Tuesday, September 26, 2017

Catatan Timur Tengah

1. Kelompok Otonomi Kurdi di Irak mengklaim hasil referendum senin kemarin sebagai awal dari terbentuknya negara Kurdi.
Langkah ini akan sia-sia dan akan berakhir dengan konflik bersenjata. Irak tidak akan membiarkan skenario pecah-belah ala Barat terjadi di negaranya.
Bukan hanya pemerintahan Republik Irak di Baghdad yang akan menolak dan menganggap referendum sebagai aksi pemberontakan namun milisi mobilisasi popular yang didirikan berdasarkan Fatwa ulama Syiah Ali Sistani akan menjadikan kelompok Kurdi sebagai lawan langsung. Mengingat segregasi Irak di bagian utara menjadi negara baru akan memungkinkan kehadiran secara permanen tentara AS dan mempermudah Israel menyimpan amunisi konflik di masa depan.
2. Pemerintah Suriah setelah mengontrol kota Deir Az Zoir di Timur negara itu akan bergerak cepat ke Raqqa, ibu kota yang diklaim oleh ISIS Suriah. Assad membutuhkan kota ini untuk mengklaim Hasakah dan menguasai ladang minyak di utara sungai euphrates.
Meski menyadari kelompok Kurdistan di dukung oleh pasukan AS, namun nasionalisme Suriah untuk mengklaim seluruh tanah air mereka tidak dapat lagi dinegosiasikan. Assad telah membuktikan ia memiliki klaim lebih besar dengan dukungan mayoritas penduduk. Sementara di bagian utara sendiri etnis Kurdi bukanlah mayoritas. Mereka 7 persen populasi Suriah, dan 40 persen populasi suriah di utara.
3. Sama dengan kepentingan geopolitiknya, maka Iran akan mendukung Baghdad bila terjadi konflik terbuka dengan kelompok Kurdi yang memerdekakan diri dan di dukung AS ini.
4. Turki tidak akan membiarkan mimpi negara Kurdistan raya terbentuk. Mereka melihat referendum Kurdi adalah langkah pertama memerdekakan diri setelah menjadi pseudo federal atas Irak, untuk selanjutnya Barat akan memanfaatkan alasan yang sama pada etnis kurdi di Turki, Suriah, dan Iran.
5. Setelah perang Isis, maka memerangi kelompok Kurdi bersenjata akan menjadi agenda perang di kawasan selanjutnya.
6. Saudi Arabia memasuki tahun ketiga perang dengan milisi dan tentara Arab Yaman.
Sejauh ini ongkos perang di Yaman semakin membebani ekonomi negara, seperti disampaikan Pangeran Salman. Ia mengatakan bahwa proyek mega-infrastruktur di gurun Arab tidak dapat dibiayai karena investor mengundurkan diri dan uang minyak tidak mencukupi mendanainya.
Meski demikian perang Yaman sama sekali belum memberikan hasil bagi Saudi. Sebaliknya milisi Houti yang bermodal senjata rampasan dan senang bersarung dan bersendal jepit menguasai lebih banyak desa-desa Saudi.

0 comments:

Post a Comment