Sunday, October 29, 2017

KEBANGOENAN & TANAH AIR BAHASA

Apa yang kini disebut sebagai bahasa Indonesia, dalam perjalanan hidupnya, telah mengalami banyak sekali perkembangan serta sejumlah pergeseran dari waktu ke waktu. Dari segi ejaan saja, misalnya, sejak diperkenalkannya “Ejaan van Ophuijsen” pada 1901, yang kemudian digantikan oleh “Edjaan Republik” atau “Edjaan Soewandi” pada 1947, hingga kemudian dipungkasi “Ejaan Yang Disempurnakan” pada 1972, bahasa Indonesia telah mengalami tiga kali perubahan. 
Perubahan-perubahan tersebut tentunya membawa konsekuensi perubahan tata bahasa, yang pada gilirannya akan mempengaruhi proses pemaknaan (signifying). Itu sebabnya, untuk bisa memahami dan memaknai teks-teks lawas berbahasa Indonesia, kita harus memahami konstruksi bahasa pada masa bersangkutan, tidak bisa menggunakan konstruksi bahasa dari sudut pandang hari ini.
Oleh karenanya, ketika membaca arsip-arsip Tim Ahli Panitia Ad Hoc Amandemen Pasal 33 UUD 1945, terus terang saya merasa geli. Ada, misalnya, ekonom lulusan Harvard yang menyebut "asas kekeluargaan" sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 33 sebagai sebangun dengan "nepotisme" dan "kroniisme" dan telah melegitimasi keberadaan hal-hal tersebut. Penilaian itu diberikan tanpa secuilpun pemahaman kebahasaan bahwa bahasa Indonesia yang dipergunakan hari itu berbeda dengan bahasa Indonesia yang kita pergunakan hari ini. 
Belum lagi jika memperhatikan bahwa penilaian itu sama sekali tidak dilengkapi oleh ikhtiar untuk mencari dan menemukan penjelasan akademis para pencetusnya atau tafsiran para ahli yuris mengenai teks atau konsep yang dipersoalkan. Intinya, itu sebuah gugatan yang dangkal. Untunglah dua orang ekonom lain yang berpandangan serupa dengan alumni Harvard itu tak jadi menempati posisi menteri keuangan kabinet Jokowi.
Dalam catatan saya, ada banyak soal dalam dunia kesarjanaan kita yang tak bisa membebaskan dirinya begitu saja dari persoalan kebahasaan sebagaimana telah dicontohkan tadi. Oleh karenanya, apapun bidang kesarjanaan yang ditekuni, penting sekali bagi sarjana Indonesia untuk memahami perkembangan bahasa nasionalnya.
Dulu, mungkin sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya sering bertanya-tanya apa maksud syair "bangunlah jiwanya, bangunlah badannya" dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya. Menurut saya, itu diksi yang kuat, meskipun dari sudut pandang hari ini terasa menggelikan.
Dalam teks-teks klasik berbahasa Indonesia, istilah "bangoen" dan "kebangoenan" memang sering dipakai. Untuk sejumlah pemakaian, kata "bangoen" dan "kebangoenan" itu sama arti dan maksudnya dengan kata "bangkit" dan "kebangkitan" sebagaimana yang lazim kita gunakan hari ini. Namun, untuk sejumlah penggunaan lain, pengertiannya tidak lagi sebangun dengan penggunaan kata "bangkit" dan "kebangkitan" itu.
Lama juga sampai saya bisa menemukan penjelasan yang tepat untuk sejumlah penggunaan kata "bangoen" dan "kebangoenan" itu. Jika tak membaca sebuah karangan Yamin tahun 1930, yang disampaikannya dalam acara "Kerapatan Besar Indonesia Moeda I", saya mungkin tidak pernah mengetahui bahwa kata "kebangoenan" yang banyak digunakan pada awal abad ke-20 itu merupakan padanan atau terjemahan untuk kata "renaissance".
Ah, alangkah bodohnya. Tentu saja "kebangoenan" adalah padanan dari "renaissance". Jika kita menyimak kembali apa yang berlangsung di Hindia-Belanda pada awal abad ke-20, yang sedang berlangsung memang adalah sebuah proses pencerahan. Itu adalah abad kelahiran organisasi-organisasi modern, lahirnya angkatan-angkatan kesusastraan, serta zamannya polemik-polemik besar, mulai dari polemik Soekarno-Natsir hingga Polemik Kebudayaan. Itu adalah sebuah zaman besar yang telah melahirkan orang-orang besar. 
Secara kronologis kita bisa menyimak bahwa "zaman bergerak" dekade 1930-an tempo hari memang didahului dan dihidupi oleh semangat "kebangoenan". Pergerakan tanpa "kebangonena" (baca: pencerahan) ibarat "aksi yang tuna konsep".
Setelah membaca tulisan Yamin itu, setiap kali membaca kata "bangoen" dan "kebangoenan", atau menyimak syair Indonesia Raya tadi, saya merasa lebih khidmat meresapi maknanya. 
Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Jangan menghakimi cara orang lain terhubung dengan Tuhan

Jangan menghakimi cara orang lain terhubung dengan Tuhan; untuk masing-masing ada caranya tersendiri dan doanya yang tersendiri. Allah tidaklah memandang kepada kata-kata kita. Dia melihat jauh ke dalam hati kita. Bukanlah perayaan atau ritual yang menjadi suatu perbedaan, tapi apakah hati kita cukup murni atau tidak.
(Syamsi Tabriz)
*****************
Di antara doa Nabi Dawud ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah saw mengingat Nabi Dawud, beliau menggelarinya "Sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi)
*****************
Sejak muda, sebelum tidur, Mursyid saya biasa bermunajat kepada Allah: “Ya Allah, aku ingin berbicara kepada-Mu. Hanya Kau dan aku, tanpa ada satu pun makhluk-Mu yang ikut mendengarkannya. Tidak juga malaikat-Mu yang tertinggi sekali pun.” Lalu, beliau ungkapkan apa yang ingin disampaikannya hanya kepada Allah. Berdua saja. Begitulah salah satu cara beliau membangun hubungan yang intim dengan Allah.
*****************
Musa berjumpa dengan seorang penggembala di tengah jalan, yang tengah berteriak, ”Wahai Tuhan yang memutuskan sebagaimana yang Engkau kehendaki,
Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengabdi kepada-Mu dan menjahit sepatu-Mu dan menyisir rambut-Mu?
Agar aku dapat mencuci pakaian-Mu dan membunuh kutu-kutu-Mu serta menyediakan susu untuk-Mu, O pujaanku.
Supaya aku dapat mencium tangan-Mu yang mungil dan mencuci kaki-Mu yang kecil dan membersihkan kamar-Mu yang mungil di saat tidur.”
Mendengar kata-kata dungu ini, Musa berseru, ”Hai, kepada siapakah engkau berteriak?
Ocehan apa ini! Fitnah dan ngawur! Sumbatlah mulutmu dengan kapas!
Sesungguhnya persahabatan dari seorang yang bodoh itu permusuhan: Tuhan Yang Maha Luhur tidak menghendaki pelayanan seperti itu.”
Pengembala itu menyobek pakaiannya, menghela nafasnya, lalu melanjutkan perjalanan menuju ke hutan belantara.
Kemudian turunlah wahyu kepada Musa: ”Engkau telah memisahkan hamba-Ku dari-Ku.”
Apakah engkau diutus sebagai seorang Nabi untuk menyatukan, atau untuk memisahkan?
Aku telah memberikan kepada setiap orang gaya pemujaan yang khusus; Aku telah melimpahkan pada setiap manusia bentuk pengungkapan yang khas.
Ungkapan Hindustan adalah yang terbaik bagi orang Hindustan; bahasa Sind adalah yang terbaik bagi masyarakat Sind.
Aku tidak memandang pada lidah dan ucapan, Aku memandang pada nafs dan perasaan batin.
Aku memandang ke hati untuk mengetahui apakah ia rendah, walau kata-kata yang terucap tidak rendah.
Cukup dengan ucapan-ucapan dan kesombongan serta kiasan-kiasan! Aku ingin terbakar, terbakar dan terbiasa dengan keterbakaran!
Nyalakanlah bara cinta di dalam jiwamu, biarkanlah seluruh pikiran dan ungkapan.
Wahai Musa, mereka yang paham ketentuan-ketentuan adalah satu macam, mereka yang jiwanya terbakar adalah macam yang lain.”
Agama cinta lepas dari segala agama. Para pencinta Tuhan tidak mempunyai agama melainkan Tuhan itu sendiri.
(Maulana Jalaluddin Rumi)
*****************
TANYA:
Bantuin doong ngejawab pertanyaan temen. "Doa itu aneh. Jadi intinya apa? Kalau Tuhan Maha Tahu, kenapa perlu doa segala?" Asa gampang tapi lieur juga ngejawabnya (rasanya gampang tapi pusing juga ngejawabnya). Aku harus jawab gimana ya?
JAWAB:
Baiklah, saya cuplikan sebuah puisi dari Rumi di bawah ini:
*******
Suatu malam, seorang lelaki merintihkan, "Ya Allah" sampai bibirnya manis dengan pujian kepada-Nya.
Iblis mengejeknya, "Kasihan engkau, wahai lelaki malang, mana jawaban, 'Aku di sini,' (labbayka) untuk semua rintihan, 'Ya Allah-mu?'
Tiada satupun jawaban datang dari 'Arsy: sampai kapan engkau merintihkan 'Ya Allah' dengan wajah suram?"
Si lelaki patah hati, berbaring, tertidur dan bermimpi: di situ dilihatnya Nabi Khidir as, di tengah dedaunan menghijau.
Nabi Khidir bertanya: "Wahai lelaki, engkau berhenti memuji Allah, mengapa engkau sesali dzikir-mu kepada-Nya?"
Lelaki itu menjawab, "karena tiada jawaban 'labbayka' (Aku disini), kutakut diriku telah terusir dari gerbang-Nya."
Nabi Khidir menjawab, "Allah bersabda: rintihan 'Allah'-mu itu adalah 'labbayka'-Ku, dan permohonan, duka serta semangatmu adalah utusan-Ku kepadamu.
Gerakan dan upayamu untuk menghubungi-Ku sebenarnya adalah penarikan-Ku padamu, yang melepaskan kakimu dari rantai keduniaan.
Ketakutan dan cintamu adalah jerat untuk menangkap karunia-Ku, di balik setiap rintihan 'Rabbi,' terdapat berlipat 'labbayka,' dari-Ku.
Berbeda dengan keadaan jiwa seorang yang jahil, karena baginya tak diizinkan menjeritkan, "Tuhanku."
Pada lisan dan hatinya terdapat kunci dan gembok, sedemikian rupa, sehingga tak mampu merintih pada Tuhan, bahkan ketika perlu.
Pernah pada sang Fir'aun diberikan harta kekayaan sedemikian berlimpah ruah; sehingga dia mendaku keperkasaan dan keagungan Ilahiah.
Sepanjang hidupnya manusia malang itu tak pernah rasakan keresahan ruhaniah, sehingga tak pernah menjerit kepada Tuhan.
Kepadanya Tuhan berikan kerajaan dunia, tapi tidaklah dia diberi hati yang berduka, rasa sakit dan kesedihan.
Hati yang berduka itu lebih baik daripada kerajaan dunia, sehingga dengan itu engkau menyeru Tuhan secara tersembunyi.
Mereka yang tak kenal duka, menyeru dari hati yang membeku; sementara yang akrab dengan kepedihan menyeru dengan hati yang mencair.
Sehingga ketika lisannya bisikkan permohonan, perhatiannya tertuju pada asal muasal dirinya. 
Sehingga rintihannya murni dan pedih, hatinya sungguh menjerit: "Wahai Tuhanku, Penolongku, pertolongan-Mu lah yang kami dambakan."
*******
Catatan tambahan untuk puisi di atas:
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaithan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus-asa." (QS Al An‘âm [6]: 42 - 44)
*******
Dalam Al-Qur‘an, Allah mewahyukan ayat ihwal angin sebagai kabar gembira (busran). 
*******
“Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan, serta siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).” (QS An-Naml [27]: 63)
“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (QS Al-Furqân [25]: 48)
*******
Kenapa? Kita tentu tahu sedikit soal atmosfir di bumi kita. Dahulu kala, orang berlayar dengan kapal yang menggunakan layar. Angin adalah hal yang vital agar kapal itu bisa bergerak mengarungi lautan. Nah, yang paling ditakuti oleh para pelaut di masa lalu adalah ‘dead calm’. Apa itu ‘dead calm’? Ketika para pelaut terkatung-katung di tengah laut tanpa angin yang bisa menggerakkan kapalnya, dan itu bisa berlangsung berminggu-minggu. Sementara bahan makanan menipis. Akhirnya, mereka pun bisa mati kelaparan di atas laut.
Nah begitu pulalah manusia. Kalau Allah tak menghembuskan ke dalam hatinya dorongan untuk bahkan sekadar menjerit dan berdoa kepada Allah, maka habislah sudah. Apa lagi yang tersisa? 
Maka, bagi siapa pun yang memahami hal ini, ketika tiba-tiba dirinya menjadi malas beribadah, malas bahkan untuk sekadar berdoa, maka menjeritlah segera kepada Allah agar Dia Ta'ala berkenan menghembuskan kembali "angin sebagai kabar gembira" yang bisa menggerakkan hati kita agar mau kembali beribadah dan bersegera dalam berjalan kembali kepada-Nya. Perkara doa bukan sekadar meminta apa yang kita inginkan, karena bahkan keinginan untuk berdoa kepada-Nya sekali pun, kalau tidak karena Dia kehendaki agar hati kita terdorong mengucapkannya, kalau sudah seperti yang Allah wahyukan dalam Al-Qur‘an: “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka , dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (QS Al-Baqarah [2]: 7), maka sungguh kita tak akan tergerak untuk berdoa dan meminta kepada-Nya. 
Jadi, jika sampai saat ini kita masih tergerak untuk beribadah dan berdoa kepada-Nya, seburuk apa pun kualitasnya, maka syukurilah hal itu, karena, bagaimana pun, itu isyarat bahwa Dia masih menghembuskan "angin sebagai kabar gembira" ke hati kita. Bahkan mintalah kepada-Nya agar kita semakin tergerak lebih mencintai-Nya lagi dan lagi.
Rumi pun pernah menuliskan dalam puisisnya sebagai berikut: 
*******
Takkan pernah ada kekasih yang tak dicari oleh kekasihnya
Jika kilat cinta telah menyambar satu hati, maka ketahuilah bahwa ada cinta di hati yang lain
Jika cinta Tuhan telah tumbuh di hatimu, tak diragukan lagi, Tuhan pasti menaruh cinta kepadamu
Tak ada suara tepuk tangan yang lahir dari satu tangan
Kebijaksanaan ilahi adalah takdir dan suratannya
Nasib yang membuat kita saling mencintai satu sama lain
Karena takdir itulah, setiap bagian dari dunia ini
bertemu pasangannya
*******
Maksud dari puisi tersebut, kalaulah bukan karena Allah berkenan mencintai kita, maka tak mungkin kita akan tergerak untuk mulai bisa mencintai-Nya. Hal senada juga diungkapkan oleh Abu Yazid Al-Busthami yang pernah menuliskan sebagai berikut:
*******
Dahulu aku keliru,
Aku mengira bahwa aku telah mengingat-Nya, ternyata Dia telah mengingatku sebelum aku mengingat-Nya.
Aku mengira bahwa aku mencari-Nya, ternyata Dia telah mencariku sebelum aku mencari-Nya.
Aku mengira bahwa aku telah mengenal-Nya, ternyata Dia telah mengenalku sebelum aku mengenal-Nya.
Aku mengira bahwa aku telah mencintai-Nya, ternyata Dia telah mencintaiku sebelum aku mencintai-Nya.
Aku mengira bahwa aku telah menyembah-Nya, ternyata Dia telah menjadikan semua makhluk bumi melayaniku." 
*******
Karena itu, kalau kita jadi malas berdoa, maka segeralah menjerit dan berdoa kepada-Nya agar diberi hati yang gandrung berdoa kepada-Nya. Menjeritlah: "Ya Allah, celaka aku kalau seperti ini terus menerus..." Bukannya malah menikmati keadaan semacam itu, hingga tak terasa usia menua, dan ajal di depan mata. Karena, bagaimana pun, jika Allah tak menghembuskan "angin sebagai kabar gembira" ke hati kita untuk taat kepada-Nya, maka habislah sudah. Apa lagi yang tersisa? Apa lagi yang bisa membuat kita disebut sebagai hamba-Nya?
Wallahu a‘lam bishawwab.

Thursday, October 26, 2017

tiga patokan bagaimana menyikapi informasi

"Ada tiga patokan bagaimana menyikapi informasi yaitu yang harus dibuka, tidak boleh dibuka, dan dipastikan dulu kelayakannya. Informasi wajib disebarkan jika menyangkut kedaruratan dan kepentingan bersama. Adapun yang tidak layak tebar adalah jika hanya berisi cela perorangan. Sedangkan yang belum pasti statusnya harus diteliti lebih dalam supaya menemukan ketepatan. Agar lebih cepat bereaksi dan spontan dibutuhkan latihan tanpa henti.
Kita memang perlu iqra, membaca informasi yang harus dibuka agar lebih tepat bereaksi. Kriteria yang harus dibuka adalah yang mendesak menyangku hidup-mati, pemenuhan kewajiban, sampai hajat hidup orang banyak. Soal hak boleh dikejar asal niatnya hanya untuk menghindari pergunjingan di belakangnya. Inilah yang Kanjeng Nabi lakukan selama periode Uzlah beliau, yang tak dilakoni lagi pasca mendeklarasikan dakwah. Memilah permasalahan lantas memilih yang paling harus segera disikapi. 
Mbah Nun menghendaki maiyah untuk menghindari perdebatan yang tak perlu. Membiarkan begitu saja yang tak perlu dengan gunakan skala prioritas. Tujuannya tak lain untuk hemat energi supaya tak mudah habis. Hal ini mengambil salahsatu wejangan Kanjeng Nabi yang melarang umatnya memasuki area perdebatan. Bahkan lebih lanjut diberi saran untuk serahkan permasalahan kepada ulama, atau yang ahli di bidangnya. 
Mbah Nun berkelakar bahwa beliau bisa berkilah dari berbagai pertanyaan sebagaimana Kanjeng Nabi contohkan. Pernyataan seperti 'aku ini Nabi, kok kamu tanya soal kurma. Kamu lebih tahu tentang itu daripada aku.' Tapi Mbah Nun memilih untuk mengajak dialog siapapun dan tak meremehkan masalahnya. Selain bentuk menghargai lawan bicara juga yang bersangkutan melontarkan pertanyaan juga dikarenakan digerakkan oleh Allah juga. 
Walaupun ajaran untuk meninggalkan sesuatu yang tak diketahui akibat-manfaatnya tetap dilaksanakan. Soal hoax misalnya harus hati-hati bersikap. Jika fikih atau masalah sejarah masih bisa melalui jalan diskusi sebab memilih aturan main yang ketat di ranah akademisi maupun budaya, tapi hoax? Selain masuk ke wilayah pseudoscience yang tidak jelas sangkan-parannya, juga malah berpotensi mengarah ke perdebatan tanpa dasar. Maka wajar jika meninggalkan yang demikian sangat dianjurkan dengan tetap melihat kadar etis silaturahim.
Termasuk maiyah tidak memasuki ribut-ribut soal bumi datar versus bumi bulat. Ditambah lagi Nabi Adam punya pusar atau tidak sebab tak dilahirkan dari rahim ibunda. Persoalan semacam itu yang hari-hari ini begitu heboh diperbincangkan di mana-mana tak perlu ditanggapi dengan serius dan fokus. Lantaran bagaimanapun apa yang disampaikan tidak jelas sumber data dan metode klarifikasinya. Padahal energi dan konsentrasi yang sama akan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk mengulik bab reklamasi, misalnya.
Jadi, tabayyun pun harus pilah-pilih. Tak semua harus diklarifikasi kebenaran sampai kesalahannya. Mencari yang sejati, tak semata apapun yang di depannya dipikir secara mendalam. Apalagi jika hal-hal tersebut di kemudian hari tak berguna dan sia-sia. Lebih baik dipakai untuk mengurusi kebutuhan diri sendiri agar bisa lebih mandiri dari berbagai sisi. Ada kisah di abad pertengahan di mana seorang kakak bekerja keras untuk biayai kebutuhan adiknya yang ahli ibadah. Rupanya di Pandangan Allah sang kakak lebih mulia kedudukannya.
Mbah Nun pernah bercerita tentang seorang wali yang tinggal di rumah beliau sedari belia. Berani prihatin makan bukan nasi bertahun lamanya sampai akhirnya mencapai posisi diagungkan masyarakat sekitar. Sampai digiring ke makam di malam hari pun menurut semuanya. Sampai suatu hari Ibunda Mbah Nun mengutarakan kegelisahannya pada geliat hati sang wali. Beliau mengatakan, 'seisi rumah terima makan nasi, cuma kamu yang beda. Aku harus mencarinya sampai luar kota untuk tanggung urusan perutmu sekeluarga. Berarti harusnya aku lebih wali darimu.'
Bak ditimpa bumi, sang wali langsung tersungkur baik fisik maupun jiwanya. Dalam beberapa waktu kemudian ia meninggalkan dunia untuk selamanya. Berkaca dari kisah kakak-adik di abad pertengahan tadi, Mbah Nun sudah menjumpai secara langsung betapa skala prioritas bahkan menyangkut ibadah pun perlu didisiplinkan. Meskipun nanti akan kembali ke kehendak pribadi versus kehendak-Nya. Apakah membuat-Nya mengikuti keinginan kita atau malah kita ikut saja pada ketentuan-ketentuan-Nya.
Indonesia saat inipun tengah hadapi masalah serupa. Keteledorannya merespon skala prioritas buatnya kepayahan sampai ratusan tahun ke depan. Dalam lakon Rahwana dihukum dengan dihimpit dua gunung. Mirip Sun Go Kong dalam mitologi Cina. Hanya saja yang menghimpit Indonesia adalah Amerika-Cina atau yang sering digelari sebagai raksasa dan naga. Pertanyaan introspeksi diri selanjutnya adalah apakah Indonesia layak dibegitukan Allah? Rakyatnya dipenjara situasi dan kondisi Indonesia atau malah seperti cahaya rembulan yang memancar di antara deretan mendung? 
Sudah begitu Indonesia merasa tak butuh dibantu maiyah meski ia terjepit masalah lintas generasi. Maka kita pakai maiyah untuk diri kita sendiri, Indonesia dijatah kemudian. Maiyah adalah sumur yang kita timba sendiri airnya untuk padamkan kebakaran-kebakaran di sekitar. Bukan malah menjadikan maiyah sebagai alat untuk memadamkan panasnya keadaan. Maiyah harus menjadi karakter tiap manusia yang ingin terjun ke kobaran api. Membasahi diri agar tak sudah menolong malah ditodong.
Mbah Nun bahkan menegaskan bahwa maiyah tak bisa sembuhkan penyakit Indonesia. Bukan maiyah kurang ampun, tapi Indonesia yang belum mau menerima maiyah. Bagaimana mungkin akan sembuh dari sakit jika tak percaya pada obatanya saja tidak? Jika Jamaah Maiyah memaksa menyuntikkan maiyah pada Indonesia, yang terjadi justru penolakan dengan keras. Percuma, sebab inti dari berbagai pengobatan adalah kepasrahan yang didapat dari saling percaya.
Kembali ke soal Indonesia dan sakit komplikasinya. Tidak mungkin obati Indonesia justru dengan obat yang dibuat oleh ia yang membuat sakitnya. Harus dilihat ke belakang sejak kapan negeri ini mengalami kemunduran sedemikian rupa. Katakanlah lewat patokan sastra di mana Ronggowarsito menjadi pujangga Nusantara terakhir. Tak lain sebab untuk mendapat gelat pujangga tadi memang berat luar biasa latihannya. Tak kalah berat dibanding Kawah Candradimuka untuk menjadi ulama di bidang fikih maupun tasawuf.
Sudah menjadi laku keseharian untuk selalu menentukan skala masing-masing. Ilmu puasa penting diajarkan sedari Adam pada Buah Khuldi sampai Nabi Muhammad dengan beragam puasa yang beliau lakoni. Puasa tadi adalah pembiasaan pada batasan-batasan. Bahwa hidup tak seenaknya sendiri, harus menghormati oranglain bahkan hal yang tak bisa dinalar saat ini. Itulah kenapa dalam istilah Jawa muncul konsep 'empan papan adepan'. Harus memperhatikan ketepatan momentum apa, tempat, dan pihak yang dihadapi.
Dalam Islam laku ini terwujud sempurna dalam hal adab menerima tamu. Sebuah kewajiban untuk memahami kapasitas orang yang hadir di ruang tamu. Tujuannya agar tercapai kadar pas sesuai kebutuhan saat menyuguhkan sajian. Tidak dibuat kehausan, kelaparan, apalagi kekenyangan. Bahkan Kanjeng Nabi sarankan memberikan air dingin pada tamu yang baru datang dari jauh dan datang tepat siang hari. 
Toh kita maiyahan juga untuk menunggu hijrahnya karakter Kanjeng Nabi ke dalam diri. Baik berperan sebagai Ansor, Muhajirin, atau malah keduanya sekaligus. Kita merdeka dengan cara kita sendiri sebab memang begitulah tuntunan dalam mengenali Pencipta salahsatunya melalui yang dicipta dulu. Termasuk dalam menyikapi apakah Erdogan lebih kejam dari Hitler atau tidak. Tak lain karena ia meminta semua lawan politiknya yang bergerak di dunia pendidikan seantero jagad untuk dipulangkan supaya bisa langsung dipenjara.
Kiamat sendiri bisa terjadi besok pagi, bisa juga 3.000 tahun lagi. Jangan fokus mempeributkan waktunya tapi perbuat sebisa apapun sekarang juga. Sesepele menanam biji kurma sebagaimana wejangan Kanjeng Nabi. Prinsip yang anti putus asa pada situasi dan kondisi. Harus terus hijrah dalam suasana berbaik sangka pada Allah. Bukankah Kanjeng Nabi terus lakukan misi-misi untuk pergerakan Islam meski sudah tahu jatah umur raganya sudah mendekati akhir?" lanjut Kang Sabar teringat wejangan Mbah Nun di Gambang Syafaat semalam.

Tak perlu mencari laba dengan nafsu

"Tak perlu mencari laba dengan nafsu sebab ia akan datang dengan sendirinya. Ketika pagi buta sudah ke pasar, menunggui dagangan sampai senja menjelang, tak mungkin tidak laba akan didulang. Selain sudah menjadi hukum alam atau sunnatullah, juga bentuk ganjaran Allah pada makhluk-Nya yang mau membuka pintu rezeki. Tanpa meniatkan diri mengejar untung pun sudah pasti tak buntung.
Ketika dikaitkan ada rugi yang tak bisa ditolak, itu sudah lain soal. Bisa jadi bahan ujian dari Allah atau malah sekadar siklus kehidupan. Bukankah sudah dimaklumi bahwa kadang hidup di atas, sering juga di bawah? Mbah Nun berulangkali menegaskan bahwa Allah tak tega menyakiti manusia yang ridho pada tiap keputusan-Nya. Bukan berarti pasrah bongkokan tapi sabar dalam menggenggam niat, melaksanakannya, sampai menunggu hasilnya.
Misal saat reklamasi pulau-pulau di Utara Jakarta yang sebenarnya sudah dimulai sejak era Orde Baru. Mbah Nun menyoroti ia dan beberapa kejadian yang tengah menggegerkan masyarakat hingga akar rumput barulah dua lembar kertas di antara ratusan lembar. Program penjajahan tertata rapi yang tak ada bagian ibu pertiwi yang belum terkapling. Hingga gunung pun siap diperkosa untuk penuhi kerakusan dunia industri mengeruk pundi-pundi materi.
Kesepakatan sejenis yang sudah terjadi sejak puluhan tahun silam itu pada hakikatnya mengkhianati Pancasila. Inti dari Pancasila itu sendiri ada pada sila kelima yaitu keadilan sosial. Keempat sila sebelumnya ditujukan untuk yang terakhir tadi, pemerataan pembagian apapun saja. Tak hanya sekadar kesejahteraan yang seringkali dijadikan sebagai patokan keberhasilan oleh mereka yang menyembah materi. Pun dari Pancasila tadi tak mentolerir adanya kapitalis atau liberal. Adanya hanya keadilan untuk bersama.
Pengejawantahan dari nilai keadilan sosial tadi hadir di maiyah dengan keterbukaannya pada apapun. Bahkan Mbah Nun bertahun lalu sudah sering mengatakan jangankan politisi Senayan yang sering umbar janji tanpa pembuktian, sedangkan setan pun dipersilakan hadir di maiyah. Maka tak heran jika Mbah Nun menyatakan bahwa maiyah adalah kaum liberal selibera-liberalnya di seluruh dunia. Berperan bak samudera yang menampung segala. Siapapun dianggap sama .
Lihatlah jendela-jendela tapi tak usah langsung cari kesimpulan. Membuka diri pada berbagai informasi agar bisa adil sebisa mungkin, meski mendekati mustahil. Sama halnya dengan mencari materi dunia pun diperbolehkan saja. Apalagi diniatkan sebagai alat mempermudah hidup dan sarana berbagi manfaat sebanyak-banyaknya. Tak mengejarnya untuk memuaskan nafsu pada dunia terutama mengumpulkan untuk hari-hari ke depan. Akhirnya yang hadir adalah kapitalis-kapitalis pemuja modal dan laba, bukannya keadilan sosial sebagaimana konsep zakat dihadirkan.
Pada dasarnya penjemputan rezeki tadi bukanlah untuk motif balas dendam pada kemiskinan. Bisa dikatakan dendam semacam itu selayaknya ditiadakan agar manusia bisa merdeka niatnya. Bahkan yang diutamakan seyogyanya adalah akhlak baik yang muncul dari pembiasan-pembiasan yang sering dilakukan. Pada akhirnya nanti akhlak itu tadi yang menjadi patokan baik-buruknya manusia, bukannya harta yang jadi pedoman. Sebab saat ini banyak orang kaya yang mendapatkannya dari mencuri harta milik negara.
Pada satu titik akan lebih baik menikmati maiyah daripada tahu kenyataan tentang Indonesia. Sangking busuknya sampai-sampai bisa muntah hanya karena melihat kenyataannya. Jika aksi burung pemakan bangkai saat mencabik mangsanya terlihat menjijikkan, bagaimana dengan sesama manusia yang memakan saudaranya bahkan saat masih hidup? Itulah kenapa niat mengikuti forum seperti maiyah hanya untuk menghibur hati pun diperbolehkan. Jika efek sampingnya adalah ilmu dan kebaikan tentu akan lebih bermanfaat lagi.
Dalam ayat 'kunfayakun' Allah menyuruh manusia untuk menyesuaikan kehendak sesuai dengan-Nya. Dianjurkan manusia meniadakan keinginan-keinginan manusiawi yang lumrah hadir. Keburukan lingkungan pun harus dicari hikmahnya kira-kira di mana Allah menitipkan hikmah. Termasuk mencari posisi di mana kita mengisi peran. Maka ruang-ruang ijtihad terbuka luas untuk menjadi pertimbangan. Utamanya untuk niat dan tujuan melakukannya apa. Harapannya nanti 'kunfayakun' tadi bisa betul-betul ditangkap maksudnya oleh manusia.
Akibat memaksa kehendak manusia pada Allah terlihat saat pembangunan infrastruktur diutamakan daripada pembangunan manusia. Selain menunjukkan bahwa materialisme atau bendawi didahulukan daripada spiritual termasuk mental, juga menjadi alasan kenapa manusia belakangan ini seolah rusak. Kriteria menilai sesama manusia amburadul, dikira malaikat ternyata setan berjubah, disangka iblis rupanya manusia mukhlis. Terbolak-baliknya penilaian semacam itu dilahirkan dari tak beresnya pendidikan berpuluhtahun ke belakangan.
Maiyah menjadikan dirinya sebagai penyedia atmosfer yang nyaman bagi siapa saja. Mengisi yang selama ini seharusnya sudah lama diperankan oleh negara. Menampung keluh-kesah-gelisah rakyat di bawah. Termasuk saat di Maiyah Gresik kemarin di mana ratusan orang bertahan duduk di atas kubangan lumpur. Padahal 80% di antaranya tidak kenal apa itu maiyah tapi rela khusyuk di tengah situasi dan kondisi yang bagi manusia lainnya sungguh tidak nyaman. Jika bukan Allah yang membolak-balikkan hati, bagaimana menalar fenomena semacam itu yang tak terjadi sekali-dua-kali itu?
Bisa dikaitkan juga semua berasal dari niat. Akad yang penting bukan ucapan di lisan maupun kata di atas kertas. Terpenting justru getaran dalam hati juga tindak lanjut seterusnya saat istiqomah melakoni apa yang diakadi. Dalam akad nikah misalnya, akad hanya sekadar deal-deal-an ala jual-beli pun tak mengapa asalkan pada keseharian diwujudkan dengan mencari nafkah lewat berbagai cara bekerja.
Produk maiyah bukanlah organisasi yang dimulai akad atau ikatan formal lainnya. Hasilnya lebih seperti atmosfer yang dibawa tiap manusia yang tercelup di dalamnya. Individu-individu yang bersikap seperti halnya pohon, mampu memberi banyak manfaat ke berbagai arah. Terutama hadirkan rasa nyaman pada siapapun, bahkan terhadap yang dihina dan direndahkan oleh dunia.
Tak heran jika maiyah bukanlah santri, abangan, komunis, kapitalis, atau liberal. Campuraduk seperti gado-gado. Sulit dipetakan jika tak lama tinggal di dalam atmosfernya. Ia seperti lidi-lidi yang diikat menjadi satu oleh kecintaan pada Kanjeng Nabi untuk menuju Gusti Allah. Bukan kepentingan yang meng-ika-kan kebhinnekaan itu, melainkan semata kebaikan yang menghantarkan pada ketenteraman yang sejati.
Jika kemudian tunaikan kebaikan dimaknai sebagai menghutangi Gusti Allah juga sah-sah saja. Bagaimanapun, Ia sendiri mengabadikannya dalam Quran. Tertuang bahwa ia berjanji akan balas utang kebaikan yang makhluk-Nya lakukan. Jadi tak masalah jika manusia menagih hutang seperti halnya kisah tiga pemuda yang terkurung di dalam gua. Usaha fisik mereka tak mampu menggeser batu penyumbat lubang gua. Lantas masing-masing menyebutkan kebaikan yang pernah ditunaikan. Akhir ceritanya mudah tertebak, pintu terbuka.
Melihat keadaan di Indonesia ini memang terlihat seperti ketiga pemuda tadi. Terhimpit dalam kegelapan yang bisa berakibat terjebak dalam lingkaran keputusasaan. Tekanan yang makin besar bisa berbuah letusan seperti halnya gunung-gunung api yang siap memuntahkan batasan. Maka maiyah harus mencari posisi guna mengurangi himpitan tadi. Jika memang dikehendaki Allah dengan berbagai metode 'diperjalankan', sekalian menambah tekanan agar terjadi reset total via letusan pun harus dipersiapkan." simpul Kang Sabar usai Gambang Syafaat dengan Mbah Nun semalam.

Wednesday, October 18, 2017

DOUWES DEKKER DIBULLY DI TWITTER



Seandainya Douwes Dekker masih hidup di zaman kita, dengan tulisannya ini, yang disampaikan dalam Kongres Nasional CSI (Centraal Sarekat Islam) di Surabaya, 1 November 1919, pasti akan ada yang "iseng" menyebut Douwes Dekker sebagai "rasis" atau "xenophobic". Ya, betapa gampangnya sebagian dari kita hari ini menggeneralisasi "analisis ras" dalam kajian ekonomi-politik sebagai bertendensi "rasial" dan "xenophobic". 
Kalau kita buka kembali sejarah, ada dua variabel dalam analisis ekonomi-politik Indonesia yang tidak pernah absen sejak awal abad ke-20, yaitu (1) analisis kelas, dan (2) analisis ras. Petikan tulisan Douwes Dekker ini, yang berasal dari karangannya, "Kebangsaan Kita dan Harta Asing", merupakan salah satu contohnya. Jika kita buka tulisan-tulisan Hatta ketika masih di negeri Belanda, serta tulisan-tulisannya dan Soekarno pada tahun 1930-an, bahkan analisis ras jauh lebih dominan hadir daripada analisis kelas.
Kenapa bisa begitu? Karena struktur ekonomi kolonial memang hanya bisa dibedah tuntas jika menyertakan dua analisis itu. Tanpa keduanya, pasti tumpul. Dan posisi ini tak berubah setelah kita Proklamasi. 
Pada Agustus 1956, misalnya, ketika diadakan Kongres Ekonomi Nasional Seluruh Indonesia (KENSI), yang diadakan oleh Dewan Ekonomi Indonesia Pusat (DEIP), kesimpulannya juga tak beranjak jauh: struktur ekonomi nasional sejak 1945 tidak banyak berubah dengan struktur ekonomi pada masa kolonial, dimana sektor-sektor strategis masih dikuasai oleh bangsa kulit putih (Eropa dan Amerika), dan sektor perdagangan besar dikuasai oleh bangsa Timur Asing (Cina, India, Arab).
Apakah analisis yang demikian bertendensi rasial, atau xenophobic? Saya merasa geli jika ada yang berkesimpulan begitu.
Sembilan puluh lima tahun yang lalu, sebelum Tan Malaka menulis soal penghisapan tanah Indonesia oleh kapital asing, ketika Hatta masih belajar menulis cerpen, dan Soekarno masih belajar menyihir orang banyak, Douwes Dekker telah mengingatkan perbenturan antara jiwa kebangsaan dengan kepentingan kapital asing. Dan dia sudah mewanti-wanti bahayanya "boedi mempertoewan", alias mental budak di kalangan bangsa kita. 
Tentu saja, di abad ke-21 ini "boedi mempertoewan" dalam bentuknya yang klasik mungkin sudah tidak ada lagi. Dengan kepandaian dan pergaulannya, anak-anak bangsa kita saat ini sudah (merasa) sejajar dengan anak-anak bangsa lainnya. Sayangnya, banyak dari mereka mengira bahwa daya saing dirinya merupakan representasi dari daya saing bangsanya, sehingga acap melupakan problem struktural yang diidap oleh negerinya. Mereka buta bahwa bangsanya, sebagai sebuah 'kolektiviteit', dan bukan sebagai perseorangan atau perkelompok, tak lagi menikmati hidup sebagai tuan di negerinya sendiri.
Kembali, seandainya Douwes Dekker masih hidup, dengan tulisannya ini bisa jadi dia akan dituduh dan di-bully di Twitter sebagai orang Belanda peranakan yang tak sanggup bersaing dengan orang-orang Belanda totok atau bangsa kulit putih lainnya, oleh kelas menengah kita yang sok kosmopolit itu. 
Betapa dangkalnya pembacaan ekonomi-politik kita hari ini. #repost

USI DAN TUDUHAN RASISME: DARI SOEKARNO HINGGA BOEDIONO

Jika kita membuka kembali buku harian Indonesia, pada paruh kedua 1930-an Soekarno pernah dituduh sebagai tokoh “rasis” karena perjuangannya atas nasionalisme keindonesiaan. Gagasan nasionalisme dianggap rasis karena dituduh mengobarkan kebencian terhadap orang-orang kulit putih, terutama Belanda.
Dari sudut pandang hari ini kita mungkin akan mudah saja menyimpulkan bahwa tuduhan rasis sebagaimana yang dialamatkan kepada Soekarno pastilah sebuah tuduhan yang sengaja diciptakan oleh Belanda atau antek-anteknya. Namun seandainya kita hidup di jaman kolonial, sejaman dengan Soekarno, barangkali penilaian kita tidak akan setegas itu. Bisa jadi kita akan menjadi orang yang terombang-ambing dan bahkan setuju menganggap bahwa Soekarno memang hanyalah seorang agitator yang sekadar mengobarkan kebencian terhadap Belanda dan bangsa Eropa lainnya.
Tuduhan rasis kepada Soekarno itu pernah dilancarkan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam USI (Unitas Studiosorum Indonesiensis), sebuah organisasi kepemudaan/kemahasiswaan yang diinisiasi oleh para profesor konservatif Belanda dengan tujuan meredam gerakan politik para mahasiswa Hindia Belanda. Jadi, untuk mengimbangi kecenderungan radikal dari kelompok-kelompok pemuda dan mahasiswa yang mengusung paham nasionalisme itulah USI lahir. Seturut ajaran yang diperkenalkan Snouck Hurgronje, USI juga dimaksudkan untuk membangun budaya baru di kalangan elite terpelajar Bumiputera melalui pendirian berbagai organisasi yang berorientasi pada budaya dan gaya hidup Eropa. Tidak heran, orientasi dari USI kemudian sangat kental diwarnai oleh kecenderungan akademis yang dimaksudkan sebagai penawar atas kecenderungan orientasi politik di kalangan mahasiswa pribumi pada umumnya.
Kehadiran USI itulah yang telah menyebabkan lahirnya dua arus kecenderungan di kalangan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan di Hindia Belanda pada akhir tahun 1930-an dan awal 1940-an. Para pemuda dan mahasiswa yang berasal dari kalangan priyayi atas cenderung pada organisasi baru yang dibentuk oleh orang-orang Belanda itu, yaitu USI, sedangkan kalangan priyayi rendahan cenderung berorientasi pada PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia), yang bercorak nasionalis dan radikal.
Menuduh Soekarno sebagai rasis tentu saja sebuah tudingan yang sesat dan menyesatkan, karena pastilah mengabaikan substansi kritik yang dibangunnya terhadap kolonialisme. Di atas permukaan, kemasan gerakan nasionalisme kebangsaan Indonesia memang bertumpu di atas perjuangan ras (race struggle), namun menganggap perjuangan ras itu sebagai “rasis” tentu saja bentuk penyesatan yang tak terperi.
Untuk memahami itu kita harus mundur agak ke belakang. Sesudah kemenangan Jepang atas Rusia dan munculnya Uni Soviet melalui Revolusi Oktober pada awal abad ke-20, dua peristiwa itu telah menjadi latar belakang penting sekaligus menjadi pembentuk corak nasionalisme Indonesia dan negara-negara Asia dan Afrika lainnya. Jika “Pasang Naik Kulit Berwarna”, sebagaimana yang pernah ditulis Stoddard, menjadi penanda menggeliatnya perjuangan-ras (race struggle), bahwa bangsa kulit putih bisa dikalahkan oleh bangsa kulit berwarna; maka “pasang naik Beruang Merah” (baca: lahirnya negara komunis Soviet) menjadi obor bagi menggeliatnya perjuangan-kelas (class struggle) di lingkungan bangsa-bangsa yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya, bahwa kekuasaan para majikan bisa dikalahkan oleh kaum proletar.
Perjuangan ras dengan perjuangan kelas ini jugalah yang kemudian menjadi bahan bakar bagi pergerakan kebangsaan di Hindia Belanda. Ringkasnya, pada awal abad ke-20, kolonialisme Belanda telah mendapatkan tantangan yang kuat dari dua jurusan sekaligus: perjuangan-ras dan perjuangan-kelas.
Namun Soekarno, dan para tokoh pergerakan segenerasinya, kemudian secara jeli melihat bahwa perjuangan kelas sebagaimana ditadaruskan Marx tidak sepenuhnya berlangsung di Hindia Belanda, karena adanya perbedaan corak kapitalisme di Hindia dengan Eropa. Yang dimaksud sebagai “tidak sepenuhnya berlangsung” adalah jika yang dimaksud sebagai perjuangan kelas adalah sepenuhnya mengacu kepada konsep Marx, dimana perjuangan kelas dijelaskan sebagai pertentangan antara kelas burgerlijk (baca: borjuis) dengan kelas buruh.
Di Hindia Belanda yang dikuasai oleh kapitalisme kolonial, perjuangan kelas berlangsung secara berbeda dengan patokan yang diberikan oleh Marx. Jika dalam ajaran Marx kaum buruh harus bersatu dalam menghadapi kaum pemodal (kapitalis), terlepas dari apapun bangsanya, namun dalam perjuangannya menentang kaum kapitalis di Hindia Belanda, maka kaum buruh Pribumi dengan tuntutannya yang revolusioner seringkali hanya berdiri sendiri, tak dibantu oleh kaum buruh kulit putih. Dan ironisnya, kaum buruh kulit putih posisinya lebih dekat kepada kaum kapitalis penjajah daripada kaumnya yang sekelas di Hindia Belanda. Baik Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan para tokoh pergerakan yang segenerasi dengan mereka, analisisnya sama mengenai hal ini.
Itu sebabnya, sejak awal timbul, konsep perjuangan kelas yang berkembang di Hindia Belanda kemudian memang lebih dipengaruhi oleh faktor perbedaan bangsa. Pertentangan ras di Hindia Belanda, antara bangsa pribumi dengan kolonial Belanda, lebih kuat pengaruhnya daripada pertentangan kelas antara kelas buruh dengan kelas kapitalis. Meminjam bahasa Hatta, pertentangan riil yang terjadi di Hindia Belanda waktu itu adalah pertentangan kepentingan antara kaum sana (Belanda) dengan kaum sini (orang Indonesia).
Apakah dengan kerangka analisis itu tuduhan “rasis” tadi bisa diterima? Saya kira hanya orang-orang yang culas atau mereka yang kepentingannya terancam oleh gerakan nasionalisme itu sajalah yang akan mengangguk.
Dalam perjalanannya, celakanya alumni-alumni USI itulah yang kemudian menjadi lingkaran paling kuat yang menyokong pembentukan PSI (Partai Sosialis Indonesia) di awal kemerdekaan, sebuah partai kecil tapi yang memiliki pengaruh sangat besar pada masa awal kemerdekaan.
Lingkaran Sjahrir sendiri sebenarnya terbentuk dari tiga komunitas yang secara gagasan bisa dikatakan cukup seimbang, yaitu pertama komunitas Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru), lalu komunitas Unitas Studiosorum Indonesiensis (USI) tadi, dan ketiga adalah komunitas Persatuan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang sangat bersifat nasionalis. Namun dalam perjalanannya, yang dominan membentuk PSI adalah sayap USI tadi.
Barangkali karena latar belakang anak-anak USI memang berasal dari kalangan elite kolonial, yang sangat terdidik, pandai berbahasa asing, dan sejak awal berorientasi teknokratik (baca: ambtenaar-isme), maka mereka menjadi kelompok yang paling siap mengisi pos-pos penting birokrasi ketika Indonesia merdeka, apalagi ketika Sjahrir menjadi perdana menteri.
Menarik untuk memperhatikan, sejak jaman dulu ruang-ruang pembentukan opini publik di Indonesia juga banyak dikuasai oleh lingkaran Sjahrir ini, karena banyak di antara mereka merupakan jurnalis-jurnalis berpengaruh dan menjadi pengelola media-media besar pada masanya. Sebutlah nama Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar, atau sebutlah nama-nama surat kabar atau majalah berpengaruh di masa lalu, sebagiannya berasosiasi dengan lingkaran Sjahrir.
Jadi, jika kita pada hari ini menyaksikan begitu massifnya penyesatan opini yang mencoba membelokan kritik ekonomi-politik terhadap semakin meningkatnya ketimpangan ekonomi dan distribusi kemakmuran sebagai kritik yang tiba-tiba dianggap “rasis”, maka ingatlah kembali USI. Sejak dulu, penyesatan opini semacam itu selalu lahir dari kelompok yang sama.
Ketika dulu David Ransom menyerang “Mafia Berkeley” di Majalah Ramparts (1970), ingat-ingatlah siapa yang memberikan pembelaan terhadap Widjojo cs. di Indonesia. Kritik Ransom juga dulu dianggap sebagai “rasis”, hanya karena Ransom adalah seorang kulit putih, sementara Widjojo dan rombongan Mafia Berkeley yang dikritiknya berkulit sawo matang, dengan mengabaikan apa sesungguhnya substansi yang sedang dipersoalkan oleh aktivis New-Left Amerika tersebut.
Juga ingat-ingatlah dulu siapa yang gigih sekali memperkenalkan dan membela Boediono dan Sri Mulyani. Kedua nama itu dulu juga dibela karena keduanya bukanlah orang partai politik, sehingga mereka didudukkan seolah malaikat yang bersih di kampung para penyamun berpartai.
Mereka, para prajurit berpena dan bersenjatakan teori-teori necis itu, sering mengklaim dirinya sebagai “humanis”. Sayangnya, para humanis itu masih hidup dengan imaji awal abad ke-20, sehingga hanya bisa membayangkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan hanya bisa muncul dari orang-orang gila seperti Hitler dan Stalin, para “Big Brother” sebagaimana yang ditadaruskan Orwell, dan mengabaikan sepenuhnya bahwa kejahatan, dalam rupa yang lain, bisa juga muncul dari wajah-wajah ganteng dan pribadi-pribadi elegan para pialang saham di Wall Street, atau dari persekongkolan para eksekutif perusahaan minyak, otomotif, atau industri properti dalam sebuah pesta yang bermartabat di balai kota atau mansion-mansion mewah di ibukota.
Jadi, sekali lagi, jika Anda menemukan 'framing' "rasis" atas sebuah kritik yang sebenarnya bersifat ekonomi-politik, maka ingatlah kembali USI. Para penuduh itu sejak dulu berasal dari kelompok yang sama. #repost

Saturday, October 14, 2017

AC versus DC

Walaupun sistem kelistrikan pertama kali diciptakan dalam bentuk arus searah (DC), terbukti bahwa sistem arus bolak-balik (AC) terbukti lebih efisien dibanding sistem DC. Dengan sistem AC, tegangan bisa dinaikkan dan diturunkan dengan mudah dengan menggunakan trafo. Dengan tegangan yang tinggi, pembangkit listrik letaknya menjadi tidak harus dekat dengan bebannya. Selain itu, terbukti bahwa generator dan motor AC jauh lebih andal dan efisien dibanding generator/motor DC. Adanya trafo, generator, dan motor AC yang efisien dan andal inilah yang menyebabkan hampir semua sistem kelistrikan menggunakan sistem AC.  Sehingga sampai saat ini, usulan Tesla terbukti lebih unggul dibanding usulan Edison.
Walaupun mempunyai banyak keunggulan, telah banyak dibuktikan pula bahwa pengiriman daya listrik jarak jauh akan lebih murah kalau menggunakan sistem DC. Transmisi daya dalam bentuk DC akan semakin lebih efisien terutama jika harus melewati laut. Selain lebih efisien, transmisi daya DC bisa diatur aliran dayanya secara akurat dan cepat sehingga bisa ikut memperbaiki keandalan sistem tenaga listrik secara keseluruhan.  Inilah alasan mengapa transmisi daya antar pulau, antar negara, dan antar daerah yang jauh menggunakan sistem DC. Walaupun banyak transmisi menggunakan bentuk DC, sampai saat ini hampir semua energi listrik dibangkitkan dan digunakan dalam bentuk AC.
Akan tetapi jaman berubah. Banyak pembangkit energi listrik baru, terutama yang terbarukan, membangkitkan listrik dalam bentuk DC. Banyak penyimpan energi listrik (batere, kapasitor, fuel cell, superkonduktor) yang bekerja dalam bentuk DC. Hampir semua beban bekerja secara elektronik yang semuanya memerlukan daya listrik dalam bentuk DC. Jika semua semakin banyak beban bekerja dalam bentuk DC, mengapa sistem distribusi listrik tidak kita ubah dalam bentuk DC pula? Jika sistem distribusi kita ubah dalam bentuk DC, konversi AC-DC seperti yang harus kita lakukan saat ini tidak lagi harus dilakukan. Jika konversi AC-DC atau sebaliknya tidak lagi dilakukan, banyak energi listrik bisa dihemat. Menurut beberapa hasil studi, penghematan ini bisa lebih dari 20%. Penghematan yang besar akan dicapai pada pusat-pusat beban yang hampir semuanya elektronis, misal data center. Dalam data center, semua beban adalah beban DC sehingga diperlukan konversi AC-DC dan DC-AC untuk batere UPS, dan konversi AC-DC lagi untuk peralatannya. Panas yang terbuang karena proses konversi ini harus diserap oleh air conditioning yang boros energi. Akibatnya dalam suatu data center, setiap satu watt daya yang dibutuhkan peralatan elektronik diperlukan lebih dari dua watt daya sumber. Penghematan energi yang dicapai dengan merubah semua sistem menjadi DC akan sangat besar dengan semakin banyaknya peralatan elektronik dan semakin berkembangnya mobil listrik. Penghematan saat ini menjadi isu penting karena menghemat satu mega watt bisa dilakukan dengan lebih mudah dibanding membangkitkan satu mega watt.
Masalah utama dari penggunaan sistem distribusi listrik dalam bentuk DC adalah belum banyak dan masih baru. Karena belum banyak, maka harga peralatannya masih mahal. Karena masih baru, standard yang mengatur belum sebanyak yang mengatur sistem AC. Saat ini banyak negara sedang melakukan ujicoba dan melakukan standarisasi sistem DC untuk berbagai penerapan. Tidak lama lagi, akan semakin banyak daya listrik yang dibangkitkan, ditransmisikan, didistribusikan, digunakan, dan disimpan dalam bentuk DC.  Sehingga dimasa yang akan datang, bisa jadi usulan Edison lebih unggul dibanding usulan Tesla. Pekik AD