Wednesday, August 9, 2017

Soal Alexander Agung, atau Iskandar Dzulqarnain dalam Al-Qur‘an

Berikut ini adalah corat-coret saya di 10 hari terakhir bulan Ramadhan kemarin. Coretan ini sebenarnya saya persiapkan untuk kedua buah hati, yaitu Dewi Alessandra Purnamasari dan Muhammad Alexander Adlin. Oleh-oleh dari bapaknya selama belajar kepada Uwak Mursyid, dan semoga, jika saya ada umur, bisa menceritakan kembali kepada mereka, sebagaimana nenek tercinta, Insyah, yang saat saya masih kecil dulu sering menceritakan kisah para nabi dan sangat membekas di diri saya hingga hari ini.
Sambil mensyukuri kesembuhan Alick, saya ingin membicarakan soal Alexander Agung, atau Iskandar Dzulqarnain dalam Al-Qur‘an. Semoga ada gunanya.
*******
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu DZIKRAN tentangnya.” (QS Al-Kahfi [18]: 83)
*******
DZIKRAN itu adalah hikmah atau hakikat, dan dalam hal ini Al-Quran memaparkan ihwal hikmah atau hakikat ke-dzulqarnain-an, sang penakluk yang sepak terjangnya membuat banyak muslim tidak percaya bahwa bukan Alexander Agung yang Al-Quran maksudkan.
Disebut dzikran karena itu merupakan sesuatu yang bersifat universal dan ada nilai-nilai yang harus diingat serta berlaku umum.
Al-Quran menyebutnya sebagai Dzulqarnain, yaitu “yang memiliki dua tanduk” merupakan simbol dari penguasa Barat (alam Yunani [khususnya Macedonia]) dan Timur (Persia).
Namun, Barat dan Timur juga merupakan simbol yang banyak ditemui di berbagai khazanah agama-agama. Timur adalah tempat terbitnya matahari sebagai simbol dari dunia ruhiyyah (alam lahut), sedangkan Barat adalah tempat terbenamnya matahari sebagai simbol dari dunia jasadiah (alam nasut).
Allah SWT juga memberikan kepada Dzulqarnain kekuasaan atas kaum “Timur” yaitu kaum ruhaniyyah atau para ‘ulama’ yang ditasbihkan kepada sang penakluk yang masih muda (pemuda juga merupakan simbol dari nafs yang istidâd). Silakan baca catatan milik Josef Flavius, sejarawan Yahudi yang menuliskan bagaimana Dzulqarnain disambut oleh para rabbi Yahudi, atau para rahib Buddha menyarankan raja-raja India untuk tunduk kepada Dzulqarnain karena kekuasaannya atas ‘amr Allah.
Tentang kedatangan Dzulqarnain telah dinubuatkan oleh Nabi Daniel as dalam Daniel 8: 1-27, sebagai berikut:
*******
1. Pada tahun yang ketiga pemerintahan raja Belsyazar, nampaklah kepadaku, Daniel, suatu penglihatan sesudah yang tampak kepadaku dahulu itu.
2. Aku melihat dalam penglihatan itu, dan sementara aku melihat, aku berada di puri Susan, yang ada di wilayah Elam, dan aku melihat dalam penglihatan itu, bahwa aku sedang di tepi sungai Ulai.
3. Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.
4. Aku melihat domba jantan itu menanduk ke barat, ke utara dan ke selatan, dan tidak ada seekor binatangpun yang tahan menghadapi dia, dan tidak ada yang dapat membebaskan dari kuasanya; ia berbuat sekehendak hatinya dan membesarkan diri.
5. Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya.
6. Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat.
7. Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.
8. Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.
9. Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai.
10. Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.
11. Bahkan terhadap Panglima bala tentara itupun ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari, dan tempat-Nya yang kudus dirobohkannya.
12. Suatu kebaktian diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari, kebenaran dihempaskannya ke bumi, dan apapun yang dibuatnya, semuanya berhasil.
13. Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: "Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?"
14. Maka ia menjawab: "Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar."
15. Sedang aku, Daniel, melihat penglihatan itu dan berusaha memahaminya, maka tampaklah seorang berdiri di depanku, yang rupanya seperti seorang laki-laki;
16. dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: "Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!"
17. Lalu datanglah ia ke tempat aku berdiri, dan ketika ia datang, terkejutlah aku dan jatuh tertelungkup, lalu ia berkata kepadaku: "Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!"
18. Sementara ia berbicara dengan aku, jatuh pingsanlah aku tertelungkup ke tanah; tetapi ia menyentuh aku dan membuat aku berdiri kembali.
19. Lalu berkatalah ia: "Kuberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi pada akhir murka ini, sebab hal itu mengenai akhir zaman.
20. Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia.
21. Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.
22. Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu.
23. Dan pada akhir kerajaan mereka, apabila orang-orang fasik telah penuh kejahatannya, maka akan muncul seorang raja dengan muka yang garang dan yang pandai menipu.
24. Kekuatannya akan menjadi hebat, tetapi tidak sekuat yang terdahulu, dan ia akan mendatangkan kebinasaan yang mengerikan, dan apa yang dilakukannya akan berhasil; orang-orang berkuasa akan dibinasakannya, juga umat orang kudus.
25. Dan oleh karena akalnya, penipuan yang dilakukannya akan berhasil; ia akan membesarkan dirinya dalam hatinya, dan dengan tak disangka-sangka banyak orang akan dibinasakannya; juga ia akan bangkit melawan Raja segala raja. Tetapi tanpa perbuatan tangan manusia, ia akan dihancurkan.
26. Adapun penglihatan tentang petang dan pagi itu, apa yang dikatakan tentang itu adalah benar. Tetapi engkau, sembunyikanlah penglihatan itu, sebab hal itu mengenai masa depan yang masih jauh."
27. Maka aku, Daniel, lelah dan jatuh sakit beberapa hari lamanya; kemudian bangunlah aku dan melakukan pula urusan raja. Dan aku tercengang-cengang tentang penglihatan itu, tetapi tidak memahaminya.
*******
Adapun kekuasaan atas kaum “Barat” adalah kaum mulkiyyah, kekuasaan atas para penguasa “dunia”; silakan lihat sejarah bagaimana Dzulqarnain menyatukan seluruh Yunani, seperti Athena, Sparta, Troya, hanya dalam waktu satu tahun. Kemudian menaklukkan Persia, yang dipimpin oleh Darius, serta menggabungkannya dengan dunia Yunani dalam waktu sangat singkat.
Dzulqarnain kemudian tinggal dan wafat di Babilonia, di tempat di mana Nabi Daniel as bernubuwwah tentang dirinya.
Istilah Dzulqarnain atau “yang memiliki dua tanduk” tidak dikenal dalam literatur Barat, akan tetapi pada koinnya tampak bagaimana Alexander The Great of Macedon memakai mahkota dengan dua tanduk.
Di sini terlihat adanya hubungan antara Perjanjian Lama Kitab Daniel 8: 1-27 dengan QS Al-Kahfi [18]: 83 tentang Dzulqarnain sebagai “yang memiliki dua tanduk”
Tak sedikit orang, termasuk umat muslim, yang susah percaya bahwa Iskandar Dzulqarnain adalah Alexander The Great, padahal dia adalah seseorang yang bisa berdialog dengan Allah Ta‘ala dan diperbolehkan memutuskan apa pun atas kaum taklukkannya sebagaimana tertuang dalam QS Al-Kahfi [18]: 86-88 sebagai berikut:
*******
Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”
Berkata Dzulqarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”
*******
Segitu dulu. Insya Allah nanti dilanjut lagi ya. Mohon maaf jika ada silap kateu. Wassalam.
Ttd.
Bapaknya Alexander yang dipanggil Alick.
Alexander artinya adalah Penolong, sedangkan Alick artinya adalah Pejuang.

0 comments:

Post a Comment