Tuesday, September 19, 2017

Bagaimana mungkin seorang Kanjeng Nabi bersikap jor-joran pada apapun yang terjadi di sekitarnya

"Bagaimana mungkin seorang Kanjeng Nabi bersikap jor-joran pada apapun yang terjadi di sekitarnya? Bukankah beliau seharusnya lebih galak dari Habib Rizik, gerombolan HTI, bahkan Seh Abu Bakar Ba'asyir? Bagaimanapun, toh beliau pemegang mandat atas keberlanjutan Islam hingga ke akhir zaman. Jika malah bersikap woles dan menggampang permasalahan, mana bisa Islam berkembang hingga ke seluruh pelosok negeri? Termasuk tak mungkin Suku Aborigin, Indian, sampai Tar-tar memeluk agama yang konon menjadi revisi dua agama langit sebelumnya itu andai bersikap pasif.
Tapi kalau melihat sejarah kenabian memang demikian adanya. Pria yang menikahi janda berumur 40 tahun sedangkan ia sendiri baru menginjak angka 25 tahun itu melakukan banyak hal di luar nalar. Dalam periode Mekah tersebutlah sebuah kejadian di mana ia terpaksa mengirim rombongan pengungsi Muslim ke kerajaan yang dipimpin raja beragama Nasrani. Berhasil, termasuk mematahkan diplomasi seorang diplomat kenamaan Quraisy yaitu Amru bin Ash. Akan mustahil langkah ini ditempuh jika sosok yatim-piatu itu berpikiran kaku dan keras. 
Bahkan saat Perjanjian Hudaibiyah beliau ditentang oleh para pengikutnya yang memang sebagiannya adalah kaum berpendidikan. Dalam periode blokade ekonomi sekian tahun itu justru memperbesar jumlah massa yang mengikuti sang nabi. Hingga para pembesar Mekah merasa kecolongan dan melakukan berbagai macam kecurangan. Salahsatunya adalah menginginkan lembar kesepakatan yang dipasang di dalam Kakbah itu lenyap. A-ndil-Allah, rayap-rayap menggerogoti tiap aksara kecuali nama-Nya saja.
Jika kini ada geng-geng mengatasnamakan sebagai perwakilan Islam dalam namanya, harap dimaklumi. Karena dalam tarikh Islam sendiri semua pertentangan itu lahir setelah Al-Amin meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Terutama semenjak bid'ah akbar pertama kali tergelar yaitu pencatatan ayat Quran yang berserakan di berbagai tempat dalam berbagai bentuk. Kenapa bid'ah? Tak lain dan tak bukan dikarenakan menantu Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Ustman bin Affan tersebut melarang pencatatan ayat Quran apalagi perkataan beliau yang kelak disebut hadist. 
Untung saja beliau memperbolehkan ruang ijtihad atau inovasi dalam Islam dalam berbagai peristiwa yang kelak disebut sebagai metode qiyas atau pencarian kesamaan. Khilafah pertama yang diputuskan melalui musyawarah mufakat saat tubuh sang nabi belum dikebumikan membuat langkah berani usai ratusan penghafal Quran gugur dalam peperangan. Demi menghindari keterputusan ajaran maka dibentuklah sebuah panitia kerja yang terdiri dari berbagai ahli terutama sastra. Disusul kemudian pemilahan juga pemilihan antara ayat Quran dengan hadist yang mencapai ratusan ribu kalimat. Hingga proyek tiga kekhalifahan itu rampung di tangan Sayyidina Ustman bin Affan, berkat Kanjeng Nabi yang serba membolehkan semasa beliau hidup.
Bayangkan jika semasa hidup orang kaya tapi sering puasa berhari lamanya sebab tak punya makanan itu kaku. Saat Sayyidina Abu Bakar yang melantunkan Quran dengan lembut karena menghormati kesuciannya dihadapkan Sayyidina Umar yang melantangkan agar menebar kebaikan, Kanjeng Nabi tak memihak siapapun. Padahal permasalah pro-kontra semacam itu seringkali hadir di sekitar beliau. Termasuk saat persiapan Perang Hunain yang demikian serius, beliau justru berlomba lari dengan isterinya yang masih belia, Siti Aisyah. Sebagai pimpinan tertinggi pasukan tak takut mati itu tidak jaga image atau gengsi berlarian dengan remaja. Bandingkan dengan banyak sosok kekinian yang mengklaim diri sebagai habib, kiai, seh, juga ustat, di mana tak sulit ditemui perilaku dan penampilan yang dibuat-buat demi menimbulkan kesan berwibawa. 
Dalam buku sejarah kenabian yang ditulis banyak penulis kenamaan dunia pun mengabadikan hal serupa. Sisi-sisi kemanusian yang sederhana tapi sering terlupakan bahkan sengaja ditinggalkan demi kepentingan masing-masing individu. Lebih mempedulikan anggapan orang-orang kepadanya daripada menuruti yang jelas-jelas sunnah nabi seperti dalam hal keramahan, kelembutan, terbuka pada kemungkinan, dan memberikan ruang berkreasi untuk memecahkan suatu permasalahan. Tidak memberikan satu solusi sebagai kata kunci hingga menyepelekan bahkan meniadakan gagasan lain. Padahal selaku nabi ia berhak menyatakan bahwa idenya adalah wahyu Ilahiah.
Lebih mementingkan isi daripada mempeributkan bungkus adalah benang merah dari sikap nabi yang serba membolehkan. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan jika Sayyidina Umar yang juara gulat itu menawarkan jasa sweeping orang mabuk di sekitar Madinah. Pada waktu itu meski Islam sudah menjadi nafas kota Madinah tetap saja kebiasaan lama masyarakat pendatang maupun pemukim berupa mabuk sulit dihapuskan. Hingga era khulafaur rasyidin pun fenomena ini makin menyeruak, termasuk di dalam dinding istana bekas jajahan Romawi di Suriah. Namun, apa Kanjeng Nabi memberi izin? Tidak. Alasannya adalah tugas beliau membenahi akhlak dimulai dari kesadaran individu bukannya pemaksaan melalui mekanisme hukuman-hadiah.
Jangan tanya kaitannya dengan perintah nahi mungkar yang menjadi dalil utama gerombolan tertentu di dalam Islam saat ini. Kanjeng Nabi sendiri yang pernah babak belur di Thaif sampai Perang Badar itu dengan tegas melarang penggunaan paksaan dalam mengatur masyarakat. Hukum digunakan hanya jika perilaku yang tergolong dosa itu menganggu ketenteraman masyarakat. Misalkan saja pencurian yang dipotong tangan. Itupun ruwet dalam pelaksanaannya, sampai-sampai sewaktu Sayyidina Umar menjabat khilafah merevisi Undang-Undang Quran itu. 
Ia memaafkan pencuri yang melakukan perbuatannya dikarenakan desakan ekonomi lantaran paceklik melanda. Bahkan penguasa bekas jajahan Persia-Romawi itu meminta maaf pada khalayak ramai sebab merasa tak becus mencukupi kebutuhan warga akan air. Cara di luar nalar pun ia lakoni seperti menyurati Sungai Nil yang berbuntut melimpahnya hasil panen. Padahal menyurati Sungai Nil itu merupakan tradisi era Firaun yang dulu kala disertai pemberian tumbal.
Maka jika disimpulkan Kanjeng Nabi adalah sosok yang sangat luwes dan dinamis, sangatlah wajar. Terkesan membingungkan karena dua kutub yang berseberangan pernah dilakukan, tapi ada hikmah di balik itu. Termasuk memberikan peluang bagi generasi mendatang menafsir sesuai kebutuhan lingkungan tempat tinggalnya yang kini disebut fikih. Sebuah wujud adaptasi yang tidak memberikan rumus jitu menghadapi masalah dengan ramuan penyembuh berbagai penyakit. Mengembalikan kepada bekal manusia berupa pengetahuan juga pengalaman dalam meng-iqra atau membaca kejadian yang dialaminya di keseharian.
Toh sungguh lucu jika kita mengkalim diri paling sunnah tapi rupanya tak paham sejarah, kan?" tutur Kang Sabar.
- Hasil diskusi sampai Subuh dengan Pak Eko Tunas, Pak Guspar Wong , dan Pak Budi Maryono di #NgajiSastra Surau Kami, KOpium Cafe dua malam lalu.

0 comments:

Post a Comment