Friday, October 13, 2017

Dari pelarangan online di bandung, eggi sudjana sampai poligami arifin ilham



1. Pelarangan armada online di Bandung saiya dukung.
Ini bukan persoalan teknolohi canggih tetapi semua bentuk aktivitas dalam ruang publik apalagi bisnis memang harus diatur dengan aturan. 
Persoalan maraknya bisnis transportasi online sering kita ungkap itu karena; pertama, pemerintah gagal menyelenggarakan transportasi publik yang murah dan baik. Kedua, pemerintah gagal menyediakan lapangan pekerjaan yang layak.
Pada awalnya pemerintah negara-kota Singapura melarang Uber beroperasi di negaranya. Ini karena keberadaan uber akan menyerang bisnis transportasi taksi mereka. Sebagaimana maklum, di Singapura negara mengatur transortasi publik utama kereta dan bis melalui dua perusahaan negara. Duopoli SMRT dan MRT. Sementara taksi mereka menerapkan sistem sapta-poli, tujuh perusahaan setengah swasta setengah negara. 
Selama masa pelarangan tersebut, pemerintah Singapura memodali perusahaan taksi lokal untuk mempersiapkan diri transisi ke moda online dan berinvestasi dengan MyTeksi, perusahaan taksi Malaysia yang sudah menerapkan sistem ini untuk mengembangkan Grab. 
LTA, otoritas yang membawahi urusan transportasi darat membuat regulasi, sertifikasi, dll.. terkait transportasi online salah satunya mewajibkan mobil beridentitas khusus, menyediakan kursi khusus balita, dan sertifikasi pengemudi. Singkatnya pemerintah Singapura tidak ingin jadi orang bego dan tidak mengambil keuntungan apapun dari bisnis baru ini.
2.
Soal Eggy Sudjana dilaporkan terkait paparannya di sidang MK mengenai Perrpu Nomor 2 Tahun 2017 tentang organisasi kemasyarakatan adalah bagian dari framing. Bertujuan menggiring opini publik dari substansi penting perpu tadi, yaitu kemungkinan digunakannya perpu sebagai pasal karet untuk memberangus kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul masyarakat. 
3.
Perihal foto "pamer poligami"nya Arifin Ilham sedang makan bersama ketiga istrinya yang bercadar sebagaimana pendapat sinis di sosial media saiya tidak bisa lebih menilainya kecuali dari perspektif hermeneutika gastronomi.
Ini misalnya jika melihat meja, sofa dan dinding mereka sepertinya makan di rumah atau direstoran yang menyediakan ruangan private bagi tamu vip. Artinya secara sederhana ini memang urusan rumah tangga yang pribadi.
Namun semenjak foto tadi dibuat (oleh seseorang yang lain atau menggunakan kaki-tiga, dan disebarkan tentu hal pribadi tadi menjadi konsumsi publik untuk diapresiasi. Di sini persoalan apresiasi tadi akan membuka dua front; senang atau tidak senang. 
Dari hidangan yang ditampilkan di atas piring dengan beberapa masih dalam bungkusan, maka asumsi pertama bahwa foto ini dibuat di sebuah rumah makan mewah kemungkinan dapat diabaikan. Singkatnya makanan-makanan ini di pesan untuk dihidangkan di ruang keluarga dimana beberapa dibiarkan dalam bungkusannya. 
Lalu mereka makan.
Lalu seseorang di sana meminta untuk diadakan foto kenang-kenangan. Lengkap dengan latar depan aneka makanan yang lezat. 
Yang saiya tidak dapat mengerti dari foto yang viral di internet itu adalah, bagaimana ketiga istrinya itu makan sambil menggunakan cadar di depan mimbar makanan?
Ya, saiya rasa ini memang foto dibuat untuk pameran, tapi bukan pameran poligami. Arifin Ilham mungkin sedang memamerkan gulai tunjang, daun pepaya dengan gorengan tahu atau tempe yang lezat. 
Ya, soal makanan iman saiya memang lemah.
(foto courtesy tribunnews.com)

0 comments:

Post a Comment