Sunday, September 17, 2017

Sekali lagi tentang Preferensi Membaca Penyegelan YLBHI dan Tragedi 65

Hari ini kita membaca barisan polisi memblokade acara diskusi mengungkap tragedi (19)65 di depan kantor YLBHI Menteng.
Sekelompok penggiat yayasan memprotes aksi polisi yang mereka sebut sebagai kemunduran demokrasi. Penggiat bahkan menyesalkan tindakan polisi yang melarang pemberian makanan pada peserta yang sudah ada di dalam dan pelarangan bagi tamu undangan untuk menggunakan toilet di kantor Yayasan.
Saiya tidak terlalu bersimpati dengan kegiatan ini, karena beberapa dari mereka yang muncul memprotes tindakan polisi itu adalah mereka yang dulu selama kampanye pilpres 2014 paling giat meyakinkan publik bahwa pemerintahan Jokowi-JK adalah pemerintahan yang humanis yang menghargai demokrasi dan akan memperjuangkan hak-hak si tertindas. Dari adegan Kendeng, reklamasi, kampung deret warga gusuran pinggir kali Bukitduri, penyelesaian kasus Munir, orang hilang, sampai performing art serah terima lumpur Lapindo, Jokowi dianggap orang yang akan membuka jalan kepada keadilan.
Singkatnya, seperti kawan yang bekerja di PMI yang mengatakan bahwa Jokowi adalah anti-tesa dari sosok Prabowo. Nama yang terakhir disebut, menurutnya adalah sosok anti demokrasi, fasis, dan mempunyai sejarah kelam berdarah-darah tragedi kemanusiaan menjelang reformasi 1998. Saiya faham dia berbicara begitu karena preferensinya menghendaki jalan teraman adalah mendukung paslon Jokowi-JK, karena kebetulan JK adalah orang penting di tempatnya mencari nafkah.
Beberapa penggiat kemanusiaan dan hak asasi dari yayasan itu muncul di layar video. Mereka yang menolak penyegelan rumah acara menguak kebenaran 65 itu adalah mereka juga yang dulu mengunduh fotonya di sebelah tulisan "I Stand on The Right Side" pada pilpres kemarin. Seperti yakin bahwa itu adalah sebuah pilihan tepat tanpa kecuali.
Setelah pelaporan-pelaporan, aksi polisional terhadap sikap kritis publik oleh aparat atas dasar penghinaan, kemudian diundangkannya PERPPU Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Ormas yang justru mengancam kebebasan berserikat dan berkumpul dan lalu hari ini penyegelan kantor YLBHI untuk menggagalkan diskusi tentang tragedi 1965 (Gestok) maka kita melihat orang-orang yang dulu berdiri di sisi yang benar adalah yang paling giat melayangkan protesnya.
Bila kita membaca Julia Kristeva, maka betapa mudahnya haluan dari para penggiat kemanusiaan dan pejuang hak-hak asasi ini berpindah dari pemuji kepada penyesal ini tidak lepas dari gagalnya ide merekonstruksi atas sistem linguistik yang dianggap dominan.
Sejak awal para penggiat ini menempatkan dirinya dalam medan berlawanan dari konsep yang dibayangkan (Baudrilard) sebagai lawan dari ide-ide besar perjuangan mereka. Padahal apa yang disebut sebagai anti-tesa, lawan, yang mau dihadapi itu sendiri adalah bagian dari frame-work yang sengaja diciptakan oleh sistem linguistik yang dominan. Di sini cara menyederhanakan posisioning diri saya (kami) terhadap anda (kamu) adalah praktik yang disebut inokulasi (McGuire).
Dimana sejak awal pandangan kepada si A dan si B sama sekali tidak ditentukan oleh kenyataan yang ada pada si A orang baik atau si B adalah orang jahat, melainkan pada dasarnya si pengamat sedang berusaha menjaga agar preferensinya atau kecenderungannya terhadap apa yang terbayangkan dalam ide-ide mereka sendiri tetap terjaga.
Kecenderungan ini secara psikologis menciptakan dalam diri mereka sejenis pertahanan yang ditanamkan melalui proses inokulasi tadi. Tujuannya untuk digunakan sebagai serum, anti-dot, dan vaksin yang bekerja untuk menangkal pendapat-pendapat lain yang tidak sesuai dengan preferensi awal mereka. Akibatnya mereka menihilkan kemungkinan alamiah jika si A dalam praktiknya dapat saja menjadi si jahat dalam ide-ide perjuangan mereka.
Pada saat mereka melihat di masa sekarang, justru rejim ini menjadi rejim yang tiba-tiba baper terhadap kritik, risau terhadap persekutuan dan perserikatan dan galau pada keluhan dianggap sebagai gejala subversif dan mempraktikkan apa yang justru ditakuti akan dilakukan Prabowo maka mereka tidak terlalu siap menahan dilema pikiran. Di bawah rejim hari ini pula mereka seperti kebingunan melihat praktik polisional; melaporkan, menahan, mempidanakan, dan memenjarakan ulama, kritikus, dan oposisi.
Mereka, para penggiat kemanusiaan dan hak asasi tadi gagal membaca kenyataan bahwa sebuah rejim dengan kekuasaan yang tidak ada sebelumnya dapat dengan cepat menciptakan apa yang dikaji Nyonya Kritsteva sebagai sistem linguistik nya sendiri. Mereka menghadapi sistem yang dengan cepat menerjemahkan kritik sebagai anti-kebhinekaan, penolakan sebagai anti-Pancasila, dan ketidaksetujuan sebagai wujud dari kebencian. Sistem linguistik ini tidak ada yang dapat memahaminya kecuali kekuasaan itu sendiri. Sehingga protes para penggiat kemanusiaan dan hak asasi dari yayasan di Menteng tadi hanya tinggal menjadi satu dari jutaan preferensi atas satu sosok yang ternyata menjadi lawan dari ide-ide besar pendukungnya. Andi H

0 comments:

Post a Comment