Friday, September 29, 2017

Utsman dan Mushaf

Hari itu, Utsman bin ‘Affan ra sedang shaum. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan isnad hasan dari ‘Utsman ra yang berkata: “Aku bertemu Rasul saw dalam tidurku semalam dan aku melihat Abu Bakar dan ‘Umar. Mereka berkata kepadaku: ‘Bersabarlah, karena kamu akan berbuka bersama kami nanti’”, kemudian Rasulullah saw mengambil mushaf Al-Quran dan membukanya di depan ‘Utsman.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Salam, ia berkata: Aku datang kepada Utsman untuk menyalaminya, sedangkan ia dalam keadaan dikepung. Aku masuk menemuinya, maka ia berkata, “Selamat datang wahai saudaraku. Aku melihat Rasulullah saw tadi malam di pintu kecil ini. Ia berkata, ‘Pintu kecil itu ada di dalam rumah.’ Maka beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Utsman, apakah mereka telah mengepungmu?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah mereka telah membuatmu haus?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Maka beliau menuangkan cawan besar yang berisi air, kemudian aku meminumnya sampai kenyang, sampai-sampai aku merasakan dinginnya di antara dada dan pundakku. Dan beliau saw berkata, ‘Jika kamu mau, berbukalah di rumah kami. Maka aku memilih berbuka di rumah beliau saw. Maka kata Abdullah bin Salam, Utsman dibunuh pada hari itu.
Utsman terkenal tekun beribadah serta banyak membaca Al-Qur‘an. Utsman pernah berkata: “Al-Qur‘an adalah kitab Tuhanku. Seorang hamba, seandainya dia kedatangan kitab tuannya, tidak boleh tidak, dia harus melihatnya setiap hari untuk diamalkannya apa-apa yang terkandung di dalamnya.”
Utsman bin ‘Affan terbunuh sewaktu membaca Al-Qur‘an. Dan bagi para sufi, peristiwa pembunuhannya memiliki makna yang dalam, salah satunya Al-Thusi, dalam kitab karyanya yang berjudul Al-Luma‘ menuliskan: “Di antara berbagai hal yang menunjukkan keistimewaannya dalam kemapanan, keteguhan dan kelurusannya ialah kisah bahwa pada hari ketika dia terbunuh. Dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan dia tidak mengizinkan seorang pun berperang. Dan dia tidak melepaskan mushaf dari pangkuannya sampai dia menghembuskan nafas terakhir, sementara darah mengalir ke atas mushaf itu serta membuatnya bersimbah darah. Ternyata darah itu menetes pada ayat: ‘Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ (QS Al-Baqarah [2]: 137)”
Tatkala pedang memotong tangan kanannya, Utsman berkata: “Allahu Akbar! Sesungguhnya, kamu tahu bahwa tangan ini telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah saw.” Menjelang wafatnya, Utsman berkata, “Ya, Allah segala puji bagi-Mu.” Utsman kemudian menutup Mushaf Al-Quran yang terlumuri dengan darahnya. Utsman kemudian berkata lagi, “Ya Allah, Wahai Dzat yang memiliki kemuliaan, Aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku telah bersikap sabar sebagaimana Nabi-Mu telah berwasiat kepadaku.”
Mushaf yang kita baca sampai hari ini adalah Mushaf Utsmani yang 'disegel' oleh darah Utsman bin ‘Affan ra pada hari Jumat tanggal 18 Dzulhijjah 35 (atau bertepatan dengan tanggal 17 Juli 656 M).

0 comments:

Post a Comment