Friday, August 18, 2017

Sesumbar

"Suatu kesempatan di waktu yang lampau, Anoman pernah sesumbar bisa selesaikan aneka persoalan. Pengalaman selesaikan konflik Rama-Rahwana membuat keyakinan hadir dalam batinnya. Ia lantas menghadap Semar, memohon restu. Diberi lampu hijau dengan syarat dikawal Petruk. Lantas Anoman kita ini loncat sana-sini lintas dimensi guna bernegosiasi. Petruk hanya mengikuti, ia enggan komentar sebab ditanya pendapatnya pun tidak.
Setelah berjalan beberapa waktu, rupanya Anoman merasa tak sanggup lagi menjadi penengah berbagai masalah. Ia konsultasi pada Petruk yang mulai pusing tujuh keliling. Semar yang sesekali hadir pun hanya bisa senyum penuh arti. Pada akhirnya Anoman menyerah, kabur dari komitmen. Petruk pun digugat kawan-lawan yang saling berseberangan. Ia mencari Semar yang tak jua muncul lagi.
Beberapa perubahan mendasar di negeri ini pun demikian. Dalam rentang ribuan tahun ini mudah ditemui rekam-jejaknya dalam sejarah. Tentu saja harus ke Leiden dulu yang memuat koleksi Kraton Mataram sepanjang 21 kilometer panjangnya. Jika tak punya dana ke sana, bisa menyimak penuturan lisan para sesepuh yang biasanya juga penuh kode. Tentu jika ilmu dipunyai, mitos bisa dibelah menggunakan nalar.
Kembali ke lakon Anoman tadi, rupanya Nabi Sulaiman pun pernah lakukan hal serupa. Ia merasa paling berkuasa di dunia sebab di wilayahnya memang ditemukan tambang besi terbesar sepanjang zaman. Kuilnya luar biasa besar, kaya luar biasa. Wajar jika ia meminta izin pada Gusti Allah untuk sedekah makanan bagi makhluk-Nya dalam sehari. Dikabulkan, dan berbuntut kewalahan.
Dari kedua kisah yang bak mitos tadi, ada sebuah kesamaan yaitu merasa bisa. Kedua tokoh luar biasa tadi harus bertekuk lutut menelan ludahnya sendiri. Mereka tidak bisa merasa, malah merasa bisa. Akhirnya seperti anak kecil yang ingin memasukkan semangka utuh ke mulutnya, kepayahan. Energi dan waktu yang bisa digunakan untuk menjalani hal biasa-biasa saja secara istiqomah harus terbuang sia-sia demi mengejar yang terkesan luar biasa.
Soal sejarah kembali berulang, banyak Anoman dan Sulaiman yang berwujud pria berdasi, wanita berjilbab, atau aktifis jalanan, memang demikian tuntutan zaman. Godaan merasa benar dan yakin bisa selesaikan masalah yang luar biasa bak nafsu menyelinap dalam ego. Sukar dipilah apalagi jika sudah melindungi diri dengan dalil dan dalih. Bukankah dalam hal ini Anoman dan Sulaeman berniat baik? Cara yang ditempuh pun masuk akal, meski kurang bijaksana sebab tak menghitung Threat (ancaman), Opportunity (kesempatan) sesuai Strength (kekuatan) dan Weakness (kelemahan).
Bagaimana langkah bijaknya? Tidak memaksakan apapun pada oranglain. Jika tanah belum siap untuk ditanam, janganlah terburu-buru mengubur benih di dalamnya. Rawatlah dulu baik tanah maupun benih. Bekali agar tercipta sebuah ekosistem yang nyaman. Ketika sudah terjalin rasa kasih-sayang di antaranya, niscaya proses tumbuh dengan subur tak terelakkan. Inilah yang disebut bijaksana.
Seperti yang sering Mbah Nun seringkali katakan dalam bahasa sederhananya, "kamu boleh goblok, pinter, tapi tetaplah bijaksana. Paham momentum dan cara memanfaatkannya. Bukan berdasar perhitunganmu sendiri tapi digerakkan oleh Gusti Allah dengan cara-Nya." ujar Kang Sabar usai mengunci gerbang.

0 comments:

Post a Comment