Tuesday, September 26, 2017

Zaman Fitnah

"Zaman fitnah muncul di akhir zaman. Para nabi memperingatkan kaumnya dengan berbagai cara. Termasuk para budayawan yang tinggal di satu daerah, selalu memiliki cara meninggalkan peringatan itu ke generasi setelahnya. Sah-sah saja sesuai zaman. Bahkan tips dan trik cara menghadapinya pun bisa dikatakan sudah lengkap dari berbagai sisi. Tinggal bagaimana menjadikan ilmu-ilmu itu menjadi laku yang setia dilakoni.
Salahsatu ciri zaman fitnah atau yang oleh Ronggowarsito diistilahkan dengan 'zaman edan' adalah menyebarnya permusuhan. Apapun bisa dijadikan alasan pertengkaran. Mulai dari selera cat rumah antara suami-istri, 'rasan-rasan' antar tetangga yang berbuntut tumbuhnya saling curiga, sampai tingkat dunia di mana pemimpin negara saling pamerkan kekuasaannya. Pengetahuan bisa terus berkembang dengan kecepatan melampaui cahaya, tapi seringkali hanya sia-sia belaka.
Kini kemajuan teknologi yang seharusnya memperlancar arus komunikasi antar pihak justru ditunggangi untuk menebar benci. Kemampuan membaca yang terus merosot dari abad pertengahan membuat ruang untuk berbaik sangka menyempit. Kuantitas buku di abad di mana masa kegelapan Eropa menjadi puncak kebangkitannya kalah banyak dibanding era Zukerberg. Tapi rupanya hal tersebut tak menjadikan manusia akhir zaman ini makin bijak. Bahkan bisa dibilang lebih cepat menuju titik nadirnya sendiri.
Hal yang sama juga berlaku pada kegiatan mendengar. Kedua perbuatan ini, baik membaca ataupun mendengar memang membutuhkan konsentrasi tinggi. Bisa jadi salah satu hikmah dari diciptakannya sepasang mata dan telinga tapi satu mulut saja ada di situ. Memperbanyak masukan informasi tapi mengeluarkannya dengan menyedikitkan sesuai saringan. Boleh porsinya sampai separuh sebagaimana satu adalah setengah dari dua. Sungguh miris jika sekelompok buta yang memegang bagian tubuh gajah berlainan harus sia-sia berdebat seperti apa bentuk gajah.
Maka fungsi banyak baca dan dengar tak hanya dari yang satu sisi sangat diperlukan sebagai penyeimbang. Tsun Zu menyebutkan dalam strategi perang yang ditulisnya sebelum Isa lahir itu dengan kalimat 'kenalilah musuhmu agar kau paham cara berpikirnya'. Delapan abad kemudian Kanjeng Nabi mengatakan bahwa mempelajari bahasa musuh adalah cara mencegah diri tertipu oleh muslihatnya. Bahasa bisa dimaknai sebagai pengetahuan, pengalaman, bahkan sebagai bahasa itu sendiri." imbuh Kang Syukur di lincak berkabut.

0 comments:

Post a Comment