Tuesday, September 19, 2017

Kaya bermartabat adalah hal yang terlupakan atau bahkan sengaja dilupakan generasi kekinian

"Kaya bermartabat adalah hal yang terlupakan atau bahkan sengaja dilupakan generasi kekinian. Semangat asal kaya membuat sebagian dari kita rela memakan uang syubhat atau tak berkah, sampai tega menghalalkan segala cara demi gaya. Sederhana yang seringkali dibidani menerima apapun saja apa adanya ditinggalkan sebab dianggap tak mampu menaikkan citra diri. Sekadar memenuhi kebutuhan hidup baik dari sandang, pangan, kemudian papan digeser menjadi pemenuhan keinginan-keinginan yang disetir iklan.
Pertanyaan besar "mau cari apa kok sampai mau makan yang haram" lumrah hadir di benak kita yang masih lugu. Tapi tidak bagi sebagian kita yang memang berniat mengumpulkan laba sebanyak mungkin melalui berbagai macam cara. Baik melalui menaikkan harga di luar standar pasar, mengulur-ngulur memenuhi hak pembeli, sampai yang mengkorupsi barang dagangan. Akan lebih membuat pening kepala jika ternyata pelakunya rajin pengajian tiap Hari Rabu per pekan, misalnya. Meski tema pengajiannya sudah jelas terarah seperti slogan "cepat kaya lewat properti".
Nanti akan lebih repot jika yang bersangkutan rupanya adalah pelaku poligami. Untunglah tidak berdalil sunnah nabi, jadi murni memuaskan nafsu dan gengsi. Bukankah memang ada stigma di masyarakat, entah siapa yang mendahului tren satu itu, bahwa poligami adalah salahsatu parameter kesuksesan dunia? Soal isteri pertama curhat ke para tetangga soal deritanya, atau perilaku isteri kedua sering mendzalimi tetangga dengan parkir mobil di tengah jalan komplek, tidak dipedulikan sang suami. Parahnya lagi dalam soal pengasuhan anak di mana sang ayah yang rajin bekerja hingga jam 8 malam baru sampai rumah tak membenahi perilaku kleptomania anaknya yang baru SD.
Pertanyaan yang wajib hadir di benak manusia normal adalah "sukseskah sosok yang begitu?". Ia pengembang yang mengutamakan keluarga sampai sengaja tidak memenuhi kewajibannya kepada pembeli perumahannya. Tapi rupanya bukan keluarga yang diutamakan sebab anaknya yang sering ketahuan mengambil barang tetangga tanpa ijin saja tak ditegur. Bahkan istri pertama yang merupakan ibu kandungnya terkesan membela perilaku sang anak. Ditambah lagi rupanya pelampiasan dari dimadu itu yaitu memenuhi rumahnya dengan barang-barang bermerek dengan label harga mencekik. 
Ataukah memang fenomena serupa yang dijuluki OKB alias Orang Kaya Baru? Tentu peristiwa Fist Travel tak bisa tidak bakal menjadi rujukan. Pola mendadak kaya dengan cara seolah instan tadi rupanya sudah ada di masyarakat Jawa sejak dahulu kala. Istilah 'ra kuat drajate' sering disematkan pada individu yang jangankan dipegang ucapannya, kesepakatan di atas materai saja dengan enteng dimentahkan. Jika dirunut asal-muasalnya, di manakah ia tumbuh? Bisa dari nafsu yang menggebu, lumrah ada di tiap manusia, tinggal dipupuk FTV atau shitnetron yang mengagungkan simbol-simbol pengagung benda. 
Apakah jenis manusia seperti itu berdosa atau layak mendapat kucilan dari masyarakat? Tentu tidak. Tapi secara otomatis manusia lain yang berbeda jenis akan berusaha menjaga jarak dengan perkataannya yang melangit dan seolah tak punya simpati apalagi empati. Ia akan menghargai apapun dengan uang, sesuai dengan semboyan ala barat yaitu waktu adalah uang. Baginya konsep yang pas adalah hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Bahkan menikah pun sebatas buang hajat yang sering memusingkan kaum adam. Selebihnya dinomorsekiankan dengan dalih sudah letih mencari nafkah.
Sosok-sosok seperti Qarun atau juga Tsa'labah telah terlebih dulu menjadi perlambang sejak ribuan tahun silam. Dalam pewayangan ada juga lakon berjudul 'Petruk Dadi Raja' yang mengkisahkah tentang 'tidak kuat derajat' itu tadi. Pendekatan yang paling pas menyikapinya adalah mempelajari ajaran-ajaran kerendahhatian yang menjadi makanan sehari-hari orang yang menempuh jalan sufi. Bukan dalam rutinitas dzikir atau yang disebut wirid dengan beragam bentuknya tapi melalui meneladani kisah para nabi yang menjadi inspirasi para guru pembersihan hati itu tadi. 
Cuma pasti akan siap dicueki sebab bagi pemuja laba, Tuhan bisa disuap dengan sedekah di masjid atau kirim bantuan ke Rohingya juga Palestina. Soal uang didapat dari menipu pembeli sampai korupsi bahan bangunan, mereka tak ambil soal. Tapi tentu saja hal semacam itu tak bisa dimusnahkan dari dunia sebagaimana nyamuk pun tetap bebas berkeliaran meski produk pengusir bahkan pembunuhnya bertebaran. Sudah kehendak Tuhan menghadirkan manusia-manusia tengil macam itu sebagai pengingat bagi yang menghadapi. Diuji apakah bisa sabar atau malah bisa sekalian bersyukur. Toh bagi seorang pecinta, duka atau suka tak ada bedanya sebab dipersembahkan untuk yang dicinta.
Hanya saja setiap kita harus tetap ingat dan waspada agar tak terjerumus menjadi manusia yang semacam itu. Caranya adalah menyuntikkan vaksin berupa tokoh-tokoh dunia yang sudah mencapai puncak karirnya tapi memilih hidup apa adanya. Sekelas Mahatma Gandhi rela memintal kapas untuk bajunya sendiri padahal ia bisa dengan mudah beli Mercy atau bergaya hidup laiknya Sukarno. Gus Dur bisa memiliki istana sebagaimana para presiden sebelumnya tapi memilih membagikan miliaran rupiah hibah padanya ke yatim-piatu di manapun berada. Atau Mbah Emha AInun Nadjib dengan enteng bisa berpesawat jet ala Surya Paloh dengan bekal massa dan jaringannya, tapi malah sibuk ke sana-sini begadang menerima rakyat yang kesepian, diacuhkan, bahkan diperas pemerintahan tanpa henti.
Melatih nalar untuk bisa mengambil keputusan bukan berdasarkan nafsu bentukan iklan tv atau medsos memang berat. Harus istiqomah atau terus-menerus hijrah dari satu kondisi ke lainnya. Tanpa henti, sebab kata Imam Syafii begitu seseorang berhenti bergerak tak memaksimalkan peran di lingkungannya, ia tak ubahnya air menggenang di selokan. Bukankah Tuhan melalui Quran sudah menegaskan bahwa seisi Kitab Suci Umat Islam itu 97 persen lebih justru berisi anjuran melakukan manfaat pada oranglain? Diingatkan lagi dalam tiap salat yang didirikan selalu diakhiri dengan salam tanpa jawaban. Sebuah perlambang bahwa menebar salam atau kebaikan sangat tak berbatas. Lantas diabadikan dalam budaya berupa salaman atau berjabat tangan usai salam ditebarkan kepada sesama jamaah.
Sungguh sia-sia jika kita menjadi orang kaya tapi tak bermartabat. Dibenci tetangga sebab tak pernah menebar manfaat. Disinisi istri atau anggota keluarga begitu tahu cara kita menafkahi keluarga lewat jalan tidak berkah bahkan dibenci Gusti Allah. Belum lagi jika secara hukum dikemudian hari akan menjadi salahsatu yang dimasukkan ke dalam jeruji sebagaimana banyak OKB gagal melunasi hutangnya. Untuk apa semua itu? Kandas seketika tanpa meninggalkan apapun untuk kehidupan setelah mati. Sebuah hidup yang tak bermakna, untuk apa dijalani jika tak satupun yang diniatkan sebagai ibadah pada Illahi." tukas Kang Sabar pada beberapa pasang mata.

0 comments:

Post a Comment