Tuesday, September 26, 2017

Silaturahim

"Silaturahim adalah istilah berat untuk nongkrong atau 'srawung'. Di dalam kegiatan tersebut ada banyak sekali kegiatan. Bisa saling membahagiakan maupun berbagi beban hidup. Bahkan akademisi barat menyebut kebutuhan berinteraksi antar manusia itu sebagai salahsatu hak hidup. Sangking begitu berartinya sampai diistilahkan sebagai 'hewan sosial'. Agak miris dengan penggunaan kata hewan, sebab makhluk ciptaan Tuhan tersebut juga hidup secara komunal.
Kanjeng Nabi menyebut ''srawung' membawa banyak kebaikan. Salahsatu yang paling mantap adalah memperpanjang usia. Bisa ditafsir dengan berbagai cara, tapi bagiku ada kaidah 'jangan seperti keledai jatuh ke lubang yang sama. Pengetahuan maupun pengalaman bisa dibagi antar manusia asal ada iktikad baik di antaranya. Misal kawan tengah menghadapi pengembang yang curang sedangkan kita pernah meloloskan diri dari jebakan serupa. Kita memberikan saran juga pencegahan agar kawan tak masuk ke perangkap yang sama. 
Ada lagi, suami Siti Khadijah itu menyebut bahwa ketika ada yang bertamu ke rumah, si tamu akan membawa semua bala bencana yang seharusnya menimpa kita. Maka anjuran manusia dengan perilaku terbaik di segala zaman itu adalah memuliakan tamu semaksimal mungkin. Tentu sesuai kemampuan serta tak diniatkan untuk gengsi atau dianggap kaum berada. Apa adanya dan diniatkan untuk melayani utusan Gusti Allah, bukan citra diri sendiri.
Ketika keakraban terjalin antar manusia, akan mudah saling bekerjasama. Seperti halnya semut yang berbagi feromon agar bisa sampai tujuan yang sama. Makhluk yang dipimpin seekor ratu itu seolah selalu berjabat tangan tiap bersua. Begitu juga dengan manusia yang dilambangkan dengan ucapan salam yang mengakhiri tiap ritual salat. Bahkan menjawab salam kecuali saat salat dihukumi wajib untuk menjawab. Bisa dihikmahi bahwa keselamatan yang menjadi arti dari salam adalah proses timbal balik dua arah.
Budaya menimba ilmu dan laku semacam itu sebenarnya sudah ada di berbagai daerah sejak dulu kala. Guru-guru di negeri tirai bambu seperti Lao Tse misalnya, selalu berpindah tempat untuk membagikan cara menempuh jalan kebajikan. Di Nusantara pun ada hal serupa, mulai dari santri kalong sampai mahasiswa seminari atau yang sering hadir saat seminar. Maka tak heran jika bangsa ini mampu tertawa terbahak-bahak saat bangsa lain stres menghadapi globalisasi. Laiknya sebuah koloni, hijrah tiap anggotanya akan membuahkan manfaat tanpa batas." sambung Kang Rukun. Ihda HS

0 comments:

Post a Comment