Tuesday, September 19, 2017

Sekali lagi tentang Preferensi Membaca Penyegelan YLBHI dan Tragedi 65

Hari ini kita membaca barisan polisi memblokade acara diskusi mengungkap tragedi (19)65 di depan kantor YLBHI Menteng.
Sekelompok penggiat yayasan memprotes aksi polisi yang mereka sebut sebagai kemunduran demokrasi. Penggiat bahkan menyesalkan tindakan polisi yang melarang pemberian makanan pada peserta yang sudah ada di dalam dan pelarangan bagi tamu undangan untuk menggunakan toilet di kantor Yayasan. 
Saiya tidak terlalu bersimpati dengan kegiatan ini, karena beberapa dari mereka yang muncul memprotes tindakan polisi itu adalah mereka yang dulu selama kampanye pilpres 2014 paling giat meyakinkan publik bahwa pemerintahan Jokowi-JK adalah pemerintahan yang humanis yang menghargai demokrasi dan akan memperjuangkan hak-hak si tertindas. Dari adegan Kendeng, reklamasi, janji kampung deret warga gusuran pinggir kali Bukitduri, penyelesaian kasus Munir, orang hilang, sampai performing art serah terima lumpur Lapindo, Jokowi dianggap orang yang akan membuka jalan kepada keadilan. 
Singkatnya, seperti kawan yang bekerja di PMI yang mengatakan bahwa Jokowi adalah satu-satunya anti-tesa dari sosok Prabowo. Nama yang terakhir disebut, menurutnya adalah tokoh anti demokrasi, fasis, dan mempunyai sejarah kelam berdarah-darah tragedi kemanusiaan menjelang reformasi 1998. Saiya faham dia berbicara begitu karena preferensinya terhadap si tokoh idola adalah jalan ternyaman bagi dirinya. Bukan karena preferensi itu rasional sesuai dengan konsep ideal tetapi karena karena kebetulan JK adalah pembina di tempatnya mencari nafkah. 
Beberapa penggiat kemanusiaan dan hak asasi dari yayasan muncul di layar video. Mereka yang menolak penyegelan acara menguak kebenaran 65 itu adalah mereka juga yang dulu mengunduh fotonya di sebelah tulisan "I Stand on The Right Side" pada pilpres kemarin. Seperti yakin bahwa itu adalah sebuah pilihan tepat tanpa kecuali.
Setelah maraknya aksi pelaporan, aksi polisional terhadap sikap kritis publik oleh aparat atas nama penghinaan, kemudian diundangkannya PERPPU Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Ormas yang justru mengancam kebebasan berserikat dan berkumpul, lalu hari ini penyegelan kantor YLBHI untuk menggagalkan acara diskusi tragedi 1965 (Gestok) maka kita melihat mereka yang dulu berdiri di sisi yang benar adalah yang paling giat melayangkan protesnya.
Bila kita membaca Julia Kristeva, alasan utama mudahnya haluan dari para penggiat kemanusiaan dan pejuang hak-hak asasi ini berpindah dari pemuji kepada penyesal, maka ini tidak lepas dari gagalnya mereka merekonstruksi sistem linguistik yang dianggap dominan. 
Sejak awal para penggiat ini menempatkan dirinya dalam medan linguistik saling berlawanan dengan konsep yang dibayangkannya sendiri (Baudrilard)nya. Bahwa si A atau si B diimbuhi predikat sebagai lawan dari ide besar perjuangan tadi kenyataannya hanyalah konstruksi palsu dari cara kita untuk tidak menyukai orang . Padahal apa yang disebut sebagai anti-tesa, lawan, yang mau dihadapi itu sendiri adalah bagian dari frame-work yang sengaja diciptakan oleh sistem linguistik yang dominan. Di sini cara menyederhanakan posisioning diri saya (kami) terhadap anda (kamu) adalah praktik yang disebut inokulasi (McGuire). 
Dimana sejak awal pandangan kepada si A dan si B sama sekali tidak ditentukan oleh kenyataan logis jika A orang baik atau si B adalah orang jahat. Namun pada dasarnya si pengamat sedang berusaha menjaga agar preferensinya atau kecenderungannya terhadap apa yang terbayangkan dalam ide-ide mereka sendiri tetap terjaga. 
Kecenderungan ini secara psikologis menciptakan dalam diri mereka sejenis pertahanan yang ditanamkan melalui proses inokulasi tadi. Tujuannya untuk digunakan sebagai serum, anti-dot, atau vaksin yang bekerja untuk menangkal pendapat-pendapat lain yang tidak sesuai dengan preferensi awal mereka. Akibatnya mereka menihilkan kemungkinan alamiah jika si A dalam praktiknya dapat saja menjadi si jahat dalam ide perjuangan mereka. 
Pada saat mereka melihat di masa sekarang, justru rejim ini menjadi rejim yang tiba-tiba baper terhadap kritik, risau terhadap persekutuan dan perserikatan dan galau pada keluhan dianggap sebagai gejala subversif maka mereka tidak terlalu siap menahan dilema pikiran. Pada saat rejim ini mempraktikkan apa yang justru ditakuti akan dilakukan Prabowo maka mereka tidak mudah menyusunnya sebagai kenyataan. Di bawah rejim hari ini pula mereka seperti kebingunan melihat praktik polisional menjadi-jadi. Praktik; melaporkan, menahan, mempidanakan, dan memenjarakan para ulama, kritikus, dan oposisi. 
Mereka, para penggiat kemanusiaan dan hak asasi tadi gagal membaca kenyataan bahwa sebuah rejim dengan kekuasaan yang tidak ada sebelumnya dapat dengan cepat menciptakan apa yang dikaji Nyonya Kristeva sebagai sistem linguistik-nya sendiri. Mereka menghadapi sistem yang dengan cepat menerjemahkan kritik sebagai anti-kebhinekaan, penolakan sebagai anti-Pancasila, dan ketidaksetujuan sebagai wujud dari kebencian. Sistem linguistik ini tidak ada yang dapat memahaminya kecuali kekuasaan itu sendiri. Sehingga protes para penggiat kemanusiaan dan hak asasi dari yayasan di Menteng tadi hanya tinggal menjadi satu dari banyak kekecewaan yang tidak lagi penting disesali. Ini karena sejak awal mereka gagal memahami jika ide besar meski memiliki preferensi empiris, bukan sekedar asumsi agar ia tidak menjadi lawan dari ide-ide mereka sendiri. Andi H

0 comments:

Post a Comment