Monday, August 28, 2017

Turun Ke Lapangan

"Kang, mbok turun lagi ke lapangan." pinta Kang Kuat.
"Emoh, gak doyan makan dari yang abu-abu." tepis Kang Sabar.
"Lho ntar kan bisa disedekahin ke oranglain. Sampeyan bantu perjuangan kami saja. Calon kita yang satu ini punya rekam jejak bersyariah lho." Kang Kuat masih memelas.
"Tapi dia masih menganggap bahwa semua prestasinya bisa membenahi kebejatan sistem yang mau dimasukinya?" tanya si pria gendut.
"Ya gitu deh. Tapi dia lulusan pesantren lho. Bahkan dapat beasiswa ke luar negeri, usahanya pun sukses. Masa gak mau dibantu dibuatkan program apa gitu." desak Kang Kuat sembari membersihkan Golock-nya.
"Nah, soalnya kata Yai Imron Djamil saat ngaji Kitab Hikam tuh gak boleh gitu. Manusia gak boleh merasa bisa menyelesaikan secuil masalah pun. Harus mengembalikan pada Gusti Allah, dia merendahkan hati dan diri dengan melakukan semampunya. Tapi ya gak perlu berkoar 'akulah satu-satunya solusi'. Ngeri." ujar Kang Sabar usai mengemas Remmington ke dalam bagasi.
"Kalau gak gitu bakalan ditinggalin calon pemilih. Tuntutan demokrasi ya kayak jualan obat di pasar, Kang. Sampeyan gak adaptif, membumi, gak realistis kalau menuntut dunia sekarang seperti saat Kitab Hikam ditulis." sergah Kang Kuat lantas mengisi magazine.
Pagi makin kehilangan segarnya. Terik mentari mulai menyorot halaman rumah Kang Sabar. Gerobak besinya pun sudah bermandikan cahaya. Kedua pria tadi makin asyik berbincang di taman mawar buatan Yu Sabar ditemani wedang rempah yang mengepul.
"Terus di mana mulianya demokrasi usai reformasi jika demikian? Apakah demokrasi yang sekarang tengah dipraktekkan secara serentak di seluruh negeri ini adalah demokrasi yang Kanjeng Nabi long-march-kan sekeliling Mekah sampai dilempari batu dan diblokade? Ataukah lebih nampak seperti saat Penjara Bastille diserbu dengan semangat khas demokrasi itu?" tanya Kang Sabar. Kali ini ia mengambil kevlar dari lemari.
"Namanya juga perubahan zaman menuju akhir, Kang. Kita harus memaklumi dan mencari titik-titik untuk menyusupi, mengenali, memahami, lantas perlahan melakukan pergeseran. Bukankah Mbah Nun sendiri pernah memberi wejangan ke kita begini, 'Allah tidak menuntut kaki kita bersih dari lumpur saat turun membersihkan sampah'? Apakah hal itu bisa dijadikan dalih kedaruratan bertindak, bahkan menghalalkan segala cara?" sahut Kang Kuat. Dibersihkannya beberapa FMJ yang hendak dikemas.
Tetangga rumah melintas dan berbasa-basi sebentar. Tak heran dengan kegiatan ekstrim yang dilakukan kedua sosok di teras rumah itu.
"Sayyidina Ali bin Abi Thalib itu pemimpinnya pemuda di surga, kan? Dia bahkan dikenal sebagai Baabul 'Ilmi alias gerbang ilmu, dan Kanjeng Nabi adalah kotanya. Julukan itu bisa didapat sebab kebiasannya mengibaskan tangan mengusir asap rokok saat gelar forum yang ada Kanjeng Nabi, sebab konon beliau kurang berkenan dengan aroma menyengat tersebut. Tapi kualitas suami Siti Fatimah yang sedahsyat itu tentu tak diragukan lagi, kan?" tukas Kang Sabar dari di depan daun pintu.
"Maksudnya? Kok mbulet?" kejar Kang Kuat.
"Kita maklumi kesederhanaannya saat Kanjeng Nabi masih hidup sebab memang belum dapat rampasan perang berarti, kan? Tapi usai mertua sekaligus sepupunya itu wafat, Islam memenangkan perang lawan Persia, kerajaan terkuat dan terkaya sejagad dunia Timur. Para jihadis mendadak kaya dengan hasil rampasan perang. Herannya, Sayyidina Ali justru tak ambil bagian secuil pun. Padahal ia bisa menerima hadiah yang luar bisa mewah.
Sampai anak beliau tumbuh dewasa dan tubuhnya makin renta, pekerjaan menimba sumur dan menggarap ladang tetangga tak jua ditinggalkannya. Bukan demi apa-apa, hanya demi penuhi bahwa 'ora obah, ora mamah', meski akhirnya yang didapatnya akan disedekahkan dan keluarganya harus puasa sebab tak ada yang bisa dimakan. Padahal beliau itu khilafah keempat lho ya, massa pendukungnya puluhan ribu orang. Bisa sesepele itu menganggap dunia dan fenomenanya. Bahkan ia melakukan tindakan yang kelak ditiru Gus Dur saat keluar dari istana, lebih baik mundur daripada ngotot dan berbuah pertumpahan darah sesama anak bangsa." kata Kang Sabar dengan serius.
"Terus kaitannya dengan Machiavelianism tadi apa?" ujar Kang Kuat dengan nada sengak.
"Beliau tak lantas mengotori kakinya dengan lumpur meski politik menyudutkannya. Tetap mengambil cara yang benar, penyampaiannya pun tepat. Empan, papan, dan adepan. Paham momentum. Lha jika kita menuruti pola yang ada untuk gelar perubahan, lantas apa bedanya dengan mereka yang selama ini dituding koruptor? Nanti seperti meludahi langit lho. Ingat, toh Gusti Allah gak pernah melihat hasil tapi justru niat dan proses menjalaninya." tutur Kang Sabar sembari memakai sepatu dengan rangka baja ringan.
"Kalau gitu ya jelas kalah sebelum bertanding dong. Tanpa publisitas, daya pilih rendah. Ngapain buang uang miliaran rupiah kalau jelas kalah." kilah Kang Kuat.
"Lha itu, karena Sampeyan fokus pada tujuannya, cuma menang. Gak membersihkan niat dulu untuk apa rela berjihad besar semacam itu. Bahkan sedari awal sudah siap berkongkalikong dengan Dajjal demi menang. Ditambah masih menggunakan standar manusia untuk memperjuangkan nilai-nilai ketuhanan. Ya buyar, mending bubar. Apalagi masih sayang uang begitu, dikira hijahnya umat Islam baik yang ke Kerajaan Nasrani di Etiopia atau madinah tak bonek alias modal nekat?" Kang Sabar mulai gemas. Topi Eiger yang sudah bolong-bolong pun segera nangkring di atas kepala.
"Waduh, iya juga ya. Kok aku malah kayak Napoleon Bonaparte, Hitler, Bush, dan Trump. Padahal namanya masalah kan hadir sebagai penguji atau hukuman. Kenapa aku malah menariknya ke sesuatu yang harus ditaklukkan dengan bekal nalar dan pengalaman? Sampai mikir siap setor tas kresek isi dolar Amerika demi memuluskan pencalonan. Duh Gusti, mabuk apa diriku ini?" keluh Kang Kuat begitu duduk di balik kemudi.
Kang Sabar memasang sabuk pengaman. Mengirim pesan pendek di ponsel terenkripsi. Lantas menepuk pundak supir berambut gondrong di sebelahnya sembari berucap, " jadilah seperti Nabi Ibrahim saat hendak meninggalkan Siti Hajar di titik sumur Zam-zam. Saat ditanya sang istri dengan ujung kaki dibenamkan ke tanah dan tangan menarik baju sang pemahat patung terbaik Babilonia itu, 'ini maumu atau mau Tuhanmu, aku ditinggal sendiri?' Begitu dijawab 'ini kehendak Tuhan', Siti Hajar ikhlas dan Nabi Ibrahim berlalu dengan tenteram. Yakin pada penjagaan Gusti Allah. Kitapun semoga bisa sebegitunya pada Gusti Allah."
"Semoga yang akan kita lakukan ini termasuk yang dikehendaki Tuhan juga. Jika malah membuat-Nya marah, matipun aku rela." gumam Kang Kuat yang segera tancap gas begitu pundaknya ditepuk.
Ihda HS

0 comments:

Post a Comment