Wednesday, August 9, 2017

Sistem Ketenagalistrikan

Di masa lalu, hampir semua sistem ketenagalistrikan dimiliki oleh satu perusahaan (sampai sekarang, di beberapa negara masih demikian). Di masa lalu, beberapa pembangkit kecil langsung melayani konsumennya lewat jaringan distribusi sederhana. Dengan berkembangnya sistem arus bolak-balik, pembangkit besar dibangun pada jarak yang cukup jauh dari bebannya. Daya listrik dikirim lewat saluran transmisi tegangan tinggi yang efisien. Selanjutnya dengan berjalannya waktu, beberapa sistem diinterkoneksikan untuk meningkatkan keandalan. Interkoneksi juga dilakukan antar daerah atau bahkan antar negara. Adanya interkoneksi menghasilkan keandalan yang lebih baik dan sharing resources antar daerah. Walaupun sudah banyak interkoneksi, sistem ketenagalistrikan umumnya dirancang, dibangun, dan dioperasikan oleh perusahaan yang sama. Selain itu, dari sisi pembangkit sampai distribusi, dimiliki oleh perusahaan yang sama. Akibatnya, operator sistem cenderung kurang ramah terhadap pembangkit yang punya peluang mengganggu sistem (contoh variable renewable energy). Tidak adanya kompetisi menyebabkan sistem ketenagalistrikan tidak bisa menghasilkan sistem yang terbaik. Hukum ekonomi menyatakan bahwa kompetisi akan melahirkan sistem yang efisien. Pernyataan ini tidak berarti bahwa sistem kelistrikan yang sekarang (baca PT PLN) tidak baik, tapi jelas belum yang terbaik.
Di banyak negara maju, deregulasi sistem kelistrikan banyak dilakukan untuk mendorong kompetisi. Kepemilikan transmisi dipisah dari pembangkit bahkan dari distribusinya. Sistem transmisi biasanya dimiliki negara atau dikuasai negara. Dengan sistem ini, retailer atau konsumen besar bisa memilih pembangkit yang diinginkan. Pembangkit-pembangkit bisa berkompetisi untuk menawarkan listrik yang terbaiknya. Walaupun di Indonesia sudah ada pembangkit swasta, kompetisi hanya terjadi sebelum dibangun pembangkitnya. Setelah itu tidak ada kompetisi sama sekali.
Untuk bisa melahirkan sarana berkompetisi, harus disediakan sistem interkoneksi atau transmisi yang memadai. Operator sistem harus bisa memberikan kesempatan sama besar pada semua pembangkit untuk berkompetisi. Untuk mencapai tahapan ini, Indonesia harus membangun banyak saluran transmisi baru. Sayangnya, membangun saluran transmisi memerlukan biaya investasi yang tidak sedikit. Indonesia, yang terdiri atas banyak pulau, interkoneksi antar pulau memerlukan biaya yang lebih besar lagi. Akan tetapi semua itu bisa dijalankan selama rakyat bersatu untuk membangunnya. Jaringan Palapa Ring bisa dibangun juga dengan dana rakyat, bukan dana pemerintah. Jika interkoneksi tersedia dengan baik, Indonesia bisa memiliki sistem kelistrikan yang kompetitif. Mungkin suatu saat di Indonesia akan terdapat banyak PT PLN. Adanya interkoneksi antar pulau memungkinkan pemanfaatan tenaga renewable yang tersebar di seluruh Indonesia yang mungkin jauh dari konsumennya. Adanya interkoneksi memungkinkan terjadinya sharing resources antar daerah. Adanya interkoneksi memungkinkan diciptakannya sistem kelistrikan yang 100 % sustainable tanpa harus mahal. (Pekik AD)

0 comments:

Post a Comment