Thursday, September 21, 2017

Tahun Baru



Simbol Isa adalah matahari, karena dalam Al-Quran, namanya dan ibunya sering disandingkan dengan Ruh Al-Quds (yang juga disimbolkan sebagai matahari). Perhitungan tahun Masehi sendiri berdasarkan pada perjalanan matahari. Umat Nasrani mengenal istilah dalam bahasa Latin, “Anno Domini” (AD) yang artinya “Tahun daripada Tuhan kita” (In the year of Our Lord). Dalam bahasa Indonesia, kita mengenalnya sebagai tahun Masehi, yang dalam bahasa Ibrani adalah “Mesiah” atau “Mesias” yang artinya “Yang diurapi” (dalam Alkitab hanya ada dua orang yang disebut Mesias, yaitu Dawud dan Yesus). Secara tradisional, penanggalan ini didasarkan pada tahun tradisional yang dihitung sejak kelahiran Yesus dari Nazaret. Dan, sebagaimana halnya matahari yang menyilaukan jika dipandang langsung dengan mata telanjang, maka seperti itu pulalah kehidupan Nabi Isa, yang sangat keras dalam kezuhudannya, dan nyaris mustahil untuk ditiru oleh semua manusia.
Sedangkan Rasulullah sering disimbolkan sebagai bulan purnama, dan perhitungan tahun umatnya dinamakan Hijriyah karena tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Penanggalannya pun menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya. Dalam sistem Kalender Hijriah, hari dan tanggal baru dimulai ketika terbenamnya matahari di suatu tempat. Sistem penanggalan ini ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, sang Khalifah Allah, dan sesuai dengan QS At-Taubah [9]: 36.
Kenapa Rasulullah Muhammad saw disimbolkan dengan bulan purnama—dan begitu pula perhitungan tahun umatnya? Karena rembulan itu indah dan bisa dipandang langsung dengan mata telanjang, menyenangkan siapa pun yang menatapnya, bahkan melahirkan banyak puisi dan lagu ihwal keindahan malam bulan purnama. Seperti itu pulalah kehidupan Rasulullah Muhammad saw, sang uswatun hasanah, yang menjadi panutan bagi semua umat Muslim, yang harus menjadi suri tauladan bagi mereka. Di tanah Jawa ini, kita mengenal lagu tradisional yang memuji keindahan bulan purnama tersebut dan bagaimana kegembiraan yang mengiringinya, gubahan sang Wali Quthb, Sunan Kalijaga.
Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak iyo…
Artinya:
Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru
Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung bulan bersinar terang, mumpung banyak waktu luang
Ayo bersoraklah dengan sorakan iya
Mereka yang menempuh jalan pertaubatan atau suluk tentu bisa paham makna dari lagu di atas...

0 comments:

Post a Comment