Sunday, September 24, 2017

HMI dan PKI

Saiya setuju pendapat kakanda Shandy JA Songge, murid langsung Prof. Nurcholish Madji, di Himpunan Mahasiswa Islam untuk segera menuliskan catatan perseteruan organisasi ini dengan PKI.
Mengingat semakin banyak saja alumni-alumninya yang wafat dan meninggalkan catatan seputar kejadian itu dalam bentuk kisah-kisah pribadi saja.
Beberapa yang sering saiya dengar adalah dari pembicaraan dengan dr. Sulastomo tentang manuver PKI lewat lembaga-lembaga sayap untuk mengintimidasi HMI.
Pernyataan DN Aidit: "Kader PKI sarungan saja kalau tidak bisa kalahkan HMI" dianggap perintah pembasmian kepada pihak-pihak yang dianggap anti revolusi.
Aidit menurut dr. Sulastomo tentu memiliki alasan kuat bahwa PKI mesti menang melawan organ mahasiswa Islam yang dianggap salah satu penghalang dari manuver politik PKI. Soekarno belum lama menempatkan Masyumi sebagai partai terlarang, dan Hmi yang selama ini dianggap onderbouw (bawah ketiak) tokoh-tokoh Masyumi pasti akan lebih mudah dikalahkan.
Kenyataannya, lanjut Prof. Dawam Rahardjo, Hmi itu dibentuk oleh orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu kental juga warna keislamannya. Sosok seperti Lafran Pane adalah orang yang urbanis, hampir abangan. Taat beribadah tetapi terbuka terhadap budaya pesta-pesta mahasiswa. Ini dapat dilihat dari anggota Hmi dulu yang berpakaian kebaya atau pakaian perempuan biasa.
Dawam memiliki kisah langsung konflik Hmi dengan CGMI (Central/Coordinatie Gerakan Mahasiswa Indonesia) seputar pengepungan Kraton Yogya oleh PKI.
Ia bercerita bahwa satu-satunya jalan yang belum ditutup massa komunis adalah gerbang Kauman. Dimana dia menyelundupkan anak-anak Hmi untuk memecah konsentrasi aksi PKI.
Ketika saiya bertanya, apakah tujuan aksi di alun-alun Yogya itu nantinya disetting chaos untuk kemudian membunuh Sultan HB IX. Prof Damam tidak menjawab tetapi sepertinya ia setuju akan adanya skenario seperti itu. Sultan adalah salah satu orang yang paling anti dan dianggap ganjalan bagi PKI.
Sementara saiya mendengarkan dengan tertawa, kisah almarhum Imaduddin Abdurrahman, salah satu senior Hmi Bandung dan aktivis masjid Salman yang bercerita bahwa ia bersama Prof. Ahmad Sadali dan adiknya Ir. Ahmad Noeman mempersiapkan shalat Jum'at pertama di tanah di depan kampus.
Dari kisah yang sama (alm) Ir. Ahmad Noeman bercerita bahwa awalnya mereka pura-pura membuat petak-petak tanah dengan alasan di sana akan dibuat ladang jagung penelitian kampus ITB demi menghindari penyerangan massa pro PKI. Di hari jum;at tanah tersebut di beri pembatas semacam shaf shalat untuk kemudian diselenggarakan shalat jum'at pertama.
Ir. Ahmad Noeman sendiri dan kakaknya (Prof) Ahmad Sadali adalah desainer logo dan mutz (baret) Hmi. Ia bercerita dalam satu pertemuan.
"Kita iri dengan anak-anak CGMNI yang afiliasi ke PKI. Mereka pakai baret dengan hiasan yang bagus. Keren dan necis. Kayaknya Hmi perlu bikin juga."
...tentu masih banyak kisah2 kecil lainnya. Andi H.

0 comments:

Post a Comment