Monday, September 4, 2017

Mengenali Konflik dari Suriah ke Myanmar

Yang perlu kita ketahui dari sebuah konlfik adalah mengenali faktor-faktor pemicu, aktor, motif dan modusnya. Keempat faktor ini ada dalam setiap teori mengenai konflik. 
Pemahaman kita atas teori akan membawa kemudahan dalam mempelajari dan memprediksi arah konflik tadi.
1. Pada kasus perang sipil Suriah, misalnya kita sudah dapat mempredikskan enam tahun lalu bahwa Pemerintah Assad akan memenangkan konflik. Ini karena masing-masing konflik akan memenuhi teori-teori yang telah atau sedang disusun para peneliti konflik. 
Pada konflik Suriah, pre-text yang dimainkan oleh media massa asing dan kemudian digeneralisir oleh media massa Timur Tengah sendiri sebagai perang antara Suni vs Syiah, Arab vs Alawite sama sekali tidak memenuhi kriteria dimaksud oleh teori. 
Ini artinya kita harus mencari teori lain yang cocok kita gunakan sebagai pisau bedah dari konflik yang terjadi. 
Setelahnya kita baru dapat menyusun prediksi-prediksi penyelesaiannya. Ini karena setiap konlfik mesti pada akhirnya harus diselesaikan secara diplomatik. Dasarnya sederhana saja, yaitu karena konflik sebetulnya terjadi karena proses keseimbangan-keseimbangan baru (new equilibirium). Bila keseimbangan tadi tercapai atau gagal dicapai maka secara alamiah orang akan mencari titik status quo atau kompromis.
2. Bahwa setiap konflik mesti melibatkan hal-hal yang potensial sebelum dia meledak karena sebuah pemicu. 
Pada kasus konflik penganut budha (Rakhine) dan penganut Islam (Rohingya) di Burma (sebagian malas menyebut dirinya orang Myanmar) katanya dimulai dari pembalasan kelompok Budha. Kasus ini berawal dari dibunuhnya seorang perempuan budha yang menyulut balas dendam terhadap kelompok muslim suku Rohing yang adalah minoritas di Negara Bagian Rakhine. 
Persoalan pemerkosaan dan pembunuhan yang lalu berujuk pecah konflik ini tidak dapat kita terima berdasarkan teori ini. Tetapi bila menggunakan teori lain maka protracted social conflict di negara bagian Rakhine Myanmar sudah terjadi lebih dari dua ribu tahun. 
Sehingga di sini kasus pemerkosaan kita abaikan, tetapi ia sah sebagai trigger (pemicu) sebagai akumulasi konflik yang terpendam. 
3. Setiap konflik akan menarik apa yang disebut Galtung dengan para antagonis. Antagon ini adalah pihak-pihak yang terlibat secara tidak langsung kepada konflik. 
Melihat kasus Suriah misalnya, kelompok mujahidin, jihadis internasional adalah pihak yang disebut sebagai antagonis. Mereka terlibat karena framing media, termakan isu sekatarian, atau datang karena alasan-alasan sentimen agama, dan juga kepentingan uang (mercenaris,datang sebagai tentara bayaran) 
4, Setiap konflik memilik potensi untuk diinternasionaliasi. Dengan ini ada alasan intervensi. Misal pada kasus Suriah yang menarik kelompok NATO dan Grup Arab Kaya ikut mendanai perang teroris di Suriah. 
Pada kasus Myanmar internasionalisasi konflik ini sangat mungkin terjadi. 
Bangladesh dan Myanmar telah lama terlibat sengketa teluk Benggal yang menghadap pesisir Rakhine. Sengketa bantalan laut yang bukan hanya persoalan landas laut tetapi juga kandungan mineral di bawahnya.
Cina memiliki hubungan yang baik dengan Junta Myanmar selama Burma diembargo barat untuk membebaskan Aung San Su Kyi. Kepentingan Cina adalah perdagangan dan akses ke dry port yang strategis di teluk Bengal.
Barat terutama Inggris, adalah kolonialis yang meninggalkan segregasi wilayah dan menciptakan konflik berkepanjangan. Dengan tujuan meninggalkan negeri jajahannya dalam keadaan lemah. Strategi ini yang sebetulnya cukup terlihat dalam perang sipil di Myanmar.
Prinsip yang dulu disebut devide et impera, memecah belah Burma/Myanmar yang terdri dari banyak etnis dan penganut agama. Teori pecah belah ini yang disebut dengan teori secessionist atau separatisme. 
5. Bila kita melihat serius konflik di Myanmar maka teori separatisme inilah yang paling cocok untuk menerangkan konflik. Kita punya kasus yang sama semasa konflik Aceh.
Solusinya tentu ada beberapa opsi pula. Salah satunya memberi otonomi khusus kepada masing-masing negara bagian. Hal yang tentu tidak mudah diterima oleh kelompok militer.
6. Pada proses secessionis inilah maka tragedi yang terjadi pada kelompok minoritas Rohingya (muslim) dapat kita sebut sebagai displacement violence yaitu kekerasan dengan cara pengusiran. Lebih parah lagi mereka kini tidak dianggap sebagai bagian dari negara Myanmar.. 
Pengusiran warga Rohingya melalui kekerasan mesti terkait dengan isu-isu penguasaan lahan yang ditinggalkan. Yang biasanya disebabkan oleh faktor-faktor pendorong lainnya.
7. Diplacement atau pengusiran manusia ini biasanya selalu terkait dengan isu-isu perebutan lahan bagi kepentingan ekonomi dan bukan isu agama. Tidak jarang isu pembangunan (developmentalism) dimanfaatkan sebagai pre text.
Bila kita lihat isu pengusiran ini yang paling sering terjadi dalam konflik sosial. Misal pengusiran warga Syiah di Najran Saudi Arabia yang mengatasnamakan pembangunan. Pengusiran suku Anak Dalam di Jambi karena pembangunan industri sawit nasional. 
Juga pengusiran petani dari Karawang, tambun, bekasi aas nama proyek Properti meimeikarta, dan penghancuran kampung nelayan Luar Batang atas nama pembangunan. Semuanya masuk kategori konflik yang modusnya adalah pengusiran warga bagi kepentingan pemodal.

0 comments:

Post a Comment