Saturday, October 14, 2017

Apa ya yang Membuat Mereka “Trauma” lalu “Nyinyir” pada Agama?



Sepanjang hidup ini, saya sempat “mencicipi” beberapa kelompok pengajian yang, yah, you know what I mean. Bahkan sejak kecil, di masjid dekat rumah, saya sudah beririsan dengan pengajian Imran (yang menyerang Polsek Cicendo - Bandung, serta membajak pesawat Woyla)—dan pengajarnya adalah lelaki yang akan menjadi kakak ipar saya di masa depan (dia mendekam di penjara selama 11 tahun). Saya juga pernah “mencicipi” NII dan IM, juga pernah intens mengaji pada seorang lelaki yang menjalani hidup asketik—dan dia adalah mantan aktivis ITB yang pernah di penjara karena mendemo Rudini sewaktu datang ke ITB. Saban hari saya menemui dia dan bahkan mengikutinya saat pergi ke gurunya, dan lain sebagainya. Selain itu, saya juga sempat mencicipi nongkrong di komunitas Barzakh yang diasuh oleh Pak Muhammad Zuhri (alm.) dari Sekar Jalak. Pernah sangat tertarik pada Syi‘ah, namun saya selalu terbentur dengan ‘ketidaksukaan pada para sahabat’, khususnya ‘Umar bin Khaththab yang sangat saya kagumi. Ihwal khazanah irfan dan filsafatnya, sangat cocok dengan saya. Masalah para sahabat itu yang tak mau saya lepaskan, hingga detik ini.
Intinya, perkenalan saya dengan agama adalah perkenalan yang, setidaknya, ‘agak basah kuyup’ karena saya sempat ‘kejebur’ di dalamnya.
Namun, selain itu, saya pun sangat sering berinteraksi dengan berbagai orang yang memiliki minat sama terhadap wacana (Barat), katakanlah begitu, dan disitulah saya belajar dan mengembangkan diri juga. Saya menjadi muridnya Pak Yasraf Amir Piliang secara formal (saat saya menjadi mahasiswanya di FSRD ITB) dan saya pun menjadi murid informalnya Pak Bambang Sugiharto (yang membolehkan saya jadi mahasiswa tamu di semua matakuliah yang dia ampu, baik di UNPAR maupun di ITB). Seseorang pernah menyebut saya “academic freak”, karena lebih menyukai kajian filsafat dan budaya dalam bingkai yang ketat khas kajian akademik ketimbang berupa obrolan-obrolan lepas yang tidak sistematik ihwal apa pun. Kemudian, saya pun melanjutkan kuliah pascasarjana di STF Driyarkara, lalu mengelola kajian budaya di Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB dan juga Studia Humanika Masjid Salman.
Namun, dalam interaksi dengan banyak peminat wacana khas Barat tersebut, seringkali saya bertemu dengan orang yang sikapnya terhadap agama begitu sinis dan tak bersahabat, lalu ujung-ujungnya nyinyir. Sementara, orang seperti Pak Bambang Sugiharto yang profesor filsafat itu, dan bahkan sering berbicara di berbagai forum filsafat internasional, sangat bijak dan open mind dalam membicarakan agama, namun tetap tidak kehilangan sikap kritisnya. Saya sering mencoba mengamati, apa yang membuat para kenalan tersebut begitu sinis atau tak bersahabat terhadap agama? Apa trauma terhadap agama yang membuat mereka bersikap seperti itu? Dan seringkali yang mengherankan bagi saya, mereka nyaris tidak pernah punya pengalaman seperti yang pernah saya alami. Kalau boleh berapologi: sikap saya yang tak bersahabat terhadap para aktivis Islamisme merupakan buah dari ‘agak basah kuyup’-nya saya ‘berenang’ di dunia tersebut, namun kini meninggalkannya sama sekali. Saya akui bahwa sikap tak bersahabat itu adalah sikap yang salah, karena saya masih kelabakan mengendalikan hawa nafsu. Tapi, setidaknya, saya tidak bersikap sinis dan tak bersahabat terhadap agama karena belajar filsafat dan cultural studies, misalnya. Dalam banyak undangan jadi pembicara, saya seringkali silih berganti bicara soal tashawwuf atau bicara soal filsafat dan cultural studies, atau bahkan membicarakan filsafat atau kajian budaya dalam kaitannya dengan fenomena agama.
Kadang saya mencoba mengamati, apa sih latar belakang dari sikap sinis dan tak bersahabat mereka itu terhadap agama? Dari sedikit-sedikit latar belakang yang mereka ceritakan, tak jarang saya mendapati bahwa umumnya mereka tidak pernah mengalami ‘agak basah kuyup’ dalam aktivisme agama, atau bahwa mereka pernah masuk sekolah agama, misalnya. (Umumnya, sikap sinis dan tak bersahabat dari para peminat wacana yang pernah sekolah agama, seperti pesantren misalnya, memiliki penyebab berbeda.) Sialnya, saya sering menangkap bahwa penyebabnya: ‘karena mereka semata tidak suka saja, karena tidak sesuai dengan seleranya.’
Penjelasan dari Pak Bambang berikut lebih mengena, bahwa bagi mereka, agama dialami sebagai otoritas paling nyinyir tentang hal-hal fisik yang remeh-temeh dan sangat duniawi, jauh dari keluasan cakrawala transendental. Agama menentukan apa yang boleh atau tidak boleh dimakan, kapan mesti sembahyang, bagaimana cara mencuci diri, berapa persis penghasilan seseorang mesti disumbangkan, kapan orang perlu merasa berdosa, bahkan apa yang boleh dimpikan/dihayalkan, dsb. Bagi mereka, di sini, agama tampil lebih sebagai kekuatan politik.Terutama politik dalam arti Foucauldian, yakni strategi diskursif yang membentuk pola pengalaman, pemahaman diri/identitas individu, lewat praktik “kekuasaan pastoral”..
Dengan menggunakan penjelasan dari Pak Bambang, saya pun melihat bahwa mereka tampaknya kecewa karena agama yang seharusnya berurusan dengan kesucian serta merupakan benteng nurani dan jalan ke arah kewarasan jiwa, ternyata tidak sama sekali. Dalam kenyataannya, institusi-institusi keagamaan, dengan konotasi absolut dari kekuasaan yang diwakilinya, sangat rentan untuk menjadi benteng KKN paling parah alias semacam sanctuary paling aman bagi tikus, belatung dan segala jenis binatang pengerat. Padahal, kejahatan dari agama, kejahatan yang mengatasnamakan kesucian, tentunya lebih buruk daripada kejahatan biasa, seperti kata R.Niebuhr, “the worst corruption is a corrupt religion.” Alih-alih benteng nurani, institusi keagamaan lebih sering dialami sebagai benteng hipokrisi, identik dengan perilaku yang artifisial. Alih-alih sumber otentisitas, agama lebih tampil sebagai, meminjam istilah Marx, benteng “kesadaran palsu” (false consciousness), kesadaran yang sedemikian kuat hingga mudah menimbulkan fanatisme, namun sesungguhnya tak realistis, naif dan tidak otentik. Maka bukannya membimbing ke arah kewarasan jiwa seringkali agama malah seperti menghasilkan yang disebut Leo Strauss “retail sanity, but wholesale madness”, kewarasan ketengan namun kegilaan massal grosiran.
Hal lainnya? Saya juga melihat bahwa dalam kegemarannya mendalami wacana rasional khas Barat, mereka ‘menuntut’ agar agama menyesuaikan diri dengan wacana yang dipelajarinya. Sebab, jika tidak demikian, maka, kembali dengan memakai penjelasan dari pak Bambang, agama sama sekali tidak memberikan pengetahuan sejati dan mendorong pencarian ilmu terus menerus. Kendati biara-biara abad pertengahan adalah pusat ilmu pengetahuan,dan Baghdad serta Kordoba sempat menjadi simbol pencerahan awal keilmuan, bahkan sebaliknya, dunia keilmuan sendiri pun hari ini sibuk melacak dimensi spiritual dalam sains, sulitlah memungkiri kenyataan bahwa kehidupan beragama umumnya sering tetap saja diwarnai oleh kenaifan, kebodohan, kedangkalan dan kekanak-kanakan. Itu pula yang menyebabkan orang-orang modern sering menganggap agama sebagai sisa-sisa keprimitifan dan keterbelakangan, jauh dari ilmu pengetahuan. Agama seperti identik dengan kemandegan, sensor berlebihan, dan rasa puas diri yang naif.
Karenanya, jika Anda mengenal sejarah humanisme modern, dan bagaimana manusia di era modern diberi otonomi penuh untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya, serta sejarah bagaimana agama disingkirkan ke pojok peradaban, lalu munculnya sekularisme dan materialisme, Anda bisa memahami apropriasi yang dipaksakan atas agama tersebut. Anda tak akan heran jika muncul pemikiran bahwa ayat Al-Qur‘an ihwal pembagian waris 1 banding 2 bagi anak perempuan dan anak lelaki harus diubah menjadi 1 banding 1 atas dasar keadilan dan kesetaraan gender. Atau pembelaan atas LGBT sebagai fithrah (dan account FB saya pernah dilaporkan ke ‘pusat’ sehingga diblokir beberapa hari karena saya menolak LGBT; well, ternyata kebebasan mengutarakan pendapat secara demokratis yang banyak diusung dalam ranah kajian ilmiah-rasional-akademik tak sepenuhnya berlaku secara fair di sebagian kalangan dalam penyikapan mereka terhadap orang yang berbeda pendapat dan membawa alasan agama juga di dalam pemikirannya). Anda tak akan heran pada pandangan bahwa jilbab itu tidak wajib bagi al-mu‘minat, sebab yang penting adalah kode kepantasan dalam berpakaian di suatu masyarakat. Anda tak akan heran pada pandangan ihwal poligami yang disamakan dengan pelacuran dan pemuasan syahwat selangkangan para lelaki (entah sudah berapa kali saya dimaki di FB karena tak sependapat dengan hal ini). Dan banyak lagi yang lainnya.
Ada satu hal yang jika bisa Anda amati dan pahami, lalu coba pikirkan, maka Anda bisa membayangkan bagaimana sulitnya seorang peminat filsafat dan cultural studies harus ‘mendamaikan’ wawasan tersebut dengan agamanya. Itu bisa memberi Anda gambaran ihwal fenomena ‘nyinyir melambai’ terhadap agama seperti yang saya utarakan di atas. Untuk contoh, saya akan paparkan pemikiran Deleuze & Guattari soal hasrat lalu dibandingkan dengan pemaparan Ibn ‘Arabi dan anak tirinya, Sadruddin Al-Qunawi ihwal hawa nafsu dan syahwat (karena saya beragama Islam dan khazanah Islam yang lebih saya kenal daripada khazanah agama lain).
*****************
Dalam buku “Anti-Oedipus: Capitalism And Schizophrenia”, Deleuze & Guattari melengserkan pandangan negatif terhadap hasrat yang telah bercokol sekian abad dalam filsafat Barat. Ronald Bogue menyamakan Anti-Oedipus sebagai tandingan modern atas Anti-Christ karya Friedrich Nietzsche, karena Deleuze & Guattari menyerang frontal konsep Oedipus Kompleks dalam psikoanalisis dan segenap teori psikologi yang mengunggulkan hubungan keluarga dan keutuhan diri. Mereka mengajukan bahwa hasrat lebih bersifat sosial ketimbang keluarga (familial), dan bahwasanya pemandu terbaik bagi hasrat sosial adalah ‘id skizofrenik’ ketimbang ‘ego neurotik’, dan mereka pun mengajukan skizoanalisis untuk menggantikan psikonanalisis.
Menurut mereka, berabad-abad filsafat mengenyahkan dan memandang rendah hasrat, bahkan semenjak Platon. Sementara rasio diposisikan sebagai pemandu hidup manusia dan pembentuk identitas yang ajeg. Pembalikan sejarah filsafat yang mengarah ke hasrat, pertama kali digaungkan oleh Nietzsche melalui konsep kehendak untuk berkuasa yang diambil alih oleh Deleuze & Guattari untuk membeberkan bahwa tatanan sosial dalam segenap perjalanan hidup manusia berfungsi merepresi hasrat untuk dibentuk sesuai tuntutannya. Selain itu, mereka juga melihat bahwa Platon menguraikan hasrat sebagai kekosongan dalam subjek yang kemudian diisi oleh akuisisi dari suatu objek, dan kebanyakan pemikir di Barat serta psikoanalisis mengikutinya dalam memperlakukan hasrat sebagai kekurangan (lack). 
Jacques Lacan mendefinisikan hasrat sebagai kekurangan yang tak terpenuhi—kecuali melalui mimpi—yang muncul di antara kebutuhan dan permintaan, yang berkembangbiak dalam bahasa melalui substitusi tiada akhir dalam rantai penanda, dan disimbolikkan dalam phallus. Dengan kata lain, itulah kekurangan yang maujud (manque-à-être). Hasrat bukanlah dorongan alamiah yang ditindas oleh sosial, karena represi tersebut telah mendahului semua bentuk opresi sosial. 
Bagi Deleuze & Guattari, hasrat bisa saja mengafirmasi dirinya sendiri atau memilih kuasa sebagai pusat serta kemapanan suatu tatanan sebagai tujuannya. Mereka mengembangkan definisi hasrat sebagai sesuatu yang positif lagi produktif yang mendukung konsepsi hidup sebagai aliran material, serta menggugat konsepsi hasrat sebagai ‘kekurangan’ internal yang tak pernah bisa terpuaskan, sebagai proses yang bertujuan terputusnya kesenangan, atau sebagai sesuatu yang ‘diregulasi’ oleh hukum kekurangan atau norma kesenangan. Hasrat tidaklah diatur secara eksternal oleh berbagai larangan yang membuatnya memiliki hubungan konstitutif dengan ‘kekurangan’, melainkan sebagai proses eksperimentasi pada bidang imanensi. Dengan kata lain, hasrat merupakan konstruksi suatu bidang imanensi yang di dalamnya hasrat berkesinambungan dan apa pun diperbolehkan. Hasrat produktif tersebut merupakan bentuk lain ‘kehendak untuk berkuasa’-nya Nietzsche.
Hasrat adalah produksi, atau produksi hasrat (desiring-production), bukan akuisisi atau kekurangan. Hasrat itu koekstensif dengan aktivitas sosial dan natural, sebuah energi yang bebas terapung, tidak terikat dengan sesuatu yang Freud sebut libido dan yang Nietzsche sebut kehendak untuk berkuasa. Hasrat pada dasarnya bersifat tak sadar, dan karenanya tidak terhubung dengan negasi (tak ada istilah ‘tidak’ dalam ketaksadaran), tidak peduli terhadap identitas personal atau citra tubuh (sebagai hal yang sentral dalam tahapan imajiner Lacan) serta interpretasi atau ekspresi linguistik yang mandiri (inti dari tahapan simbolik Lacan). 
Deleuze & Guattari mengkritik psikoanalisis yang merumuskan tentang bagaimana anak memiliki ego sebagai posisi subjek untuk mengalami dunia, dan ini dibentuk oleh relasi anak dengan orang tua berjenis kelamin sama yang bersaing terhadap orang tua berjenis kelamin beda (pertempuran Oedipal). Di sini, rasa bersalah awal muncul dari hasrat ‘incestuous’ dan dorongan ‘patricidal’ atau ‘matricidal’. Berbagai tabu Oedipal menciptakan manusia neurotik dengan menginternalkan rasa bersalah guna merepresi hasratnya, seperti pendeta atau mistikus yang mengalihkan kekuatan aktif hasrat produktif untuk melawan dirinya sendiri dan menciptakan patologi perasaan bersalah. 
Oedipalisme psikoanalisis selalu menafsirkan semua fenomena ketaksadaran dengan mengembalikannya kepada segitiga primal keluarga suci, yaitu, ‘ibu-ayah-aku’ (mommy-daddy-me), padahal ketaksadaran itu dihasilkan secara sosial dari pengalaman publik kolektif, karena fantasi tidak pernah bersifat individual melainkan kelompok. Karenanya, ketaksadaran sama sekali tak menyadari pribadi semacam itu sebab yang diketahuinya adalah peran sosial dan politik (Sunda, Padang, polisi, radikalis, pemberontak, majikan, dan lain-lain) serta peristiwa-peristiwa historis dan publik (pembantaian etnis, komunisme, reformasi, dan lain-lain). Bahkan semua fenomena ketakwarasan (delirium) mengandung muatan politis, rasial dan kesejarahan dunia.
Hal ini kemudian sejalan dengan pemikiran Guattari--sebelum berkolaborasi dengan Deleuze--yang telah mengidentifikasi bahwa analisis individual tidak mungkin lepas dari ikatan psikologi kelompok dan institusi. Subjektivitas kelompok merupakan pendahuluan mutlak untuk kemunculan semua subjektivitas individual. Secara realitas, terdapat subjek yang terikat menjadi kelompok dengan konfigurasi: 1) ‘subjected group’ atau kelompok yang dipersubjek, yaitu kehomogenan yang dicetak oleh kelompok, individu adalah kawanan dan bukan siapa-siapa; 2) ‘group-subject’ atau subjek kelompok, keheterogenan yang menjadi subjek, mandiri dan berani menjadi individu (Nietzsche menyebutnya übermensch). Bagi Guattari yang ideal adalah ‘group-subject’ karena merupakan tindakan revolusioner yang memutus diri dari dominasi struktur dan kode sosial yang mapan.
Permasalahannya, dalam kehidupan, hasrat selalu ditaklukan atau dikodifikasi ke dalam model tertentu (Freud menyebutnya prinsip realitas). Hasrat yang ‘chaos’ kemudian dikodifikasi dan disalurkan menjadi ‘cosmos’ sehingga membentuk homogenisasi (subjected group), yang dinamakan proses ‘chaosmosis’. Agen ‘chaosmosis’ saat ini adalah kapitalisme melalui tirani atau despotisme penanda, yaitu berbagai merek dagang yang dihasrati individu. Karenanya, kapitalisme adalah kekuatan deteritorialisasi dan reteritorialisasi yang bersamaan. 
Sekalipun mengkritik, namun Guattari masih melihat signifikansi psikonanalisis sebagai strategi untuk membebaskan subjek dari cengkraman dengan cara merangsang subjektivasi transformatif. Guattari melakukan eksperimen di rumah sakit jiwa dengan selalu memindah-mindahkan para pasien ke lingkungan baru dan berbeda agar selalu beradaptasi dari awal tanpa menjadi terfiksasi. Untuk kondisi saat ini, menurutnya, yang perlu dilakukan adalah multisentrisme-fungsional, yaitu, saat individu menjadi sekrup mesin hasrat kapitalisme, maka sistem tersebut dipecah-pecah menjadi banyak pusat melalui cara memperkuat singularitas individu atau kekuatan kritis sehingga setiap individu harus mampu membongkar dan mengenali proses-proses ‘chaosmosis’ yang dialaminya. Selain itu juga melalui kekuatan kreatif, yaitu memperkuat kemampuan melihat berbagai kemungkinan baru dan merekonfigurasinya sesuai aspirasi diri sendiri. Dengan demikian, individu akhirnya mengubah diri terus menerus, sehingga terjadi individuasi yang nomadik karena senantiasa berkembang dan bertumbuh.
Selain itu, Guattari juga mengganti konsep ‘subjek’ yang problematis—karena sangat mudah terbingungkan dengan ‘kesadaran’—menjadi gagasan mengenai ‘mesin’, yaitu suatu titik tempat aliran dari sesuatu (fisikal, intelektual, emosional, dan seterusnya) baik keluar maupun masuk ke dalam suatu struktur. Misalnya, mulut bayi pada payudara ibunya merupakan mesin mulut yang bertemu dengan mesin payudara; di sini terdapat aliran antara dua mesin.
Dalam kolaborasinya, Deleuze dan Guattari melihat bahwa sampai saat ini hasrat masih dibicarakan secara abstrak dengan semata menyarikan suatu objek yang seharusnya menjadi objek hasrat. Manusia tidak pernah menghasratkan sesuatu, tetapi selalu lebih kepada menghasratkan agregat (ensemble). Dalam menghasratkan suatu objek, pakaian misalnya, hasrat tersebut bukanlah kepada objek pakaian, melainkan kepada keseluruhan konteks atau agregatnya, yaitu berada di butik, di antara orang banyak, dan seterusnya. Tak ada hasrat yang tidak mengalir kepada kumpulan (agencement) karena hasrat selalu mengkonstruksi wilayah.
Karena itu, nyaris tak ada individu yang pernah bisa memenuhi hasratnya karena setiap individu bergerak di antara dua kutub, yaitu, hasrat skizoid yang revolusioner namun bersifat anti sosial dan hasrat paranoid yang bersifat sosial namun dikodifikasi dan menginginkan represinya sendiri. Mereka menawarkan skizofrenia sebagai ‘Homo Natura’ serta model produksi yang mampu mengekspresikan hasrat produktif, yaitu skizofrenia aktif, bukan skizofrenia medis.
*****************
Lalu bagaimana Islam menjelaskan soal larangan memperturutkan hasrat (yang Deleuze & Guattari, juga Foucault, istilahkan sebagai ‘fasisme terhadap diri sendiri), serta ihwal dua jenis hasrat, yaitu syahwat dan hawa nafsu? Silakan simak pemaparan berikut ini:
*****************
Kini, pengertian syahwat seringkali disempitkan hanya sebatas hasrat seksual. Akar kata syahwat adalah syaha, yashu atau syahiya, yasyha, syahwah yang artinya adalah sangat ingin atau keinginan mendapat yang lezat. Namun, Zaenal Muttaqin menandaskan bahwa syahwat memiliki makna ‘keinginan’ dengan konotasi kepada bentuk-bentuk material. Kata dasar syahwat juga bermakna ‘memandang dengan tatapan yang kuat’, dan jelas itu menunjukan kaitan pada objek inderawi; sedangkan objek syahwat disebut musytaha. Dalam QS Ali Imran [3]: 14, syahwat sebagai hasrat material dirinci dengan gamblang sebagai berikut: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Ayat tersebut dengan gamblang merinci objek apa saja yang sangat diinginkan oleh syahwat sebagai hasrat material. Zamzam AJT menjelaskan bahwa sebagaimana halnya tubuh manusia dibentuk dari unsur-unsur bumi, serta membutuhkan minum dan juga makanan yang berasal dari bumi (seperti hewan dan tumbuhan), maka hasrat kebertubuhan pun tertuju pada keinginannya akan segala kesenangan material kebumian. Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa syahwat itu tertuju ke arah pemuasan beberapa selera alami yang ditentukan oleh nature objek yang dilihat, misalnya, makanan yang lezat atau pasangan yang memikat lagi menggairahkan. Syahwat tidak mengarahkan dirinya kepada pikiran-pikiran abstrak.
Kata ini, dalam berbagai bentuknya, disebutkan sebanyak 13 kali dalam Al-Quran. Diantaranya adalah QS An-Naml [27]: 55, “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) syahwat-(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” Ayat tersebut menandaskan bahwa homoseksualitas adalah sebentuk pelampiasan syahwat yang sama sekali tak dibenarkan dalam Islam. Tentang orang-orang yang memperturutkan syahwatnya dipertegas juga dalam QS An-Nisa’ [4]: 27 (“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti syahwatnya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya [dari kebenaran].”) dan juga QS Maryam [19]: 59 (“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan syahwatnya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.).
Kemudian, Zaenal Muttaqin pun menjelaskan bahwasanya idiom hawa nafsu dalam bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa Arab, yaitu hawa dan memiliki makna berbeda dari kata syahawat. Bahkan Al-Quran pun selalu konsisten dalam menggunakan kedua kata tersebut untuk penggunaan yang berbeda, namun, sayangnya, terjemahan Al-Quran dalam bahasa Indonesia saat ini masih banyak tertukar antara kedua istilah tersebut. Kata hawa bisa ditemukan di antaranya dalam QS An-Naziat [79]: 40, tentang orang-orang yang takut kepada maqam Rabb-nya dan menahan diri dari al-hawa, serta QS Shaad [38]: 26 yang berisi seruan “...janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” 
Arti kata hawa pun adalah keinginan, dengan konotasi jatuh dari ketinggian. Arti lainnya adalah: kekosongan dan lubang yang dalam. Misalnya, dalam Al-Quran, ada istilah “Neraka Hawiyyah”, yang bermakna neraka yang dalam. Zamzam AJT juga menjelaskan hal tersebut dari QS An-Najm [53]: 1, “Demi bintang ketika jatuh dari ketinggian (hawa).” Apabila dilihat dari perspektif manusia yang berada di bumi, ketika terbenam, bintang-bintang tersebut memang tampak seperti jatuh (melengkung) dari ketinggian. Zamzam pun menandaskan bahwa yang dimaksud sebagai bintang yang jatuh dari ketinggian di ayat tersebut adalah Iblis, yang pada awalnya—sebagaimana pernah dikemukakan Ibn ‘Arabi dalam tafsir Al-Qurannya—diperkenankan Allah untuk berada bersama-sama para malaikat, namun dikarenakan iri dengki dan kesombongannya terhadap Adam, maka dia terjatuh dan menjadi makhluk yang terkutuk. Dengan demikian, hawa juga merupakan hasrat terhadap bentuk-bentuk imaterial, seperti ego, harga diri, iri, dengki, kesombongan dan lain sebagainya.
Zamzam AJT mengistilahkan hawa nafsu dengan nufusul hawiyyah; sedangkan Al-Ghazali, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, membedakan nafs menjadi dua arti, dan nafs dalam arti hawa nafsu merupakan campuran (aradh) pada nafs lathifah namun sama sekali bukan bagian dari nafs lathifah. Hawa dengan nafs lathifah itu tak ubahnya seperti minyak dengan air, tercampur tapi tidak menyatu. Zamzam mengumpamakannya: apabila tubuh adalah pantai, lautan adalah nafs, maka bunyi debur ombak hasil pertemuan lautan dan daratan itulah yang disebut hawa nafsu atau nufusul hawiyyah. Hawa ini pada awalnya hanya berbentuk embrio yang tercampur, namun jika terus dipupuk dan dipelihara, maka akan maujud dalam diri manusia secara independen, sehingga membentuk nufusul hawiyyah.
Dalam kaitannya dengan etika (dalam) Islam, agama memang sangat rinci dalam mengatur kehidupan manusia, mulai dari wilayah personal, misalnya ihwal bagaimana melepas pakaian dan berhubungan dengan pasangan sah, lalu wilayah sosial seperti hukum bertetangga dan bermasyarakat, hingga wilayah esoterik yang hanya dialami dan dipahami oleh mereka yang tidak membatasi diri semata hanya mempelajari fiqih (sebagai syariat lahir) tetapi juga tashawwuf (sebagai syariat batin). Sebagaimana dicatat oleh Huston Smith, ini membuat Islam, jika dibandingkan agama lainnya, bagi kebanyakan masyarakat Barat seringkali tampak sebagai agama yang sangat legalistik dan nyinyir mengatur segala hal sampai perkara terkecil, sehingga terkesan sebagai agama yang sangat kaku. Bagi masyarakat Barat, agama adalah pengalaman rohani yang bersifat personal, sehingga ajaran agama yang (relatif) lebih longgar serta langsung menyentuh wilayah filosofis dan esoterik, jauh lebih diminati (ketimbang larangan dan perintah).
Terkait dengan keberserahdirian, berbeda dengan agama Nasrani, misalnya, Islam tidak memperkenalkan hubungan Tuhan dengan manusia sebagai hubungan bapak dan anak, tapi Tuan dan hamba. Para sufi, sekali pun selalu memanggil Allah sebagai Kekasih, tetap dengan ketat memposisikan dirinya sebagai hamba yang jatuh cinta sepenuh hati kepada Tuannya. Pencapaian spiritual para sufi tersebut tetap ditopang oleh ketaatan mereka kepada fiqih, karena mereka tetaplah hamba. Karenanya, terkait dengan etika (dalam) Islam, sebagai hamba maka seorang muslim tidaklah dibenarkan untuk memperturutkan syahwat dan hawa nafsunya sekehendaknya. Terkait dengan syahwat, Sadruddin Al-Qunawi—anak tiri Ibn ‘Arabi—pernah menjelaskan hadits “Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah terhadap zina hamba-Nya yang laki-laki atau yang perempuan” (Muttafaq ‘alaih), yaitu:
“Tiba-tiba diceritakan kepadaku tentang rahasia hal itu bahwa sebab munculnya perasaan ghiyrah (cemburu) dan penguasaannya bukanlah perbuatan yang diharamkan itu saja. Melainkan penyebabnya adalah karena ia bersekutu pada maqam rububiyyah. Hal itu disebabkan adanya pemutlakan dalam tindakan (bertindak semaunya) dan pelaku ingin melakukan setiap yang dikehendaki tanpa cegahan, ikatan, dan larangan yang merupakan sifat-sifat rububiyyah. Sebab Dialah (Allah) yang melakukan apa yang dikehendaki tanpa larangan dan cegahan dari yang lain. Maka pengikatan dan larangan adalah termasuk sifatnya yang khas. Ketika orang tersebut ingin keluar dari sifat-sifat larangan dan mencari pemutlakan tindakan (ingin bertindak semaunya) menurut kehendaknya, maka berarti dia menginginkan persekutuan dengan Al-Haqq dalam sifat-sifat rububiyyah-Nya dan menentang kebesaran-Nya. Tidak diragukan, hal itu merupakan sebab munculnya ghirah (cemburu) yang menyebabkan kemurkaan atau siksaan jika tidak mendapat pertolongan dan mendapat seratus cambukan yang berkaitan dengan perhitungan yang merupakan induk hukum-hukum rububiyyah. Ada pengurangan cambukan bagi anak gadis karena syafaat hukum esensi pertama.
Itu merupakan contoh perincian hukum-hukum hadirat Tuhan. Maka pahamilah. Ini merupakan kunci agung dari rahasia-rahasia syariat. Dari sini engkau tahu bahwa setiap tempat dan bilangan tertentu dalam syariat kembali pada prinsip rabbani dan urutan yang jelas sesuai dengan hakikatnya.”
Sedangkan terkait dengan hawa nafsu, Ibn ‘Arabi menjelaskan sebagai berikut:
“Hindari perbedaan pendapat sedapat mungkin. Anda harus menunaikan jihad akbar, yaitu memerangi hawa nafsu Anda. Allah SWT berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, perangilah mereka yang kafir di sekitar kalian!’ Padahal tidak ada yang lebih kafir daripada hawa nafsumu, karena ia selalu mengingkari nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya. Jika Anda memerangi hawa nafsu Anda dengan jihad ini, maka Anda telah menunaikan jihad akbar, yang jika hawa nafsu Anda terbunuh dalam perang itu maka Anda akan termasuk dalam golongan kekasih-Nya yang senantiasa ‘hidup’, yang memperoleh rezeki di sisi Tuhan dan berbahagia karena karunia Allah yang dilimpahkan kepada mereka.
Manusia senantiasa dalam jihad akbar karena ia selalu terseret untuk menolak ajaran kebenaran. Sebab, pada dasarnya, ia memang penurut kepada hawa nafsunya, yang hawa nafsu ini setara dengan Iradah (Kehendak) yang menjadi hak Allah, karena Allah melakukan sesuatu seperti manusia ingin melakukan apa yang disukainya.”
Dari paparan di atas, bisa terlihat bahwa baik Sadruddin Al-Qunawi mau pun Ibn ‘Arabi menyejajarkan pelampiasan sekehendaknya syahwat dan hawa nafsu itu dengan Iradah, yang selain merupakan nama Allah, juga semata ‘hak Allah’ karena hanya Allah sajalah yang berhak melakukan apa pun sekehendak-Nya. Ada pun hawa nafsu yang diperturutkan sekehendaknya itu tak ubahnya ilah atau sebagai sesuatu yang mengatur manusia sedemikian rupa, sebagaimana dinyatakan dalam hadits berikut: “Tidak ada sesuatu yang lebih besar di bawah naungan langit berupa sesembahan yang disembah selain Allah, selain dari hawa nafsu yang diperturutkan.” (HR At-Tabrani)
*****************
Terlihatkah oleh Anda bahwa lebih mudah jika seorang muslim itu lebih banyak tahu soal wacana rasional khas Barat dan hanya tahu soal agamanya secara umum saja, atau tahu banyak soal seluk beluk agamanya dan hanya tahu secara umum ihwal wacana rasional khas Barat (yang bahkan dengan dikomentari sebagai ‘cuma mengandalkan nalar’ atau ‘produk dari sesat pikir orang kafir’), lalu dengan mudahnya mereka nyinyir kepada salah satunya.
Jadi, apa sebenarnya dasar dari sikap sinis dan tak bersahabat kalangan yang saya sebutkan di atas? Entahlah. Dan karena saya masih belum tahu apa penyebabnya, saya seringkali jadi Two Face yang baik hati dan bukan musuhnya Batman hi hi hi hi hi... Seringkali saya memilih berjarak dan menghindari bicara tentang topik-topik agama pada mereka yang nyinyir, walau saya sejujurnya merasa jenuh juga, karena wacana rasional khas Barat itu hanya memenuhi secuil saja kebutuhan saya. Kebutuhan saya lebih besar daripada sekadar menjadi manusia rasional yang fasih berwacana. Saya masih menyayangi diri saya sendiri, dan tidak mau membonsai diri saya sendiri dengan hanya cukup menyuapi diri sendiri dengan “makanan” wacana rasional. Sementara di kalangan yang sangat peduli agama, tak jarang saya pun tak bisa leluasa bicara soal agama, karena saya bukan lulusan pesantren, bukan ustadz, tak menguasai 30 ilmu alat, bukan Lulusan Cairo (hi hi hi hi hi...), dan kebanyakan pandangan agamanya dipandang nyeleneh. 
Oh iya, ada sedikit kesan subjektif saja yang saya dapatkan dari kalangan Katolik di kampus filsafatnya. Bukan berarti tak ada kasus mahasiswa kehilangan iman dan mengalami krisis keagamaan, namun, pola hidup harian mereka tampak menyejukkan bagi saya. Mereka umumnya adalah frater atau projo yang digembleng hidup asketis. Makan siang pun biasanya berupa bekal yang dibawa dari biaranya. Lalu, saat waktu makan siang, mereka berkumpul makan siang bersama. Selain itu, sikap mereka terhadap agama pun lebih takzim, apalagi di kalangan romo-romonya, yang memang memiliki tanggung jawab keumatan. Sementara, di kampus Islam, justru keliaran berpikir dan sikap-sikap kontroversial seringkali dicuatkan, namun seringkali terkesan hanya sensasi agar terlihat kritis sehingga bisa tampil keren dan terpelajar. Ah, itu hanya kesan yang saya tangkap sebagai orang luar saja. Pasti banyak melesetnya. Demikian. Mohon maaf jika ada silap kateu.
(Hanya sebuah catatan lama yang gak sengaja nemu lagi barusan...)

0 comments:

Post a Comment