menekuni teknologi madya atau teknologi pedesaan; atau Iman Soetiknjo, yang bersama Notonagoro telah menghidupkan dan menghidupi kajian agraria paling awal di Bulaksumur, apakah kesulitannya menjadi lebih mudah?! Ternyata tidak! Dan ini adalah sebuah persoalan yang tak bisa disepelekan.
Saya mendengar UGM saat ini sedang membuat film dokumenter mengenai Profesor Notonagoro, salah satu begawannya yang tercatat dalam lembaran sejarah sebagai orang pertama yang telah membawa Pancasila ke wilayah kajian ilmu pengetahuan. Dan kesulitan pertama pembuatan film dokumenter itu adalah UGM kini tak lagi memiliki arsip-arsip otentik karya-karya Notonagoro. Nah!
Sejauh yang bisa saya catat, komitmen untuk melakukan riset dan pengarsipan yang serius atas karya-karya para sarjana terkemuka di Bulaksumur memang lemah sekali. Pejabat universitas ataupun fakultas di UGM hampir semuanya lebih menyukai membangun gedung atau sarana fisik di kampus daripada membangun kultur akademik atau hal-hal lainnya yang lebih sublim tapi mendasar.
Waktu Pak Pratikno awal menjadi rektor, dalam sebuah perbincangan saya pernah mengingatkan pentingnya UGM memulai kerja serius dan sistematis untuk menyusun karya lengkap para begawannya, mulai dari generasi Sardjito, Herman Johanes, Notonagoro, hingga ke generasi Umar Kayam, Mubyarto, dan Kuntowijoyo. Jika berhasil dilakukan, itu akan menjadi batu loncatan penting UGM menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang sebenar-benarnya, terutama di lapangan ilmu sosial dan humaniora, dan bukan hanya menjadi pabrik sarjana belaka.
Sebab, untuk apa riset, dan apa yang mau diriset, jika kita tak mempelajari dan gampang sekali kehilangan jejak atas riset-riset yang telah dilakukan oleh para sarjana sebelum kita?!
Sayangnya, meski antusias dalam perbincangan, obrolan itu tak pernah ditindaklanjuti. Sewaktu buku saya mengenai pemikiran Mubyarto mendapat hibah dari LPPM-UGM dan kemudian diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press, Pak Tikno bahkan mengaku tak punya waktu untuk sekadar menulis kata sambutan sebagai rektor di buku tersebut. Sayapun segera tahu, ia tak akan punya waktu untuk hal yang lebih dari itu.
UGM boleh bangga menjadi perguruan tinggi nomor wahid. Tapi jika UGM sendiri gagal merawat dan memelihara karya dari putera-puteri terbaiknya, sebagai institusi UGM sebenarnya baru sekadar menjadi pabrik sarjana belaka, atau pabrik laporan ilmiah, belum menjadi sebuah akademia bahkan dalam pengertiannya yang klasik.
Tak heran, pada akhirnya Sardjito, atau nama-nama besar lainnya, hanya akan tinggal nama belaka, tanpa bekas dan tanpa jejak imajinasi apapun bagi generasi terkini atau lebih kemudian. Tarli N.

0 comments:

Post a Comment