Sunday, September 24, 2017

Ulama

Apakah 'ulama' itu? Yang jelas, dalam pengertian hakikinya, ulama bukan sekedar jubah dan sorban, sekolah agama tinggi-tinggi, atau gemar berceramah atas nama agama.
Definisi Al-Qur'an: ulama adalah orang yang khasya' (takut) pada Allah. Digunakan kata "yakhsya' " di sana.
"Sesungguhnya yang takut (يخش) kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah Al-Ulama.” (QS. Fathir: 28).
Ada tiga jenis kata 'takut' dalam Al-Quran, menurut Ibnu Arabi. Yaitu khauf, rahbah, dan khasya'. Ini menunjukkan jenis dan tingkatannya.
Yang dimaksud 'khasya' dalam ayat itu adalah takut pada 'dzat Allah'. Bukan lagi 'sekedar' takut pada azab-Nya (ini istilahnya 'khauf') maupun takut akan ketidakridhaan Allah (disebut 'rahbah'). Kata awalan 'Al' di kata 'ulama' di ayat tersebut menunjukkan segolongan khusus diantara sebuah golongan umum.
Khasya' ini adalah tingkatan ketakutan seseorang yang telah mengenal Allah, sebagaimana seorang jelata yang memiliki ketakutan, rasa segan (sekaligus kekaguman dan kecintaan) setelah ia mengenal rajanya. Ia takut karena mengerti apa saja yang Rajanya mampu lakukan.
Khauf: takut siksa Allah. Artinya, takut pada perbuatan Allah. Rahbah: takut pada ketidakridhaan Allah. Ini takut pada sifat Allah. Khasya': takut pada Dia. Takut pada zat.
Kalau diperhatikan, ada peningkatan kedalaman level pengenalan. Mengenal perbuatan/tindakan Allah, mengenal sifat Allah, lalu mengenal Dia. Memahami keagungan dan kedahsyatan Dia ta'ala akan membuatnya takut, tapi sekaligus kagum dan cinta.
Semua yang telah mengenal Allah dan membuatnya khasya', adalah ulama. Sebaliknya, yang belum mengenal-Nya, belum menjadi seorang ulama di mata Allah ta'ala, walaupun orang-orang di dunia menggelarinya ulama dan ia sendiri telah merasa menjadi seorang ulama.
Ulama adalah sebutan Allah pada sekelompok hamba-hamba-Nya yang khusus. Tidak semua hamba-Nya adalah ulama. Bahkan, tidak semua wali adalah ulama.
'Ulama' adalah segolongan khusus insan yang tidak mengumbar gelarnya. Mereka membiarkan dirinya diidentifikasi hanya oleh orang yang butuh saja, sebagaimana sumur yang diam, membiarkan dirinya dicari orang yang haus.
Kenapa mereka 'diam'? Karena pada dasarnya kehausan adalah sebuah kondisi yang diberikan Allah pada orang yang sudah sangat membutuhkan air. Rasa haus adalah sebuah 'tiket masuk', sebuah surat panggilan.
Jika rasa ingin minum pada seseorang belum sampai membuatnya mencari minum dari sumber air, maka pada hakikatnya, sebenarnya Allah memang belum memberinya sebuah 'tiket' untuk minum dari sumber air. Ia memang belum dipanggil. Dengan demikian, air dari sumbernya memang belum menjadi haknya saat itu. Tidak ada tanda dari Allah bahwa ia sudah waktunya diberi minum. Dan seorang ulama hakiki hanya seorang hamba: ia tidak akan berani mendahului tanda dari majikannya.
Sesederhana itu.
Jadi,
(1) tidak semua penceramah atau yang bersorban adalah ulama.
(2) Ada tiga tingkatan ketakutan seorang hamba pada Allah: takut pada azab Allah (khauf), takut jika Allah tidak ridha padanya (rahbah), dan yang tertinggi, takut pada (zat) Allah (khasya'). Allah hanya menyebut 'ulama' pada mereka yang telah khasya' pada Allah.
(3) Kehausan akan segala sesuatu tentang Allah sebenarnya adalah tiket masuk, sebuah izin untuk mulai mendekati-Nya. Kehausan adalah sebuah anugerah dari-Nya.
(4) Ada kalimat yang mirip dalam Alkitab, dalam Amsal 1 : 7, "Takut akan Tuhan adalah awal pengetahuan."

0 comments:

Post a Comment