Friday, August 18, 2017

Standard Darurat

"Standar darurat itu yang bagaimana, Kang?" tanya Kang Kuat di atas bangku panjang.
"Saat momentumnya memaksa siapapun mengira kaki sebagai kepala, dan kepala jadi kaki." jawab Kang Sabar sekenanya.
"Jawaban macam apa itu?! Tanya serius kok malah nyari lagu Piterpen!" umpat Kang Kuat.
"Lha iya, saat yang harusnya warga pra-sejahtera alias masih pas-pasan masih disubsidi, malah dipalak berbagai macam kenaikan tarif." imbuh Kang Sabar sembari menyantap mendoan berlumur sambal kacang.
"Terus menghadapi yang begituan gimana? Aksi turun ke jalan? Sudah lama kita gak bakar ban lho!" pekik Kang Kuat.
"Buat apa? Sampeyan malah bakal dinyinyirin kaum menengah ngehek dengan tudingan pemalas dan sederet label lain." sahut Kang Sabar santai.
"Tapi kita tak bisa tinggal diam dengan semua penjarahan terstruktur, masif, dan tersembunyi dari publikasi ini, Kang!" Kang Kuat makin gusar. Es teh pun tak mampu mendinginkan kepala berambut gondrong penuh ketombe itu.
"Ya berdoa sama Tuhan biar dikuatkan hadapi semua cobaan. Katanya kaum beriman, bahkan sesumbar tahu Kehendak Tuhan." Kang Sabar masih setia meladeni gugatan sang jomblo berdaulat.
"Menengadahkan ke langit? Kapan selesainya? Harus ada rencana taktis strategis, Kang. Masa main game saja njlimet, giliran masalah beginian malah cengengesan pasrah bongkokan." Kang Kuat masih belum terima. Dia memang rese kalau lagi lapar. Maklum, pesanan belum datang.
Kang Sabar meletakkan sendok dan garpunya. Menyeruput kopi panas campur kayu manis di hadapannya. Dengan nada pelan, ia tatap mata pria ceking itu. "Lha kok malah Sampeyan meragukan keadilan Tuhan, Kang. Lupa ya kalau Tuhan itu sesuai prasangkaan hamba-Nya? Sampeyan mengira Dia gak sanggup selesaikan, bakal beneran kejadian lho. Dikira Dia gak mutungan? Wong Maha Sabar-Nya itu sendiri artinya gak langsung menghukum begitu pendosa lakukan kesalahan kok. Tapi ditunggu tobatnya dulu."
Kang Kuat risih dipandang sedemikian rupa. Ia geli. Bahasa tubuh yang beginian biasanya hanya ia jumpai saat makan bareng gebetan. Dengan tergagap ia pun mengejar, "tapi kan Dia akan mengubah suatu kaum jika kaum itu setor usaha. Secuil niat sekalipun."
"Nabi Musa saja selaku nabi dengan daya nalar paling sangar bisa pingsan di Bukti Tursina saat menjumpai sedebu gejala kehadiran-Nya. Ia gagal berguru pada Nabi Khidir karena akalnya tak sabar, masih disetir perasaannya. Jika tujuanmu pada kuantitas, Nabi Nuh akan masuk kategori gagal dakwah sebab dalam waktu ratusan tahun hanya sanggup punya puluhan murid. Coba bandingkan dengan ustat-ustatsah kekinian. Modal asal mbacot saja bisa jutaan pengikutnya." Kang Sabar lantas beranjak ke Mbok Ribut, penjual pecel langganannya.
"Terus kita biarkan rezim sekarang ini terus melangsungkan penggadaian bahkan penjualan wilayah jua kedaulatan negara pada para tamu negeri asing?" Kang Kuat melongo. Pesanannya belum datang, perut masih keroncongan, sudah mau dibayar duluan.
Kang Sabar menghampiri meja tempat Kang Kuat duduk. DIambilnya Zenfone dan dimasukkan ke saku. Mencomot kunci dan memunculkan bunyi. Ia lantas berkata sambil berdiri, "siapa bilang satu-satunya jalan perubahan hanya via yang terlihat gerakan, Kang? Kurang hebat apa ratusan ribu pasukan Kekhalifahan Turki saat syahid dibabat penduduk Kedu? Kurang sangar apa jutaan ksatria mongol seberangi lautan hanya ingin tundukkan Pulau Jawa? Hanya berbekal informasi, Wali Songo, Wali Pitu, bahkan raja-patih-punggawa kerajaan masa lampau bisa memenangkan pertempuran yang mustahil dimenangkan. Jadi, terbukalah pada berbagai kemungkinan lah."
"Eh lho aku kok ditinggal! Ini aku belum sarapan!" teriak Kang Kuat saat Kang Sabar menuju Sahara putih yang menanti.
"Makanya, urusi dapuranmu dulu, baru sajikan hasil masakanmu!" sahut Kang Sabar sebelum duduk di dalam kabin.

Ihda HS

0 comments:

Post a Comment