Tuesday, September 19, 2017

Orang jujur akan hancur

"Orang jujur akan hancur. Begitulah ramalan Raja Jayabaya dari abad ke-10 di Serat Jangka Jayabaya yang ditulisnya. Sederet dengan berbagai pertanda akhir zaman, kelak dilengkapi lagi oleh Sunan Kalijaga yang muncul di abad pertengahan. Nampaknya kejujuran menjadi salahsatu benang merah di antara dua sosok luar biasa di puncak kekuasaan raja-raja Jawa tersebut. Bahkan diabadikan dengan diposisikannya keris sebagai senjata jarak dekat yang personal di bagian belakang tubuh. 
Bagi manusia jauh sebelum perusahaan dagang Kerajaan Belanda, Portugis, Spanyol, sampai Inggris datang ke Nusantara, kejujuran adalah hal yang paling berharga. Dalam Kutara Manawa, Kitab Undang-Undang Kerajaan Majapahit, hukuman bagi kejahatan yang dibidani ketidakjujuran sangatlah berat. Bahkan Ratu Soma yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Dieng pada abad ke-7 itu tega memotong tangan anaknya sebab mengkorupsi pajak pedagang pasar. Sejalan dengan Kanjeng Nabi Muhammad di abad yang sama, ikhlas menghukum putri kesayangannya Siti Fatimah, jika ketahuan korupsi. 
Di masa lampau, kejujuran dipraktekkan para pemimpin besar. Para penguasa yang lahir dari bimbingan para begawan sedari kecil itu justru menjadikan kekuasaan sebagai pengejawantahan teori yang puluhan tahun dikunyah. Tentu Ken Arok bisa dijadikan pengecualian sebab langkah reformasinya yang revolusioner di masa itu. Tapi ia pun sebenarnya mendapat didikan ilmunya dari pengalaman yang tersebar di antara rakyat jelata. Bahkan bisa dikatakan meski ia dilabeli sebagai raja pembunuh yang cinta buta pada Ken Dedes, tetap saja ia jujur bahwa dirinya tergolong orang jahat.
Intrik-intrik kerajaan yang terjadi pun lumrah dengan berbagai kerajaan di negeri lain. Hanya saja kejujuran masih diagung-agungkan para manusia bijak di sekitar istana. Perkara keberpihakan mereka pada penguasa yang mungkin dicap dzalim, bisa jadi peran yang diambil adalah Togog, semacam Punokawannya kubu Kurawa. Bukankah saat Perang Salib pimpinan Raja Richard si Hati Singa malah bersahabat lewat cara yang unik dengan Shalahuddin Al Ayyubi? Keduanya ada pada pihak yang bertolakbelakang, tapi nilai kejujuran yang bagian dari kemanusiaan mempersatukan keduanya. 
Lantas apa kaitan kisah di masa lalu itu dengan kekinian? Bukankah kata sebagian orang sejarah dimanipulasi penguasa? Tentu, tapi berkaca dari kejadian selama kita hidup bisa mementahkan anggapan tadi. Bisa jadi kebohongan yang dipaksakan kemudian menjadi kebenaran seperti prinsip tim ahli Hitler. Atau setidaknya memunculkan keresahan hingga perpecahan suara di antara masyarakat banyak. Dalam hal ini Orde Baru melakukan tugas dalam 3 dasawarsanya dengan apik. 
Lord Acton yang sering berkata 'power tend to corrupt', kekuasaan membuat munculnya peluang korupsi, mungkin akan bingung melihat fenomena yang ada di seantero dunia. Kekuasaan yang dimaknai sebagai atas ke bawah berganti posisi dari bawah ke atas. Lihat saja Musim Semi Arab yang diawali dari api-api hoax berseliweran antara ponsel. Merembet ke Asia Tenggara di mana sel-sel teroris meringsek tergerak oleh motivasi keliru yang sengaja disebarkan pimpinannya. Maute terpedaya, menewaskan 600 lebih relawannya, membantai 150-an aparat Filipina, dan puluhan warga mati sia-sia. Sejak Pilpres terakhir pun Indonesia dilanda gelombang serupa, kekuasaan ada di tangan jempol-jempol rakyat jelata.
Kejujuran bisa dimaknai sebagai lawan korupsi yang tergolong dalam tiga kejahatan luar biasa. Dapat juga ditafsir apa adanya sebagai mengatakan kebenaran walau itu pahit. Untuk yang lawan korupsi memang berat sebab jujur model begitu harus ditanamkan sedari dini. Ranahnya pribadi agar memunculkan kesadaran yang berbuah sejati. Tidak sebatas sosialisasi dari sekolah ke kerumunan-kerumunan. Tinggal memilih mau bergerak sebagai orangtua, lingkungan, guru, sesama teman, atau malah sebagai penguasa sekaligus. Adapun tafsir kedua bisa jadi akibat yang timbul jika sudah paham teori jujur.
Saya masih ingat tahapan jujur dalam menghadapi ujian. Kala SD terpaksa apa adanya saat tes sebab ibu mengajar di sekolah yang sama. Ketakutan dilaporkan pada beliau membuatku rela nilai hancur asal tak dimarahi. Saat SMP harus jujur karena saat ujian seringkali duduk sebelahan dengan adik kelas yang jadi gebetan bertahun lamanya, apesnya, berlanjut saat SMA. Nah saat SMA ini agak komplek motifnya, selain sebagai sekretaris beberapa organisasi dakwah juga seksi di OSIS, juga ada sedikit perlawanan pada sekolah. Lain saat kuliah yang penuh soal esai, tak main copas sebab toh percuma pada akhirnya berpikir juga. 
Lantas kejujuran ada di sebelah mana? Apakah saya sepenuhnya jujur? Setidaknya dalam hal sekolah memang begitu, meski dalam beberapa kasus pernah juga ikut tren buka buku saat ulangan. Dalam keseharian bukan main upaya untuk jujur. Saat janjian dengan oranglain, ada beberapa kenalan yang memilih penghalusan kata. Ditanya sampai mana akan menjawab 'sedang di jalan', padahal ia baru melangkah keluar rumah. Urusan pekerjaan pun banyak yang sulit untuk dijujuri dengan alasan ngeles atau semacamnya. Bahkan pada satu titik seolah ketidakjujuran adalah salahsatu taktik bertahan hidup di hidup yang penuh tekanan. 
Apalagi di ranah birokrasi pemerintahan, tidak jujur membudaya di banyak titik. Setidaknya begitu yang saya tangkap dari curhatan beberapa kawan yang terjun langsung ke dalamnya. Untuk mendapatkan pendanaan proyek yang menjadi kewajiban pemerintah harus memberikan uang pelicin pada pejabat terkait. Sesepele untuk membuat surat di tingkat desa dikondisikan untuk memasukkan recehan ke kotak kas. Sifatnya sukarela tapi agak memaksa semakin tinggi jenjang birokrasinya. Orang kekinian akan memanggilnya sebagai korupsi, orang dulu menyebutnya 'wujud saling mengerti'. Belum lagi jika diimbuhi istilah 'pungli', selesai sudah topeng pemerintahan yang seolah suci.
Maka KPK yang singkatan dari Komisi Pemberantasan Korupsi itu perlu dilengkapi dengan Komisi Pencegah Ketidakjujuran di tingkat akar rumput. Tidak perlu melembaga dengan berbagai struktur organisasi yang seringkali memunculkan efek jumawa. Hanya sebagai organisme saja yang saling peduli sekitar. Ada tetangga buang sampah sembarangan, segera tegur. Teguran itupun bentuk jujur untuk ketidaksukaan kita. Daripada menggunjing di belakang yang bersangkutan. Atau anak kos yang mengatakan tamu lawan jenisnya adalah saudara harus diklarifikasi baik KTP maupun telepon orangtuanya. Katanya lebih baik mencegah daripada mengobati.
Nah, pengantar berat seputar raja tadi agak 'njomplang' dengan yang terakhir ini, kan? Bagaimana tidak, memang zaman dahulu lebih berbobot daripada zaman sekarang, kok. Bahkan Sayyidina Anas bin Malik radhiyallohu anhu pernah berkata, "Sungguh, kalian benar-benar selalu melakukan banyak perbuatan yang kalian pandang enteng di mata kalian. Padahal, pada masa Rasulullah dulu kami menganggapnya sebagai bagian dari dosa besar (riwayat al-Bukhari, sebagaimana dikutip oleh al-Nawawy di dalam Riyadlus Shalihin). Jadi, berani jujur meski bakal hancur lebur?" papar Kang Syukur saat koordinasi via panggilan video.

0 comments:

Post a Comment