Tuesday, September 19, 2017

jika seseorang punya cahaya di dalam hati, ia bisa menemukan jalan pulang ke rumahnya

"Maulana Jalaluddin Rumi berujar jika seseorang punya cahaya di dalam hati, ia bisa menemukan jalan pulang ke rumahnya. Tentu cahaya yang dimaksud bukanlah senter dengan sekian takaran Lumens. Melainkan cahaya dalam artian ketenangan batin, termasuk keluasannya dalam menyikapi masalah keseharian. Bisa didapat dari percikan ibadah fisik yang rutin dilakukan atau juga latihan menggugah kesadaran via nalar. Keduanya bisa berujung pada hati yang terang.
Bahkan sosok yang gugur di gerbang kota Konya saat menghadang Pasukan Mongol ini menganjurkan untuk menutup mata dan merasakan cinta dari Gusti Allah. Menutup mata bisa dimaknai banyak hal, termasuk berhenti menerima, mengolah, dan mencerna informasi. Memasrahkan semuanya kembali pada hati nurani, mencari sebersit Kehendak Tuhan. Dalam istilah Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah menggunakan ilmu yang beliau perkirakan akan jadi barang langka di zaman akhir yaitu menghikmahi peristiwa. 
Teorinya memang begitu sulit dipahami jika tanpa menyertakan contoh. Tapi begitu melihat polanya di keseharian, hal tersebut bukanlah mitos belaka. Misalkan saat membeli rumah rupanya dicurangi pengembang dengan berbagai masalah fatal. Begitu akad dilakukan tentu ada rasa syukur yang membuncah. Tapi begitu menempati rumah yang diidamkan dan melihat retak di sana-sini, perlahan akan muncul keresahan. Termasuk bisikan setan yang seringkali menggunakan pengandaian bahkan simulasi masa depan yang belum tentu terjadi.
Perlahan rasa syukur yang sebesar lautan itu menyurut hingga sebatas laguna saja. Ditambah ketika masalah serupa ditemui para tetangga, akhirnya kegundahan tadi pun membesar. Bak bola salju, syukur pun akhirnya sebatas sungai. Berganti sabar menghadapinya. Namanya pembiaran tentu akan berakibat mengerikan. Maka terjadilah kesepakatan antar warga untuk menuntut pengembang membenahi fasilitas umum, belum fasilitas tiap rumah. Menggunakan skala prioritas terlebih dahulu. 
Sabar seharusnya tanpa batas pun akhirnya terbatasi oleh kemampuan hati mengelola permasalahan yang seringkali datang bertubi-tubi. Di sinilah titik puncak yang harus diwaspadai. Untunglah Kanjeng Nabi selama 13 tahun periode dakwahnya di Mekah memberi banyak teladan. Bahkan bisa dikatakan lebih banyak beliau ditindas daripada merdeka saat di Madinah yang hanya 10 tahun. Salahsatu prinsip yang beliau pakai adalah balas keburukan dengan kebaikan. Tak terhitung jumlahnya peristiwa yang menyangkut ini.
Dalam masalah perumahan tadi misal, mengirimi makanan termasuk menyapa dalam keramahan pihak pengembang adalah contoh penerapannya. Adapun langkah kedua Kanjeng Nabi adalah membalas dengan perbuatan yang setimpal. Seringkali putra Abdullah itu menggunakan jalan ini saat di medan perang. Dalam Perang Badar beliau meminta campur tangan Gusti Allah untuk memenangkan perang yang sudah pasti kalah secara hitungan logika. Bahkan terkesan sembrono dengan mengatakan jika pasukan Islam kalah berarti tak akan ada yang menyembah Gusti Allah lagi.
Sayyidina Abu Bakar yang tergolong Assabiqunal Awwalun atau yang masuk Islam pertama hingga terjamin surga itupun terpaksa menegur sahabat sedari masa kecilnya. Secara adab memang betul, hanya saja khalifah pertama usai Kanjeng Nabi wafat itu lupa jika Gusti Allah pun punya wewenang untuk membatalkan janji-Nya. Pun dalam perkara membalas setimpal ini beliau lakukan saat membakar benteng Yahudi yang berkhianat pada perjanjian. Lumrahnya di banyak peperangan lintas masa dan benua, pengkhianatan mendapat jatah hukuman tertinggi yaitu mati dengan tidak hormat.
Untuk pengaplikasiannya di perkara perumahan tadi adalah menuntut melalui musyawarah demi mufakat. Jika dalam tenggat waktu yang disepakati bersama di atas materai tak juga dipenuhi pengembang, malah terkesan tidak ada komunikasi dengan warga, jalan kedua ini layak ditempuh. Termasuk dengan memberi ultimatum apa yang akan terjadi pada pengembang jika sampai warga pada tahap amuk. Sebagaimana tengah menjadi tren saat ini di mana menghakimi massa bahkan hingga tewas marak di mana-mana. Penekanan pada simulasi-simulasi yang akan terjadi jika pengembang sengaja menghindari tanggungjawab juga bentuk membalas keburukan dengan keburukan yang setimpal.
Jalan ketiga yang dengan keras dilarang pria berjuluk Al Amin atau Yang Dapat Dipercaya itu adalah membalas keburukan dengan keburukan yang lebih berat. Beliau mencegah Sayyidina Umar bin Khattab yang sudah menghunus pedang untuk menebas seorang badui yang buang air kecil di tempat sujud. Bahkan saat Malaikat Jibril menawarkan gunung-gunung di sekitar Thaif untuk menimbun penduduknya ditepis dengan doa bagi hidayah keturunannya yang kelak terbukti. Padahal membalas keburukan dengan yang lebih berat itu dimaklumi dilakukan para nabi sebelumnya yang berdoa menimpakan bencana bagi umat yang durhaka. Adapun sosok yang yatim-piatu sedari batita itu justru memilih jalan sabar.
Sang Pembelah Bulan itu gunakan cahaya dalam hatinya untuk menerangi kegelaoan yang dunia selimutkan. Beliau menutup semua argumentasi yang menuju pada terprovokasinya hati. Dengan tegas menepis semua peluang membalas kedzaliman meski jika terlaksana pun akan dianggap wajar dan manusiawi. Apalagi di era media sosial di mana seringkali viralnya suatu peristiwa bisa mengaburkan objektifitas pada pokok permasalahan dan mengedepankan simpati jua empati. Tetap saja sebuah jalan cahaya harus dibersihkan dari kegelapan. Seperti halnya sebuah senthir yang harus rutin dibersihkan dari jelas yang menutupi kaca pemendarnya.
Ingat atau dzikir pada tiga prinsip tadi akan membuat seorang manusa ultra-moderen sekalipun tetap menjadi pelita di kelamnya malam. Ia akan dapat berjalan menyusuri remang meski kadang disertai rabaan. Begitu hatinya terasa gelap dengan sirnanya syukur dan sabar sebagai minyak dan sumbunya, ia memilih berhenti. Berdiam diri membersihkan jelaga-jelaga dari hati. Berbaik sangka pada bentuk kedzaliman paling nyata sekalipun, termasuk pada Kehendak Gusti Allah baik bagi perkembangan spiritual pribadi maupun pihak-pihak yang berkaitan.
Lenyapnya waspada pada kemungkinan matinya cahaya hati bisa berbuntut amarah yang meluap tak tepat sasaran. Akhirnya alih-alih menyelesaikan masalah, yang muncul justru tsunami masalah yang lebih rumit. Pemberitaan dunia kriminal berdekade belakangan membuktikan hal tersebut di mana seringkali hanya karena kesalahpahaman yang tidak diklarifikasi atau ditabayyuni berbuntut mendekam di balik jeruji untuk berdasawarsa lamanya. Maka petuah Sunan Kalijaga untuk eling dan waspada amatlah penting di kekinian. Sebuah istilah yang oleh Emha Ainun Nadjib disebut sebagai takwa. Berhati-hati menjauhi larangan dan mematuhi perintah-Nya." papar Kang Sabar di hadapan pria-pria kekar bermuka sangar yang akan dikirim ke Myanmar.

0 comments:

Post a Comment