Friday, October 13, 2017

100% Terbarukan

Di Amerika, banyak ahli masih berdebat apakah mungkin negaranya menggunakan listrik 100% terbarukan pada tahun 2050. Akan tetapi rupanya, banyak pemerintah negara bagian dan perusahaan yang tidak sabar menunggu kesimpulan para ahli. Ada beberapa negara bagian atau perusahaan yang langsung menyatakan ingin 100% terbarukan pada tahun 2050, atau bahkan bebas BBM untuk transportasi.
Banyak orang khawatir dengan efek pemanasan global karena emisi CO2. Saat ini, emisi CO2 total di dunia ini sekitar 41 gigaton per tahun. Jika ini tidak segera dikurangi, target dari Paris Agreement tidak akan tercapai. Sebenarnya, emisi CO2 bisa dikurangi dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Sayangnya, saat ini PLTN sedang tidak populer. Demikian pula dengan teknologi PLTU batubara modern yang dilengkapi penangkap CO2, juga tidak populer.
California sudah menyatakan bahwa negaranya harus 100% energi terbarukan pada tahun 2045. Target sebelumnya adalah 50% terbarukan pada 2030. Hawai juga menyatakan akan 100% terbarukan pada tahun 2040. Denmark menyatakan akan 100% terbarukan pada tahun 2035 dan bebas energi fosil pada tahun 2050. Saat ini, kontribusi energi terbarukan adalah 56%. Pada saat-saat tertentu, daya listrik yang dihasilkan oleh PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu) di Denmark sudah 50% lebih dari kebutuhan Denmark. Oleh sebab itu, mereka harus menjual kelebihannya ke negara tetangga seperti halnya Swedia, Jerman, Norwegia, dan lainnya. Operator listrik Denmark yakin bahwa 100% terbarukan bukan hal yang tidak mungkin. Syaratnya, mereka harus bisa menjual kelebihan produksi dan bisa membeli saat kekurangan. Untuk itu, Denmark membangun banyak saluran transmisi atau tol listrik sehingga bisa melakukan jual beli dengan banyak negara.
Indonesia, mentargetkan hanya 23% pada tahun 2025. Itupun energi baru dan terbarukan, bukan hanya terbarukan. Jika melihat capaian saat ini, banyak orang pesimis bahwa target 23% tersebut tercapai. Masalah utama dari pengembangan energi terbarukan di Indonesia adalah sistem kelistrikannya terdiri atas banyak sistem kecil. Akibatnya, kelebihan produksi listrik di suatu daerah tidak bisa dijual di tempat lain atau negara lain. Kekurangan produksi tidak bisa ditutup dengan membeli dari daerah atau negara lain. Padahal, potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar. Akan tetapi semua itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik karena sharing resources antar daerah tidak dimungkinkan. Sharing resources hanya bisa terjadi jika negara kita punya tol listrik seperti halnya keinginan pemerintah membangun banyak tol laut untuk mengurangi biaya logistik dan mengurangi kesenjangan antar daerah. Jika tol listrik bisa dibangun, maka antar daerah bisa jual beli listrik sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Jika ada tol listrik, 100% renewable di Indonesia bukan cuma mimpi. Pekik AD

0 comments:

Post a Comment