Wednesday, October 18, 2017

DOUWES DEKKER DIBULLY DI TWITTER



Seandainya Douwes Dekker masih hidup di zaman kita, dengan tulisannya ini, yang disampaikan dalam Kongres Nasional CSI (Centraal Sarekat Islam) di Surabaya, 1 November 1919, pasti akan ada yang "iseng" menyebut Douwes Dekker sebagai "rasis" atau "xenophobic". Ya, betapa gampangnya sebagian dari kita hari ini menggeneralisasi "analisis ras" dalam kajian ekonomi-politik sebagai bertendensi "rasial" dan "xenophobic". 
Kalau kita buka kembali sejarah, ada dua variabel dalam analisis ekonomi-politik Indonesia yang tidak pernah absen sejak awal abad ke-20, yaitu (1) analisis kelas, dan (2) analisis ras. Petikan tulisan Douwes Dekker ini, yang berasal dari karangannya, "Kebangsaan Kita dan Harta Asing", merupakan salah satu contohnya. Jika kita buka tulisan-tulisan Hatta ketika masih di negeri Belanda, serta tulisan-tulisannya dan Soekarno pada tahun 1930-an, bahkan analisis ras jauh lebih dominan hadir daripada analisis kelas.
Kenapa bisa begitu? Karena struktur ekonomi kolonial memang hanya bisa dibedah tuntas jika menyertakan dua analisis itu. Tanpa keduanya, pasti tumpul. Dan posisi ini tak berubah setelah kita Proklamasi. 
Pada Agustus 1956, misalnya, ketika diadakan Kongres Ekonomi Nasional Seluruh Indonesia (KENSI), yang diadakan oleh Dewan Ekonomi Indonesia Pusat (DEIP), kesimpulannya juga tak beranjak jauh: struktur ekonomi nasional sejak 1945 tidak banyak berubah dengan struktur ekonomi pada masa kolonial, dimana sektor-sektor strategis masih dikuasai oleh bangsa kulit putih (Eropa dan Amerika), dan sektor perdagangan besar dikuasai oleh bangsa Timur Asing (Cina, India, Arab).
Apakah analisis yang demikian bertendensi rasial, atau xenophobic? Saya merasa geli jika ada yang berkesimpulan begitu.
Sembilan puluh lima tahun yang lalu, sebelum Tan Malaka menulis soal penghisapan tanah Indonesia oleh kapital asing, ketika Hatta masih belajar menulis cerpen, dan Soekarno masih belajar menyihir orang banyak, Douwes Dekker telah mengingatkan perbenturan antara jiwa kebangsaan dengan kepentingan kapital asing. Dan dia sudah mewanti-wanti bahayanya "boedi mempertoewan", alias mental budak di kalangan bangsa kita. 
Tentu saja, di abad ke-21 ini "boedi mempertoewan" dalam bentuknya yang klasik mungkin sudah tidak ada lagi. Dengan kepandaian dan pergaulannya, anak-anak bangsa kita saat ini sudah (merasa) sejajar dengan anak-anak bangsa lainnya. Sayangnya, banyak dari mereka mengira bahwa daya saing dirinya merupakan representasi dari daya saing bangsanya, sehingga acap melupakan problem struktural yang diidap oleh negerinya. Mereka buta bahwa bangsanya, sebagai sebuah 'kolektiviteit', dan bukan sebagai perseorangan atau perkelompok, tak lagi menikmati hidup sebagai tuan di negerinya sendiri.
Kembali, seandainya Douwes Dekker masih hidup, dengan tulisannya ini bisa jadi dia akan dituduh dan di-bully di Twitter sebagai orang Belanda peranakan yang tak sanggup bersaing dengan orang-orang Belanda totok atau bangsa kulit putih lainnya, oleh kelas menengah kita yang sok kosmopolit itu. 
Betapa dangkalnya pembacaan ekonomi-politik kita hari ini. #repost

0 comments:

Post a Comment