Saturday, September 9, 2017

Ketidakadilan



Bagi Sokrates, tidak apa-apa jika kita yang mengalami ketidakadilan, asalkan kita sendiri tidak berbuat sesuatu yang tidak adil terhadap orang lain. Dia menghormati hukum demokrasi di Athena, walau pun demokrasi itu dijalankan oleh demos (artinya ‘massa beringas’), dan untuk itu, dia bersedia mendapatkan hukuman yang tidak adil, yaitu harus meminum racun. Perlakuan tidak adil itu dia terima dengan berani.
Dalam hidupnya, Sokrates banyak berbenturan dengan kaum Sofis (artinya ‘profesional dalam kepintaran’) dan profesionalisme mereka inilah yang menjadi ciri dari kaum Sofis. Dan bisa dibilang merekalah pelopor ‘dosen modern’ yang dibayar untuk pengajarannya. Mereka mengadakan kursus berbayar bagi orang-orang yang sanggup membayarnya. Di Athena saat itu, pengadilan biasanya berlangsung di hadapan publik, sekitar 500 orang, lalu hukuman pun dijatuhkan dengan cara voting. Namun, sang terdakwa diberi kesempatan untuk memberikan semacam ‘pembelaan’ di hadapan publik, dan di sinilah kemampuan orasi menjadi pertaruhan yang signifikan. Dan di sinilah kaum Sofis masuk dengan menciptakan kebutuhan akan keahlian intelektual serta menawarkan jasanya untuk mengajari bagaimana memelintirkan logika dengan argumentasi yang nyaris tak terbantahkan.
Sokrates sebaliknya. Saat diadili, dia malah menyengat warga Athena dalam pembelaannya serta mengatakan bahwa ‘hidup yang tidak direnungi adalah hidup yang tak layak dijalani’, dan dia pun menjelaskan bahwa dirinya adalah langau yang diutus untuk menyengat kuda lembam Athena agar bangun. Jika, warga Athena menghukum mati dirinya, maka akan ada langau lain yang diutus untuk mereka.
Hasilnya? Kita semua sudah tahu: Masyarakat Athena malah menghukum mati orang yang justru dikatakan paling bijak di Athena, dan seringkali mengakhiri dialog-dialognya dengan perkataan: “Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa.”
Penyebab lain dia dihukum mati adalah karena Aristophanes, seorang sutradara teater di Athena, membuat sebuah pentas teater yang menggambarkan Sokrates sebagai seorang homoseksual (digambarkan dengan para pemuda yang menungging di sekitarnya), juga difitnah telah mengajarkan moralitas baru yang bejat kepada para pemuda Athena. Selain itu, Sokrates pun ‘menertawakan’ kepercayaan politeis masyakarat Athena; “bagaimana mungkin para dewa itu saling berperang satu sama lain”, tandasnya. Dia sendiri selalu bersumpah dengan nama Tuhan yang satu. Ini juga merupakan salah satu penyebab dia dihukum mati, yaitu 'atheos' yang artinya 'tidak percaya pada dewa dewi di negara kota Athena'.
Gambaran dari Aristophanes ini rupanya menyebar dan mewarnai pandangan masyarakat Athena terhadap Sokrates. Bayangkan sendiri, apa jadinya gabungan dari teater Aristophanes yang mem-persona-non-grata-kan Sokrates dengan sengatan Sokrates kepada masyarakat Athena saat pengadilan? Maut.
Namun, hingga detik terakhir dia harus meminum racun, tak sekali pun dia menyebut nama Aristophanes, apalagi mengutuknya, karena fitnah yang telah disebarkan oleh sang sutradara teater itu terhadap dirinya. Yang justru dia permasalahkan saat menjelang eksekusinya adalah agar istrinya dibawa pergi, tak boleh menyaksikan eksekusinya, sebab dia tak mau kematiannya ditangisi, serta pesan kepada muridnya untuk membantu melunasi hutangnya.
Dia pun menolak mentah-mentah ketika para muridnya mengusulkan agar menyuap penjaga penjara sehingga bisa melarikan diri. Apa jadinya semua ajaran yang dia serukan selama ini kepada masyarakat Athena apabila dia malah melarikan diri ketakutan dari kematian. Padahal Sokrates sendiri menegaskan, bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati. Hanya philosoma (artinya ‘pecinta tubuh’) dan philovictor (yaitu mereka yang cinta kemenangan dalam perdebatan) sajalah yang takut menghadapi kematian.
Maka, Sokrates pun menjadi korban pertama dari demokrasi.
Apakah itu berarti hidup yang Sokrates jalani berakhir dengan buruk? Tidak. Sokrates menganut pandangan truisme, yaitu bahwa semua yang ada dan terjadi dalam hidup ini hanyalah kebaikan semata. Kesalahan dan kejahatan hanya terjadi karena pelakunya tidak tahu dan tidak menyadari bahwa itu adalah salah.
Tidak seperti kaum Sofis, Sokrates sendiri malah hidup dalam kemiskinan. Dalam satu tahun, pakaian yang dikenakannya hanya itu itu saja. Pernah suatu ketika, dia berhenti di depan toko kelontong, lalu dia melihat barang-barang yang dijual di sana, kemudian dia berkomentar: “betapa banyak barang yang tidak aku butuhkan.”
Mendadak, saya pun jadi teringat status sahabat saya, Herry Mardian:
“Apa pun yang engkau kumpulkan akan menjadi milik ahli warismu. Segala kenikmatan itu akan menjadi milik orang lain, sementara pertanggungjawaban dari semua itu akan menjadi tanggunganmu.”
(Ahadits Al-Qudsiyyah, Imam Al-Ghazali)
Maksud dari “kumpulkan” itu adalah diamkan, simpan, membuat manfaatnya tidak mengalir ke orang lain. Barang idle.
Tips: secara umum, kalau ada benda yang selama siklus 40 hari tidak kita gunakan satu kali pun, artinya basically we can live without it. Alfathri

0 comments:

Post a Comment