Saturday, September 16, 2017

Ada Tujuh Pintu Ke Pekuburan

Ada tujuh pintu menuju pekuburan Prumpung jika saiya tidak salah menghitung.
Lewat pintu-pintu tadi motor memotong jalan menghindari kemacetan, warga keluar duduk-duduk mencari ruang lapang setelah kepadatan kampung sekitaran, dan para pedagang mencari peruntungan.
Anak-anak bermain layangan atau sebagian yang kecil berlarian menyusahkan emaknya memberi makan. Di ujung tengah ada mbak penjual surabi, lima pedagang minuman sasetan, seorang bapak penjual cilok, dawet ayu, dan es cincau. Satu atau dua kali akan ada lapak ibu dan anak penjual seblak ceker ayam. Maka jadilah sepotong tanah pekuburan di pinggiran tol By Pass tadi menjadi tempat berkumpul dan warga menarik nafas mencari udara luas.
Setelah dua bulan kematian tetangga kami saiya beberapa kali mendatangi kuburan ini. Ya, dia ada di tengah-tengah kesibukan kota dan perkampungan Cipinang serta satu kompleks apartemen yang saiya ingat dulu awalnya diperuntukkan bagi rusun warga sekitar kuburan. Seperti kebiasaan para pengembang yang licin dan licik mereka menunggu sampai transisi kekuasaan berubah di Jakarta, untuk kemudian mengambil kesempatan mengubah peruntukan rusun tadi kepada apartemen mahal.
Bang Yan, adalah tetangga kami yang baru lalu dikuburkan di sini. Ia mati bujangan dan meninggalkan lampu-lampu gang hasil karya ciptaannya yang rutin dia nyalakan menjelang magrib dan mematikannya setelah subuh.
Pada hari penguburannya, orang banyak menghadirinya sebagai satu bentuk penghargaan. Ia memang dikenal orang yang ringan tangan membantu segala keperluan dari mengganti karet tabung gas yang sering bocor, kabel listrik dimakan tikus, atau memperbaiki pintu garasi tetangga karena haus dimakan karat.
Ketika mobil ambulan memasuki pelataran pekuburan maka berbondong-bondong pedangan keliling mendekati keramaian berkabung. Ya, tokh setelah ada kematian orang hidup pun masih butuh minum dan jajanan.
Setelah mencoba merenungi petak-petak nisan dan menghitung rata-rata usia si mati maka saiya menyimpulkan jika pekuburan ini sama sekali tidak memberi kesan menakutkan atau profan saja.
Berbeda misalnya ketika usia saiya masih 18 tahunan dimana angkutan desa yang kami tumpangi berhenti di satu dusun di pedalaman OKU Sumatera Selatan. Si sopir mengatakan bahwa ini adalah sejauh rumah yang dapat dia antarkan. Sambil mengatakan bila kami tidak berkenan ia akan mengantar kembali ke dusun terdekat yang lebih ramai.
Pria paruh usia berdiri di kejauhan, di latar belakang perempuan muda dengan sepasang anak kecil berdiri di tangga rumah panggung tua. Si pria membawa dua ekor anak harimau dan sambil memukul pantat keduanya ia melepaskan keduanya pergi kembali ke hutan di seberang jalan.
Ia adalah pria gagu, dengan kosa kata aa, au, wa, ngak uo saja. Istrinya lah yang menjelaskan kepada kami jika anak bungsu mereka yang laki-laki menangis karena masih ingin bermain dengan kedua anak harimau.
"Mak si harimau nanti malam mesti datang mencari anaknya. Jika dia datang, mati kambing kami ketakutan." Ia menerjemahkan bahasa suaminya.
Si istri berkata bila kami berkenan untuk tinggal barang tiga hari di rumahnya sambil menunggu angkutan desa yang akan ke kota Palembang tiga hari lagi. Si suami lalu ke depan ke arah jalan, membawa sepotong bambu dengan ikatan di depannya. Itu adalah tanda yang nanti akan dilihat mobil angkutan yang lewat, jika di sana akan ada penumpang yang akan ikut pergi ke kota.
Kami berempat beristirahat setelah si istri dengan apa adanya menyediakan nasi panas, labu rebus serta lauk ikan betik (betok) yang diulek dengan sambal terasi. Sepasang suami itu itu berbincang di pawon belakang dengan suara kecil dan kedalaman yang penting.
Hari pertama kami memintanya menemani ziarah ke makam-makam orang tua atau penghulu kampung karena kebiasaan orang dusun mendatangi si pemula sebagai tanda hormat. Yang ia sanggupi dengan senang hati. Pekuburan itu ada di seberang sungai Komering yang deras, dikelilingi ladang penduduk dan kemudian sepotong hutan kecil yang melindunginya dari keramaian. Satu yang dianggap penghulu di antara kuburan-kuburan kuno itu adalah kuburan panjang yang tinggi hampir dua meter. Ia meninggi karena lebah-lebah tanah membuat sarang dan mengumpulkan lumpur-lumpur yang menjadikan si kuburan tadi bertambah-tambah tingginya hingga menyentuh atap yang mulai terdorong jatuh.
Seorang transmigran dari jawa menegur kami dan berkata bahwa ia memiliki ketimun dan buah jeruk yang dapat kami bawa kembali sebagai oleh-oleh. Kami menggantinya dengan beberapa lembar uang ribuan, tetapi ia menolak dan berkata bahwa itu adalah sedekahnya kepada tamu makam. Ia sendiri tidak dapat mendoakan karena tidak pandai membaca arab atau latin. Kami tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Malam harinya, saiya menemukan bahwa kedua pasangan tadi kembali memperbincangkan sesuatu yang penting. Itu tidak saiya ketahui sampai selesai subuh. Si istri menyodorkan teh manis dengan sedikit gula serta potongan singkong yang dimasak dengan abu panas.
"Suami saiya bermimpi, bahwa orang-orang dipekuburan lama meminta tolong kepadanya. Tanah menekan mereka dengan payah."
"Ini sudah kesekian ia didatangi orang-orang yang sudah mati lewat mimpi. Tetapi ia tidak dapat mengerjakannya sendiri."
"....semenjak orang-orang pergi meninggalkan dusun, maka tinggal dua rumah saja yang ada di sini. Sebagian menyeberang mencari tempat yang lebih aman."
Ia tidak menyampaikan maksudnya, tetapi kami memahami apa yang dia inginkan. Setelah menyetujui untuk membantu si suami membereskan mimpinya maka ia memberi kami beberapa bekal dan semacam kapur yang diberi tembakau. Itu untuk menghindari dari gigitan nyamuk dan pacet yang mesti datang.
Pekuburan tua itu berbeda dengan yang diseberang sungai, ia dicapai dengan tiga jam perjalanan memasuki hutan. Sepertinya dulu memang ada perkampungan cukup ramai di dekat rumah mereka, ini karena ada bekas-bekas kebun karet, kopi, dan singkong yang ditanam orang. Satu wabah penyakit demam layu menyerang kampung tadi dan orang-orang pergi meninggalkan dusun ke pulau di seberang sungai. Si suami tadi adalah satu dari beberapa orang selamat dengan meninggalkan bekas gagu sebagai akibat demam hebat di masa lalu.
Ia berhenti duduk di satu batas dari pekuburan tua. Merapalkan doa-doa kepada penghuni dunia lampau dan seperti bersedih atau meringis ia mulai menggali beberapa tempat. Kami menemukan bahwa tulang-belulang dari kuburan dari orang-orang yang disebutnya mendatangi dalam mimpi itu terpisah karena dorongan dan tekanan akar-akar pohon duku dan trembesi.
Di pangkasnya daging akar dengan hati-hati dan dikumpulkannya tulang yang terpisah tadi dalam kain-kain putih yang dibawanya dari rumah. Setelah penghormatan yang cukup maka rangka dari empat orang tadi dikumpulkan lagi dalam liang baru lalu kami menguburnya kembali.
Hari menjelang Asyar ketika kami beranjak dari sana, si suami memutuskan mengambil jalan pendek yang katanya menghemat setengah waktu ke jalan raya terdekat. Dari jalan itu kita nantinya kami bisa lebih mudah mencapai rumah sebelum magrib.
Paginya, kenek angkutan desa mendekati dari kejauhan. Ia berteriak berapa orang yang akan pergi ke Palembang, yang kami jawab empat saja.
"...oi oi, untung anak si Mulkan gak jadi berangkat. Pas kita." Si kenek tersenyum menanyakan barang-barang apa yang dapat ia bawakan.
Si suami membawakan kami satu sangkar burung Prenja. Ia katakan bahwa itu hadiah yang bisa dia berikan setelah pertolongan kami kemarin.
Burung Prenja itu burung yang lincah dan cerewet. Ia melompat, melirik dan menangguk dalam kandang yang terbuat dari buluh daun aren. Saiya membuka tutup kandangnya, dan si burung yang tadinya ramai tiba-tiba terdiam dalam keterkejutan. Sampai ia sadar bahwa ia sudah saatnya diperbolehkan keluar dari penjara yang tidak semestinya ditinggali seterusnya.
Dengan satu hentakan cepat tanpa kesalahan, si burung lepas kandang seperti ruh yang meninggalkan tubuhnya sendirian. Andi H.

0 comments:

Post a Comment