Tuesday, September 26, 2017

Saringan Informasi

"Selera tiap manusia lumrahnya memang berbeda-beda. Sang Penciptanya saja memiliki nama tak terhingga, meski disepakati 99 nama untuk mempermudah penyebutan. Perbedaan yang luar biasa banyaknya itu menjadi salahsatu kekuasaan Tuhan juga. Boleh juga dianggap bahwa Gusti Allah tidak monoton. Ia terus dalam proses 'kun fayakun'. Dinamis, upgrade skenario dunia tanpa henti. Walaupun dalam Quran disebut 'pena telah diangkat dan tintanya pun telah mengering' toh tetap ada takdir yang tak bisa dirubah dan ada yang bisa.
Pertentangan akibat perbedaan itu pun tak terelakkan pasti hadir di tengah manusia. Pro-kontra selalu mengerucut ke konflik tertutup, bahkan terbuka. Dari adegan menusuk dari belakang sampai melempar kotoran di depan muka yang bersangkutan adalah titik puncaknya. Tanpa adanya resolusi konflik yang baik antara pihak yang berseteru, yang tadinya bara dalam sekam bisa berubah menjadi lahan gambut yang membakar tiba-tiba. 
Di sinilah silaturahim menjadi salahsatu jalan tengah yang apik. Menjadi dasar sila ke empat Pancasila dengan istilah musyawarah mufakat, 'srawung' menjelma menjadi saringan yang mampu memperhalus teh sampai kopi. Kerenggangan antar lubang saringan itu ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kedua belah pihak. Walaupun keduanya berkeinginan yang sama yaitu mendapat hasil saringan yang halus, tetap saja harus ada upaya untuk menundukkan ego masing-masing.
Berlatih menyusun saringan informasi dan argumen semacam itu sangat diperlukan saat ini. Banjir bacaan tak terklarifikasi membuat kebohongan makin tersebar hingga ke pelosok desa dan kebingungan menyikapi kejadian yang sebenarnya tak begitu penting itupun bak tsunami. Keengganan bertabayun tak hanya menimpa kaum awam di negeri yang dicap terbelakang. Lihat saja di negara dengan kebebasan pers terliar di dunia, Amerika Serikat, di sana tiap isu diangkat sedemikian rupa agar menghasilkan laba. Bahkan berita duta sekalipun!
Jika penyebaran berita berisi keji dibiarkan, sama saja menyembelih generasi mendatang. Jika Ismail rela disembelih demi semangat mematuhi perintah Tuhan, dalam hati kecil Ibrahim masih ada secuil keraguan. Kita malah menyerahkan anak-anak laki-laki untuk disembelih Firaun sebab berpeluang mengganggu trahnya." potong Kang Kuat.

0 comments:

Post a Comment