Wednesday, September 27, 2017

Mitos

"Mitos adalah jalan paling efektif pelarangan yang berbau mendesak. Muncul di abad pertengahan Nusantara kala kerajaan-kerajaan masih menjadi pagar sosial masyarakat. Budaya lisan yang begitu kental terasa bahkan hingga kini diakali dengan sosialisasi via cerita. Dititipkanlah pesan-pesan untuk generasi ke depan melalui kisah-kisah legenda yang biasanya selalu hadir di tiap desa. Para begawan kala itu langsung turun ke pelosok diiringi murid-muridnya untuk menyebarkan ajaran kebajikan.
Beratus tahun kemudian tradisi tersebut masih berjalan hingga perusahaan-perusahaan bisnis negeri asing berdatangan. Benturan budaya pun terjadi. Dengan semangat yang dititipkan gereja, para misionaris yang menganggap negeri ini belum berbudaya dan tak bertuhan sebab menyembah benda-benda, meringsek hingga pedalaman. Jika para pedagang Gujarat, Tiongkok, sampai Samarkand sebelumnya damai hidup berdampingan dengan warga pesisir Nusantara, lain dengan manusia Eropa.
Apa yang dianggap sebagai tindakan tidak memiliki dasar nalar itu dicap terbelakang. Lewat pengaruh kuatnya di kerajaan secara perlahan propaganda tersebut berhasil. Apalagi setelah Snouck Hurgronge dan Vanderplas menggunakan dalil bid'ah untuk memecah belah persatuan-kesatuan umat Islam. Bak menemukan inang, penghancuran budaya yang ratusan tahun membatasi perilaku masyarakat dalam keteraturan mendapatkan angin segar. Kemudian opium pun masuk dengan menjadikan etnis Tionghoa sebagai penjual resmi. Sebuah taktik yang berhasil membubarkan perlawanan negeri Cina sampai Jepang.
Mata air, hutan, gunung, sungai, sampai laut dikeramatkan sampai tak ada yang berani mengusik keberadaannya. Tak lain dan tak bukan agar menjaganya tetap asri dan terlindungi. Tak heran mampu mencukupi kebutuhan masyarakat sekitar sampai beberapa generasi. Kesadaran para pembesar kerajaan dan pejabat lokal begitu tinggi tapi untuk mengakali sulitnya sosialisasi, dibuatlah mitos. Termasuk melalui berbagai legenda yang juga terdapat banyak pesan untuk menertibkan warga. Tak semata mengandalkan kekuatan militer.
Penggalakan rasionalisasi mitos perlu dilakukan dengan bantuan media sosial. Itu adalah jalan paling tepat untuk menjegal penghapusan tradisi dengan dalih 'sudah ketinggalan zaman' atau khurafat-bid'ah-tahayul. Bukankah ketika suatu bangsa dirampas sejarahnya akan dengan mudah disetir? Butuh dua minggu lamanya menguras perpustaan Kerajaan Yogyakarta untuk diboyong ke Leiden usai Perjanjian Giyanti ditandatangani. Tak heran ahli propaganda Nazi menyebutkan bahwa membumihanguskan budaya juga termasuk memadakan api pemberontakan di masa depan. Bar-bar seperti Kaum Mongol atau Viking, tapi demikianlah penjajahan." tukas Kang Sabar di pinggir sendang. Ihda HS

0 comments:

Post a Comment